Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Tante egois


__ADS_3

"Pulang aja Abi, anggap aja tadi apa yang aku omongin gak serius. Kamu pasti kaget banget dengan permintaan ku itu. Iya kan, maaf yah, maaf, harusnya aku gak minta hal itu sama aku. Aku putus asa." balasku setelah mendekat ke pintu dan menyandarkan tubuh di sana.


"Tante buka dulu pintunya." Abimanyu mengetuk kamarku berkali-kali, tak berkesudahan meski disana bibi Marni juga mengatakan bahwa Abimanyu pulang saja nyonyah Bella butuh waktu.


"Tante Bella bukan butuh waktu bibi, tapi Tante Bella butuh perhatian." jawab Abimanyu tenang, dan ia tetap keras kepala mengetuk kamarku.


"Buka dulu Tante, jangan marah apalagi nangis." ucap Abimanyu dengan sedikit gusar.


Aku memutar kunci seraya menarik pintunya perlahan. Muka remaja itu langsung terpampang jelas di mataku. Sedikit tegang tapi juga nampak menghela napas lega.


Aku yang patah semangat menyandarkan kepala di kusen pintu. Aku tidak tahu harus berkata apa, pikiran ku semakin tidak jernih hanya karena laki-laki itu sekarang ikut menyandarkan kepalanya di kusen pintu. Kami berhadapan, tanpa suara, mata kita bertumbuk, memikirkan gagasan gila, dan semua hal-hal aku bicarakan tadi saling bertengkar di kepala. Ketika aku semakin murung, Abimanyu tersenyum.


"Ada hal-hal gila yang baru aku tahu tentang orang dewasa barusan, untuk aku, hal-hal yang Tante omongin tadi cukup nguras otak." Abimanyu menghela napas lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak ada gaya lain yang bisa menyangkal bahwa dia sedang berpikir keras karena ucapanku tadi.


"Memang begitulah, Abi. Semakin kita dewasa semakin banyak hal-hal yang kita perhatikan, termasuk hal-hal sepele yang justru menjadi besar karena bumbu-bumbu kata." Aku tersenyum sedih, ngaku banget kalau bumbu-bumbu kata adalah pemicu dari semua hal-hal gila yang terjadi padaku.


"Kamu kepikiran?" tanyaku karena Abimanyu cuma diam.


"Iya aku kepikiran."


"Gak usah di pikirin, Abi. Pulang gih, selesaiin tugas kuliahmu atau cari boba dulu untuk cewek kamu." Aku menyunggingkan senyum. "Semua orang benar, kalo aku gak perlu datang ke pernikahan itu, akunya aja yang ngeyel juga kepikiran. Cuma emang bener, gak perlu!"


Abimanyu nampak menghela napas sambil menegakkan tubuhnya. Sepertinya pertimbangan-pertimbangan gila juga sedang berkecamuk di kepalanya.


"Pulang, gak usah dipikirin." celotehku sambil menarik tangannya, mengajak Abimanyu menjauh dari kamarku yang aku takutkan sekali saja aku khilaf aku bisa menguncinya di rumah ini.


"Coba kita ngobrol lagi, Tante. Ngobrol yang gak perlu pakai emosi, kalem gitu. Bisa?" Abimanyu menurunkan tas ranselnya ke sofa lalu mengeluarkan laptopnya. Dengan tenang, dia kembali duduk bersila dan menghidupkan laptopnya.


"Tadi buru-buru mau pulang, sekarang kenapa nongkrong lagi disini?" ucap ku sambil tersenyum lebar, "gak takut aku ngapa-ngapain kamu?"


"Aku emang takut kok, cuma Tante kan orang baik. Gak mungkin minta aneh-aneh." jawab Abimanyu, nada suara datar seperti biasanya, namun sekelebat senyum samar dia perlihatkan kepadaku.


Aku tergelak, lalu dengan peralihan emosi yang bisa aku kendalikan. Wajahku mendadak serius. Ketegangan masih menghantuiku, seolah kata-kata yang bijak, manis, dan manja dari seorang Bella Ellis lenyap begitu saja. Aku mendesah lelah, gimana harus jelasin secara detail kepada remaja awan yang baik hati. Tidak neko-neko apalagi pemain asmara ini.


