Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Berterus terang


__ADS_3

Aku sudah membayarnya dengan jumlah yang mungkin akan membuat Abimanyu kepikiran nanti. Tapi ini bukan soal jumlah berapa uang yang sudah aku keluarkan untuk keluarga Rudolf. Papa dan mama pernah dalam kondisi yang lebih parah dari Rudolf dan rasanya sebagai anak yang tidak bisa berbuat banyak akan kondisi mereka itu rasanya pedih, ada sesuatu yang mengganjal dalam benak yang terus akan menjadi bayang-bayang di masa depan.


"Sekali lagi makasih Tante udah bantuin keluarga ku." Abimanyu tersenyum, manis sekali. Tanpa sadar aku mengacak-acak rambutnya dari belakang. Dia tertawa, "Apa sih." omelnya sambil menutup kepalanya dengan tudung jaket.


"Iya sama-sama. Udah sana temenin mama kamu, tapi aku gak bisa ikut. Harus ke klinik."


Abimanyu jadi menghentikan langkahnya lalu menatapku sambil melangkah mundur.


"Tante kerja di klinik?" tanyanya, sambil melihat seragam kerjaku.


"Klinik kecantikan, mau mampir? Itung-itung ngecengin tante-tante sambil treatment menghilangkan jerawat remajamu itu?" selorohku sambil mengulurkan kartu nama klinik kecantikan milikku dari tas.


"Datang aja tuh kalo mau, ada diskon deh buat anak muda yang kocar-kacir nolongin papanya." Aku tersenyum. "Aku serius, dan jangan malu."


Aku mengedipkan sebelah mataku. Abimanyu jadi terbahak-bahak beberapa saat. Ia meraih kartu nama itu dan membacanya sambil bersandar di tiang penyangga.


"Ellisa Skin and Aesthetic Clinic." katanya.


"Ya, aku pemiliknya."


Tepat seperti dugaanku, Abimanyu mengembalikan kartu nama itu lagi kepadaku.


"Gue udah banyak ngerepotin Tante dari kemarin. Jadi makasih untuk tawarannya, Tante. Besok mama ganti uang Tante kalo uang pensiun papa udah cair, biasanya tanggal sepuluh karena itu dari kantor papa di Jerman." jelas Abimanyu dengan suara tidak enak kan.


Aku mengangguk. "Gak usah di pikirkan berat-beratlah, bilang aja sama mama kamu aku asik kok anaknya, Tante udah tau urusan rumah tangga gimana beratnya. Jadi, santai aja. Aku bukan rentenir." Ku tepuk-tepuk bahu Abimanyu sambil meringis.


"Makasih topinya kemarin, tapi sebenarnya itu untuk apa sih, Bi?" tanyaku penasaran.


Abimanyu kembali melangkahkan kakinya. Bibir berdecap-decap, sesaat setelah itu dia memandangku dengan sorot mata menerka.


"Cuma tanda makasih doang, apa salahnya?"


"Aku juga makasih deh kalo gitu." sahutku, ku tarik kunci mobil dari kantong belakang rok span yang aku gunakan. Ternyata remaja ini mengarah ke parkiran. Apa dia mengantarku? Ada-ada saja, dia kira aku sudah pikun apa ya sampai di antar segala.

__ADS_1


"Tadi ada bekas darah papa di mobil Tante, aku bersihin dulu." Abimanyu berkata tulus. Semua gagasku tadi langsung lenyap, ternyata remaja ini ingat sesuatu yang tertinggal. Huh, salah paham.


"Gak usah, Abi. Nanti aku bawa ke cuci mobil aja udah lama ini gak di manja-manja tukang cuci mobil." sahutku karena jujur aja ada pertemuan dengan pihak ketiga di klinik dan semua sedang menunggu ku datang. Lagipula sidang perceraian ku sudah menjadi buah bibir semua karyawan ku. Aku harus mengumumkan status janda ku dengan perayaan patah hati bersama mereka.


"Terserah Tante, cuma aku mau bersihin sekarang!" Abimanyu menatapku lurus.


Keras kepala iya, nyolot iya, maunya seenaknya sendiri. Sungguh aku juga mau jadi remaja lagi.


Aku membuka semua pintu mobil biar bau anyir yang sedikit menguar itu cepat hilang.


"Tante punya tisu basah?" tanya Abimanyu sambil membungkuk untuk mencari-cari benda itu.


"Punya!" Aku sedikit berteriak, "Dalam dashboard, cari aja di situ." suruhku. Ku ambil ponsel untuk membalas pesan dari Alexa Liu untuk mengatur ulang jadwal pertemuan dengan pihak ketiga klinik kecantikanku, kepala laboratorium yang meracik kosmetik dan skin care khusus Ellisa Skin and Aesthetic Clinic.


