
"Gimana Sis, udah ada orang yang mau jagain Abi?" tanyaku lewat sambungan telepon sambil menendangi pasir putih. Suara deburan ombak dan senja mulai menghilang di ufuk menyertai sabtu sore ku di pinggir pantai. Aku kabur ke Bali, siang hari setelah mengungsikan bibi Marni ke hotel hanya demi mengelabui Abimanyu dan papih Narendra.
"Ada Bell... Ada satpam dari kantor gue. Udah dulu, gue sama geng kemayu lagi on the way ke pernikahan mantan elo." ucap Sisca menggebu-gebu, entah mereka sedang ngapain cuma kedengarannya sedang sibuk sekali.
"Oke good luck gengs, jaga diri." sambungan terputus, aku menghela napas seraya mengusap leherku. Senang memiliki geng yang begitu solid dan takut jika itu akan memancing perkara baru di hidupku. Tapi aku yakin geng kemayu bisa main cantik karena mereka ditemani suami-suami mereka yang sebanding dengan Narendra Wicaksono. Itulah alasan utama geng kemayu terbentuk, kami istri-istri pengusaha dan pejabat yang kesepian. Sebuah risiko mencintai laki-laki sibuk dan berpengaruh. Waktu adalah uang dan istri adalah pajangan. Sebuah kejujuran yang nyata adanya.
Aku berbalik, dengan langkah tertatih aku menyingkir dari tepi pantai. Menepi dari keindahan yang ku nikmati sendiri dalam lelah. Aku harus kembali ke penginapan sebelum hari semakin gelap karena Bella Ellis kini tak lagi ada yang menjaga diam-diam.
Aku tiba di bungalow dengan arsitektur Bali modern dan mengempaskan diri di kursi rotan. Menepis pasir-pasir yang menempel di kakiku seraya mendesah.
Semburat warna jingga meninggalkan langit Bali tepat ketika aku merasa sepi semakin mengental di sekitarku. Jutaan hiburan yang tersaji di pulau ini rasanya tak menggoda seperti biasanya. Tidak ada suara diskotik yang mengentak-enak, tidak ada alkohol dan kafe yang ingin aku kunjungi. Aku hanya ingin berhenti berlari dari kenyataan tentang pahit dan manisnya beberapa Minggu dalam hidupku sekarang. Tapi aku yakin aku akan menjadi pusat dunianya suatu saat nanti.
***
Aku berbalik dan melangkah dengan cepat untuk bergegas menghentikan suara ponselku. Tubuhku yang terselimuti handuk asal-asalan meneteskan air di lantai vinyl dari kamar mandi sampai ke kamar. Baru juga aku hendak mengucapkan sambutan pinggilan berputus.
"Iseng banget sih, gak punya kerjaan ya! Sialan, ganggu orang mandi aja."
Aku mematikan ponselku dan melemparnya di kasur. Sudah beberapa kali nomer itu menghubungiku tanpa informasi yang jelas, hanya telepon, berhenti, telepon, berhenti. Tidak mengirim chat atau pesan yang jelas-jelas memudahkan komunikasi.
"Habis ini masih harus ngepel. Ya ampun, niat piknik atau mau berumahtangga ini." Aku mendesah sambil menelanjangi diri seraya masuk ke bathtub. Sudah empat hari ini aku hanya wira-wiri ke pantai dan mengunjungi klinik Elissa Skin And Aesthetic Clinic cabang Bali
yang berada di daerah Gianyar, suatu kabupaten yang berada di tengah pulau Bali. Lokasi strategis yang menghubungkan kawasan wisata Bali selatan dengan kawasan wisata Bali bagian timur.
Selesai berendam yang terasa berjam-jam lamanya. Aku leluasa berjalan ke kamar ku, dua hari lagi aku harus kembali ke Jakarta. Bibi Marni sudah mengadu tidak betah, pengen pulang ke rumah, bosan di hotel sendirian. Dia tidak nyapu, tidak ngepel, apalagi nyuci baju. Makan pun di layani meski riskuker yang dia bawa tetap berisi nasi hangat. Bibi Marni bosan menjadi orang kaya katanya waktu menelpon ku kemarin. Dia ingin pulang, tapi takut aku belum membayar semua biaya menginap dan seluruh layanan kamar yang dia nikmati dengan setengah hati.
__ADS_1
Aku tersenyum lebar waktu itu. Demi apapun meski sudah sering mama dan papa ajak perjalanan bisnis, bibi Marni tetaplah bibi Marni, si ribet dan worry over.
Aku menarik keset kaki yang berada di depan pintu bungalow dan menggosokkannya di air yang berceceran di lantai.
