Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Aku labil


__ADS_3

Nasi sudah jadi bubur, Abimanyu sudah melihatku berdandan seperti kuda jadi-jadian berwarna pink. Sekarang aku bingung harus menyembunyikan wajahku dimana sementara kedatangan Abimanyu yang aku hindari demi menepis anggapan aku jahat aku merebut kekasih orang malah gagal total.


Aku termangu sambil memandanginya. Ini jelas bukan salahku, bukanlah. Aku hanya memberinya tebakan, kalau dia berhasil harusnya kirim chat saja, tidak usah nyusul ke sini hanya untuk membuktikan sendiri kalau aku ada. Mana dia jadi tahu betapa konyolnya aku sekarang.


"Buang-buang duit beneran kamu!" omelku sambil menjatuhkan diri di kursi lalu menyaut boba rasa Oreo milik Abimanyu dan meminumnya.


"Enak?" Abimanyu mengangkat cup plastik boba yang hanya tersisa bongkahan es dan lima butir boba yang tak berhasil aku sedot. "Terus aku harus minum apa kalo Tante habisin?" Ia menatapku.


"Tunggu aja esnya cair!" Aku tersenyum lebar, lalu mengamatinya menyantap nasi campur Bali yang berisi campuran nasi, ayam bakar, sate lilit dan tumis kangkung. "Aku gak tau alasanmu kenapa kamu ke sini daripada nabung uangmu untuk kencan dan bayar kuliah!"


"Aku sedang membuang uangku untuk menemuai tante-tante di Bali!" Abimanyu menatapku, dan yang terhebat dari tatapan matanya, ia slalu terlihat tegas dan tenang dalam sekali waktu. Abimanyu tersenyum miring, "Bukannya tadi malam Tante nantangin aku? Ini jawabnya, suka atau tidak suka. Aku di sini sekarang."


Aku merasa kepalaku mulai sakit ketika Abimanyu tersenyum manis. Sakit karena aku harus melihatnya begitu tanpa bisa aku miliki. Sakit karena aku seperti menjadi kekasih gelap Abimanyu. Lebih sakit lagi, persoalan hati yang tak kunjung aku mengerti dari semua perhatiannya sekarang.


Aku menurunkan tudung kepala yang sejak tadi membuatku risi. Kostum ini sama sekali tidak membantuku meski aku nyaman memakainya.


"Habisin makan mu, biar aku ambilin air putih."


"Enak ya, boba Oreo di ganti air putih!" protes Abimanyu, sontak aku mengangkat tubuh dan menonyor keningnya. Abimanyu meringis ketika pipinya aku cubit dua-duanya.


"Itu lebih baik untuk tenggorokan daripada minum es, bodoh. Udah di bilang jaga pola makan, ngeyel banget sih Ian!" omelku, menarik lebih lama pipi Abimanyu sampai merah. Puas, aku menepuk-nepuk kedua pipinya seraya menghela napas.


"Harusnya Tante pakai kostum kepiting, bukan unicorn. Tidak jadi lucu, Tante menyebalkan." protes Abimanyu sambil menggosok pipinya dengan tangan kiri. "Sakit Tante, jerawatku lagi ada yang matang!" Abimanyu melotot jengkel.


"Ih bocah." Aku mengibaskan rambutku saat berbalik arah, ku tarik gagang pintu dan menatap Abimanyu sekilas. Ia kembali menyantap nasi campur Bali dan mengunyahnya.


Buru-buru lagi seperti anak kancil, aku melompat-lompat di koridor seraya menggebrak meja kasir ketika Chandani sedang menyantap sempol ayam.


Chandani tersenyum dengan pipi yang mengembung sebelah.

__ADS_1


"Buruan di kunyah terus jawab kenapa gak ada yang ngasih tau Bella kalo Abimanyu ada disini, kenapa?" kataku berang, kejadian hari ini pasti akan di ingat Abimanyu seumur hidup dan aku malunya gak akan hilang-hilang.


Chandani menelan sempol ayam kuat-kuat lalu dia berjongkok, meneguk air mineral dan berdiri lagi dengan anggun. Chandani mengatupkan kedua tangannya sambil tersenyum.


"Maaf, mbok. Kami kira Abimanyu sudah memberi kabar jika dia menunggu mbok di kantor."


Alamak, salah juga aku tidak tanya dulu tadi. Mana pasti semua karyawan ku jadi beranggapan kalau aku berdandan seperti badut karena ada Abimanyu di sini. Ya ampun, aku gak punya muka sekarang.


"Terus dia datang jam berapa?" Aku menelengkan kepala, mengawasi pintu ruang pribadiku di pojokan. Aman, Abimanyu masih makan.


