
Bab 11 - Gadis Paling Sederhana
.
.
.
Aku menyapukan tanganku ke rambut lalu menoleh ke belakang. Pura-pura tidak tahu, tapi gadis-gadis itu memperhatikanku dengan cermat sambil mengerutkan kening.
"Alat pengaman?" Aku meraih alat pengaman dari tangan gadis paling sederhana yang menunjukkan kotak warna merah. Aku tidak tahu kenapa barang ini ada di bagian kantong jok mobil, karena seringnya barang ini ada di tas Bella.
Aku mengernyit, apa Bella sengaja menaruhnya di sini tapi untuk apa? Apa dia kecewa usaha kami tadi pagi tidak sesuai dengan keinginan. Kenapa aku jadi curiga, sungguh-sungguh aku tidak habis pikir kenapa dia melakukannya. Triknya jelek banget.
Aku menyunggingkan senyum sambil menatap mereka satu persatu.
"Sepertinya ini punya sopirku yang ketinggalan, dia sering bawa mobilku jalan-jalan." jelasku meyakinkan sambil menelan rasa malu. "Dia duda, jadi tolong di maklumi gadis-gadis." Aku menaruh barang sialan ini di dekat parfum Bella lalu menghidupkan mesin mobil.
"Terus kalau duda jalan-jalan ke mana om kok harus bawa gituan. Itu bukannya hanya untuk suami-istri ya?"
Aku mencengkeram stir mobil, benakku terusik dengan pertanyaan yang bisa aku jawab dengan jujur jika lawan bicaraku seumuran. Aku menoleh sambil memasang sabuk pengaman. Aku mengedipkan sebelah mata dengan sengaja.
"Kejutan banget ya lihat gituan, cari apa sih tadi?" tanyaku dengan nada heran. Tidak sopan juga ini bocah main rogoh-rogoh kantong jok mobil orang, baru kenal lagi.
"He-he, malu om." Gadis paling sederhana itu memalingkan wajah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mulutku terbuka ingin mencari penjelasan kenapa dia iseng tapi lenganku tersentuh. "Udah deh kak Ian, ayo jalan aja. Dia aja kelihatan aneh kok."
"Sssttt..." Aku mendesis mengingatkan, "Nggak boleh ngomong seperti itu. Gak baik. Kalian jadi geng kan? Geng harus solid dan kompak!"
Nadine tersenyum manis sambil mengulurkan tangan ke arah gadis paling sederhana yang menyebutkan namanya setelah Nadine bertanya siapa namanya. “Putri” namanya.
"Oh nama elo putri, tadi telat sih jadi nggak sempet kenalan. Sorry, Put." ucap Nadine menuruti apa kataku.
__ADS_1
"Nggak masalah kok, banyak yang bilang aku emang aneh."
Nadine tertawa geli dan pembicaraan gadis-gadis penuh rasa semangat dan rasa penasaran mengisi sepanjang perjalanan ini menuju ke mal.
Makan malam dihidangkan sebagai awal pertemanan kami di sebuah restoran sushi. Meski bukan paling tua di sini karena masih ada mas Daryl, aku merasa berbaur dengan yang muda-muda cukup melelahkan. Banyak pertanyaan yang mereka ajukan untuk mengetahui seluk beluk dunia hiburan, bagaimana nanti waktu syuting dan bagaimana mereka harus mempersiapkan diri. Mendadak aku merindukan Bella, sebagai komandan dan memiliki karakteristik tegas dia sangat memahami cara mendominasi dan mengatur remaja-remaja penasaran ini.
Aku mengeluarkan rokok elektrik dari saku jaket dan menghisapnya. Bella, pengen pulang... Pengen manja-manja sama kamu aja daripada jadi pria dewasa bagi mereka.
"Mental aja yang ditebelin, terus kesehatan di jaga. Selebihnya banyak belajar akting biar luwes."
"Terus gimana caranya kita bangun chemistry kak, biar natural gitu." sahut Nadine, "Mulai kapan kita bisa baca skrip bareng terus harus gimana gitu biar nanti waktu akting nggak canggung."
Aku sudah mengira kalau dia akan mengucapkan kalimat itu. Sudah sering, sudah paham, dan aku akan menjawabnya dengan kata ini. “Dua jam sebelum kita take, kita udah kumpul di lokasi syuting dan satu lagi Nadine, aku menolak untuk ciuman bibir.”
"Terus kalau di skrip ada adegan itu gimana kak, terus kalau sutradara marah gimana? Nanti di kira gak profesional." Nadine memasang wajah masam. Gadis itu meminum jus mangga dengan mata yang tetap menatapku.
