
"Maaf, untuk apa kita kesini?" tanyaku sinis setelah mobil yang dikemudikan Abimanyu berhenti di depan vila mewah pinggir tebing. Sepi, indah dan menawan. Suasana seperti ini mengingat aku akan musim bulan madu bersama papi Narendra lima tahun yang lalu. Manis, penuh bunga dan ingatan itu mendadak lumer di kepala ku tanpa bisa aku cegah.
"Midnight dinner!" Abimanyu menekan safety belt yang membebat tubuhku sembari tersenyum manis.
"Tante harus menikmatinya. Aku janji ini yang terakhir aku ganggu Tante. Sepulang dari sini seperti obrolan kita kemarin, kita kembali ke kehidupan kita masing-masing."
Aku menoleh, "Yakin?"
"Slalu yakin!" tegas Abimanyu menjawab dilanjutkan dengan helaan napas panjang. Dia mendorong pintu mobil lalu berdiri dengan tatapan yang sama seperti waktu aku menemuinya.
Datar.
"Aku benci situasi ini! Rasa-rasanya hari ini aku akan menjadi kekasih yang patah hati. Tapi bagusnya aku tidak begitu." kataku meyakinkannya.
Udara malam yang lengas menerpa diri yang bertakhtakan resah dan rasa tidak terima Abimanyu menjadi mainan anggota geng kemayu ketika kakiku menginjak lantai granit. Dia berhak bebas dan tidak terjerumus di perkumpulan geng kemayu seperti mau ku kemarin-kemarin.
"Bagus lah kalo kamu ngerti perbuatan mu itu menyakiti dua perempuan sekaligus!" kataku sinis. "Laki-laki harus membuat satu pilihan tegas untuk satu tujuan hidup yang jelas."
Abimanyu mengulurkan kunci mobil Regina kepadaku dengan menahan begah. Terpaksa aku terima meski sebenarnya ingin sekali aku lempar kunci mobil Regina ke kolam ikan di depan teras. Kacau, semuanya kacau jadinya ketika geng kemayu ikut campur.
"Ayo masuk, dan kita selesaikan midnight dinner kita hari ini!"
Dengan langkah anggun aku berbalik, menyapa seorang penjaga vila berpakaian serba hitam yang membukakan pintu.
"Silahkan nyonya!"
__ADS_1
Aku mengangguk seraya mengikutinya sampai ke pinggir kolam renang di belakang vila. Meski hanya diam, isi kepalaku terus mengingat pembicaraan dengan Abimanyu kemarin-kemarin. Dia mengerti apa yang aku ucapkan tanpa banyak berkomentar, sekarang bagai pamitan yang di buat jauh lebih baik ketimbang pergi tanpa kabar, geng kemayu tambah membuat semuanya jadi serba lancar dan sukses.
Aku mendengus ketika Abimanyu menarik mundur kursi yang hendak aku duduki.
"Silahkan, Tante Bella."
Aku memandangi wajah Abimanyu yang terpapar cahaya jingga dari lilin-lilin kecil yang menyala di atas meja setelah kami resmi menempel bokong di kursi empuk.
"Gak usah sok formal, aku yakin kamu lagi gak sandiwara atau sengaja bersandiwara Abi. Santai ajalah, kita bikin semua ini indah. Sayangkan, vila mahal, dinner romantis, cuaca cerah dihiasi bintang-bintang tapi kita seperti orang yang sedang berjarak!"
Aroma anggur merah menguar dari dalam botol yang dituang penjaga vila ke dua gelas anggur.
"Terima kasih, pergilah siapapun namamu!" ucapku.
"Selamat malam." Dia membungkuk hormat seraya berlalu.
Abimanyu tersenyum. "Tante suka?"
"Suka, tapi ini sesuatu yang biasa." Aku tersenyum simpul. "Terima kasih, waktumu"
"Bagi Tante mungkin ini sudah biasa, tapi bagi aku ini pertama kali. Lumayan bikin gerogi dan insecure." Abimanyu semakin merekah kan senyum sempurnanya. Tapi sedetik kemudian Abimanyu mengerucutkan bibir, muram. Hatiku sontak tercubit.
"Maaf kalo ucapanku menyinggungmu, Abi. Maaf, aku tidak bermaksud." Aku membelai pipinya sejenak. Sumpah, aku tak bermaksud membicarakan status sosialnya karena itu jelas tak memungkinkan Abimanyu berada disini dengan seorang sosialita jika bukan ada seseorang yang memberinya suntikan dana.
"Maafkan aku, bisa?" tanyaku, berharap.
__ADS_1
Abimanyu menyeringai dan mengangkat kedua tangannya. Tenang. Remaja itu memang terkenal mudah memikirkan sesuatu dengan cepat sebelum menjilat ucapannya sendiri.
"Tante tenang aja, justru aku jadi sadar. Kita adalah laut dan tebing. Sesuatu yang dekat tapi curam dan dalam. Jadi itu berbahaya bagi orang awam seperti aku!"
"Omong kosong!" bantahku, memalingkan kepala ke sisi lain. "Jangan membicarakan itu sekarang! Aku, kamu dan banyak orang di luar sana masih terus berjuang mencapai harapan. At least, itu yang akan kita kejar dan genggam nanti."
Keheningan lalu benar-benar merambati tempat ini. Abimanyu tak lagi berkata-kata, tapi matanya memandangiku tajam dan lekat.
Aku mengangkat gelas anggur seraya mengajaknya bersulang.
"Selamat makan, Abi. Kita buat ini indah!" Gelas berdenting, mulut Abimanyu menyentuh bibir gelas dan menyesap isinya sampai habis.
"Lakukan."
Aku mengangkat sendok dan mengakui kebenaran yang disentakkan Abimanyu kepadaku barusan sangatlah menarik.
Abimanyu tersenyum setelah menuangkan anggur merah di gelasnya sampai penuh.
Jangan sampai dia mabuk, jangan sampai. Aku tidak ingin direpotkan dengan remaja mabuk, ini menakutkan.
"Selamat makan Tante, lupakan diet dan buat hidup Tante lebih berharga daripada sekedar memikirkan kalori dan lemak."
Abimanyu menaruh serbet makan di pahanya ketika aku mengangguk. Kami menyantap steak, fettucine bolognese, sepiring stoberi, dan terakhir meneguk air putih diselingi tatapan tak berdaya kami berdua.
Abimanyu mendorong mundur kursinya seraya berdiri. Katanya, dalam malam yang kian turun menjadi dini hari yang berkabut.
__ADS_1
"Aku mau Tante tersenyum lepas."
...***...