
Bab 22 - Lies, Love, and Record.
.
.
.
Apa? Apa-apaan dia!
Cukup jelas dan menyakitkan. Karena dikuasai emosi pada saat ini aku mengusap air di ujung mataku lalu memutar arah kembali ke rumah.
Padatnya aktivitas pagi membuat perjalanan kembali tersendat. Tanganku memukul stir mobil lalu merenung. Aku bahkan tidak berminat melihat Putri tapi aku juga tidak rela melepas tersangka ini.
"Tadinya aku ingin melakukan sembunyi-sembunyi, oh tapi om Ian. Sugar Daddy aku nggak sabaran. Maaf ya kamu jadi deg-degan."
Aku merinding mendengar ucapannya. Tapi sedetik pun yang aku inginkan hanyalah kembali ke rumah dan menemukan Bella dari bajingan tua yang masih mengusik rumah tanggaku.
"Om Ian marah? Hmm... Bagaimana pun perasaanmu saat ini, tidak apa-apa sekali-kali merasakannya. Sama sepertiku... Aku tertekan, aku marah, tapi aku juga berjuang demi cinta."
Aku memaksa diri untuk menatap Putri lebih baik. Memahami ekspresi wajahnya. Titisan bawang merah ini rupanya pemain handal dalam berakting. Ada kekakuan di wajahnya tapi juga tekad yang kuat. Dia cocok memerankan tokoh protagonis yang tertindas sebelum melakukan balas dendam.
"Hanya cewek goblok yang mau dijadiin alat bantu om Rendra! Memang... dia banyak uang, tapi kamu sadar apa yang kamu pertaruhkan sekarang?" Aku menyeringai meski pikiranku bergejolak seperti demam panggung.
Rasa aman keluargaku direnggut dengan licik dan sederhana oleh pasangan pria tua dan gadis peliharaan dengan kenyataan bahwa hubungan mereka lebih kejam dari hubunganku dengan Bella. Keterikatan di antara mereka membuatku ngeri.
"Aku tidak tahu apa yang aku lakukan sekarang, tapi aku harap kamu tidak patah hati setelah melihat daddy sugar Narendramu masih menginginkan istriku!"
__ADS_1
Sudah kuungkapkan meski aku nyaris tak percaya aku mengungkapkannya, memilih mengambil risiko paling besar dalam hidupku. Membuka skandal, memperkecil peluang pekerjaan dan membayar denda akibat dari semua akibat yang sadar, aku jalani, aku nikmati dan aku terima.
Putri meringis lalu menggeleng. "Daddy sugarku hanya ingin menghancurkanmu, Abimanyu Julian Rudolf!"
Aku berusaha tidak membuat wajahku mengalami perubahan yang drastis. Dadaku sesak, meski menit berikutnya aku semakin sesak melihat pagar rumah ku dan Bella di penuhi banyak orang.
Aku turun dari mobil tanpa membiarkan Putri keluar dari sana. Wajahnya tercengang sambil menggedor-gedor kaca mobil. Sementara para wartawan yang mengerubungi Bella berpaling kepadaku.
Senyum terukir di bibirku dengan kedua tangan yang terangkat sampai aku berhasil mendekati Bella. Kami dulu terlatih menghadapi awak pewarta yang penasaran dengan kisah cinta beda usia. Namun semua orang memperhatikan kami dengan senyum mencemooh, yang lebih buruk lagi, mereka melempar pertanyaan-pertanyaan sarkasme.
"Aku tidak terlalu malu untuk mengakui bahwa apa yang kalian dapati di rumah ini memang sudah lama terjadi. Aku menjalin kasih dengan Bella Eliss yang tidak pernah menjadi mantan kekasihku sedetik pun sejak pertama kali kalian mengenalku sebagai Julian Rudolf yang mencintai janda Narendra Wicaksono yang sekarang bersama kalian menggerebek rumah ini."
Aku menyunggingkan senyum angkuh sewaktu Bella meremas lenganku untuk mengingat bahkan dia menggeleng cemas.
