Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Dinner pertama


__ADS_3

Rasanya berat makan sambil dilihatin terus. Remaja itu memandangiku dengan penuh minat sampai rasanya ingin sekali aku kecup matanya biar merem atau kalau aku sedang premenstrual syndrome sudah aku cipratin sambal daritadi.


"Makan, jangan liatin doang!" seruku kesal, "kamu yang ajakin aku makan, masa tega cuma lihat doang."


Abimanyu mengaduk es jeruknya lalu menyeruputnya sampai habis, ia bahkan mengambil bongkahan es batu dengan sendok plastik dan memakannya.


Es batu itu langsung bergemeletuk di dalam mulutnya.


"Aku memang ngajak dan mentraktir Tante makan, tapi aku gak bilang mau makan." cetusnya.


Aku langsung meraih udang bakar madu dan mencocolkannya di sambal. Dengan kesal aku bangkit, Abimanyu menghindar sampai kursi plastik terjungkal, aku menarik jaketnya sambil mendelik. "Makan!" desakku seraya memasukkan udang itu ke mulut Abimanyu dengan paksa.


Aku membekap mulutnya dengan tangan yang belepotan sambel di bibirnya yang halus dan dingin.


"KUNYAH! TELAN!" gerutuku. Tangan Abimanyu menggenggam lenganku ketika jakun remajanya menelan udang itu.


"Mau lagi?" tanyaku, "enak kan?"


Aku kembali duduk di kursi ku dengan perasaan girang akan rasa dongkolnya. "Kalo mau di suapi boleh kok, bilang aja."


Abimanyu mendelik sambil menyambar gelasku dan meneguk es jeruknya.


"Aku alergi udang Tante!" serunya dengan lantang. "Itu alasanku gak mau makan!" Abimanyu mendesah, mukanya berubah resah.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu ngajak aku ke sini?"


"Karena aku tau Tante suka seafood!"


Aku mengerutkan kening sambil melahap udang lagi, mataku sinis menatapnya.


"Darimana? Gak usah sok taulah, aku dan kamu itu gak akrab." cibirku tak terima, ngapain remaja ini mengorek informasi tentangku. Untuk apa? Kok aku mendadak jadi curiga.


Abimanyu menarik tisu dan mengelap bibirnya. Ia tersenyum sambil memangku kepala dengan satu tangan kirinya.


"Tante Bella Ellis, siapa yang tidak kenal dengan Tante? Wajah Tante nongol di baliho perempatan, beberapa situs web kecantikan sudah meliput dokter aesthetic pemilik Ellisa Skin and Aesthetic. Apalagi mantan istri pejabat negara ini sering menemani bapak Narendra Wicaksono turun ke jalan sambil bawa kipas angin mini. Sangat mudah untuk mencari biodata singkat Tante di situs internet." Abimanyu nyengir setelah menjelaskan kejujurannya yang masuk akal.


"Terus untuk apa?" sahutku gemas, pintar-pintar remaja sekarang. Semuanya bisa di cari di internet tanpa perlu ribet bertanya seperti wartawan.


"Untuk tau aja," Ia tersenyum. Aku mendesis dalam hati, jangan beri aku senyuman itu, senyuman yang merekah dan manis, itu bahaya untuk ingatanku, "dihabisin makannya, kalo gak, gak aku bayar!"


"Buset, aku bayar sendiri." sahutku sambil meraup tiga udang tanpa kepala di piring yang beralaskan daun pisang itu dan mengulurkan ke depan mulut Abimanyu.


"Makan sekalian, biar gak sia-sia alergimu kumat!" Aku menggerakkan tanganku, menyuruhnya segera membuka mulut karena bayangkan saja keadaan kami di sini di tengah kedai seafood di pinggir jalan, aku bagaikan kakak perempuan yang main sama remaja salah pergaulan.


"Buka mulutmu? Jangan bikin aku murka udah gagal diet, makan sendirian, udah gitu biodataku di baca perjaka sembilan belas tahun! Apa-apa itu, tanya langsung kalo berani. Mana bahas-bahas Narendra Wicaksono lagi, kayak gak ada pembahasan lain.


Abimanyu membuka mulutnya tanpa ragu lalu melahap semua udang yang aku siapkan di tangan.

__ADS_1


"Dia mantan suami Tante kan!" katanya sambil membersihkan mulut dengan tisu.


"Pesen minum lagi sana, biar aku habisin ini semua." kataku membuatnya berdiri, memesan satu air putih biasa seraya menaruhnya di meja. Aku mengunyah sambil menatapnya, aku akan menghabiskannya, dan melihat apakah dia benar membayar semua ini?


Selang sepuluh menit paling ekstrim dalam hidupku—malam tengah malam— aku mengikuti Abimanyu menuju meja kasir, aku melongok ke dalam dompetnya.


"Banyak uang nih? Besok traktir lagi, Bi." godaku sambil menyikut lengannya.


"Kapan-kapan kalo aku mau, Tante!" jawabnya sambil menyimpan uang kembalian ke dalam dompet. Abimanyu lalu memasukkan dompetnya di saku celana.


"Aku langsung ke rumah sakit, Tant!" Abimanyu menggaruk hidungnya, lehernya, lalu punggungnya.


"Oke hati-hati, jangan lupa beli obat alergi di apotek, Abi. Atau minum madu murni." saranku lalu melambaikan tangan. Aku langsung pergi ke motor pinjaman, memakai helm sambil melihat Abimanyu yang melakukan hal yang sama, kami membayar parkir dan menggeber motor menjauh dari kedai seafood yang akan ku ingat sebagai tempat dinner pertama ku dengan Abimanyu.


Bisa-bisanya dia mau aku suapi dan mengajakku seperti ini. Jangan-jangan dia naksir aku? Oh, tunggu dulu. Aku mengendarai motor ini dengan perasaan was-was, belum pernah aku membawa motor tengah malam begini. Rasanya dadaku sedang dugem sendiri, bedanya sekarang aku fokus pada jalanan, tidak melayang-layang sama geleng-geleng kepala dan tersungkur lemas tak berdaya.


Tiba di depan rumah, bibi Marni yang pasti sudah tidur nyenyak bagaikan di peluk mama pasti tidak akan membuka pintu. Aku membuka jok motor, mengambil kunci rumah dari tasku seraya membuka gerbang. Sewaktu aku hendak mendorong motor masuk, cahaya motor dan suaranya yang meraung membuatku menoleh.


"Abi!!!" teriakku, tapi dia cuma lewat sambil pamer senyuman. "Dia ngikutin aku? Buset, makin menjadi-jadi itu bocah."


Aku jadi cengengesan sampai-sampai tenaga yang aku siapkan untuk mendorong motor ini masuk ke dalam garasi perlahan-lahan menghilang tergantikan dengan senyum geli dan perasaan menghangat.


"Abi jagain aku, ih gemesss. Tapi pasti dia cuma kasian. Huft. Gak jadi gede rasa!" gerutuku sambil masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2