Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
That's for sure


__ADS_3

Di dalam kamar. Aku menutup wajahku setelah Abimanyu mengunci pintu. Dia bersiul-siul senang seraya duduk di sofa dan melepas sepatunya.


Ada banyak perabot di kamar pengantin ini dan tentunya bunga dari pihak penginapan dan sebotol anggur merah di dalam baki berisi es untuk merayakan pernikahan kami.


Aku mengintipnya dari sela-sela jari. Abimanyu mengendorkan dasinya, lalu membuka kancing jas dan melepasnya. Sekarang dia menyandarkan tubuhnya. Ia menyunggingkan senyum dengan mata geli.


Aku tidak tahu pikirannya sekarang apa, apa darah mudanya sedang membara, atau dia sedang berpikir yang aneh dan lucu. Astaga. Abimanyu, kamu sok-sokan misterius. Kadang mesra, kadang cuek, kadang susah aku tebak. Kadang-kadang matanya yang teduh terlihat serius dan dalam.


Aku wira-wiri di samping sofa. Alasan apa yang harus aku berikan untuk menunda malam pertama.


"Babe, aku tau kamu mantan model dan kamu sudah berhasil menurunkan berat badan. Kamu seksi, cuma sayang kakimu sudah pegel sebelum waktunya." puji Abimanyu dengan nada meledek.


Mama, aku harus gimana. Kalo dulu yang mulai papih, aku mah pasrah. Sekarang, nggak mungkin aku yang mulai. Nanti Abi ngira aku yang benar-benar mupeng. Mama... Malu...


Dalam batin, aku menggeleng frustasi. Cuma nanti kalau Abimanyu jadi curiga aku tak benar-benar cinta gimana?


Mama, aku harus gimana?


Aku menyilangkan pergelangan kaki. Gaya kebelet pipis.


"Sayang," Aku membuka tanganku, mengembuskan napas dengan berat. Dalam potongan celana kolor olahraga dan kaos hitam Abimanyu tampak seksi di atas sofa hitam klasik.


Kapan dia lepas baju pengantinnya. Kenapa cepet banget.


Perutku melilit. "Aku ke toilet dulu ya. Aku kebanyakan minum tadi." akuku jujur, kantong kemih ku penuh dengan anggur merah dan air putih. "Sekalian aku siapin air buat kamu mandi, oke baby?"


Abimanyu mengangguk tanpa suara dan tidak bergerak, menatapku sementara aku berjalan ke kamar mandi buru-buru.


Aman, aman. Aku mengelus dadaku sesaat setelah mengunci pintu dan menyandarkan tubuh di daun pintu.


"Sumpah, deg-degan parah. Aku seperti kehilangan jati diriku yang centil dan berani. Aku mau jadi kerang aja, yang perlu di buka dulu sebelum di makan!"


Aku menghidupkan kran air yang mengisi bathtub.


"Baby, mau air hangat apa dingin?" teriakku sambil melepas pakaian pengantin. Sudah ijab, sudah cukup jadi pengantinnya. Aku harus kembali menjadi Bella Ellis, bukan Bella pengantin anyar.

__ADS_1


"Dingin, Bella."


Mataku melebar. Suaranya terdengar dekat. Jangan-jangan Abimanyu ada di depan kamar mandi? Aduh mau ngapain...


"Tunggu bentar, aku akan mengurusnya." Aku menggantungkan pakaianku di gantungan baju seraya mencari bathrob di laci.


Kok nggak ada, batinku sembari terus mencari di setiap wadah tertutup di kamar mandi dengan muka panik.


"Siapa yang ngerjain aku, kenapa nggak ada sama sekali handuknya!" Aku mengeretakkan kaki. Kesal. Terpaksa aku memakai kebaya lagi tanpa bawahannya dan membuka kunci pintu.


Kepalaku melongok keluar bertepatan dengan kepala Abimanyu yang melongok ke dalam dari arah samping kanan


"Udah?" tanyanya setelah membiarkan aku terkejut dengan histeris, tangannya berusaha mendorong pintu namun aku mati-matian menahannya sembari meringis dan menggelengkan kepala.


"Kenapa lagi Bella?" Abimanyu menghela napas. "Aku juga mau ke toilet, jadi buka, plis babe aku juga kebanyakan minum tadi!" Akunya dengan pipi yang mengeras menahan senyum.


