
Arties, Catalunya, Spanyol.
Dua hari setelah semua menjadi lebih berarti dan bila pada akhirnya menikah dengan Abimanyu adalah jawaban atas harapan dan impianku. Pernikahan hari ini akan di mulai tanpa kendala, di atas rumput hijau yang membentang luas dengan panorama pegunungan yang di selimuti salju. Sejuk udara dan heningnya suasana terasa tentram dan bahagia.
Aku mendekati dua puluh kursi tamu dan satu meja panjang dengan kebaya putih sederhana dengan langkah anggun dan tak berhenti tersenyum.
Seluruh kursi itu penuh dengan orang-orang tersayang. Mereka tersenyum kepadaku, dan Abimanyu yang menungguku di depan dekor pengantin yang dihiasi bunga lavender menyunggingkan senyum yang paling menawan.
Abimanyu menggunakan setelan serba hitam kecuali sepatu, kami sepakat menggunakan sepatu kets putih dan rambutku tetap tergerai rapi seperti konsep pernikahan kita. Sederhana dan santai.
Aku mendekatinya dengan senyum malu. "Hai, future husband. Do you want to marry me now?"
Abimanyu meraih tanganku. Dia mengangguk. Seperti keberanian yang tidak pernah aku ragukan, Abimanyu Julian Rudolf menikahiku seorang diri dan hanya di dampingi wali dari seorang ahli agama dari KBRI Spanyol dan para sahabatku sebagai saksi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Bella Ellis binti Muhammad Nicolas Al jami dengan mahar yang telah disebutkan, tunai."
Tubuhku langsung lemas, Abimanyu resmi menikahku. Lancar dan baik. Merdu dan menggetarkan hati.
Aku menyunggingkan senyum, masalahnya sekarang bukan lagi pacaran yang bisa hahahihi dan pergi setelah salah tingkah. Suamiku perjaka. Ampun, aku menarik napas dalam-dalam. Gimana malam pertama nanti, kok aku jadi gelisah. Kok aku nggak sanggup melihat Abimanyu tanpa potongan baju sedikitpun.
"Sungguh sangat disayangkan pengantin perempuannya malu-malu mantu." kata Khoue setelah menyelamati kami berdua. "Kau bisa cium suamimu Bella, jangan dia yang mulai. Dia masih kecil, dan kau mantan janda. Cobalah menciumnya sekarang, kau harus melatihnya karena aku ingin melihatnya dan mengadukannya kepada Nicho. Dia pasti senang sekali."
Aku melotot kepada Khoue, tetapi si tua kebanggaan Alexa Liu menghadapkan tubuh Abimanyu di depanku.
Abimanyu mengusap lenganku. "Kita sudah menikah, Eli. Apa kamu bahagia?"
"I'm full of happiness, baby." Aku tersenyum.
"Cium dia, Abi. Cium Bella sekarang juga. Cium–cium–cium!" teriak geng kemayu sembari bertepuk tangan. "Dia udah nggak tahan dari elo jadi maba, bikin dia pingsan. Dia pasti pingsan!"
Tawa meledak begitu meriah seperti mercon akhir tahun. Aku meringis dan menggeleng.
__ADS_1
"Jangan percaya, itu bohong." kataku pada Abimanyu.
"Bella yang bohong, Abi. Dia kabur dari elo karena nggak tahan elo PHP-in dia mulu. Makanya daripada khilaf berujung dosa dia kabur, sekarang elo nikmati deh hasrat-hasrat yang menggebu itu dengan tenang." sembur Sisca.
Bisa-bisanya geng kemayu menjadi sponsor pernikahanku. Kalau begini aku jadi bingung, berusaha menolak ciuman perkawinan kami di depan mereka tapi apalah daya. Abimanyu memajukan langkah, dia menunduk seraya mencium kedua pipiku.
"Kamu siap?" bisiknya ketika kami berpelukan. Aku mencengkeram pinggang Abimanyu dan mendongkak. Aku tak yakin dengan pikiranku, tapi aku yakin ini menggelitik kepalaku.
"Kenapa kamu tanya itu?" tanyaku.
"Aku penasaran." Abimanyu menciumku dengan sensual saat aku bergeming dengan mulut yang ternganga heran.
Mamaaaa.... aku nggak bisa napas. Abimanyu menjilat bibir bawahku, membuatku terkesiap. Tubuhnya yang hangat masih memelukku dengan tangan kekarnya yang nyaman untuk bersandar.
