
Jeritan histeris terdengar berkali-kali dan dentuman keras musik horor sama mengerikannya dengan film yang sedang di putar di layar lebar.
Aku tak berani melihat adegan apa yang sedang terjadi di layar lebar itu karena sejak tadi waktu ku lirik dari sela jari-jemariku yang menutupi semua mataku cuma gelap, kejar-kejaran dan teriakan ketakutan.
Aku mengembuskan napas panjang karena tanpa sadar aku sudah menahan udara dalam paru-paruku selama beberapa saat. Sangat banyak kejadian yang mengejutkan hari ini. Aku sakit, terluka, lapar, rapuh dan detik ini di ruangan besar yang memiliki banyak kursi ini aku masih harus berjuang melawan ketakutanku sendiri selama satu jam tiga puluh menit.
Bisa dibayangkan, setelah keluar dari ruangan ini aku trauma. Aku benci film horor karena hidupku sudah horor. Anggaplah pertanyaan kapan hamil yang terus selentingan terdengar selama lima tahun itu horor bagi perempuan pejuang garis merah sepertiku. Percaya deh, habis ditanya seperti itu aku senyum walau sampai rumah aku hancur, nggak mau makan, dan murung.
"Tante, kenapa?"
Abimanyu yang duduk di sebelahku ini memang sialan. Sudah aku bilang tadi takut sampai menolak tidak jadi nonton, tapi ia mengumpatkan sumpah serapah karena aku mengganggu kencannya dan terus mendorong bahuku menuju kursi ini.
"Mau pingsan rasaaa. Huaaaaa..." Suara jeritan wanita yang melengking terdengar mengerikan. Memacu jantungku berdebar sekaligus membuatku terperanjat kaget sampai aku menutup kedua telingaku dan menundukkan kepala.
"Udah," kataku frustrasi, "Papa aku mau pulang."
Pundakku yang terbuka terasa di lempari sesuatu berkali-kali. Aku meraba, mataku perlahan terbuka dan ku lihat, "Pop corn."
Leherku langsung berputar melihat Abimanyu yang mengunyah pop corn tanpa melihatku. Dia serius memandangi layar lebar dan dengan satu tangan kirinya menggenggam tangan pacarnya.
"Rese, gak sopan." Aku mendelikkan mata, tetapi sia-sia. Sekujur tubuhku yang terasa kelelahan tidak mengizinkanku membalasnya. Di tambah posisi kami di barisan tengah membuatku tak banyak bergerak dan bereaksi.
Abimanyu mengulurkan pop corn beraroma karamel kepadaku. "Makan tuh daripadanya jantungan!"
Ya ampun, bocah. Ah, anak sekarang emang kurang sopan santun dan setelah menghirup napas dalam-dalam, aku mengusap air mata dan mulai duduk tegap. "Bella Ellis, kamu pasti bisa." gumamku menyemangati diri sendiri. Tanganku terjulur masuk ke dalam kantong dan meraba-raba isinya.
Aku menunduk, ku pandangi wadah pop corn dan melongo. Sialan.
"Habis, cuma baunya doang." Aku mendengus dan meremas bungkusnya. Ku pandangi Abimanyu kemudian. Abimanyu melirikku dengan satu alis terangkat.
Aku menghela napas dan menutup mata untuk menenangkan diri. Aku rasa, Abimanyu balas dendam sudah aku ganggu kencannya, tapi aku masih sabar menghadapinya.
Film berakhir. Tepuk tangan terdengar meriah, orang-orang berseru dan lampu menyala. Mataku berkedip-kedip dan mendesah lega. Aku menoleh, ku kembalikan bungkusan pop corn itu kepada pemiliknya.
"Makasih!" kataku ketus dan hampir menjitak kepala Abimanyu saking gemasnya. Dia meringis dengan ekspresi datar sementara ceweknya menjulurkan lidahnya panjang-panjang.
__ADS_1
Aku berdiri, ku pandangi keduanya sambil menurunkan potongan baju di bagian bahu biar melorot.
Sudah cukup cari hiburannya, Bella. Pulang, luluran, dan berendam. Kamu butuh relaksasi.
Aku mengangguk, kemudian setelah melototi keduanya aku berbalik, menuruni anak tangga tanpa alas kaki sembari memperhatikan sekeliling.
