Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Kenyataan


__ADS_3

“Masuk! ” untuk yang ke dua kalinya Alex meminta Diana untuk masuk ke dalam mobilnya, namun Diana hanya diam memaku dengan tatapan bingung, di sisi lain Ghani terus menghujaninya dengan suara klakson yang menggema.


“Hm.. ” Diana tersenyum kaku ke arah Alex, tak lama Ia langsung berlari ke arah mobil Ghani dan memasukinya, “Cepat jalan! ” Ia berbicara kepada Ghani dengan nafasnya yang tersenggal.


“Gadis itu! ” gunam Alex dengan geram,


Ghani memundurkan sedikit mobilnya, kemudian melaju melewati mobil Alex yang berada di depanya. Diana menghembuskan nafas lega dengan menyenderkan kepalanya pada belakang jok mobil menatap langit-langit. Sedangkan, Ghani masih focus pada jalananya.


Jalanan terlihat sangat padat pada sore hari, mungkin karena banyak orang yang berkendara pulang sehabis bekerja. Sangat macet, terdengar Ghani tak hentinya mengeluh melihat jalanan di hadapanya.


Untuk menghilangkan jenuh, Diana lebih memilih memainkan ponselnya. Ia membuka sosial medianya yang sudah lama tidak Ia kunjungi, tidak ada yang aneh, namun tiba-tiba sebuah postingan seseorang menarik perhatianya. Foto sepasang kekasih, yang tentu tak asing lagi baginya, di bawahnya tertulis caption,


Terima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan, ku tahu kau sangat mencintaiku. Alex, Nameera.


Diana sedikit terperanjak ponselnya tidak sengaja terlepas dari genggamanya, bukankah Alex sudah memutuskan hubunganya dengan Nameera, apa itu hanya sebuah sandiwara belaka untuk mengelabuinya. Jika mereka saling mencintai, mengapa mereka tidak bersama saja dan melepaskanya, apa tujuan mereka. Berbagai pertanyaan berputar di dalam pikiranya. Tidak ingin pusing dengan urusan mereka, Diana memilih untuk memejamkan kedua matanya.


“Sudah sampai, Nona. ” Terdengar suara Ghani seperti meledek, Diana meliriknya yang terlihat sedang menahan tawa.


Diana tersenyum dan tak lupa berterima kasih pada Ghani yang sudah bersedia mengantarkanya pulang, tak lama Ia pun turun dari mobil. Diana berjalan memasuki gerbang rumahnya. Selalu seperti itu, jika Ghani mengantarkan Diana pulang, Ghani tidak akan meninggalkan rumah Diana, sebelum Diana masuk ke dalam rumahnya.


Diana mengetuk pintu gerbang, tak lama satpam menbukakanya sembari tersenyum sopan ke arahnya. Diana menatap ke sekeliling halaman rumahnya, tampak sama, tidak ada yang berubah sedikit pun. Sudah dua bulan semenjak Ia pergi dari rumah ini, dan satu bulan Ia tidak bertemu dengan sang ayah, Diana sangat merindukanya.


Diana mengetuk pintu rumah, kemudian seorang pelayan membukakanya.


“Nona, Diana. ” Sapanya ramah di iringi langkah Diana yang masuk ke dalam rumah,

__ADS_1


“Apa ayahku ada? ” tanya Diana, matanya tak henti mengedar ke seluruh ruangan.


“Tuan besar, sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota, Nona. ” Jawabnya, Diana hanya mengangguk sopan. Pelayan itupun permisi untuk menyiapkan minuman untuk Diana.


Lantas untuk apa aku berada di sini?


Diana berniat untuk segera pergi, namun seketika langkahnya tersendat saat seseorang menarik lenganya secara kasar.


“Ibu, ”


PLAK!!!PLAK!!! Dua kali pipinya di tampar secara berlawanan kiri dan kanan. Diana menatap ibu tirinya yang tampak marah dengan tangan yang Ia tempelkan di pipi menahan perih tamparan yang ibu tirinya berikan. Tak lama Nameera berjalan mendekat dan menjambak rambut Diana secara kasar hingga wajahnya mendongak ke atas.


“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku! ” teriak Diana sambil meronta kesakitan.