"Gimana kabar Abimanyu yah, apa dia kehilangan ku selama empat hari ini?" gumamku sambil mengempaskan diri di tepi ranjang, temaram lampu taman menemani malam ku yang lelah setelah mencampakkan keset kaki itu ke dalam kamar mandi.
Aku meraih ponsel, dan menghidupkannya lagi. Sejujurnya aku penasaran dengan pernikahan Narendra dan Debora. Bagaimana meriahnya, mewahnya, dan bagaimana hebohnya geng kemayu saat mereka menggoda Debora dengan menghadirkan mantan kekasihnya dan orang-orang yang pernah mengencaninya.
Aku pantang untuk membuka semua sosial media kecuali aplikasi chatting yang mengharuskan ku terkoneksi dengan rekan bisnis, partner kerja dan teman.
Aku yakin Abimanyu selama empat hari ini merasa bebas. Tidak ada tante-tante yang meruntuhkan imannya, bahkan ketika malam itu aku meninggalkannya. Abimanyu tidak mengikutiku dengan motornya jika memang ia meyakini bahwa malam itu ketika kami bersandiwara ada hasrat yang menyala untuk saling menjaga.
Aku menggulir layar ponselku, memeriksa foto-foto yang di kirim oleh Joe, satpamnya Sisca yang selama empat hari ini mengikuti dan menjaga Abimanyu diam-diam.
Aku mengacak-acak rambutku supaya lekas kering. Ini sudah jam sepuluh malam waktu Indonesia bagian tengah. Aku sudah ngantuk, sudah ingin tidur. Terlebih bungalow yang tak jauh dari pantai ini sangat nyaman. Suasana kondusif, jauh dari ingar-bingar.
Aku menaruh ponselku di bawah lampu tidur setelah puas memandangi Abimanyu dalam kemasan foto dalam layar seraya menuangkan air putih dan meminumnya. Sebelum tidur biasanya aku melakukan rutinitas sehari-hari, merawat kulit wajah.
Aku melakukan itu di depan cermin bulat. Aku tersenyum seraya berbalik dan menjatuhkan diri di tempat tidur lalu terkekeh. Mungkin inilah nikmatnya mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Dengan luwes aku menyembunyikan tubuhku di dalam selimut putih tebal, namun ketika mataku mulai terpejam. Ponselku kembali berdering.
Aku mengamati nomer itu dan langsung mengangkatnya.
"Yes, hellow... Ada yang bisa aku ban—"
"DIMANA?"
__ADS_1
"Eh?" Aku menjauhkan ponselku dari kuping. "Berisik, bodoh! Gak bisa ngomong santai aja apa." kataku galak.
Helaan napas kentara terdengar dari speaker ponselku.
"Siapa kamu, kenapa ganggu aku terus?" tanyaku dengan semangat tinggi. Akhirnya terhubung juga dengan pengganggu yang pengen aku semprot dengan vaccum cleaner.
"Apa Tante gak kenal suaraku?" sahutnya lebih galak. "Dimana, jawab!"
Aku mendesis. "Ngapain kamu pengen tau. Udah deh ya, nikmati saja waktumu tanpa aku. Lagian kamu ngapain telepon aku, bukannya dulu kamu gak mau ngasih tau nomer kamu!"
Panggilan langsung berubah menjadi video call, aku tergeragap seraya menarik selimut asal-asalan untuk menyembunyikan tubuhku yang berbalut baju tidur seksi.
Abimanyu memutar bola matanya sebelum ia berani menatapku. "Tante dimana?"
"Kerja, Abi. Di klinik cabang." jawabku pasrah, remaja ini pasti tidak akan diam kalau aku tidak jujur. Pasti itu, mukanya sudah jelas kesal dan tidak sabar.
"Ya, dimana? Klinik cabang tidak cuma satu, Tante. Yang jelas dan jawab!"
Abimanyu melotot, aku yang kesal menjejakkan kaki ku di sprai, kreekk... Sobek. Aku menepuk jidatku yang berakibat melorotnya selimut.
"Tante!" sentak Abimanyu, dia memalingkan wajah. "Sorry." Aku merapikan selimut ku sambil terisak-isak tanpa air mata. Pasti ganti, pasti ini. Gak mungkin enggak. Aku menghela napas. "Aku ada di klinik luar Jawa, cari aja kalo kamu pinter!"
Aku menjulurkan lidah dan panggilan langsung terputus.
"Oh, aneh elo ya. Gangguin orang aja bisanya." Aku menggeram seraya menaruh ponselku kembali ke nakas. "Awas aja kalo tiba-tiba muncul. Gue sikat elo, Abi!"
__ADS_1