
Sinar purnama menghilang di tengah awan putih yang menggumpal menutupi langit seperti selubung. Aku masih di sini, di depan tempat karaoke pribadi sambil menatap jauh ke angkasa luas yang tak ada batasnya di pukul satu pagi.
Senyum papi Narendra yang indah seperti candu sebotol anggur merah menemani seperti biasa dengan suasana yang berbeda. Tidak ada kecupan yang mendarat di puncak kepalaku lalu memelukku dari belakang.
"Bella, papi pulang." bisiknya, lalu aku berbalik menyambutnya dengan pelukan meski tubuhnya beraroma perjalanan. Letih, papi Narendra menyandarkan kepalanya di bahuk.
"Kamu kangen papi tidak, mam?" tanyanya, mata cokelat unik laki-laki itu memicuku untuk menatapnya. Dan aku pun tersenyum manis ketika menatapnya.
"Kamu tau, papi. Aku slalu kangen. Bohong kalo aku gak kangen. Aku kangen berat sekarang."
Aku mengangkat botol anggurku, bersedih pada hening malam, membiarkan perlahan mimpi yang dari semua malam-malam panjang yang kami bicarakan pupus terbawa angin malam.
Aku melewatkan setengah jam dengan meneguk minuman ku hingga tetes terakhir. Aku menuangkan botol itu ke udara, tetesan-tetesan air anggur merah itu perlahan menghilang.
Aku melangkahkan kakiku dengan kepala sempoyongan masuk ke dalam ruang karaoke dan merebahkan diri di sofa dengan posisi tengkurap.
"Apa papi udah bobok?" tanyaku sambil memainkan karpet bulu di lantai, "Papi mungkin sudah bobok." jawabku sambil terkekeh-kekeh.
"Apa enaknya tidur sendiri papi, enakan juga sama mami. Anget."
Masalah yang menerus, dan perasaan yang rapuh membuatku mengerjapkan mata berkali-kali menyaksikan topi si tampan yang ada di meja itu.
"Kamu godain aku, Abi. He-he," Aku mengkhayal, indah, tak selalu indah, sambungan-sambungan adegan dalam khayalan itu menjadi riuh, acak, berlompatan, terasa asing, tidak bisa aku terka bagaimana akhirnya hingga cahaya menyorot mataku. Silau.
Aku menutup wajahku dan meringkukkan tubuh waktu seseorang mengguncang bahu lenganku.
"Nyah, nyonyah. Bangunlah, di depan ada kang bengkel nyariin nyonyah tuh nganter motor keren."
Swing, swing, swing... Kepalaku berputar-putar saat aku langsung duduk. Rasa mual bergolak di perutku. Aku menunduk sambil memejamkan mata beberapa saat untuk menghilangkan rasa ngeri ini.
__ADS_1
"Motor keren?" Aku mendongkak.
"He'eh, item warnanya, Nyah—pantes pikun, minum lagi minum lagi. Udah kali Nyah gilanya. Gak usah gitu-gitu, mama dan papa lihat lho dari sana." Bibi Marni menginjak pedal tong sampah dan bunyi berdebam terdengar kemudian. Bibi Marni melempar botol anggurku ke sana.
Mataku langsung terbuka, boleh aku nangis lagi? Aku lelah menangis.
"Bibi turun aja deh, minta mereka nunggu satu jam. Buatin kopi sama kasih roti-rotian. Aku mau mandi dulu, mau ketemu sama yang ngasih topi jelek itu." kataku sambil berdiri, kepalaku terasa berputar lagi dan rasanya langkahku menjadi berat.
"Siapa, Nyah? Pasti gak modal itu. Ngasih kok jelek." seru bibi Marni yang langsung membuatku menoleh.
"Ya, ampun, bibi... Bocah lagi lulus SMA mana punya modal gede buat ngasih tante-tante penuh gaya ini topi mahal! Ah, sebel bibi bahas-bahas itu, jadi sadar kan sekarang kalo Abi–"
Aku menuruni anak tangga dengan hati-hati, bekas keseleo masih terasa sedikit nyeri. Namun rasanya segala beban yang ada mendadak berangsur-angsur menghilang sewaktu aku mendampingi pulang motor kesayangan Abimanyu itu ke rumahnya.