"Tante!" teriak Abimanyu.


"Apa ih, tante-tante mulu." omelku sambil mendekat, mendorong lebih lebar pintu mobilku dan mendapati dasboard itu terbuka dengan isi yang membuat Abimanyu teriak. Matanya terbelalak seperti menemukan anak tikus di dalamnya.


"Jangan bilang kamu teriak karena lihat pengaman dan anggur merah, Bi." sahutku gemes, dasar remaja, ah, maafkan aku. "Tante udah nikah ya, dan baru kemarin cerai. Jadi gak usah mikir aneh-aneh." kataku dengan sedikit ngegas.


"Buruan di bersihin!" Sontak ia melihatku dengan tatapan meneliti. Aku menghela napas panjang saat meraih pengaman aneka rasa itu dan membuangnya ke tong sampah yang berada tepat di depan mobilku.


Selagi aku menunggu Abimanyu membersihkan darah papanya, aku duduk menyandarkan tubuh di kap mobil.


"Jadi Tante kemarin gak centil karena habis cerai?" tanya Abimanyu setelah membuang tisu dan mencuci tangannya.


Aku meraih parfum mini dan memintanya untuk menyemprotkan ke dalam mobil.


"Gak usah pengen tau urusan orang dewasa, Abi. Urusanmu cuma kuliah yang bener sekarang, bantu mama kamu." Aku mengingatkan sambil bersedekap.


"Lagian baru juga ketemu beberapa kali udah menyimpulkan aku centil, dasar peneliti!" Aku terbahak, lucu ya, dia bilang aku centil.


Abimanyu ikut duduk di kap mobil. Ikut bersedekap. Kakinya ia silangkan, gayanya seperti sedang berpikir.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku, "gak lagi mikir aku kenapa kan?"


Abimanyu menoleh padaku, pandangannya seakan sedang berpikir dan meneliti.


"Mabuk kemarin gara-gara cerai?"


Astaga, di bahas lagi. Di ungkit lagi. Aku menghela napas dan mengangguk.


"Kepo deh, udah sana ke mama kamu. Buah-buahan itu di bawa. Aku mau kerja Abi, janda nih, biaya hidup udah tanggung sendiri." Aku terkekeh-kekeh sambil membiarkan cahaya matahari menghangatkan wajahku yang lelah menangis.


"Bukannya kalo cerai balik lagi jadi tanggung jawab orang tua?"


Dadaku langsung berdenyut nyeri, ucapan tanya serupa kapas putih itu terasa seperti meremas keteguhan hatiku sekarang. Aku menatap Abimanyu dengan pandangan menyesal.


Aku ingin berkata sejujurnya, tapi tidak pernah sampai detail. Kasian remaja ini nanti kepikiran lagi betapa kesepiannya aku sampai-sampai aku sering mengganggunya.


"Sayangnya gak bisa, aku udah yatim piatu. Jadi sekarang aku bertanggung jawab atas diriku sendiri, Ian."


"Ian." Abimanyu menggumamkan nama tengahnya ‘Julian’ lalu tersenyum sedih dan tanpa bisa aku prediksikan dia mengelus punggungku seakan dia tahu benar betapa sakit rasanya kehilangan.


"Aku turut berduka untuk kamu, Tante."


Aku mendesah lalu mengangguk. "Aku sudah melewatinya kemarin dengan baik, kamu dan mama kamu pun harus begitu sekarang. Harus bersiap dengan kemungkinan-kemungkinan yang gak bisa kita prediksikan sebagai manusia biasa."


"Namanya mama Fanni, ibu tiri ku. Mama kandungku Rosalina, meninggal waktu aku masih kecil." jelas Abimanyu ketika berdiri dengan raut wajah sedih.


Aku tersenyum mendengar laporan Abimanyu. Aku pun ikut berdiri. Sedikit dari apa yang aku rasakan ternyata sudah dia nikmati jauh-jauh sebelum aku merasakan sakitnya.


"Yang kuat jadi cowok, tapi kalo mau curhat bilang aja, tante siap jadi pendengar tapi gak sekarang." Aku menutup semua pintu mobilku seraya masuk ke kursi pengemudi.


"Nih ambil, awas kalo gak di makan." ancam ku sambil mengulurkan keranjang buah. "Bye, Abi. Aku berdoa untuk papamu cepat sembuh."


"Kamu juga Tante, cepet sembuh dari patah hati." kata Abimanyu sambil menutup pintu mobil.

__ADS_1


•••


Bersambung.


__ADS_2