
Bab 7 - Erat dan Kuat.
.
.
.
Aku menyukai saat-saat seperti ini. Tidur bersama anak-anak dan istriku dalam satu tempat tidur. Kami berbagi tempat, berbagi cerita dalam temaram lampu tidur yang terpasang di tembok pukul sembilan malam.
Dalam keadaan terbungkus selimut. Bella menatapku tanpa mengedipkan mata sambil memeluk Neo. Kekasih kecilnya itu memiliki ibunya dengan posesif. Tahu sekali bahwa Bella sangat menginginkannya. Sangat-sangat mencintai anak kami dengan cintanya yang berlimpah.
Aku mengedip-ngedipkan mata dengan santai. "Soon as possible." Tanganku berusaha terulur dengan hati-hati untuk menyentuh kepala Bella dan mengelusnya. "Pejamkan matamu, bersantailah."
Bella mendengus, jelas tidak mau menurut, ketika anak-anak terlelap, dia akan pindah ke ruang kerjanya. Membuka laptop dan memeriksa dokumen-dokumen yang belum tersentuh mata dan tangannya.
Aku mencium puncak kepala Ollie yang membelakangiku dengan lembut. Dia sudah terlelap. Napasnya terdengar teratur. Aku turun dari tempat tidur sama lembutnya lalu meninggalkan kamar diiringi tatapan Bella yang mengikutiku sampai ke pintu.
Di dapur yang sudah sepi dan hanya suara mesin yang terdengar. Kopi dan gitar menjadi teman malam ini sebelum Bella bergabung dari belakangku.
"Kamu alasanku untuk tetap melek!" ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.
Aku terkekeh, pinggangku dia peluk hingga napasnya yang hangat menusuk telingaku.
"Aku sudah memberimu keputusan yang terbaik. Aku juga sudah mengalah, tapi kenapa kamu bertingkah selayaknya mau menjadi pahlawan?"
__ADS_1
Aku menghela napas, sementara tubuhku bereaksi lagi dengan sentuhannya yang menjalar dari pinggang ke bagian tubuhku yang tersembunyi.
"Kamu ragu aku mulai belajar mengambil resiko, Bella?" Aku mendongak dengan mata sedikit tertutup. "Jangan bermain-main dengan ujungnya!" kataku memperingatinya dengan serak.
"Oh, yah?" Tangan Bella terus bekerja. Kadang lembut, kadang keras, kadang-kadang menggenggam lalu bergerak naik turun. "Aku ingin bermain denganmu, bermain saja, kecuali jika kau berminat menghamiliku malam ini!"
Aku menyandarkan kepala di bahunya. Menciumi lekukan lehernya tanpa menjawab sedikitpun desakan dari tangan dan tubuhnya yang menempel di tubuhku. Aku hanya merasakan Bella lewat tangannya yang membuat seluruh ototku menegang.
"Lepaskan, baby. Ayo, aku akan menerimanya." bujuknya dengan suara sensual dibarengi dengan cepatnya gesekan tangan di tubuhku.
"Tidak—belum waktunya!" kataku memohon, aku mendamba terlalu banyak sesuatu darinya. Sentuhan dan caranya mencintaiku.
Bella tertawa lalu memutar tubuhnya, menghadapku. Kedua bibirnya yang polos tanpa lipstik membentuk senyuman. Dia menyukaiku sejak aku merusak semua yang telah dia rencanakan untuk masa depannya.
Bella merunduk, tekanan di bibirnya mencuri jauh lebih dalam tubuhku di mulutnya. Aku mengigit bibirku, menahan geraman sambil mengumpulkan rambutnya dalam kedua tanganku. Baru setelah sepuluh menit kemudian, aku meledak di dalam mulutnya.
Aku membuang napas lega secepat aku menarik celana boxer ku. "Aku ke kamar mandi dulu ya." kataku malu-malu sambil mencium lehernya. "Nanti lanjut lagi."
