Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Rumah sakit 2


__ADS_3

Diana di pindahkan dari IGD menuju ruang rawat, Nameera, Alex dan Nyonya Wijaya mengikutinya. Kemudian, tak lama Dokter keluar dari ruangan, Ia memberitahukan bahwa keadaan Diana sudah membaik dan sudah sadar. Nameera dan ibunya segera masuk ke dalam ruangan untuk menemui Diana. Diana yang masih lemah karena kehilangan banyak darah dan kepalanya yang masih sangat sakit hanya melihat samar seseorang mendekatinya.


"Bagaimana keadaanmu? " Nameera berharap Diana hilang ingatan dan melupakan kejadian tadi. Mustahil


"Kakak ... " Diana dengan suara lemahnya.


Nameera menatap Diana dengan sangat kuat, nafasnya tersenggal Ia takut akan segera di salahkan atas insiden ini. Alex yang melihatnya mencoba mendekati Nameera Ia melingkarkan kedua lenganya pada pinggang ramping Nameera.


"Tenanglah, tidak akan terjadi hal yang serius. Apa seperti ini sikap seseorang yang tidak bersalah? " Bisik Alex pada Nameera, membuat Nameera merasa bergidik setelah mendengarnya.


Diaja menatap mereka, di dalam tatapan Diana mereka terlihat seperti pasangan yang serasi dan saling mencintai. Melihat posisi Nameera kini, dimana Ia sedang di peluk dari belakang oleh Alex. Kenapa mereka bersikap seperti itu di hadapan Diana yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Bermesraanlah di tempat lain, tapi jangan di hadapan Diana.


"Kakak Ibu ... Kenapa aku berada di rumah sakit, apa yang terjadi padaku sebenarnya? " tanyanya dengan tatapan polos penuh tanya


"Apa kau tidak ingat mengenai kejadian barusan? " tanya Ibunya dengan heran menatap tajam Diana.


"Kau jangan bermain main denganku! Kau j*alang jangan berpura-pura tidak mengetahuinya! " ucap Nameera sedikit menyentak Diana, membuat Diana tertegun dan bertambah heran.


Ibunya melotot ke arah Nameera, Ia harus ingat masih ada Alex di dalam ruangan. Ibunya mencoba menenangkan sikap Nameera agar Ia tetep bersikap tenang dan mengendalikan dirinya, bersikap agar Ia tidak menimbulkan masalah lagi. Ia pun memencet Bel yang ada di samping tempat tidur Diana, memanggil agar Dokter segera datang ke ruanganya.


Dokter dan beberapa perawat pun datang secara bersamaan, Dokter menanyakan apakah ada hal yang serius pada pasein.

__ADS_1


"Dok, Dia.. Putriku tidak mengingat kejadian yang baru menimpanya barusan. Ia tidak ingat alasan mengapa kepalanya bisa terbentur dan terluka parah. Apakah benturan tadi sangat berpengaruh pada kepalanya, Dok? " tanyanya yang tampak gusar


"Tenang bu, Anak ibu hanya merasa syok saja. Ini hal yang sering di alami pasein ketika mengalami kecelakaan. Jika tidak ada hal lain kami pamit Bu, terimakasih. " Dokter menjelaskan


Karena tidak ada masalah yang serius pada pasienya, Dokter dan perawat pun segera keluar ruangan agar tidak mengganggu pasien dan membiarkannya beristirahat. Nameera dan ibunya bernafas lega, seakan nasib baik masih berada di pihaknya. Dan Alex yang sedari tadi berada di dalam ruangan sempat kaget mendengarnya. Diana yang masih lemas hanya bingung melihat tingkah dari kedua orang di depanya.


Nameera di tarik oleh ibunya sedikit menjauh dari ranjang Diana, Diana tidak terlalu mengihiraukan mereka dan lebih memilih untuk memejamkan matanya karena sakit di kepalanya.