Aku menyilangkan kaki, berusaha menunjukkan sikap serius. Aku tidak bisa menghalau rasa penasarannya, jika mungkin dan mampu aku akan mengatakan alasannya kenapa aku slalu menolak berciuman dengan lawan main. Aku tidak bisa menciptakan magis di bibir wanita lain selain wanitaku, Bella.
Nadine memasukkan sushi ke dalam mulutnya, lalu menjilat mayonaise yang tertinggal di bibirnya. Senyum Nadine melebar sementara teman-teman kami sibuk berfoto-foto demi eksistensi sosial media dan promosi.
"Nggak ada kak, cuma aku dulu sering ikut kelas drama dan teater. Moga-moga itu udah jadi modal aktingku nanti." kata Nadine, wajahnya memerah.
Aku terdiam sejenak, mencernanya. Aku dan Nadine nanti akan memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih yang berada di lingkungan sekolah. Aku berperan sebagai guru olahraga sementara dia murid yang terpesona padaku. Jelas sebagai karakter seorang guru aku harus mengayomi anak didik, semoga saja dia tidak jatuh cinta beneran.
Salah satu sudut bibirku terangkat bertepatan dengan datangnya pelayan yang mengantar bill. "Kedengarannya bagus, kamu hanya perlu mengasahnya." Aku meraih bill yang di berikan seorang pelayan lalu membayarnya seperti seorang bos. Padahal... Entah karena alasan apa mereka memandangku seperti orang banyak duit.
"Pak guru cabut duluan, kalian have fun." pamitku sambil menepuk bahu mas Daryl yang mengucapkan terima kasih atas traktirannya. "Duluan mas, sorry nggak bisa lanjut ikut. Ada pertemuan dadakan."
Aku menunjuk ponselku yang baru saja menyalahkan nada pesan dan telepon.
"Santai bro, ati-ati. Terus jangan lupa besok di kantor kabarnya ada kedatangan pemain baru yang di rekrut mami. Elo datang!"
__ADS_1
Aku mengangguk sambil melambaikan tangan ke arah semua orang yang menatapku senang. "Gadis-gadis pulang sendiri yee, jangan malam-malam mainnya."
"Idih pak guru perhatiannya cuma sama gadis-gadis! Sama kita-kita juga dong, sedih amat nggak di perhatikan." sahut Hindra, remaja paling kocak dan humble di antara yang lain.
Senyumku merekah. "Bukannya tadi kamu bilang kita musuhan, terus buat apa di perhatikan." Aku mengendikkan dengan tak acuh lalu berjalan keluar.
"Jangan pulang malam-malam, syuting besok harus keren. Awas kalau bau bantal!" seruku mengingatkan. Tetapi baru setengah jalan tanganku di cekal seseorang.
"Putri!" ucapku kaget, ngapain bocah ini ikutan keluar.
"Om Ian pulangnya ke daerah mana?" tanyanya buru-buru. "Kalau searah aku boleh nebeng lagi?"
"Rumahmu sendiri di daerah mana?" tanyaku, secuil hatiku kasian, secuilnya lagi ingin segera pulang dan menemui Bella. Dia yang meneleponku. Kebetulan banget aku butuh sekali penjelasanya.
"Di komplek perumahan dekat kantor pos besar. Om Ian tau?" Ekspresi Putri terlihat menyelidiki.
Terpaksa aku mengangguk, itu jauh dari rumahku, sementara dia tersenyum manis sambil menggenggam tanganku lebih erat. Gadis-gadis hari ini sebenarnya kenapa, belum sehari kenal tapi sudah pada berani sentuh-sentuh aku.
"Makasih om udah bantuin."
"Iya, tapi lepas dulu tangannya. Aku nggak bisa terlibat drama di luar skenario. Nanti rawan gosip." kataku dengan lembut, takut menyinggungnya dan image baik ini sungguh sialan. Tapi apa mungkin enak kali jadi cewek-cewek yang bisa gandengan tangan bareng Julian Rudolf. Andai aku bisa bersikap cuek. Semuanya jauh lebih mudah, terlebih ini di mal. Banyak orang yang akan menyaksikan langsung hal-hal yang tidak aku inginkan.
"Maaf om." Putri melepas tanganku, dia menundukkan kepala seakan rikuh setelah aku tegur.
"Udahlah kita ke parkiran aja, aku buru-buru soalnya." ucapku jujur.
"Sekali lagi maafin Putri, om."
Aku mengangguk kuat-kuat sambil tersenyum lebar. "Yuk jalan."
......................
__ADS_1