
Aku menghela napas. Sarap juga ini remaja, bisa-bisanya merem melek tanpa perlu diapa-apain. Mana senyumnya geli-geli resah. Abimanyu itu sebenarnya kenapa? Sungguh-sungguh takut atau emang hanya memberanikan diri ketemu sama aku.
Aku menggeleng sambil memakai sarung tangan medis sebelum menatap wajah berlapis masker charcoal yang membuka matanya.
"Masih lama, Tante?" tanya Abimanyu. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik yang aku lakukan. "Jawab Tante."
Aku menghela napas. Maskernya yang mengering perlahan pecah-pecah di bagian sudut mata dan bibirnya. Dasar remaja, pasti gak pernah maskeran. Lagian udah dibriefing tadi diam aja selama perawatan. Ini malah... Aku juga tidak mungkin sentuh-sentuh yang lain. Takut amat.
"Kamu sendiri mau treatment komplit apa treatment biasa?" tanyaku sambil meremas handuk kecil di baki air untuk membersihkan wajahnya.
"Kalo yang sudah Tante lakuin sekarang ini sudah apa saja?" tanya Abimanyu, dia menarik selimut yang membungkus tubuhnya sampai ke leher.
Aku tersenyum lebar. Dia takut aku macam-macam. "Sudah treatment biasa, facial jerawat. Tinggal ngasih cream wajah saja selesai." jawabku, "kalau treatment komplit nanti ada acne peeling dan laser."
"Sakit?" sahut Abimanyu.
"For the first time, ya. Lumayan. Gimana?" tanyaku memastikan.
"Terus Tante tadi beneran mau bayarin semuanya?" Abimanyu memandangku cemas.
"Gampang, kalo Alexa gak mau bayar nanti aku potong gaji dia! Beres, masalah selesai. Kenapa?" gurauku lalu melipat kedua tanganku di depan dada.
"Lagian kenapa tiba-tiba pengen perawatan wajah? Ada yang ganggu pikiranmu?"
"Aku cuma ingin mengambil kesempatan yang Tante tawarkan kemarin." Abimanyu menegakkan tubuhnya. "Lagian kayaknya lebih bagus jerawat remajaku mulai di urus. Tapi lebih baik treatment biasa aja, Tante. Aku gak enak sama Tante Alexa."
Aku kembali meraih handuk basah di baki air seraya meremasnya. Apa Abimanyu tidak jujur aja karena dia pengen ketemu aku? Hahaha, aku menghela napas.
"Biar aku bersihin dulu maskernya dan untuk kasus jerawat kamu ini memang sebaiknya mulai di rawat biar tidak tambah banyak dan bikin bopeng. Tapi untuk sementara kalau mau treatment biasa it's oke, nanti juga ada skin care yang wajib kamu pakai setiap hari."
Abimanyu mengangguk. Aku mendekat seraya mengusap wajahnya perlahan-lahan, ia bahkan tidak mengedipkan matanya selama aku membersihkan masker dari wajahnya.
Aku tahu, yang salah adalah hatiku. Tapi bagaimana dengan sedikit waktu yang dia luangkan untuk menemuiku. Andai Abimanyu waras dan jujur atas semua hal-hal yang dia inginkan, aku mungkin akan menganggap secuil perhatiannya adalah pengganti rasa sakit ku berpisah dengan Narendra.
"Sebentar belum kelar." Aku meraih handuk kering dari dalam lemari seraya mengelap wajah Abimanyu. Aku tersenyum ketika ia begitu patuh aku layani. Begitu wajahnya kering, aku menyelesaikan treatment terakhirnya. Membersihkan wajahnya dengan toner dan memberinya cream jerawat.
"Sudah selesai, Abi."
"Makasih, Tante."
__ADS_1
Aku melepas sarung tangan medis dan menekan pedal tempat sampah.
"Duduk dulu, aku ambilin skin care di depan." kataku sambil menuangkan air putih untuk Abimanyu.
"Jangan di sentuh-sentuh wajahnya, apalagi kamu pencet-pencet. Dan banyak-banyak minum air putih."
Abimanyu menerima gelas yang aku ulurkan, dia tersenyum ketika aku menutup pintu ruang praktek kerjaku.
"Alexa." panggilku, dengan langkah tergesa, aku menghampirinya di depan ruangan penerimaan skin care. Beberapa orang terlihat tersenyum kepadaku. Aku balas tersenyum kepada mereka.
"Ambilin skin care acne series dan kamu yang bayar semua perawatan Abimanyu!" kataku dengan lirih, "Awas kalo ngebon!" ancamku sambil melotot.
"Bukannya seneng bisa sentuh-sentuh wajah Abi, ini masih minta bayaran." Alexa Liu mendesis tajam, "Lagian masih ada vouchernya, aku yakin diskon mahasiswa dan pelanggan baru masih ada! Wait, stay here."
Hak tinggi lima belas sentimeter itu berputar, menghentak kuat di koridor shining bright like diamond. Aku yang hanya bercanda menyuruh Patricia memberikan sepaket acne series for man.
"Makasih, Cia. Ingat, jangan ada gosip di antar kita."
Patricia mengedipkan sebelah matanya, aku berbalik membawa satu pouch putih dan tertahan oleh panggilan Alexa Liu yang mengibarkan voucher di tangan kanannya.