"Jam tujuh, mbok. Dia menunggu klinik buka di pos satpam dan mengatakan bahwa dia tamu Tante Bella dari Jakarta." Chandani tersenyum lebar, "Makanya kami mengiyakan Abimanyu untuk menunggu mbok di ruangan."


Aku menatap lekat, seolah ingin meyakinkan diri apakah Chandani sungguh-sungguh merasa telah berkata jujur. Tapi ini Chandani, manager yang aku percaya memegang klinik ini, itu artinya Abimanyu langsung ke bandara jika semalam ia pergi ke pub dulu untuk bernyanyi.


"Terus dia udah mandi belum?" tanyaku lirih. Chandani menggeleng, "Saya tidak tahu mbok, namun sepertinya belum karena sewaktu saya memberikan makan siang, Abimanyu sedang tidur di sofa."


"Oke cukup, makasih Chan." Aku meninggalkan ruang pendaftaran sekaligus kasir, aku pergi ke pantry untuk mengambil air putih dan kembali ke ruanganku.


"Makasih, Tante." Abimanyu menghabiskan air putihnya, dia mendorong mundur kursinya seraya berdiri. Tangannya merogoh kantong jaketnya seraya menyesap rokok elektriknya. "Ayo jalan-jalan, Tant."


Kubuka jendela, lalu duduk, menyilangkan kaki dan menghadapnya yang bersandar di dekat jendela.


"Kamu sadar gak sih dengan keberadaan mu di sini, kamu bolos kuliah dan menyakiti Brigitta?"


Abimanyu mengembuskan napas, mengepulkan asap rokok beraroma coklat. Aku menghirupnya, meyakini bahwa setiap kali aku mencium aroma seperti ini, hanya ada Abimanyu yang terngiang di kepala ku.


Abimanyu bersedekap. "Apa seperti ini bisa di sebut perselingkuhan dalam harfiah yang sesungguhnya?"


"Come on, baby. Aku benci membahas perselingkuhan sekarang. Gila ya kamu, jauh-jauh ke Bali cuma mau bikin aku berpikir keras. Pulang lagi aja gih, udah ngatain aku baperan, sekarang... kamu ngerti gak, aku lagi sensitif dengan kalimat itu!" sahutku cepat.

__ADS_1


Abimanyu sama sekali tidak meninggalkan wajahku. "Makanya gak usah di bahas kenapa aku ke sini. Brigitta gak tau, itu kan saran Tante kemarin. Yang penting gak ketauan, ingat?"


"Tentu." Aku melemparkan tatapan apa-apaan dia, kenapa dia malah berguru padaku. Dasar, aku menatapnya dengan sifat bermusuhan.


"Jangan gitu, laki-laki harus punya pendirian teguh, Abi. Kalau kamu setia, setia aja. Jangan hanya karena ada aku sekarang, kamu goyah—"


"Aku labil!" sergah Abimanyu cepat, memotong ucapanku. Aku memejamkan mata. Dulu waktu seusianya aku juga labil, jadi aku akan maklum. Sematang-matangnya usia laki-laki, usia Abimanyu kini masih diselimuti banyak ego yang menghasut pikiran sendiri. Tapi ini Jakarta-Bali, jauh dan di tempuh dengan keras kepala. Pagi-pagi sekali, tidak kuliah dan mempunyai pacar.


Aku membuka mataku. "Kamu harus setia, Abi."


Abimanyu menyusurkan jemari tangannya di rambutnya yang gelap. "Aku hanya main kok!"


"Main?"


"Aku kemarin juga ikut main ke pernikahan mantan suami Tante dan mantan anggota geng kemayu."


"APA!" jeritku, Abimanyu menaruh jari telunjuknya di bibir, "Diam, gak usah jerit-jerit. Kupingku syok Tante!" Abimanyu meraih tas ransel dan gitar seaua menggendong keduanya.


"Ayo jalan-jalan, udah kepalang basah Tante jadi unicorn jadi-jadian. Gak seru kalo cuma di kantor dan percayalah Tante bakal membuat banyak orang tersenyum dengan kostum ini." ajak Abimanyu sambil mengulurkan tangannya.


"Kamu yakin?"


Abimanyu menyunggingkan seulas senyum menenangkan ke arahku. "Yakin aja, bukannya Tante, Tante gembira."


"Tante gembira?"


Abimanyu menarikku berdiri, "Tante girang untuk Tante-tante yang agak tua, sementara Tante masih Tante muda. Jadi Tante Bella, Tante gembira."


"Apaan sih," Aku mendorong bahunya, "Gak lucu tauuuuu," protesku sambil membuka pintu dan Abimanyu tidak bisa menyembunyikan senyum geli yang semakin semakin lebar ketika aku memasang tudung kepala yang memiliki tanduk ini.

__ADS_1


"Mau aku seruduk?"


"Coba aja!"


__ADS_2