Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Abimanyu bau kencur


__ADS_3

Iseng, aku seperti orang sibuk, berjalan bolak-balik dari ruang praktik perawatan ke ruang tunggu sembari mengintip keluar pintu kaca. Udara hangat yang sedikit berbau asap kendaraan membuat ku mendengus lagi. Belum ada motor keren itu datang. Uh. Aku berbalik dan tersetak kaget sampai membentur pintu kaca.


Tanganmu terangkat semua seperti kena todong Alexa Liu yang berkacak pinggang di depanku dengan mata sipit yang melotot kepadaku.


"Kamu kenapa, Bell?" sentaknya heran, "udah lima kali kamu ke sana ke sini lalu cemberut. Nungguin siapa sih?"


Aku menyunggingkan senyum jelek. Sekarang aku menyesali perbuatanku yang seperti remaja, tak sabar bertemu lalu cemberut karena terlalu semangat sendiri. Sementara Abimanyu pasti lagi khawatir dengan operasi papanya.


"Nungguin montir mobil." jawabku lalu menurunkan tangan, "mobilku kempes, harus di genjot kompresor angin." imbuhku dengan tepat.


Alexa Liu malah menyipitkan mata sampai ia terlihat merem, "Bohong, mobil kamu baik-baik aja tuh, gak ada ban yang kempes!" ungkapnya sampai membuatku keluar dari klinik.


Di bawah terik matahari yang menyengat kulit, aku menyaksikan ban mobilku sudah kembali normal. Sampai-sampai ku sentuh bannya dan memencet-mencetnya. Keras.


"Siapa nih yang iseng?" tanyaku sambil berkacak pinggang dan melihat sekeliling. Aku benar-benar akan mencubitnya dengan kukuku yang lentik sampai merah sampai dia menjerit kesakitan. Bisa-bisanya main iseng-iseng saja Bella.


"Siapa lagi kalo bukan Nyonya Elma, Bell. Kemarin kamu dipermainkan sama dia kan? Bisa jadi sebelum pulang dia iseng ngempesin mobil kamu!" tukas Alexa Liu dan aku langsung menggeleng. Perangai wanita itu kan seperti ratu, gak mau kali dia pegang ban berdebu, kotor lagi.


"Gak mungkin, Lex! Otaknya gak sampai ke urusan sepele kayak begini, otaknya mah sukanya langsung labrak kayak kemarin bukan main iseng-iseng begini!" jelasku dan merasa dongkol mendadak.


"Cek cctv aja, Bell. Hidupmu belum aman sekarang." katanya sambil menarik lenganku.


Aku di bawa Alexa Liu ke ruanganku sendiri. Dengan cekatan dia yang kuliah di jurusan sistem informasi tapi gagal lalu pindah ke jurusan tata rias dan kecantikan mengotak-atik apapun itu sampai terlihat rekaman cctv semalaman.


Abimanyu datang sekitar pukul setengah sepuluh malam, jadi dia menunggu sampai setengah jam di belakangku tanpa aku sadari. Parah, dia tahu bagaimana aku terjun bebas ke titik nadir ku semalam. Menangis dengan pilu sampai dadaku tercetak napasku tersendat tanpa pernah aku perlihatkan kepada siapapun. Hanya remaja muda itu yang tahu.


Alexa Liu menyikut-nyikut lenganku. "Siapa dia, Bell? Kenapa dia masuk ke klinik malam-malam? Temen kamu?"


Aku mengusap alisku, lalu mengangguk dengan salah tingkah.


"Temen baru."


"Temen baru?"


Aku mengangguk.


"Oh, aku tau pasti dia yang kamu anter ke rumah sakit kemarin? Iya kan, iya dong? Temen-temen yang lain gak ada yang ribut ngajak jenguk orang sakit. Sementara teman kamu aku tahu semua, Bella."


Aku tersenyum kesal. Alexa Liu tidak cuma karyawan kesayangan aku karena dia paling teliti dalam banyak hal. Bukan maksud yang lain tidak menjadi kesayangan, cuma Alexa adalah anak teman papa dan mama. Orang tua kami bersahabat maka pertalian persahabatan itu turun ke kami.

__ADS_1


"Aaaa... Bella siapa namanya, wait!" Setelah berlonjak-lonjak girang, Alexa Liu terdiam lalu menajamkan mata di depan layar komputer, "Tuh-tuh, teman kamu yang iseng."


Aku langsung mendesis dan serentetan kejadian semalam lolos dari mulutku. Alexa Liu jadi terpana, juga tertawa renyah.


"Urusan sama orang dewasa saja sudah ribet Bella, contohnya aja sama papi Narendra dan ibunya, apalagi sama anak sembilan belas tahun. Cowok usia segitu... Umm, kita sudah melewati masa itu Bella, happy-happy adalah kehidupan mereka sekarang!" urainya lalu memutar kursiku biar menghadap padanya.


"Tapi dia beda, Lex. Itu sih menurut pandangku kemarin-kemarin kalo ketemu dia."


"Kamu senang ketemu dia?" tanya Alexa Liu sambil bersedekap.


Aku langsung menutup wajah. Jangan sampai wajahku merona, bagaimana jika merona. Jangan merona, memalukan, kataku dalam hati mengingatkan diriku sendiri.