Abimanyu menyambut motornya sambil tersenyum lega. Motornya kembali halus seperti kulit pahaku.
Aku tersenyum, usai sudah urusan kami berdua. Tidak ada lagi pesan yang muncul menanyakan perihal motor hitam mengkilat itu yang kini sedang Abimanyu tatap di setiap lekuannya.
"Thankyou too," aku mengibaskan tangan. Pick up monster itu kemudian memberi klakson dan menderu lalu pergi.
Aku pun meneguk es sirup yang konon katanya di buat Abimanyu sendiri, aku mau percaya, tapi juga tidak hingga aku nyaris tersedak ketika ibunya keluar sambil mengeluarkan nada kepanikan.
"Ian, papa, ian."
Abimanyu dengan cepat masuk ke dalam rumahnya. Aku yang memang teringat untuk menjenguk papanya meraih bungkusan buah-buahan segar di meja dan ikut masuk tapi langsung merapat ke tembok sewaktu Abimanyu keluar sambil membopong papanya bersama ibunya.
"Tante ngapain ikutan masuk? Mending Tante buka deh mobil Tante, anter papa ke rumah sakit sekarang!" serbu Abimanyu panik.
Mau tak mau bagai di siram saus sambal yang membuat sekujur tubuhku kepanasan aku langsung pergi ke mobil, cepat-cepat membuka pintu belakang dan duduk di kursi pengemudi. Tapi karena aku bukan pembalap super yang bisa selip kanan selip kiri tanpa menyenggol bodi mobil atau motor di jalanan aku keluar lagi.
__ADS_1
"Kamu bisa bawa mobil, Abi?" tanyaku ikut panik di sela-sela ibunya Abimanyu menggumamkan “Oh Tuhanku, tolong Rudolf.”
"Buruan masuk!" Abimanyu berlari menutup rumahnya lalu kembali berlari sebelum masuk ke dalam mobil. Sejenak ia menatapku.
"Transmisi matic." kataku.
Abimanyu langsung menekan pedal gas dengan muka serius, dia melakukan sesuai imajinasiku, nyalip ke kanan, ke kiri sampai bunyi klakson peringatan terjadi berulang-ulang.
Aku yang cemas berkali-kali nengok ke dapan, ke belakang. Mulut Rudolf mengeluarkan darah, mukanya pucat, tubuhnya yang jangkung tampak semakin kasian di mobilku yang mini.
Sakit apa beliau? Kernyitan di keningku pudar sewaktu mobil ini menghentak dengan cepat di muka rumah sakit.
Aku gegas keluar dari mobil untuk memanggil dokter jaga di unit gawat darurat. Mereka langsung mendorong brankar ke arah mobilku lalu membantu Rudolf berbaring dan membawanya ke ruang pemeriksaan di ikuti istrinya.
Abimanyu menghampiriku, katanya terima kasih sambil mengulurkan kunci mobilku. Wajahnya yang serius sedikit memberi senyum di ujung kalimatnya.
"Sama-sama." Aku balas tersenyum datar, "maaf ayahmu sakit apa?"
"Aku gak bisa jawab, tapi, mama..." Abimanyu melangkahkan kakinya cepat-cepat untuk menghampiri ibunya yang keluar dari ruangan serius itu.
Aku pun ikut ke sana karena rasanya rikuh pergi sebelum mereka benar-benar tenang.
"Papa harus cuci darah secepatnya, Ian. Bagaimana ini, uang mama sudah habis untuk cuci darah kemarin dan bayar kuliah kamu, sementara uang pensiun papa belum cair. Ian, gimana kalo motor kamu–"
"Pakai uang aku dulu Tante." selaku dengan cepat, menyudahi kegugupan yang ibunya katakan. Abimanyu dan ibunya menatapku heran, tak percaya. "Aku serius, ayo kita urus transaksinya kalo Tante setuju."
Dan langkahku terasa seperti melayang-layang sewaktu Abimanyu menggenggam tangan ku untuk pergi ke kasir.
•••
__ADS_1
Bersambung.