Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 61


__ADS_3

Diana menatap dirinya di depan cermin, Ia menatap bayangan dirinya dengan begitu intens. Lengannya meraba bagian bawah perutnya, lalu pandangannya terarah pada satu setel baju yang Ia simpan di kursi meja rias. Kini dirinya berada di kamarnya sendiri. Kamar tamu.


“Semua bajuku tidak ada yang muat, apakah berat badanku bertambah? ” Diana menanyai dirinya sendiri,


Tiba-tiba, suara pintu terketuk dari luar. Seorang pelayan meminta agar Diana mempersilahkannya masuk. Diana mempersilahkannya, karena kebetulan pintu kamar tidak Ia kunci.


Pelayan masuk dengan membawakan nampan berisikan mangkuk bubur, lalu Ia menyimpannya di atas meja. Sementara Diana, masih menatap heran bayangan dirinya di depan cermin.


“Maaf, Nona. Tuan Alex memintamu.. ”


“Aku sudah tahu, ” Diana mengangkat sebelah telapak tangannya, Ia menghentikan ucapan yang akan pelayan itu sampaikan kepadanya. Pelayan itupun mengangguk, kemudian keluar dari kamar Diana.


Semenjak dua bulan yang lalu, Alex jadi sering memerintahkan kepada pelayan yang berbeda-beda ketika mengantarkan makanan ke dalam kamar Diana. Entah itu cemilan, atau sarapan pagi jika Diana tidak sempat memakan sarapannya bersama Alex di meja makan.


Tidak hanya itu, Alex juga selalu memberi pesan singkat kepada para pelayan. Pesan itu berisikan, jika saja Diana tidak menghabiskan makanannya, maka Alex akan memecat pelayan yang mengantarkan makanan ke dalam kamar Diana. Sering sekali para pelayan itu memohon kepada Diana. Diana adalah gadis yang tidak tega kepada seseorang, karena itu Ia selalu menghabiskan makanannya untuk menyelamatkan pekerjaan para pelayan itu. Ya, walaupun itu juga bukan beban berat bagi Diana, karena porsi makan dan jumlah kalori yang sudah di atur sesuai kebutuhan tubuhnya.


Diana duduk di pinggiran ranjang dengan badan yang masih menggunakan handuk tipis guna membalut tubuhnya. Perutnya merasa lapar dan Ia tidak bisa menahan godaan bubur seafood di hadapannya. Bubur seafood kesukaannya.


***


Alex tengah berada di dalam ruang kantornya, Ia menatap focus ke arah layar komputer dan sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Alex langsung menerima panggilan tersebut menggunakan earphone yang terselip pada telingannya.


“Bagimana keadaan istrimu? ” suara lembut itu menyapa, menanyakan bagaimana kabar menantunya


“Baik, Mah. ”


“Apa kau memperhatikanya dengan benar? Kehamilannya sudah memasuki minggu ke 14, pastikan dia tidak memakai pakaian yang ketat. ” Nyonya Pradipta terdiam sejenak, “Kau pasti sedang sibuk, aku tidak akan berlama-lama untuk mengganggumu. ” Sambungan telepon terputus,


Alex terdiam sesaat, Ia menautkan jemarinya dan menopangkan dagunya di atasnya. Tiba-tiba Alex terpikir perkataan yang ibunya di telepon tadi. Tak lama Alex langsung menghubungi pelayan guna menanyakan kabar Diana. Belakangan ini dirinya harus di sibukan oleh pekerjaannya yang begitu menumpuk, sehingga Ia tidak terlalu memperhatikan Diana. Dan mempercayakan semuanya kepada pelayan yang berada di dalam mansionnya.


“Bagaimana, Diana? ”


“Maaf, Tuan. Sebenarnya ... Sedari tadi pagi, nona muda tidak keluar dari dalam kamarnya. ” jawabnya dengan gugup, “Salah satu dari kami bergantian untuk berkunjung dan menanyakan apakah nona muda baik-baik saja, dan Ia menjawab bahwa Ia baik-baik saja, Tuan. ”

__ADS_1


Alex langsung menutup sambungan teleponnya, Ia langsung menekan tombol khusus pada telepon, yang langsung menghubungkannya pada meja sekretaris pribadinnya.


“Undur semua jadwalku hari ini, ”


Alex meraih jas miliknya yang tergantung pada gantungan khusus yang di tempatkan di dalam ruangannya. Ia langsung bergegas pergi keluar ruang kantornya. Semua staf berdiri dan membungkuk ketika bos besarnya itu berjalan lewat. Tanda menghormatinya.