"Enak aja, mau kerja aku tuh." Bella menghindar dari pelukanku dan mengambil kopi yang aku buat di meja dengan wajah biasa saja. Aku menghela napas. Baru saja dia berapi-api sekarang, apa aku yang mulai membosankan?
"Join aja di ruang kerja. Aku lagi nggak bisa tidur."
"Karena aku?" sahutku tanpa menutup pintu kamar mandi. Gemericik air meredam suara Bella. Aku menoleh penasaran, Bella sudah menghilang.
Aku buru-buru keluar dari kamar mandi lalu mengambil kopi kalengan di lemari es sebelum pergi ke ruang kerja Bella yang terletak di samping kamar.
__ADS_1
Bella menghidupkan komputernya dan mengeluarkan semua dokumen dari tas kerjanya yang besar. Berbahan kulit asli, entah kulit buaya atau biawak. Cuma teksturnya kasar tidak seperti kulit sapi atau kulitnya.
Aku melihatnya memakai kaca mata, ekspresinya pun menjadi serius ketika mata dan tangannya sudah mulai bekerja di depan komputernya. Untunglah aku orang yang sabar. Aku menunggunya membereskan urusannya agar cantik dan rapi dan bisa ia cetak dengan kertas printer.
Bella menguap, secangkir kopi yang aku buat tanpa krimer seperti kesukaannya sudah habis. Tubuhnya pasti lelah, harusnya dengan tubuh seperti itu dia akan langsung mematikan komputernya dan merangkak naik ke tempat tidur tetapi Bella memutar kursi kerjanya.
"Tidur dulu sana temenin anak-anak." Bella menyilangkan kakinya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dia kembali menguap dan itu menular padaku. Aku mengantuk, tapi terlalu gengsi untuk mendahului Bella tidur. Dia pekerja keras, sementara aku masih harus kerja di lapangan mengikuti aturan main. Industri hiburan menuntutku untuk patuh dengan rumah produksi yang menginginkan jasaku. Tak main-main rasanya, hidupku slalu dalam aturan dan perjanjian tertulis. Salah-salah aku kena denda.
"Aku nungguin kamu, kita tidur bareng!" jawabku tegas. Bella kembali menguap sambil merenggangkan tubuh, "Tapi kakiku capek, aku nggak kuat jalan ke kamar!" akunya dengan sedih.
Alasan.
Aku berjongkok di depannya. Amit-amit kalau harus membopongnya seperti pengantin baru. Bukannya tidur salah-salah ada ronde lagi yang harus kami selesaikan. Kakiku masih pegal-pegal, terlebih saat menggendongnya ke kamar yang berjarak sepuluh meter dari ruang kerja. Seluruh ototku hari ini bekerja keras.
Aku menendang pintu untuk menutupnya sementara Bella yang merangkul leherku seperti Ollie. Manjanya kebangetan.
"Dietmu nggak berhasil, Bell!" ledekku terengah-engah sambil menekuk lutut, Bella menjauhkan badannya di tempat tidur seraya memeluk Neo.
Aku membetulkan selimut anakku dan ibunya yang menahan pergelangan tanganku setelahnya. Tubuhku merunduk, mencium keningnya.
"Apa kita bisa menyelesaikan masalah kita satu persatu untuk bisa hidup tenang, Abi?"
Kami bertatapan dalam suasana penuh kehangatan. Ada cinta yang besar di kamar ini. Ada perjuangan yang terus kami diskusikan di tempat ini. Dan karena aku tidak bisa meninggalkannya sebelum benar-benar tertidur—aku ingin melihatnya dalam kemasan paling natural—aku duduk di karpet, di samping kusen tempat tidur untuk memeluknya dengan kepala yang aku sandarkan di tepi tempat tidur.
"Kita sudah menaruh banyak cinta dan risiko untuk cinta kita, Bella. Kalau pun nanti dunia akan berpaling atas skandal yang kita lakukan. Kita masih bisa saling memeluk dengan erat dan kuat!"
__ADS_1
......................