Aku tersenyum kecut, tanpa bisa di cegah, beberapa mata telanjang para laki-laki menuju ke arahku. Aku mempunyai tubuh proporsional, dan selalu fashionista. Paras ku di anggap mirip Wika Salim. Aku bersyukur, tetapi belum sempat langkahku keluar dari bioskop sebuah siku tangan menyikut lenganku.
"Maaf Tante, ini bukan fashion show."
Mataku membesar begitu melihat Abimanyu dan ceweknya mendahuluiku.
"Iya aku maafin."
Aku keluar dari bioskop, melewati sebuah lorong berbarengan dengan beberapa pengunjung lainnya yang membicarakan film tadi dengan antusias.
"Ngeri banget gue, nih lihat, merinding asli."
Sama.
"Apalagi?" tanyaku sewaktu mereka berhenti sambil meringis.
"Tawaran Tante tadi masih berlaku?" Pemuda setengah bule itu memandangi mataku, entah untuk apa.
Aku mengerjap setelah berpikir sejenak. "Oh, soal traktiran?" kataku dengan nada tak seceria tadi.
Abimanyu mengangguk, tepat ketika aku menguap, pemuda ini ngomong ‘traktir makan kita dong’ dengan nada suara tak berdosa.
Aku mengangguk tak keberatan. "Boleh, ayo. Mau makan apa?" tanyaku sungguh-sungguh, lagian dengan begitu mereka tidak dendam dengan keberadaanku tadi. Ah, tapi dasarnya saja remaja labil. Lain di mulut lain di hati.
Tapi lagi-lagi dengan tanpa dosa, mereka berjalan mendahuluiku menuju tempat makan incaran kedua anak muda sialan ini.
"Mau minta traktir atau malak?" seruku sambil membanting hak tinggi ku ke lantai di ruangan yang telah di pilih mereka ini. Bisa-bisanya dua anak muda ini pergi ke restoran mahal.
"Tadi nawarin, sekarang protes. Tante gak ikhlas?" sahut Abimanyu dan ceweknya meringis.
__ADS_1
Mataku bergerak berputar. Aku menghembuskan napas dan duduk.
Demi harga diri, Bella. Santai. Ada duit sepuluh juta di tas kamu. Lagian mereka pasti cuma iseng.
"Makan yang kenyang, ntar kalo masih ada sisa minta di bawa pulang. Jadi take away." kataku tenang, sumpah aku sudah biasa makan di tempat ini. Tapi bagi mereka, mungkin belum.
Aku tersenyum sambil menatap Abimanyu.
"Papa kamu sakit apa?" tanyaku prihatin.
"Rahasia." jawab Abimanyu diikuti senyuman tipis.
Ku hirup napas dalam-dalam, tak memaksa. Besok juga aku ke rumahnya. Sekalian saja aku menjenguknya. Beres, Abimanyu kira perjalanan waktu tak membuatku banyak akal. Dasar remaja.
"Selamat menikmati." Pelayan restoran mempersilahkan kami untuk menikmati daging-dagingan yang telah ia bakar di grill set.
Aku menikmati dalam diam sementara Abimanyu dan ceweknya yang cerewet yang tidak aku minati untuk berkenalan sibuk mengomentari semuanya.
"Bagaimana, masih mau nambah?" tanyaku sambil mengeluarkan ponsel dari tasku yang bergetar.
Nyonya bapak datang. Di tunggu sekarang.
Air muka ku pasti jadi berubah setelah membaca pesan dari bibi Marni.
Mau ngapain lagi papi!
"Udah cukup. Makasih, Tante galau." sahut Abimanyu, dia makan cukup lahap barusan dan tenang. Tapi mulutnya itu lho suka bener. Pengen deh aku remas mulutnya itu.
Aku menghembuskan napas seraya berdiri. "Bagus, tante harus cabut duluan, terima kasih ya udah bikin hari ini penuh pasang surut. Bye–bye, Abi, dan..." Aku mendesah sambil mengibaskan tangan. Nggak penting. Ku raih sepatu hak tinggi ku di lantai dan tas jinjing ku di meja.
Abimanyu pun ikut berdiri. "Nebeng, Tante."
•••
Bersambung.
__ADS_1