
Diana menatap ke arah wanita paruh baya yang tengah memijat kakinya dengan gerakan lembut dan begitu telaten. Diana bersyukur, di dalam hidupnya, Ia masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Meskipun semua itu datang dari ibu mertuannya. Setelah selesai memijat kaki Diana, Nyonya Pradipta menggeser duduknya lalu meraih jemari Diana, di genggamnya jemari Diana dengan sangat erat.
“Diana, kau putriku bukan? ” tanyanya menunjukan mimik wajah sendu. Diana mengangguk pelan membalasnya.
“Aku tahu hubunganmu dengan Alex berjalan tidak sebaik yang terlihat, begitu banyak penderitaan dan rasa sakit yang kau rasakan. ” air matanya menetes tanpa Ia kehendaki, kini Diana mulai merasa bingung dengan sikap mamah meetuannya itu.
“Ada apa, Mah? ” tanya Diana bingung, wajahnya tampak khawatir namun Ia mencoba menutupinya agar terlihat tetap tenang.
“Maafkan aku, Diana. Sebenarnya aku tahu kejadian yang menimpamu pada saat bulan madumu. Namun aku diam, aku sangat merasa bersalah padamu. ” tangisannya tergugu, Ia memeluk erat menantu yang sangat di kasihinya. Tidak terasa, satu tetes cairan bening itu jatuh membasahi wajah Diana. Perkataan mamah mertuanya membuka luka lama yang sangat ingin Diana lupakan.
Nyonya Pradipta melepaskan pelukannya, matanya yang basah menatap ke arah Diana. “Aku tahu bagaimana rasanya, itu sangat menyakitkan. Bagaimana bisa aku melahirkan seorang anak seperti dia? ” sesalnya, menundukan wajahnya dalam.
Diana tidak tega melihat mamah mertuanya seperti itu, melihat tangisan seorang wanita yang menyayanginya dan sudah Ia anggap sebagai ibunya sendiri, hati Diana seperti tersayat ketika melihatnya.
“Yang sudah berlalu ... biarlah berlalu, Mah. ”
Wanita paruh baya itu kini tengah menundukkan pandangannya, Ia merasa malu hingga tidak mampu menatap wajah gadis yang masa depannya telah di hancurkan oleh ke-egoisan putranya sendiri.
“Seandainya kau tahu ... alasan Alex berniat menikahi kakakmu. Dan malah harus kau yang menggantikan posisinya. Bibirmu tidak akan mampu mengatakan hal seperti itu, kau akan sangat membenci Alex. ” lirihnya dalam hati.
“Kau adalah gadis yang baik, Diana. Tetaplah di samping Alex, untuk merubahnya menjadi lebih baik lagi, ” ujarnya, menatap Diana dengan wajah berbinar. Diana menundukan wajahnya dalam, bibirnya tetap terkatup tak berkata apapun.
__ADS_1
“Diana ... maafkanlah kesalahannya. Aku ingin, apapun yang terjadi kau akan selalu berada di sampingnya. Apalagi, kini kau telah mengandung buah hati kalian. ” “Aku tidak yakin ... ” lirih Diana.
Nyonya Pradipta memejamkan matanya, mengeluarkan air mata yang sedari tadi terbendung di kelopak matanya. Lalu Ia mengangguk pelan. “Aku mengerti, kau butuh waktu. ”
Selepas Nyonya Pradipta pergi dari kediamannya, Diana langsung meminta pelayan untuk segera memindahkan beberapa barang yang di bawa Nyonya Pradipta tadi. Di dalam kamar, Diana termenung. Memikirkan perkataan mertuanya. Diana merasa egois, selama ini Ia hanya memikirkan tentang ketenagan hidupnya, tanpa Ia sadari bahwa Ia telah mengesampingkan masa depan anak yang tengah di kandungnya. Bagaimana semuanya akan berjalan, masa depan anaknya akan hancur jika Ia tidak memiliki seorang ibu. Sementara yang ada di dalam pikiran Diana hanyalah pergi, pergi, dan pergi. Diana tidak pernah memikirkan hal lainnya.
“Maafkan Mamahmu, Nak. Mamahmu begitu egois dan mementingkan dirinya sendiri, ” lirihnya sembari terus mengelus perutnya.
