
"Jangan melihatku biar aku bisa pergi, Abi." kataku dalam dekapannya yang begitu nyaman, di dadanya yang memiliki jantung yang sedang berdetak kencang. Aku merasakan tangannya mengelus punggungku.
"That's oke, baby. Rumahku menunggumu datang." kataku sambil mendorong pinggulnya. Aku menduduk, tak sanggup menatap matanya sekarang. Pelukan ini membuatku malu. "Tutup matamu, Abi."
"Gak! Nanti Tante cium aku." Abimanyu berbalik, "silahkan pulang dan jangan minta peluk lagi. Hari ini sudah lebih dari cukup Tante membuatku bersalah." katanya dengan suara bergelombang lalu berdeham dengan keras.
Aku menyusuri tulang belakangnya dengan jari telunjukku yang lentik.
"Terima kasih. Maaf." Aku menepuk pundaknya seraya melenggang ke pintu gerbang dan membukanya. Kulihat Abimanyu tetap tidak menatapku selagi aku memasukkan bantal, tas jinjing, dan sepatuku ke dalam mobil.
Aku tersenyum seraya menyusupkan tangan ku di sela-sela tangannya yang berkacak pinggang. "Pelukan terakhir, terima kasih udah menjagaku dari tadi malam. Bye, Abi... Jaga keperjakaanmu baik-baik. Karena, aku dulu nikahnya sama duda, bukan perjaka. Pasti menyenangkan bisa bercinta denganmu." Aku menjerit dengan nyaring seraya mengibaskan tanganku.
"Kok nyubit sih! Mana pake kekuatan dalam lagi. Dendam?" Kesal aku menjentikkan jariku di punggung Abimanyu, dia mengaduh sambil menjauhiku. "Pulang dan jangan membicarakan yang aneh-aneh. Otakku nanti penuh dengan ucapan gila Tante. Ngerti gak?" omelnya.
"Iya-iya, aku akan berlagak seperti bocah ingusan yang gak tau apa-apa! Tante pulang ya." Aku mengelus punggungnya lalu menepuk bokongnya dengan usil.
Abimanyu menggeram, sebelum ia menyerang ku dengan mulutnya yang setajam bambu runcing. Aku buru-buru masuk ke mobilku seraya terbahak. Aku mengklaksonnya saat Abimanyu menutup pintu gerbang rumahnya. Kuturunkan kaca mobil.
"Bye sayang, kuliah yang rajin!"
Abimanyu mengacungkan jari tengahnya sambil berbalik.
Aku terkekeh geli, berani juga. Mana tontonannya Britney Spears berbikini. Aku tersenyum maklum seraya pulang.
Satu jam kemudian, kehadiranku di klinik terasa begitu canggung. Geng kemayu ada di sini. Setengah jam yang lalu, mereka menungguku di ruang serbaguna klinik yang memiliki dinding yang terbuat dari kaca.
__ADS_1
"Tumben kalian kesini?" tanyaku.
"Tidur dimana kamu, Bell?" sahut Alexa Liu sambil melipat kedua tangannya, raut mukanya seperti mama yang hendak mengulik informasi saat aku tidak pulang ke rumah.
"Kemana tadi malam?"
Aku tersenyum gugup. "Pulang." kataku serupa anak remaja yang takut di marahi ibunya.
"Bohong! Aku tadi pagi ke rumahmu, kamu tidak ada di rumah!" sergah Alexa Liu.
"Pulang ke rumah Abimanyu, bodoh. Bukan ke rumahku. Kenapa sih, tumben kalian mampir? Gak ada kerjaan?" Alisku bertaut. Dan bantal sofa langsung melayang ke arahku tanpa bisa aku menghindar.
Aku merapikan rambutku dan memungut satu bantal dan mendekapnya. Aku tersenyum mengingat bantal Abimanyu yang kutaruh bersandingan dengan bantalku.
"Elo apain dia, Bella? Ahhh, inceran aku lho itu. Masih krenyes mirip lalapan mentah." kata Sisca, wajahnya memberengut dengan sengaja.
"Gak ngapa-ngapain, dia bilangnya gitu dan aku percaya. Kenapa, tumben sih kesini?" tanyaku penasaran, tumben lho ini semua geng kemayu ngumpul tanpa wacana. Aku jadi bertanya-tanya sebelum semuanya ngakak dan menatapku geli.
