
Pikirkan ku berpencar. Kesana kemari tanpa arah, meleset tak terkendali. Memutari bumi dan kembali ke rumah Sisca tanpa menemukan satu pun ketenangan yang aku inginkan.
Aku mengangkat dua cangkir kopi ke meja bar. Menaruhnya di depan Abimanyu dan Kevin.
Sejenak aku menatap Kevin yang melihatku dengan senyum ramahnya. Otak bisnisnya pasti bekerja setelah tahu siapa pacar Julian Rudolf, nama panggung Abimanyu.
Aku duduk di samping Abimanyu.
"Kalo itu benar Narendra, dia benar-benar balas dendam dan kecewa. Pasti gara-gara duit yang aku kembaliin kemarin."
Abimanyu merentangkan tangan, merangkul bahuku. "Apa kamu juga kecewa Eli?"
"Are you sure?" Aku meremas paha Abimanyu, "Aku justru kecewa jika karirmu merosot gara-gara foto dan video itu. Itu termasuk skandal kamu. Bukan, itu juga skandalku. Privasi kita terbongkar! Malu tau di lihat banyak orang karena seharusnya hanya kita yang merasakannya. Hanya aku dan kamu, Abi."
Suara kekehan terdengar dari belakang punggung Sisca. Aku mendendang kaki Abigail. "Masuk ke kamarmu sana!" kataku galak.
"Bucin banget Tante Bella, bener-bener patah hati fans kak Ian." Abigail bersikukuh tetap duduk di samping Sisca dengan merangkulnya erat-erat.
"Terserah!" pungkasku sambil merapatkan diri pada Abimanyu dengan mencengkeram kemeja linennya dan menatapnya dari dekat. Setiap tersenyum pipinya terlihat berisi dan ototnya makin bertambah keras. Aku jadi tidak berdaya lagi. "Kangen, apa aku udah kurusan?"
Abimanyu memalingkan wajah dengan senyum menawannya kepada Kevin. "Sorry, kak Kevin. That's my lady."
Kevin meluruskan tulang punggungnya. Melihat bagaimana raut wajahnya yang sedikit-sedikit tersenyum lebar dan otak managernya sedang di serang situasi yang urgent. Aku menyilangkan kaki.
"Kevin, ada keperluan apa kamu ikut ke sini?" tanyaku basa-basi. Aku sudah tahu Abimanyu kenapa membawanya ke sini.
"Kalian berdua konferensi pers saja jika memang serius berhubungan. Cincin itu?" Kevin mengamati jariku dan Abimanyu, "Cincin apa itu? Tanda jadi?"
"Cincin restu!" sahutku tegas. "Abimanyu sudah melamarku lima hari yang lalu waktu kejadian itu terjadi." Aku menutup pipiku dengan kedua tangan. Takut merona.
__ADS_1
"Aku happy, dan happy bikin lupa diri."
Abimanyu mencium pelipis ku dengan keras. Tangannya menarik pinggulku lebih dekat. "Bukan salah kita!"
"Benar bukan salah kalian, makanya daripada orang yang bikin heboh negara ini naik daun. Kita ambil jalan tengah. Kalian mau gimana?" Sisca menimpali.
Aku menggeleng-geleng dan mengerjap polos. "Orang-orangku jelas tau aku gimana Sis, bisnis up and down udah biasa. Itu gampang lah, mereka kompeten. Urusanku lebih mudah ketimbang Abimanyu. Vin, apa perlu konferensi pers? Atau biarin aja dulu, biar makin hot?"
Tanganku dan Abimanyu bertautan di atas pangkuan. Aku menatap Abimanyu, walaupun dia mengerti kegelisahanku aku tetap bertanya.
"Bagaimana denganmu, Abi? Dengar-dengar ada film baru kamu?"
"Bagaimana kak? Ada jalan tengah yang bagus buat karir dan Eliku?"
Eliku, ingin sekali aku mengejang. Nada itu seperti rayuan.
"Orang-orang pasti tahu bermain-main dengan media ada imbasnya. Sekarang gue tanya, kalian mau gimana dulu biar gue juga mudah mencari jalan keluar!" kata Kevin.
"Kamu bilang aja Abi, aku ingin kamu mendominasiku!" kataku dengan mesra.
"Well, well, well. Abigail, lebih baik kamu masuk dulu. Ini urusan orang dewasa." ucap Sisca dengan menarik lengan Abigail.
"Besok bisa ketemu Julian lagi, sekarang bukan waktu yang tepat Gail. Jadi mama minta kamu masuk ke kamar. Go!" Sisca menyentakkan dagunya.
Abigail yang berdiri sambil cemberut.
"Mama booking kak Ian buat jadi bintang di acara ulang tahunku besok! Kalo enggak, uchhhh..." Tangan mungil bocah SMP itu mencubit kedua pipiku. "Tante Bella bakal jomblo!"
"What the h...." Aku menghela napas, "Gak mungkin aku jomblo, enak bener bocah ngomong. Bella Ellis kok jomblo, emang nggak ada yang mau apa!" Aku mengerang dengan suara rendah.
__ADS_1
Cengkraman Abimanyu semakin erat di pinggangku. Aku mengecup rahangnya setelah bocah di bawah umur itu pergi.
"Aku tau kamu memilikiku, tapi... Bagaimana kamu akan menjelaskan tentang hubungan kita Abi. Aku tidak menuntut apapun dari kejadian ini, apapun keputusanmu aku bisa ambil porsi."
Mulut Abimanyu melengkung, gemuruh suara protes langsung terdengar dari dua orang yang melihat bibir kami bertaut.
Aku melempar senyum minta maaf dan meneguk kopi yang aku buat untuk Abimanyu.
"Aku tetap akan jujur, dan memulai hubungan kita lebih terbuka. Mungkin itu sedikit merepotkanmu Eli karena media akan mencarimu. Cuma bukannya itu bagus? Tidak banyak gadis yang akan patah hati setelah tau aku milikmu dan kamu milikku." Abimanyu melonggarkan pelukannya di pinggangku, sepertinya dia takut Kevin semakin takjub dengan apa yang dia lihat.
"Terus gimana kalo semua tawaran pekerjaan untukmu batal? Kamu tahu babe, aku ingin menikah di Arties, Catalunya, Spanyol."
Abimanyu langsung melirikku tajam dan serius. "Yakin disana?" tanyanya penuh kewaspadaan.
"Absolutely, baby!" Aku mengangguk. "Itu impianku, kamu harus mau." Desakku dengan suara lembut.
"Kita bisa membuat pernikahan disana tanpa media tepat di musim semi. Itu indah." Aku tersenyum hangat, membayangkan itu saja aku langsung senang. Bayang-bayang kehangatan pernikahan yang sepi dan intim membuat denyut nadiku berpacu.
Sisca terbahak, kepalaku di tonyor olehnya. Dan itu membuatku mendengus.
"Sadar Bella, sadar. Mimpimu masih jauh Bella, urus ini dulu!"
Keadaan menjadi hening untuk beberapa menit. Kami berpacu melawan emosi dan perasaan di dalam kepala dan hati.
Aku ingin mengutarakan perasaannya hari ini. Semua mengejutkan dan indahnya kasih yang kami punya lebih menguatkan aku untuk memilih yang terbaik untuk meluruskan hal ini.
Aku menggenggam tangan Abimanyu.
"Kita akan mengutarakan semuanya di media, lalu menghilang ke Spanyol untuk sementara waktu. Vin, urus visa Abimanyu dan semuanya."
__ADS_1
...**********...