“Berani sekali kau, menginjakan kakimu yang kotor ke dalam rumah ini!” ucap Nameera menghina Diana dengan penuh kebencian,


Aku memakainya, karena semua pakaianku tersimpan di kamar Alex, hanya tersisa beberapa kotak pemberianya di dalam kamar tamu dan isinya tak lain adalah pakaian yang Ia berikan padaku sebagai hadiah! Aku tidak akan memakainya jika tidak karena terpaksa.


“Bu, coba kau periksa tasnya. Apa Alex memberinya fasilitas mewah lainnya! ” ucap Nameera dengan menggerakkan dagunya menunjuk pada tas yang sedang Diana bawa sembari tanganya terus menjambak rambut Diana dengan kuat dan kasar, tak henti Diana meronta.


Ibu tirinya merebut tas Diana dengan paksa kemudian mengeluarkan isinya satu persatu, Ia melihat seluruh isi dompet milik Diana, berharap mendapatkan sesuatu di sana kartu gold atau semacamnya. Namun tidak sesuai dugaan, isinya tak lain hanya kartu biasa miliknya, mungkin itu adalah tabungan Diana satu-satunya dan sebuah kartu identitas tak lebih.


“Jangan, lepaskan aku! ” ucap Diana sembari terus meronta.


Tidak puas dengan hasil yang Ia temukan, ibu tiri Diana pun tak henti menggeledah isi tas Diana, matanya terbelalak seketika melihat sebuah alat tes kehamilan habis pakai. Nameera sama terkejutnya seperti ibunya,

__ADS_1


“Kau! Apa kau sudah melakukanya dengan Alex! ” ucapnya murka setelah melihat alat test kehamilan tersebut, dengan kasar Ia menghempaskan tubuh Diana hingga Diana tersungkur di lantai.


“Sialan kau! Wanita murahan! Dasar j*lang!” tak henti-hentinya Nameera mengumpat dengan amarah yang begitu menggebu di dalam hatinya.


Diana segera mendekati tas dan memasukan kembali isi tasnya yang berserakan, Ia berharap bisa segera pergi dari rumah ini. Saat Diana hendak berdiri seusai membereskan seluruh isi tasnya, tiba-tiba Nameera menginjak telapak tanganya dengan sangat keras. Diana menggigit bahwa bibirnya menahan rasa sakit. Nameera berjongkok di hadapanya lenganya mengangkat kasar dagu Diana dengan kaki masih menginjak kuat lengan Diana,


“Jangan senang dulu! Apa kau berpikir Alex mencintaimu! Tidak mungkin! Ia hanya menginginkan sebuah penerus darimu! Selepas itu semua, kau akan terbuang dan tidak di harapkan oleh Alex ataupun keluarganya! ” ucap Nameera seraya tanganya menghempaskan dagu Diana dengan kasar dan melangkah menjauh. Dengan cepat Diana berdiri dan menjauhinya.


“Tidak peduli apa yang kau katakan! Aku tidak peduli sedikitpun! Jika kau mencintainya mengapa kau tidak tetap bersamanya, mengapa kau malah mengorbankan hidupku! Kau ... kau yang menyebabkan semua ini! ” teriak Diana seakan tangisanya tertahan oleh amarah yang menggebu.


“Sialan kau! ” Nameera berjalan cepat ke arah Diana, namun langkahnya tercekat saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ia khawatir bahwa itu adalah ayahnya yang telah kembali dari perjalanan bisnisnya.


Diana membuka pintu, Ia terkejut mendapati Ghani yang berada di luar.


“Diana ada apa denganmu? ” Ghani melihat pipi dan mata Diana yang tampak merah,


“Kenapa kau kesini? ” tanyanya dengan khawatir, susah payah Ia menghindari Ghani.


“Aku berniat mengembalikan ponselmu, mungkin kau tidak sengaja meninggalkanya di mobilku. ” Ucapnya masih dengan menatap Diana heran


Diana langsung menarik lengan Ghani, berniat membawanya pergi dari tempat itu segera. Seketika Ia tersentak mendengar Nameera mengatakan sesuatu,


“Dasar j*lang tidak tahu malu! Sudah menikah dan tengah mengandung, masih berani-beraninya kau bertemu dengan lelaki lain. Kau sama seperti ibumu yang tidak tahu malu!”


BAM!!! Pintu tertutup dengan kerasnya seraya suaranya mengilhami perasaan Diana kini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2