Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Perasaan


__ADS_3

Diana tertegun, Alex menyuapinya bubur menggunakan mulutnya. Ia masih terdiam dan tak mampu berkata, hanya menatap Alex dengan matanya yang masih terbelalak. Alex menyendokan buburnya kemudian menyodorkannya ke arah Diana, Diana masih terdiam menatap Alex tanpa membuka mulutnya.


“Kau mau aku suapi seperti suapan pertama? ” ucap Alex yang membuat Diana semakin tertegun. Diana menggeleng dengan cepat, kemudian membuka mulutnya.


Alex menyuapinya bubur sampai bubur di mangkuk itu habis, kemudian Ia menyerahkan segelas air minum kepada Diana. Diana mengambilnya dan langsung meminum air tersebut. Kemudian Alex membukakan obat yang masih terbungkus rapi itu, kemudian di berikannya kepada Diana. Sekitar tiga butir obat yang harus Diana minum, Diana terdiam menatap tiga butir obat yang Alex berikan.


“Apakah kau ingin aku membantumu minum obat juga? ” tanya Alex mengangkat kedua halisnya, Diana bergidik menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Diana meminum obat itu satu per satu, Ia tidak bisa jika harus meminumnya tiga sekaligus. Apalagi Alex terus memandanginya, itu membuat Diana semakin tertekan.


Kondisi Diana sudah mulai membaik, mual dan pusing yang tadi Ia rasakan kini berangsur pulih. Tiba-tiba Alex berlalu pergi keluar kamar meninggalkan Diana sendirian, Diana tidak tahu kemana Alex akan pergi, Ia tidak berbicara apapun pada Diana. Beberapa menit Alex tidak kembali ke dalam kamar, Diana memastikan bahwa Alex tidak akan kembali dalam waktu yang lama. Setelah memastikan tidak ada siapun di dalam kamarnya, Diana beranjak turun dari ranjang dan berjalan mendekati meja riasnya.


Di depan meja riansnya, Diana berdiri memaku menatapi tubuhnya sendiri. Diana membayangkan tubuhnya yang ramping itu beberapa bulan kemudian akan terlihat gemuk dengan perut buncitnya yang sedang mengandung. Diana memejamkan matanya kuat ketika Ia membayangkannya, betapa lucunya penampilannya kelak.


Tiba-tiba suasana hatinya berubah, Diana tertunduk menatapi perutnya dan mengelus lembut dengan kedua tanganya. Sedikit tidak percaya bahwa dirinya kini tengah mengandung, perasaan apa itu, entah senang entah takut yang bercampur aduk di dalam hatinya. Yang Diana tahu hanya ketika bayinya sudah terlahir ke dunia nanti, apakah Ia masih bisa tetap untuk berada di sampingnya dan melihat wajah kecilnya. Diana tahu, Ia di nikahkan dengan Alex hanya sebagai alat untuk meneruskan keturunan keluarga Pradipta dengan siapa nanti Alex akan bersama itu adalah keputusannya, Ia tidak berhak menuntut lebih ke depannya.


“Sedang apa kau? ” suara yang tak asing terdengar di telinga Diana, setiap kali mengucapkan kalimat dengan nada dinginnya itu terasa selalu menusuk ke dalam jantungnya. Diana menggelengkan kepalanya pelan, kemudian melangkah mendekati sofa dan duduk di sana.

__ADS_1


Diana hanya melamun, tidak ada sedikitpun semangat dari dalam dirinya. Tampak Alex yang berjalan mendekatinya kemudian duduk di sebelah Diana.


“Pakailah ini untuk pesta nanti malam. ” Alex memberikan sebuah gaun cantik kepada Diana. Diana mengangguk mengambil gaun tersebut.


“Bagaimana keadaanmu? ” tanya Alex, Diana berkerut kening mendengarnya. Alex memperhatikannya, setelah sekian lama. Diana sudah sering keluar masuk rumah sakit, merasa tidak baik bahkan Alex tahu itu. Jangankan menanyakan keadaanya, Alex malah selalu menaburkan garam di atas luka Diana. Diana tidak pernah di perhatikan seperti sekarang, mungkin Alex memperhatikan dirinya karena kini Ia tengah mengandung buah hatinya.