"Aku akan jelasin secara kalem, baik dan gak pegang-pegang Abi, oke?" Abimanyu mengangguk. Tangannya sibuk mengetik, tapi dia berjanji akan mendengar. Aku menghela napas, bisa banget hari ini menjadi hari dimana remaja ini sangat tahu masalah krusial dalam hidupku.


"Begini, kemarin kami cerai karena aku dan om tidak bisa punya anak, keluarga mereka menjelek-jelekkan aku sebagai pihak yang bersalah atas gagalnya memberikan penerus bagi keluarga besar Narendra Wicaksono."

__ADS_1


"Terus?" tanya Abimanyu.


"Tante jelas gak terima dong, mentang-mentang Tante perempuan, Tante yang punya rahim, mereka hanya menyalahkan Tante sepihak. Sedih kan, sedih banget Abi. Lima tahun aku berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari semua usaha yang kami lakukan untuk mempunyai bayi tapi sampai kami cerai hasil itu tetap kosong."


Aku menghela napas, sementara Abimanyu menyantap roti bakarnya


"Semua rasa sakit ku itu di tambah lagi dengan pernikahan mereka, Abi. Mungkin mereka selingkuh di belakangku sewaktu aku dan om masih berumah tangga. Kesel banget, kan? Aku yang secantik dan seseksi ini masih diselingkuhi hanya karena aku tidak subur, makanya demi membuktikan bukan aku yang gak subur, aku menawarkan suatu kerjasama sama kamu tadi."


"Program bayi tabung?" sahut Abimanyu, "Itu aku gak perlu gitu-gituan sama Tante?" imbuhnya membuatku memutar bola mata jengah. Abimanyu bahkan tersenyum geli setelah mengucapkan kalimat itu.


"Gak perlu, kamu hanya perlu mengeluarkan itu dan semua proses terjadi di laboratorium!" Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, malu banget, hellow, bagi beberapa wanita seperti ku, mereka mungkin lebih menginginkan perhatian, sentuhan dan belaian, aku malah ngemis sesuatu yang tabu bagi seorang remaja. Ya ampun, maafkan kegilaan ku.


Tapi anehnya Abimanyu masih bersikap biasa saja walaupun pipinya tadi sempat bersemu merah.


Abimanyu berdehem-dehem seakan memintaku untuk membuat wajahku dari telapak tangan.


"Cuma gitu aja dan semua hutang keluargaku lunas? Tante sendiri gak minta pertanggungjawaban kalo Tante hamil anak..." Abimanyu nyengir kuda sambil menggaruk-garuk rahangnya. "Kok rasanya lucu dan aneh ya aku bilang anak aku, Tant."


Aku mengembuskan napas pelan, berusaha mengusir sesak yang tiba-tiba melanda ku setiap kali membahas anak. Banyak perempuan yang tak seberuntung perempuan lainnya, banyak pasangan suami istri yang putus asa dalam berusaha, namun Tuhan berkata lain. Pada akhirnya pasrah dan menerima adalah ujung dari sebuah usaha paling akhir manusia.


"Memang aneh dan lucu, aku pun juga mikirnya kayak gitu, Abi. Bedanya, mungkin aku siap menjadi orang tua tunggal dan seorang ibu. Kalo kamu, ya, duniamu masih seputar kuliah dan bersenang-senang. Makanya aku hanya minta 'itumu' saja. Tanpa pernikahan atau uang bulanan." Aku hendak mengelus bahunya tapi batal, ku tarik lagi tanganku dan menaruhnya di paha..


Abimanyu menggeser laptopnya, menunjukkan artikel terkait syarat program bayi tabung di Indonesia.


"Artinya, kalo pun aku mau dan aku gak punya hati. Aku bersedia ngasih apa yang Tante mau bahkan tanpa program bayi tabung sekalipun, tapi aku punya hati Tante!" kata Abimanyu setelah mengembuskan napas panjang.


Deg! Aku langsung menolehkan kepalanya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan ku akan ucapannya.


