Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Setelah Kita Menikah Bab 21


__ADS_3

Bab 21 - Putri Datang Kembali


.


.


.


Badanku panas dingin. Mulutku terasa kering. Dan satu yang terpenting rumah ini sudah tidak lagi aman bagi keluargaku. Entah ini kecerobohanku atau memang sedang ada-ada saja masalah yang datang di kehidupanku sekarang. Bahkan semalam aku dan Bella sempat saling bertanya sanggupkah kami bertahan lebih lama lagi?


Beberapa skandal di luar yang pernah terjadi memang sanggup menguak rahasia yang tersembunyi. Sebut saja Ardhito Pramono, orang-orang sering mengira dia jomlo tetapi setelah skandalnya terbongkar secara mengejutkan, dia sudah beristri dan memiliki anak.


Isi kepalaku menggumpal. Apa perlu kami juga melalui proses itu agar semuanya terbongkar. Namun dampaknya belum bisa aku prediksikan.


Aku melangkah terburu-buru ke ruangan yang menampilkan situasi rumah ini dari rekaman cctv tapi Bella mencegahku.


"Hey, hey, tenang Abi. Ada apa, kenapa tiba-tiba panik gini? Siapa yang telepon kamu barusan? Kenapa marah?"


Bella mengusap sudut-sudut tegang di wajahku selama aku memikirkan cara terbaik untuk keluar dari rumah ini tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan sia-sia bagiku untuk mengelak, Bella tidak menyerah sampai keingintahuannya terpuaskan. Tapi, Ya Tuhan. Ini membuatku frustasi.


"Putri, Bell. Dia bilang airpodsnya hilang. Dia cari pake aplikasi lacak yang terkoneksi dari hpnya sebelum hilang dan dia nemuin lokasi airpodsnya di sini." kataku emosional. Aku tidak bisa menjaga privasi keluargaku. Ya Tuhan. Mungkin ini yang akan menjadi awal kehidupan rumah tanggaku yang benar-benar baru dan terbuka.


"Oh..." Bella bertepuk tangan sambil meloloskan kalimat sialan dari mulutnya. "Putri, putri, putri... Apa dia titisan bawang merah sampai segitunya deketin kamu dan cari masalah."


Aku menggeleng. Jika sepenuhnya aku bisa jujur, rasanya memang sedikit aneh dengan tingkah Putri. Kenapa sejak awal pertemuanku dengan dia terasa ambigu. Caranya menatap juga bertingkah memang sopan dan ramah. Tapi masalah yang dia timbulkan lumayan mengerikan.

__ADS_1


Aku menatap Bella. "Tante Regina belum dapat kabar dia dari talent management mana?"


"Aku belum tanya."


"Gak masalah." Aku menangkup pipinya dengan tanganku yang dingin lalu tersenyum. Semua hanya sedikit mendadak dan tidak terduga. Ini salahku. Aku hanya memikirkan masalah yang besar, tanpa pernah terpikirkan oleh hal-hal kecil yang jauh bisa menjatuhkanku pelan-pelan.


"Gini aja deh, cewek itu pasti masih di depan rumah buat ngambil airpodsnya atau apapun rencananya setelah tahu ini rumahmu. Aku yakin Abi. Dia bukan orang sembarangan. Airpods dan Apple nggak murah, aku pikir dia hanya alat untuk jatuhin kamu." Bella ikut menangkup pipiku.


"Aku bisa undur jadwal keberangkatanku ke bandara selama kamu urus dia. Sementara kalau ada yang tanya ini rumah siapa, bilang ini rumah ngontrak. Kamu harus manipulasi dia dengan aktingmu!" Bella mengatakan dengan serius.


Dengan nyali yang kembali tidak ciut aku mengangguk.


"Maaf jadi kacau begini."


"Biasa aja tuh, lagian aku kembali merasakan adrenalin."


Sialan bocah itu. Aku mengambil ponselku yang berdering dan mengangguk.


"Mbak—Mbak Suti! Ambil lagi barang-barangnya nyonya Bella di mobilku terus masukin ke mobilnya." pintaku sementara Bella mengambil kunci Ferrarinya di kamar.


"Ya Allah mas." Mbak Suti cemberut, dengan lemah tak bertenaga ia kembali membuka bagasi mobil setelah menjadi penonton.


Aku yakin Putri benar-benar memainkan perannya dengan sabar. Dan sekarang bukan masalah lagi dia berasal dari talent management mana, tapi siapa dalang di baliknya.


"Masuk aja, Put. Kita sekalian berangkat ke lokasi syuting." kataku dari dalam mobil sambil tersenyum biasa.

__ADS_1


"Maaf lama tadi prepare kebutuhan syuting." akuku setelah ia duduk dengan keanggunan yang terlatih ke jok mobil.


"Aku juga minta maaf om ke sini tiba-tiba." Putri tersenyum. Kepalanya menoleh ke pintu gerbang yang baru saja di tutup Mbak Suti.


"Rumah om bagus banget, pasti mahal." pujinya dengan nada sopan.


Aku terbahak seraya mengemudikan mobiku menjauh dari rumah, setengah jam lagi Bella harus keluar dari rumah dan ini masih mengkhawatirkan. Bisa saja waktu pertama kali Putri mengetahui rumah kami, dia sudah mengabari bosnya dan cctv-cctv sudah terpasang di tempat yang tidak aku ketahui.


"Nggak mampu aku beli rumah sebagus itu, Put. Aku cuma ngontrak dengan penghuni lain."


"Wow..." Putri memberikan ekspresi terkesima. "Tadinya aku juga nggak percaya om Ian punya rumah besar dan bagus. Ternyata benar, om cuma ngontrak. Ha-ha."


Aku semakin terbahak, sialan, ngontrak darimana. Rumah itu aku dan Bella beli secara patungan walaupun lunasnya baru empat tahun yang lalu. Bella memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa rumah itu bukan hanya dari kerja kerasnya, tapi juga kerja kerasku.


Huh... Mobilku tersendat-sendat di jalan. Lalu lintas sibuk dan aku sulit mengenali arti dari tatapan Putri sekarang. Dia tertawa lalu diam saja.


"Oh iya. Bukannya tadi kamu mau cari airpodsmu yang jatuh di mobilku. Coba cari, mungkin di bawah jok mobil." ucapku sambil menatapnya.


Putri mengangguk lalu membungkukkan badannya tanpa aba-aba. Ngeri juga ini bocah, nggak takut tulang belakangnya kenapa-kenapa.


Tangannya meraba-raba dan aku harus memastikan gerak-geriknya. Bisa juga dia malah memasang GPS di mobilku secara diam-diam.


"Nah, ini kak." Tatapannya melekat padaku seolah menyakinkan diriku airpodsnya benar-benar jatuh. Putri tersenyum aneh lalu menyeringai jahat. Terus terang firasatku langsung jelek. Senyumnya seperti hantu film horor. Misterius dan kenyataannya lebih parah dari itu. Dia mengelus lenganku lalu menarik sudut bibirnya.


"Aku pikir barang-barang dari sugar daddy Narendra bakal ilang, kalau ilang aku sedih tapi aku berhasil hihihi. Pasti sekarang rumah tadi di kepung anak buahnya dan wartawan. Hihi..."

__ADS_1


......................


__ADS_2