“Aku baik, ” Jawab Diana singkat,


“Apa kau memerlukan sesuatu yang lain? ” tanya Alex membuat jantung Diana semakin berdegup kencang. Diana canggung, tidak biasanya Ia di perhatikan seperti itu, apalagi oleh Alex. Diana menggeleng pelan.


Tiba-tiba ponsel Alex berdering, Ia keluar kamar untuk menerima telepon tersebut. Diana menatap gaun itu, sangat cantik. Diana melirik ke arah jam dinding yang berada di dalam kamarnya, waktu sudah menunjukan pukul 18:25, setahu Diana pesta akan di adakan pukul 7 malam, hanya tersisa sedikit waktu untuk bersiap.


Tapi dalam hidupnya sekarang, Diana merasa tidak pernah puas bahkan dengan barang mewah sekalipun, Ia selalu merasa kurang dalam hidupnya, entah apa itu. Berbeda dengan kehidupannya dulu, meskipun hidupnya selalu di bawah ancaram ibu dan kakak tirinya, tapi Diana tidak pernah merasakan hidupnya kurang seperti sekarang. Apa itu? Apalagi yang tidak Diana punya sekarang dan yang Ia punya di kehidupannya dahulu. Apa yang berbeda?


“Meskipun kehidupan mewah mengelilingiku. Tapi aku selalu merasa kesepian. Hati yang kosong, hari-hari yang monoton. Semua itu, aku selalu merasa kesepian. Aku rindu ayahku. ” Gunamnya sembari menatap wajahnya sendiri di depan cermin, Ia tidak menyadari bahwa Alex telah kembali dan tengah memperhatikannya di depan pintu kamar.


“Tunggu, apa yang akan aku lakukan di dalam pesta malam ini? Sebagai siapa aku akan hadir? ” Diana menanyai dirinya sendiri membuat Alex tersentak setelah mendengarnya.

__ADS_1


Diana mengurungkan niatnya untuk hadir ke dalam pesta itu, Diana merasa Ia tidak pantas. Tidak ada yang mengetahui Diana yang telah menikah dengan Alex, ketidak hadiranya pun tidak akan di pertanyakan oleh orang-orang. Suasana hatinya buruk hari ini, Diana memutuskan untuk menghapus riasan wajahnya kembali dan memilih berdiam diri di dalam kamar saja.


Saat Diana hendak menghapus riasan pada wajahnya, tanganya di cegah kuat oleh Alex. Diana terkejut, Ia langsung menatap wajah Alex. Diana mencoba melepaskan tanganya yang di cengkram kuat oleh Alex. Tapi, tiba-tiba Alex menarik tubuhnya kemudian langsung memeluknya.


Diana tertegun, ada apa dengan Alex hari ini. Kenapa Ia tiba-tiba memeluknya, tapi pelukan itu telah menghangatkan hatinya, Diana tidak bisa menyangkalnya.


Alex meringankan pelukannya pada Diana, “Kenapa kau ingin menghapus riasan pada wajahmu? ” tanyanya menatap Diana,


Sejak kapan Ia datang? Dan, tatapan macam apa itu, kenapa dia menatapku seperti itu. Biasanya jika tidak menatapku tajam, Ia akan menatapku dengan ekspresi dinginya itu.


“Aku aku hanya ingin saja, aku tidak akan menghadiri pesta kedua orang tuamu. ” Ucap Diana dengan gugup, mengalihkan pandangannya dari Alex.


“Kau tetap harus hadir, kau akan hadir sebagai istriku. ” Ucap Alex, Diana terkejut mendengarnya.


“Itu tidak mungkin, Tunggu ... Ada apa denganmu? ” tanya Diana menatap Alex heran. Alex hanya terdiam dengan terus menatap wajah Diana.


“Kau, apa kau mendengar ucapanku tadi? Wajahmu?” Diana melepaskan pelukan tangan Alex padanya, “Kau akan membawaku hadir ke dalam pesta itu dan memperkenalkanku sebagai istrimu, apakah kau merasa kasihan kepadaku? ” Diana terdiam sejenak, Alex menatapnya heran.

__ADS_1


“Tidak, kau tidak perlu merasa kasihan kepadaku. Kau hanya perlu memperhatikanku, karena aku tengah mengandung anakmu. Tidak lebih. ” Diana berjalan menjauh.


Bersambung...


__ADS_2