***


Alex membuka pintu kamar Diana, Diana terkejut dan langsung melihat ke arah pintu. Diana membuang nafasnya berat, siapa lagi yang berani membuka kamarnya sekasar itu selain Alex. Diana tampak sedang berdiri di atas sebuah timbangan.


Alex melirik arloji di pergelangan tangannya, “Apa kau baru selesai mandi? Jam berapa sekarang? ” tanya Alex sembari berjalan mendekat ke arah Diana


Diana mengalihkan pandangannya dari Alex, dan beralih melihat ke arah timbangan yang tengah Ia injak. “Hah! ” teriaknya, sontak Ia turun dari timbangan. Alex menatapnya heran. Diana langsung beralih ke depan cermin.


“Ada apa denganmu? ” Alex menarik lengan Diana, membuat Diana berbalik dan menatapnya.


“Kenapa kau sudah pulang? ” Matanya melirik ke arah jam dinding, “Pukul 11 siang, ”


“Kau belum menjawab pertanyaanku, ”


Alex berkerut kening, Ia menatap ke arah baju yang berserakan di atas ranjang dan memenuhi meja riasnya. Alex langsung meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


Beberapa menit, seorang pelayan mengabarkan bahwa beberapa orang dari toko baju datang dan membawa beberapa pilihan baju. Alex menatap Diana dan mengangkat kedua halisnya, Diana terdiam, tidak ingin mengerti apa yang Alex isyaratkan.


“Tidak mau keluar dengan keadaan seperti ini, ”


“Kau, ” Alex menunjuk seorang pelayan, “Bawakan beberapa pakaian itu kemari, ” Pelayan itu mengangguk, mengiyakan perintah dari tuannya.


Diana mencoba satu gaun, Ia menatap dirinya di cermin, matanya terbelalak. Ia meraba-raba bagian perutnya yang sudah terlihat menonjol karena tengah mengandung. Bahkan gaun cantik yang tengah Ia kenakan terlihat tidak pantas untuk wanita hamil sepertinya.


Alex terkekeh pelan, “Kau terlihat sangat lucu. ”


“Anakku, ” gunam Diana pelan, senyum manis terukir di wajahnya. Alex menghentikan tawanya, Ia terdiam dan menatap ke arah Diana. Ini adalah kali keduanya Ia melihat gadis itu tersenyum bahagia. Gadis itu, sangat manis ketika Ia tersenyum.

__ADS_1


“Bukankah itu sangat manis? ” gunamnya dalam hati, Alex menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


“Bukankah sangat bosan berada di dalam kamar? ” gunam Diana, mengelus-elus bagian perutnya. Alex tersenyum tipis.


***


Alex menautkan jemarinya, membuat Diana merasa tidak nyaman. Karena hari ini Ia pulang lebih awal dari biasanya, Alex menyempatkan diri untuk mengajak Diana keluar untuk berbelanja. Sebelum akhirnya berkeliling di mall, Alex juga membawa Diana pada spesialis kandungan untuk memeriksa kandungannya yang sudah memasuki minggu ke 14.


“Lucu sekali, ” gunam Diana, melihat ke arah toko pakaian bayi.


“Tidak untuk anakku, kita bisa memesankan baju khusus untuknya dengan bahan kain terbaik, ” ujar Alex dingin,


Diana tampak kecewa, Ia mengangguk pelan, “Ajari dia sebaik mungkin, ” ujarnya, “Jangan pernah membiarkannya menuruni sikapmu. ” sambung Diana pelan, “Jaga dia baik-baik, ”


“Kau bersikap seperti kau akan pergi menjauh darinya, ” ujar Alex, Diana hanya terdiam mendengarnya.


***


“Makan ini, ” Alex menyendokan salad buah dan menyimpannya di mangkuk Diana sebagai hidangan penutup.


“Mengapa akhir-akhir ini kau sangat baik ... ” gunam Diana pelan


“Apa? ” Alex menatap Diana, Ia mendengar Diana mengatakan sesuatu, namun tidak mendengarnya dengan jelas


“Tidak, ” Diana terdiam sesaat, “Mengapa kau sangat baik kepadaku? ” tanya Diana


Alex mengalihkan pandangannya dari menatap sajian makan malamnya, “Kau adalah istriku, ”


“Hanya itu? ”


“Kau adalah ibu dari anakku, aku harus baik dan peduli kepadamu. ”


“Yah, ” timpal Diana

__ADS_1


“Benar ... Kau tidak pernah mengatakan bahwa kau mencintaimu. Namun perilaku lembutmu, tidak bisa tidak membuat hatiku luluh. Aku mencintaimu, bisakah aku menggunakan sedikit waktuku dan menikmatinya? ” batin Diana


__ADS_2