"Tapi kami bisa meluruskan semuanya bahwa kami tidak kumpul kebo. Ada pertanyaan lagi?" tawarku sambil merangkul pinggang Bella dan menatap Narendra Wicaksono tajam. Dia terlihat di atas awan meski wajahnya mengkerut masam.
"Terus apa anak-anak dari Bella Eliss bukan berarti adalah anak anda?"
"Kenapa kalian menutupi hubungan kalian?"
"Apa ini sensasi? Settingan untuk mendongkrak popularitas anda mas Ian?"
Aku menarik napas dalam-dalam dengan banyaknya pertanyaan yang berhubungan dengan hubungan kami yang teramat rahasia dan penuh kejutan. Tapi hanya satu yang ingin aku konfirmasi.
"Anak dari Bella Eliss adalah anak kandung saya dan tercatat di ditjen dukcapil!"
***
__ADS_1
Aku menyebutnya menerima konsekuensi. Angkasa Management sudah mengetahui apa yang terjadi begitu berita yang menggemparkan tadi pagi tersebar di internet. Walau saat ini tentu saja aku sedang di landa gosip miring, aku tahu satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menghadapinya dan menemani istriku.
"Kalau kamu nggak mau makan nanti sakit, sayang. Makan dong, jangan nggak makan nanti aku sedih."
Bella terisak-isak sampai matanya merah, bengkak dan Neo semakin memperparah kondisi malam ini dengan rengekan yang menuduhku menyakiti ibunya.
"Bukan Daddy yang salah Neo, tapi mommy." Bella menarik ingusnya lalu menyeka air matanya. "Tanganku lemas Abi, suapin."
"No, mommy, no..." Neo menyambar piring yang aku pegang dengan dengusan. Piring berisi buah-buahan dan tiga lumpia goreng pindah ke tangannya dengan satu lumpia yang jatuh ke karpet. Aku mengambilnya lalu melahapnya.
"Kenapa mom, kenapa di rumah kita jadi ramai? Aku nggak suka! Terus waktu tadi aku pulang sekolah banyak yang tanya apa mommy dan Daddy Ian tidur satu kamar, aku iya." Neo mengangguk dan Bella semakin menangis. Di saat yang sama Neo menyuapkan melon hijau ke mulut ibunya.
Bella mengunyahnya bersama datangnya seorang pemarah yang kebetulan bersama Regina Mawardi yang ikut batal party pembubaran geng kemayu. Dia duduk dengan napas berat dan mata tajam yang melihatku dan Bella bergantian.
"Jangan intimidasi keluarga gue!" ucap Bella. "Gue bakal bayar semua kerugian yang management elo alami sekarang sampai akar-akarnya!"
Aku menyaksikan Bella tiba-tiba berubah menjadi superwoman hanya dengan menyantap satu melon hijau sebagai buah kesukaannya. Berair, segar dan empuk akunya padaku kapan waktu dan menyamakannya. Aku dan melon.
"Mercy." Tante Regina melihat kuku-kukunya alih-alih menatap Bella lalu ribut. "Masalahnya kalian berdua mungkin akan melewati hari-hari yang panjang dan susah dengan gosip-gosip baru. Baru satu lho kontrak kerja yang dibatalkan dan kita tidak tahu besok-besok gimana!"
"Exactly." Aku dan Bella mengangguk mengakui dan sedang menyiapkan diri untuk menerima pembatalan kerja. "Tapi sebagai pihak yang sudah terlibat bertahun-tahun, gak etis Angkasa Management nggak bantuin kami. Secara dari awal kesepakatan yang dibuat atas dasar permintaan pihak 1 ke pihak ke 2!" Bella menarik napas sambil memeluk Neo.
"Kita sama-sama punya reputasi dan mendapatkan keuntungan, jadi ayo bereskan sama-sama!"
Tante Regina menunjuk kedua matanya lalu mataku dan mata Bella sebagai isyarat untuk mengenyahkan anak-anak kami yang masih memandang heran wartawan di luar rumah.
"Mereka cuma kerja sayang, dan sebagai anak-anak yang pintar dan tuan rumah yang terhormat. Ajak mereka masuk ke dalam rumah kalian. No more lies, i promise, Bella, Abi."
__ADS_1
......................