"Ceritanya panjang, Alexa. Namanya Abimanyu." kataku singkat.


"Kemarin Narendra sekarang Abimanyu, kamu sepertinya suka sama cowok-cowok yang memiliki nama dari bahasa sansekerta, Bella!" Alexa mendesis sambil mencubit kedua pipiku dengan gemas.


"Ceritakan pertemuan kalian, aku akan mendengar dan batal makan siang!" eluhnya tanpa keberatan.


Aku tergelak sambil memutar kursi kerjaku. Lalu seperti gosip, pembicaraan kami berdua terasa seru dan lupa waktu karena dasarnya aku sedang ingin curhat. Luap sudah rahasia yang tersembunyi dariku pada Abimanyu.


Alexa terbahak, matanya terlihat menghangat sewaktu melihatku terdiam kemudian dan bersedekap.


"Apa sih!" dengusku, "Aku belum memikirkan pernikahan lagi, Alexa. Aku masih takut kecewa."


"Gak usah buru-buru, itung-itung kalo kamu naksir, kamu bisa tunggu sampai dia legal, Bella. Dia masih bau kencur." ledek Alexa kurang ajar. Tapi kami berdua terbahak, ya ampun, tega amat Abimanyu diledek ibu-ibu satu anak ini bau kencur.


"Tapi walaupun masih bau kencur udah bisa nyembur, Alexa. Udah, capek ketawa mulu." protes ku sambil menepuk-nepuk pipi yang tegang.


"Makan siang yuk, kafe depan aja!" ajak Alexa, aku mengulurkan tangan. Dia menarikku berdiri. Kami bergandengan tangan dan sewaktu kami membuka pintu aku langsung mundur dan berbalik. Abimanyu berdiri di sana ambil berkacak pinggang.


"Kenapa Bella?" bisik Alexa sambil menoleh ke arah ambang pintu. "Pasien kamu bukan?"


"Bukanlah, dia si bau kencur." bisikku lirih.


"Apahhh!" sahut Alexa Liu lalu dia berbalik dengan percaya diri. "Silahkan masuk adik, sudah ditunggu Tante Bella sejak tadi."


Aku kehilangan muka, mukaku yang cantik jadi jelek ternodai oleh kata-kata Alexa Liu.


"Tante." panggil Abimanyu.

__ADS_1


Aku berdehem-dehem sambil berbalik. Ku lihat wajahnya kekanakan dan tampan.


"Jadi datang kamu?" tanyaku sambil meriah dompet dan ponselku di meja. "Jangan disini, keluar, makan siang!"


Abimanyu memutar tubuhnya, dia berjalan mendahuluiku keluar klinik, dan ketika aku melewati Alexa Liu di ruang tunggu. Bibirnya yang tipis merah meringis.


Awas kamu, Alexa.


Abimanyu menarik pintu kaca, dia menahannya sejenak sampai aku melewatinya.


"Terima kasih." kataku, jujur aku tidak berani menatap matanya, aku takut dia tersinggung mendengar pembicaraanku dengan Alexa. Maka dari itu, aku berlagak cuek sampai kami berdua yang harus menyebrang jalan dengan refleks dia menarik tanganku setelah kami menoleh ke kanan dan kiri bersamaan.


"Bawel." ucapnya tiba-tiba sambil melepas tangannya dari pergelangan tanganku.


Aku mengalihkan tatapanku padanya. "Maaf, ughh, bau kencur!" ledekku seraya berlari kecil menghindar. Aku mendorong pintu kafe sambil cengengesan melihat Abimanyu yang tetap santai berjalan ke arahku.


Memasuki kafe, aku langsung memesan dua makan siang, dua kopi, dua dessert es krim dan air putih. Sementara aku membayar di kasir, Abimanyu menarik mundur kursi dan mendudukinya. Dia mengeluarkan ponsel dan rokok elektrik sebesar korek gas.


Abimanyu menyesapnya dalam-dalam sebelum menaruhnya lagi di meja dengan asap yang mengepul di sekitarnya.


"Ada apa?" tanyaku setelah duduk di depannya.


Dua kopi dan air putih datang terlebih dahulu. Abimanyu mengaduk kopinya dengan ekspresi merenung.


"Jawab aja, kenapa? Um..., biaya operasi papa kamu?" pancingku karena sepertinya mereka memang butuh uang cepat.


Abimanyu menyesap kopinya lalu menghela napas. Dan siang itu seketika jiwa muda yang sedang memperjuangkan nyawa papanya mengiba padaku untuk meminjam sejumlah uang tanpa jaminan.


"Deal, tapi aku juga minta satu keinginan dari kami, Abi." jawabku santai, sebab, *u*ang bisa di cari, Abimanyu tidak.


"Apa Tante?" tanya Abimanyu dengan sikap rikuh, tak enak padaku.


Aku hanya tersenyum penuh arti sambil melanjutkan makan siang ku yang tertunda. Baru setelah kamu berdua benar-benar selesai makan siang dan berdiri keluar kafe, aku menatap Abimanyu di bawah tiang listrik.


"Satu bulan lagi temui Tante di klinik dengan status bebas alias single yang artinya, kamu sebagai jaminannya, tampan!"


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2