***
Alex membuka matanya, di lihatnya wajah Diana dari dekat yang masih berada di dalam pelukannya. Alex beranjak dari peraduannya dengan sangat hati-hati, berusaha agar tidak mengganggu Diana yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Alex menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya kembali, setelah lelah bertempur dengan keringat di atas ranjang tadi bersama Diana.
Beberapa menit dirinya selesai dan langsung keluar dari kamar mandi, melihat Diana yang masih tertidur pulas di atas peraduannya. Alex langsung menuju ruangan khusus pakaian, dan mencari pakaian yang akan Ia kenakan. Di sela-sela dirinya memilih baju, Alex melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Tidak menyangka dirinya begitu lelah dan tertidur selama itu. Sebelum Ia melakukan aktifitasnya bersama Diana, padahal waktu masih menunjukan pukul 5 sore.
“Diana, ” Alex mencoba membangunkan Diana dengan menggoyangkan bahunya. Namun tidak ada respon dari gadis itu, Ia hanya terus tertidur dengan pulas.
“Bangunlah, ”
Diana mengeluh, mencoba menyingkirkan lengan Alex yang sedari tadi mengganggu tidurnya. Tiba-tiba, Alex mendekatkan bibirnya pada telinga Diana dan berkata, “Apa kau merasa kurang dan ingin lagi? ” bisik Alex, mata Diana langsung terbuka secepat kilat dan menoleh ke arah Alex yang sudah menerbitkan seringainya.
Diana menggeleng cepat.
__ADS_1
“Cepatlah mandi, aku akan mengajakmu makan di luar. ” ujar Alex, sembari mengulurkan tangannya membantu Diana untuk duduk.
“Kenapa tidak makan di rumah saja? ”
Tiba-tiba Alex teringat dengan perkataan Elios yang mengatai dirinya sebagai suami tidak becus dan tidak pengertian.
“Aku akan memandikanmu, ” tanpa mendapat persetujuan dari gadis itu, Alex langsung membopong tubuh Diana dan masuk ke dalam kamar mandi.
Alex menurunkan tubuh Diana perlahan ke dalam bath tub berisikan air hangat, Ia mencoba memberikan sabun cair di punggung Diana lalu menggosoknya pelan, hingga sabun itu berubah bentuk menjadi gelembung kecil berupa busa. Diana hanya terdiam mendapat perlakuan Alex, Ia seperti anak kecil yang sangat penurut.
“Terima kasih, ” bisik Alex pada telinga Diana, seketika wajah gadis itu berubah menjadi merah padam. Diana mengerti betul untuk apa Alex berterima kasih kepadannya.
Lengan Alex menjadi liar, dari punggung Diana kini beralih menyentuh lembut squishi milik istri kecilnya. Diana menggelinjang geli, Ia memicingkan tatapanya ke arah Alex. Di balas tatapan penuh isyarat oleh Alex, namun Diana langsung meraih lengan Alex menjauh dari bagian tubuh sensitifnya. Kini lengan Alex beralih memegang perut Diana yang sudah mulai membuncit karena ada buah cinta mereka di dalamnya.
***
Kini mereka sudah berada di dalam sebuah restoran, Diana sibuk membolak-balikan menu memilih makanan yang akan Ia pesan. Namun, Diana tak kunjung mendapati makanan yang sesuai dengan seleranya. Sedari tadi, Alex tengah memperhatiknnya, ternyata Elios benar, akan ada sesuatu hal yang berubah ketika seseorang tengah mengandung. Biasanya, Diana akan memakan apapun yang Alex makan, Diana juga tidak akan lama jika memilih makanannya sendiri. Namun hari ini Ia begitu pemilih.
“Kau mau pesan apa? ” “Tidak tahu! ” ketus Diana, masih memilih makanan di daftar menu.
“Sup sosis dengan nasi putih, minumnya ... air putih saja. ” Diana menujukan menu pilihannya kepada pelayan.
__ADS_1
“Kau yakin hanya itu? Biasanya kau sangat suka seafood, kau tidak memesannya hari ini? ” tanya Alex, Diana hanya menggelengkan kepalanya.
“Diana? ” sapa seseorang, Alex dan Diana refleks mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.