"Enak, Bell?" seru geng kemayu.
Aku menunduk malu. Aku nggak bisa melakukan malam pertama cepat-cepat. Aku nggak bisa ini terlalu memalukan. Aku tidak seberani membuka diri di depan Abimanyu. Aku mendadak punya rasa malu berlebihan sekarang. Aku bahkan tidak perlu membutuhkan lingerie untuk menggodanya, aku sudah terpenuhi Abimanyu secara fisik dan batin.
Aku mengangguk sambil mikir nanti bikin alasan apa ya?
***
Kembali ke penginapan setelah melangsungkan pernikahan yang sarat akan komedi dan makan-makan, isi dadaku semakin tidak tenang. Aku gugup, langkahku terasa berat, aku gelisah bukan main. Aku merasa benar-benar menjadi perawan bau kencur yang ingin tidak tahu apa-apa. Cuma badan Abimanyu yang tak terselimuti apa-apa sudah terngiang-ngiang di kepalaku.
"Nyah, mas Abi. Ada yang harus bibi bantu dulu sebelum istirahat?" Aku melirik bibi Marni dan mengedip-ngedipkan mata di koridor kamar.
"Ada, Bi. Banyak. Ayo ke kamar." ajakku seraya meraih tangannya.
"Nggak usah Bella, bibi Marni juga capek. Biar bibi istirahat." sahut Abimanyu sembari melepas tanganku dari genggaman bibi Marni.
"Bener mas Abi? Soalnya nyonyah kelihatan tegang banget. Kasian bibi lihatnya." aku bibi Marni dengan ekspresi prihatin. "Nyonya pasti capek banget itu biar bibi pijitin dulu sebelum istirahat. Janji habis itu bibi nggak ganggu wong ini juga masih siang to."
__ADS_1
Bibi Marni memancarkan senyumnya dengan ekspresif.
"Kalo cuma pijet capek-capek aku bisa kok, Bi. Tenang aja. Bibi ke kamar terus mandi. Ikut geng kemayu jalan-jalan!" kata Abimanyu, mukanya dibumbui sikap ‘usir bibi Marni sekarang juga’.
Bibi Marni mengangguk seakan paham dengan sikap Abimanyu yang tidak mau di ganggu.
"Bener ya bibi tinggal, mas Abi juga sekarang kalau butuh apa-apa minta nyonya. Jangan sungkan walaupun nyonyah lebih tua sepuluh tahun dari mas Abi. Oke mas?"
Abimanyu tersenyum penuh kemenangan. "Pasti, Bi. Pasti itu." Tangan Abimanyu hinggap di pundakku.
"Bagus!" Bibi Marni mengacungkan jempolnya seraya masuk ke kamarnya. Tidak ada lagi pertolongan untukku sebelum masuk ke kamar pengantin. Joe jelas jalan-jalan, cari bule untuk diajak senang-senang. Sekarang aku benar-benar tidak selamat dan bernapas dengan mulut.
"Abi."
Kami menaiki anak tangga, kamar pengantin ada di atas, di lantai tiga. Sementara itu kami tetap berangkulan sampai di depan kamar.
Abimanyu melepas tubuhnya, mendorong pelan bahuku, menyandarkan tubuhku di tembok. Matanya yang jernih menatapku dalam.
"Kenapa?" Abimanyu memindahkan tanganku di tengkuknya. Aku mengerjap. "Aku yakin dulu hanya emosi sesaat waktu kamu meminta benih pertamaku untuk tujuan yang aku tau itu balas dendam kepada Om. Jadi sekarang apa yang kamu tunda, Bella? Aku ada untukmu."
"Aku malu." kataku lirih, sementara tangan Abimanyu tak pernah meninggalkan pinggulku. Ia menunduk, menciumku.
"Bagian terbaikku sekarang." Abimanyu menghujani bibirku dengan ciuman. Aku terengah dan menahan dadanya dengan kedua tangan.
"Kita tidak akan melakukannya di luar baby. Tahan..."
Abimanyu membiarkan aku beringsut-ingsut ke samping, terus ke samping sampai jarak antara aku dan Abimanyu dua meter. Tarik napas hembuskan. Tarik napas hembuskan diiringi suara pintu yang terbuka.
Abimanyu menarik ekor kebayaku sembari terkekeh geli. Tubuhku mundur dengan pasrah tanpa sanggup menggapai sesuatu bahkan handle pintu.
"Abi, jangan!"
__ADS_1
...*********...