"Diskon mahasiswa dan pelanggan baru masih berlaku sampai seminggu lagi. Jadi aku bayar 60% saja." ucapnya dengan nada semringah. "Aku akan mengurusnya di kasir."
"Udah pernah pake skin care belum, Abi?" tanyaku setelah mendudukkan diri di kursi kerja.
"Belum, aku hanya pakai facial wash."
Aku mengangguk sambil membuka sekantong pouch yang berisi toner, facial wash, cream pagi, cream malam dan totol jerawat.
"Semua udah ada keterangannya, kamu tinggal pakai rutin aja. Untuk yang totol jerawat gunakan hanya di bagian yang ada jerawatnya. Paham?" tanyaku sambil menatap Abimanyu, dia melihat satu persatu kemasan yang ada di depannya.
"Kalo seumpama gak cocok dan makin parah gimana, dok?"
Dok? Dokter maksudnya? Ckckck. Aku mengulum senyum sambil bersedekap.
"Jangan panggil aku dokter, Tante atau kakak lebih bagus, Abi."
"Tapi Tante dokter kan? Dokter kecantikan." Abimanyu memasukkan semua skin care miliknya ke pouch lalu memasukkan ke tas ranselnya. "Terus kalo habis apa aku harus ke sini lagi?"
Aku menyukai kenyataan bahwa aku bisa mendengarkannya mengatakan ketertarikannya pada sedikit perawatan wajah.
__ADS_1
"Kalo wajahmu jadi gatal atau ruam-ruam setelah pemakaian, hentikan aja, Abi. Tapi yakin deh produk kami aman, bpom, sampai sekarang belum pernah ada komplain dari pelanggan." jelasku dengan tenang, "Terus kalo habis, kamu bisa ke sini lagi untuk perawatan lanjutan biar hasilnya bagus, cuma kalo gak pun gak masalah, skin care itu tidak bikin ketergantungan kok. Jadi terserah kamu."
Aku meneguk kopi yang tersedia di mejaku.
"Ada yang mau kamu tanyain lagi?" tanyaku karena dia tidak pergi-pergi dari sini, malah diam sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. "Kamu mikirin apa?"
"Tante!" Singkat dan memancing perhatianku untuk melihatnya lebih dalam di bawah cahaya lampu.
"Omong kosong." Aku tersenyum miring, "jangan pernah mengucap sesuatu yang hanya akan membuatku yakin kamu ada rasa sama aku, Abi! Berhentilah bercanda dengan perhatian."
"Apa Tante masih kecewa tentang hari kemarin?" tanyanya dan bersandar ke kursi, Abimanyu menatapku lekat-lekat.
"Sejujurnya suatu hal, tetap memiliki rahasia, Abi." Aku berdiri seraya membuka pintu kaca dan menahannya dengan tubuhku. Abimanyu menunjuk cokelat yang dia berikan tadi dengan sikap berlagak tidak mengerti maksudku di atas meja dekat dengan ponselku. "Gak Tante makan?"
"Nanti aku makan." Aku menahan diri untuk tidak menghela napas, "Udah selesai, Abi. Kamu pulang gih, aku masih ada pelanggan lain." usir ku untuk menyudahi pertemuan ini. Aku takut kebersamaan ini semakin menimbulkan perasaan tidak tahu diri dalam diriku.
Abimanyu menyampirkan tas ransel di bahunya sambil berdiri. Demi tuhan, remaja yang lebih tinggi dariku meski aku sudah memakai hak tinggi ini menjulurkan tangannya kanannya ke samping kepalaku. Napasnya yang bau kopi dan mulutnya yang bergerak-gerak ketika mengunyah permen itu membuatku berdehem.
"Kamu terlalu dekat, Abi!" kataku mengingatkan. Pengen aku tinju, tapi aku tidak bisa, tubuhku melemah.
Abimanyu menghela napas, lalu kedua tangannya mengungkung kepalaku dengan kedua tangannya di pintu. Abimanyu menatapku sambil merespons kegugupanku dengan menjilat bibirnya sendiri dan menggigitnya.
"Tante salah milih pelarian, tapi aku juga salah jika mengabaikan Tante sekarang."
Abimanyu mencondongkan diri sewaktu aku memalingkan wajah untuk menghindari tatapannya yang berubah panas.
"Jangan baper, nanti susah sendiri." Rasa panas tiba-tiba menyebar ke seluruh syaraf ku ketika napasnya yang hangat menyerbu telinga dan sisi pipiku. "Gak mungkin kan Tante jadi selingkuhan?"
"Sialan." desisku tajam, aku mendorong Abimanyu dan menginjak sepatunya.
"Pergi sana dan jangan lupa bayar hutang-hutang keluargamu. Biar aku gak perlu mengharapkan kamu!" kataku serak.
"Aku pasti akan membayarnya, Tante. Tenang. Tapi kalo aku gak bisa. You can keep me, inside your heart, and holding me close until our eyes meet!"
Abimanyu tersenyum lebar seraya mengedipkan sebelah matanya. Aku menarik napas dalam-dalam dan menatap setiap langkah kakinya yang menjauh dari ku dengan pasrah.
"Kamu benar, gak mungkin jadi selingkuhan bocah ingusan! Terima kasih udah ngasih sadar otakku yang cupet mikirin kamu."
•••
__ADS_1
Kau bisa menyimpanku, di dalam hatimu dan mendekapku erat hingga mata kita bertemu.