"Kau senang sekarang, gadis bodoh! jika kau melakukan suatu hal yang tidak tidak lagi padanya ibu tidak tahu harus melakukan apa.Bahkan ayahmu sangat menyayangi gadis itu. " Bisiknya geram


"Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran padanya bu, aku tidak tahu akan berujung fatal seperti ini. Lagi pula mengapa Ia tidak mati saja sekalian, Ia sungguh menghalangi jalanku untuk mendapatkan Alex. "


Alex mendekati Nameera dan ibunya, sesaat setelah di dekati oleh Alex mereka bersikap seolah tenang dan biasa saja. Diana memperhatikanya dalam diam.


“Kalian pulanglah terlebih dahulu, aku akan mengurus masalah di sini. ” Ucap Alex dengan nada dinginnya, karena merasa posisinya sudah aman dan Diana tidak bisa mengingat apapun. Nameera dan ibunya mengangguk menuruti permintaan Alex untuk segera pulang. Mereka pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Diana, tinggallah Alex dan Diana di dalam ruangan.


“Apa kau baik-baik saja? ” tanyanya sembari melangkah mendekat pada ranjang Diana. Diana tertegun saar mendengar Alex menanyakan keadaannya seperti itu.


“Aku tidak apa-apa. ” Jawab Diana, Ia terus menundukan wajahnya menghindar dari tatapan Alex.


“Apa kau benar-benar melupakan kejadian itu, kenapa atau bagaimana kau bisa terluka? ” Alex menatapnya tajam, membuat Diana merasa semakin tertekan. Diana mengangguk pelan dengan wajah yang masih tertunduk.

__ADS_1


Tiba-tiba Alex memegang dagunya dan mengangkat wajah Diana, agar Diana menatap wajahnya ketika di ajak bicara olehnya. Diana mengerutkan keningnya, jantungnya berdegup kencang Ia gugup ketika mata mereka saling berpandangan.


“Tidak bisakah kau melawan saat dirimu di tindas? ” Diana tertegun, Alex mengetahuinya. Sebenarnya, Diana juga masih mengingat kejadian yang telah menimpa dirinya, namun Diana tidak ingin memperpanjang urusanya dengan cara membeberkan itu semua. Lagipula, Diana sadar diri bahwa tidak akan ada yang percaya padanya. Ia juga tidak ingin membuat Nameera dan ibu tirinya semakin geram dan membencinya . Diana pun memilih diam.


Diana hanya terdiam dengan sebisa mungkin pandangannya Ia alihkan ke tempat lain, berusaha agar tidak terus memandang Alex. Alex melepaskan peganganya pada dagu Diana, kemudian Ia berlalu keluar ruangan.


Diana menarik nafas lega, Alex sudah keluar dari ruanganya. Diana beranjak turun dari ranjangnya, Ia menatap keluar jendela. Diana tersenyum tipis mengingat kenapa kejadian seperti ini terjadi di dalam hidupnya.


“Makan, aku tidak tahu makanan rumah sakit tidak terlalu enak. Aku membelikannya untukmu. ” Ucap Alex, membuyarkan lamunan Diana mengenai kehidupanya.


“Terima kasih, ” Ucap Diana, Alex pun berlalu pergi kembali.


Sudah dua hari Diana berada di rumah sakit, semua kebutuhanya di persiapkan oleh seorang perawat yang sama. Seperti perawat itu di pekerjakan khusus untuk mengurus dirinya. Semenjak kepergianya hari itu, Alex tidak pernah kembali hanya untuk sekedar melihat kondisi Diana. Diana tidak mengharapkan lebih, setidaknya hidupnya saat berada di rumah sakit lebih membuatnya tenang di bandingkan dengan hidup di dalam rumah mewah itu.


“Nona, waktunya ganti perban. ” Ucap seorang perawat dengan membawa beberapa peralatan di tanganya. Diana mengangguk pelan.


Perlahan dengan telaten, perawat itu membuka balutan perban Diana kemudian menggantinya, sembari melakoni aktivitasnya pelayan itu berkata, “Nona, anda sangat beruntung mempunyai suami seperti Tuan Alex. ” Ucapnya yang membuat Diana tertegun, apanya yang beruntung. Diana tersenyum tipis.


“Nona, keadaanmu sudah membaik dan besok kau sudah boleh pulang. ” Diana tersentak, seakan Ia tidak ingin cepat pulang ke rumah itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2