Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Keluarga


__ADS_3

“Apakah aku hamil, Dok? ” tanya Diana spontan menatap Dokter itu tajam. Seakan Ia lupa bahwa Alex berada di sana.


Dokter itu menatap pasangan di depanya, kemudian Ia tersenyum, “Selamat, Nona. Anda hamil, anda akan segera menjadi seorang ibu. ”


Langit seakan runtuh menutupi tanah, bagai hantaman godam berat pada hatinya. Diana begitu terkejut dengan hasil pemeriksaan akan dirinya. Ia tertegun sejenak, menatap tak percaya dokter tersebut. Nyatanya, Diana belum siap dengan semua ini. Diana baru akan kembali melanjutkan kuliahnya, tapi kondisinya yang seperti ini membuatnya berpikir kembali.


Bagaimana bisa aku hamil? Aku hanya melakukanya satu kali saja bersama kak Alex? Apakah itu mungkin? Apakah dokter itu berbohong? Dan alat test kehamilan itu, kenapa menunjukan hasil yang berbeda.


Diana terdiam, beberapa pertanyaan memenuhi pikiranya. Ia masih tak percaya kini dirinya benar-benar tengah mengandung. Ia tidak pernah menyangka akan mempunyai anak di usianya yang masih terbilang muda. Diana menatap Alex sekilas, Alex tampak biasa saja. Wajahnya datar tanpa ekspresi, sehingga Diana tidak bisa menebak apakah Alex senang dengan kehamilanya atau tidak.


“Bagaimana bisa itu terjadi? ” gumam Diana sembari tanganya menyentuh pelan perut yang kini tengah mengandung buah hatinya bersama Alex. Dokter itu menatap heran dirinya, pertanyaan macam apa itu.


“Tentu saja itu bisa terjadi, Nona. Tuan apakah anda ... ” Belum sempat dokter itu melanjutkan perkataannya, Alex sudah menatapnya tajam, mengurungkan niat dokter itu untuk terus melanjutkan pertanyaanya.


“Tapi, Dok. Bagaimana dengan hasil test kehamilan yang aku lakukan. Ada dua hasil yang berbeda. ” Tanya Diana dengan tatapan memastikan, beeharap jika dokter itu salah ketika memeriksanya.


Dokter itu memperlihatkan sebuah kertas kecil bewarna hitam gelap, dan ada beberapa tulisan di sana yang sama sekali tidak Diana mengerti.


“Nona, ini hasil USG anda. Ini gambar janin anda, Nona. Usia kandunganya sudah jelas, jika anda melakukan test kehamilan lalu hasilnya berbeda maka hal itu adalah wajar. Karena, tidak semua alat test kehamilan hasilnya akurat. Namun, jika hasil USG tentu semuanya sudah di tentukan dan benar adanya, Nona. ” Dokter menjelaskan dengan detail, membuat Diana semakin tidak percaya.


“Baiklah, terima kasih, Dokter. Atas waktunya. ” Alex beranjak dari duduknya dan menyalami dokter tersebut, kemudian Ia menarik lengan Diana yang masih duduk memaku dan segera mengajaknya pergi.


Alex menuntun lengan Diana dan Diana hanya terdiam di sepanjang perjalanan menuju parkiran rumah sakit. Diana masih syok dengan keadaanya saat ini. Sesampainya parkiran, Alex membukakan pintu mobil dan meminta Diana untuk segera masuk, Diana hanya bisa menurut.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Diana menatap ke arah luar jendela. Ia mengerutkan kening ketika menyadari ini bukan jalan menuju mansionnya.


“Kau tidak memberitahuku, ” Ucap Alex memecah keheningan, membuat Diana sedikit terperanjak.


“Tentang apa? ” Diana menatapnya, sedangkan Alex masih focus dengan jalannya.


“Kau diam-diam membeli alat test kehamilan,” Ucapnya dengan dingin. Diana terbelalak dan langsung mengalihkan pandanganya dari Alex. “Aku mengetahuinya, itulah sebabnya aku mengajakmu untuk menemui spesialis.” Diana semakin terbelalak, Ia memandang kembali Alex yang terlihat masih tenang menatap jalanan.


Diana menatapnya intens dalam waktu yang lama, Alex terlihat biasa saja. Wajahnya datar dan dingin, tidak menunjukan ekspresi apapun. Diana berkerut kening sembari terus menatapnya, kenapa ada pria seperti dirinya.


“Sudah puas kau memandangi wajahku? ” Diana terperanjak, lamunannya tentang Alex seketika buyar. Pipinya merona karena malu, Ia langsung mengalihkan pandanganya ke arah jendela.