Sisca bangkit lalu mencubit pipiku seperti tadi malam dengan gemas.
"Alexa udah cerita semua, kamu dan Abimanyu. Gila yah, gak ngomong-ngomong elo kalo bocah itu jadi gebetan barumu Bella!" omelnya, terus-terusan mencubit pipiku sampai puas sebelum duduk di sebelahku.
Aku memandang semuanya, mereka terlihat seperti ingin mendengar ceritaku tentang Abimanyu.
"Dia punya pacar. Kepala batu itu nyuruh aku jangan jadi selingkuhan. Gila kan. Pendiriannya kuat, tapi rasa ibanya juga besar. Pokoknya aku pikir dia ini cukup paham dengan apapun yang aku katakan, cuma dia milih meresponnya dengan singkat!"
__ADS_1
"Jadi?" tanya Sisca, matanya melirikku penuh ambisi, "Elo suka sama dia?"
Aku menyunggingkan senyum dan menggeleng. "Aku nggak tau suka atau cuma kasian, tapi jiwa keibu-ibuan ku ini lho yang pengen jaga dia dari tante-tante girang sepertimu, Sis! Aku gak rela remaja manis seperti dia harus luluh akan rayuan uang."
Sisca tertawa. "Bella, Bella. Oke deh, gampang. Dia jadi milik elo, gue gak akan ganggu. Tapi nyawer boleh dong, dia kan ngamen."
Aku mengembuskan napas. Hatiku serasa tercubit ketika Abimanyu dianggap ngamen dari club ke club oleh Sisca, memang benar profesinya sebagai penyanyi freelance seperti orang ngamen, dia bisa, dia ambil job itu. Cuma kan enggak harus gitu. Abimanyu cuma ingin bertahan hidup.
"Gak usah bawa-bawa profesi lah, kasian dia." kataku dengan wajah suram.
"Nah, makanya kita ngumpul disini buat meeting urusan Abimanyu dan papih. Debora dulu kan juga anggota geng kemayu, sementara dia mau nikah sama mantan suamimu. Yakin gue mereka ada main waktu kalian masih nikah, jadi, sebagai hadiah pernikahan mereka. Kita semua akan datang untuk ngasih suprise istimewa buat mereka. Tapi kamu gak usah ikut, Bella. Kamu enjoy aja, ntar gue kirim jadwal manggung Abimanyu dari club ke club. Gue dapat dari orang dalam."
Sisca mengelus punggungku. "Setuju kan?"
"Maksudnya suprise gimana nih?" tanyaku sedikit was-was, entah kenapa suasana jadi menegangkan. Sisca menjelaskan rencananya, aku mendelik. Mereka akan membawa mantan kekasih Debora dan sedikit rahasia-rahasia gila yang mereka ketahui. Aku maklum, di antara para suami geng kemayu ini, mereka memang bisa mendapatkan informasi dengan mudah melalui orang-orang suruhan dan teknologi.
Aku yang tidak tahu sebenarnya ini baik untuk balas dendam atau aku tidak peduli lagi. Aku lebih tertarik pada jadwal-jadwal manggung Abimanyu.
"Terserah kalian, tapi aku takut nanti kalian kena imbas dari semua rencana ini. Kalian tau kan papih orangnya gimana? Dia gak mau di usik!" Aku menggeleng lemah. Dan balasan-balasan atas ocehanku itu adalah muka-muka meremehkan.
"Satu lawan delapan?" Regina menarik sudut bibirnya. "Lagian kita cuma mau bikin syok terapi untuk Debora, jalangg itu harus di kasih pelajaran berharga!"
"Baik, tapi kalian harus jaga diri. Jangan kriminal karena aku tuh sayang sama kalian jadi jangan menyusahkan diri hanya buat aku apalagi cuma ngurus Debora sama papih. Mereka gak penting bagiku!"
"Halah, mentang-mentang udah punya mainan baru." sergah Sisca sambil iseng mendorong bahuku. "Ntar aku kasih tips meluluhkan hati seorang perjaka. Kamu cuma harus sabar aja, Bell. Tarik dia, ulur lagi dan nikmati semua momen sepele yang bocah itu sukai. Pasti mempan lah. Dia pasti jatuh cinta."
__ADS_1
Aku memutar bola mataku. Yakin, trik Sisca itu ribet tapi patut di coba!