"Apa kamu serius, sorry, Abi. Cuma aku tidak bisa bercinta tanpa pernikahannya, kamu tau? Itu bukan aku meskipun aku genit dan centil, tapi itu bukan sifat ku. Makanya aku lebih milih program bayi tabung daripada kawin langsung." Walaupun pasti enak, imbuh ku yang hanya berani dalam hati.


"Tapi Tante sama jahatnya kalo cuma menginginkan anak untuk balas dendam. Apa Tante gak mikir bagaimana jika anak itu tumbuh tanpa seorang ayah walaupun Tante bisa menjadi orang tua tunggal? Hmm..." Abimanyu menaikkan seluruh alisnya.


"Aku gak setuju dengan ide Tante. Kalo Tante pengen punya anak, Tante nikah lagi!"


Aku menggeleng lemah. "Menikah lagi gak semudah kita pilih pacar, Abi. Aku trauma dengan pernikahan yang kemarin. Sebenarnya aku juga lelah dan pengin istirahat, cuma hal itu akan membuatku mengingat semua kenangan ku bersama om dulu. Apalagi om mau nikah sama Debora, sekertarisnya yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan om daripada sama aku."


"Maksud Tante, om nikah sama selingkuhannya sendiri?" sahutnya.

__ADS_1


Aku dengan cepat mengangguk. "Mungkin, Abi. Aku gak mau nyoba cari tau. Gak penting, cuma pernikahan mereka udah jawab semua itu kan."


Abimanyu mengendikkan bahu seraya mengelus bahuku sambil tersenyum.


"Berat jadi Tante, tapi Tante juga gak bisa melanggar hukum hanya demi pembuktian. Jadi Tante yang sabar aja, seenggaknya sampai Tante ketemu jodoh yang baik."


"Di luar negeri bisa, Abi. Ada lima negara yang mengizinkan bayi tabung tanpa pernikahan." sahutku.


"Enggak, ngeyel! Tante keras kepala sumpah." omel Abimanyu sambil mengetik.


Aku mengerucutkan bibir, "Tapi intinya kamu gak setuju apa gak mau, Abi?"


"Semuanya enggak, jangan jadi jahat untuk anak sendiri Tante!" sahut Abimanyu lugas.


"Padahal tawaran ku itu cukup bagus kan, langsung lunas tanpa susah-susah nunggu kamu sampai legal."


Abimanyu menegakkan tubuhnya dan bersedekap. Wajahnya sedikit terlihat gelisah ketika menoleh ke arahku.


"Jadi kalo keluargaku gak bisa bayar hutang-hutang kami, aku jadi legal untuk Tante gitu? Maksudnya aku harus nikah sama Tante?"


Aku mengangguk. "Terus?" gumamku.


"GILA!" Abimanyu menepuk jidatnya. "Stress aku main sama tante-tante stress." keluhnya lalu geleng-geleng kepala dan kembali menutup laptopnya.


"Aku mau pulang beneran, Tant. Otakku gak jernih, mana tugas kampusku jadi gak kelar-kelar." Dia memasukkan laptopnya ke dalam tas lalu berdiri.


Ku ikuti Abimanyu sampai ke depan rumah.


"Aku pengen Tante tetap jadi orang baik, biar aku tetap suka main sama Tante." gumam Abimanyu sambil memakai sepatunya.


Aku mengangguk, batal sudah rencana gilaku menjerat Abimanyu dengan cepat.


"Hati-hati, jangan sampai pacarmu tau kamu punya temen tante-tante yang ngajak kamu nikah!" seruku ketika Abimanyu membuka pintu gerbang.


Abimanyu berbalik seraya naik ke motornya. "Bisa di atur."


Abimanyu menggeber motornya dan sesaat ketika ia sudah jauh dari pandangan ku. Aku menggeram frustasi.

__ADS_1


"Kamu hebat, Abimanyu. Aku harus bersabar nunggu kamu sampai legal, itupun kalo gak lunas. Kalo lunas, arghhh... Aku kehilangan benih remaja super seger, argh Bellaaaa."


__ADS_2