Mobil Alex terhenti pada sebuah bangunan mewah di depannya, tampak dua satpam penjaga langsung membukakan pintu gerbang dan membungkuk hormat ketika melihat kedatangan Alex. Mereka berdua turun, dan mobil Alex di parkirkan oleh salah satu satpam tadi.


Diana tahu ini kediaman siapa, ini adalah kediaman orang tua Alex. Tapi, untuk apa Alex membawa Diana ke kediaman orang tuanya.


Rumah tampak sangat ramai, beberapa pelayan terlihat lalu lalang seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Rumah di hias sedemikian rupa, tampak sangat indah dan tentunya masih terlihat elegan. Diana heran, apakah mertuanya ini akan mengadakan sebuah pesta dan itu alasan Alex mengajaknya kemari.


Nyonya Pradipta sangat antusias ketika melihat kedatangan Alex dan Diana, Ia pun langsung menghampiri Diana dan menariknya menuju sofa. Mereka berdua duduk berdekatan.


“Pestanya nanti malam, tapi kalian sudah datang. ” Ucap Nyonya Pradipta


“Pesta? ” tanya Diana bingung, menatap Nyonya Pradipta

__ADS_1


Nyonya Pradipta menatap Alex dan bertanya, “Alex kau memberitahukan istrimu? ” Alex hanya menggeleng, lalu melanjutkan obrolan dengan ayahnya.


“Nanti malam, akan ada pesta perayaan. Ulang tahun pernikahan kami. ” Nyonya Pradipta memberitahu Diana dengan senyuman merekah di wajahnya, Diana tersenyum kaku. Alex tidak memberi tahunya, Ia belum sempat menyiapkan kado.


“Kemari, ikutlah denganku. ” Ajak Nyonya Pradipta, menggandeng Diana menyusuri kediamanya. Sampailah mereka berdua pada suatu ruangan, bisa di bilang itu kamar.


Nyonya Pradipta meminta Diana untuk duduk pada sofa yang berada di ujung ruangan dan menunggunya di sana, sementara Ia pergi entah kemana. Diana melihat sekeliling, matanya tak berhenti menyisir setiap sudut ruangan tersebut. Ruangan dengan desain yang sangat indah dengan tatanan barang yang sangat rapih. Sangat memanjakan mata, siapa saja yang memasukinya akan betah saat berada di dalam sina.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, Diana langsung beranjak dan menghampirinya. Pintu terbuka, Diana tertegun saat melihat orang yang datang itu bukan Nyonya Pradipta, melainkan Alex. Mau apa Alex mengikutinya.


“Mau apa kau mengikutiku kemari? ” tanya Diana menatap heran Alex. Alex menutup pintu kamar kemudian mendekat ke arah Diana, dan duduk di atas sofa.


“Ini adalah kamarku. Seharusnya aku yang bertanya sedang apa kau di sini? ” Alex berbalik bertanya kepada Diana, Diana menatapnya heran.


Tiba-tiba Nyonya Pradipta datang dengan membawa beberapa benda pada genggamanya, terlihat seperti album foto. Nyonya Pradipta duduk di pinggiran ranjang, dan meminta Diana untuk segera mendekatinya. Diana pun mendekat menuruti.


“Lihat ini, ” Nyonya Pradipta menunjukan sebuah foto keluarga. “Nanti malam, perayaan pesta akan di hadiri oleh keluarga besar Pradipta dan sebagian adalah tamu penting lainya. Penting untukmu mengetahui bagian dari keluarga kami. Mereka juga menghadiri ketika pernikahanmu dengan Alex, tapi tentunya kau belum mengenal dekat mereka, bukan? ” Diana tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


Nyonya Pradipta memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya dari foto ke foto lainya. Diana hanya terdiam, menyimak dan mendengarkan. Sampai kepada sebuah foto gadis kecil cantik dan lucu, di dalam foto tersebut Ia sedang di gandeng oleh anak laki-laki. Diana tahu anak laki-laki itu adalah Alex, namun siapa gadis kecil yang berada di sampingnya.


“Ah, ini adalah Meysa. Dia adalah teman kecil Alex, kau tahu? Sewaktu mereka kecil, Mesya selalu mengikuti kemanapun Alex pergi. Seperti perangko yang menempel pada kertas. Keluarga kami sangat dekat, kami mengira bahwa kedua anak ini saling menyukai. Tapi, Mesya memilih untuk pindah sekolah keluar negeri dan meninggalkan Alex. ” Nyonya Pradipta terkekeh, Diana tersenyum tipis.


“Ibu! ” Alex menyela dan menatap tajam ke arah ibunya. Nyonya Pradipta tersenyum ketir, merasa bersalah telah menceritakan itu semua kepada Diana. Istri Alex.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, ” Diana penasaran akan masa lalu Alex dan seorang gadis yang bernama Mesya itu.


Bersambung...


__ADS_2