"Iya aku keluar tapi kamu merem dulu boleh baby? I'm naked and i'm shy. Nggak ada handuk di dalam!" kataku dengan sedih.


"Sure." Abimanyu tersenyum, dagunya mempersilahkan, matanya kemudian terpejam.


"Don't be shy, cause i'm yours." bisik Abimanyu setelah terkekeh. Dia menyandarkan dagunya di bahuku. "Nggak siap?"


Abimanyu mengurai ekor kebaya dari tanganku yang mencengkram erat satu pelindung ku sekarang. Ia membiarkan kain itu jatuh ke lantai dan membiarkan aku tampil dengan satu potongan kebaya dan celana lingerie merah.


Aku menginjak kakinya sebentar lalu mencubit tangannya yang memelukku dari belakang. "Kamu bohong." kataku sebel.


Abimanyu terbahak dengan merdu, kepalanya mendekat semakin lekat ke leherku. Bibirnya yang slalu manis dan ada rasa permennya menyentuh leherku dengan lembut. Mendadak ada hasrat yang menggelitik raga ini untuk bersandar semakin lekat di tubuhnya. Mendamba bibirnya yang


"Aku nggak bohong, babe. Aku cuma iseng sama kamu yang bener-bener bikin aku iseng sama kamu." aku Abimanyu, tangannya menyingkirkan rambutku dari leher. "Kamu terlalu seksi sekarang."


Kami lalu bertatapan melalui cermin yang terpatri di tembok. Kami berdua tersenyum, pipiku merona dan tak bisa menatap Abimanyu dengan lama.


"Aku jadi kerang, jadi jangan harap aku yang mulai." kataku memberitahu. "Jangan minta aku pakai lingerie juga, kamu nanti kesenangan terus lupa kalo ada tujuan yang lebih bagus!"


Senyuman Abimanyu semakin merekah. "Terus apalagi?" tanyanya.

__ADS_1


"Yang lama, di dalam!" Aku memutar tubuhku dalam pelukannya yang sama sekali tidak terlepas.


Abimanyu menahan senyum sampai pipinya terlihat merah, dan mengeras.


"Kamu kenapa? Salah ya permintaanku?" Aku menangkup rahangnya, cemberut. "Aku cuma jujur."


"Gak salah kok!" Abimanyu menjawab dengan tergesa dan tercekat. "Masalahnya sekarang kamu, Eli. Kamu yang super pemalu tapi mau dan over thinking!"


Aku menurunkan tanganku ke sisi tubuh. "Aku malu, aku tua. Nanti kamu kaget dan nggak mau." kataku sedih.


"Masa, bukannya kemarin udah operasi plastik?" Abimanyu meraih tanganku, "Aku mau, kamu aja yang pemalu!"


Ia berbalik seraya melepas kaosnya. Mempertontonkan semua otot di tubuhnya yang keras sebelum masuk ke kamar mandi.


Gemericik air berhenti. Aku yang masih termangu di depan cermin menatap Abimanyu lagi yang berkacak pinggang di tengah pintu kamar mandi.


"Kata bibi Marni aku bisa minta apa saja sama istriku sekarang, Bell. Jadi aku minta kamu juga mandi!"


"Sekarang?"


"Besok!" Abimanyu berbalik dengan muka cemberut seraya menutup pintu kamar mandi.


Aku mengusap wajahku seraya melesat buru-buru ke kamar mandi. Abimanyu menoleh, memindahkan bobot tubuhnya dari kaki kiri ke kanan dan melempar celana olahraganya ke ember pakaian kotor.


"Ngapain join?" Tubuhnya masuk ke dalam bathtub. Abimanyu meraih rokok elektrik yang ia taruh di nakas marmer sembari menatapku.


"Bukannya tadi kamu mau cari handuk?" tanyanya dengan ekspresi datar sebelum menyesap rokoknya.


Gawat, perjakaku ngambek.


Aku melepas kancing kebayaku seraya mencampakkannya ke dalam ember pakaian kotor. "That's for sure baby, tapi apa kita butuh handuk sekarang." Aku menatapnya dengan mata menantang.


Gini amat punya suami muda, mau egois nanti di bilang nggak dewasa. Mau manja? Malunya belum ilang-ilang. Kenapa aku jadi serba salah mama.


Abimanyu merenggangkan kakinya, memberi ruang ketika aku bergabung dengannya di dalam air.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2