Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Mandi, Tante bau


__ADS_3

Bangun pagi, gosok gigi terus cari baju ganti di lemari. Gerakanku berapi-api sewaktu memakai baju olahraga dan sepatu active series. Akupun mengepak seragam kerja ku ke tas jinjing besar sebelum memakai sepatu.


"Make up-nya sudah, Nyah?" tanya bibi Marni tepat ketika langkahku nyaris keluar pintu kamar. Otomatis aku langsung berbalik untuk mengambil satu pouch khusus benda paling wajib dalam hidupku ini.


"Makasih, Bibi. Pergi dulu yah, jangan lupa semua pintu di kunci!" saranku dengan langkah berapi-api menuju garasi rumah. Aku kembali menaiki motor pinjaman untuk segera pergi ke lapangan olahraga. Aku harus cari keringat, aku harus membakar semua udang dan lobster yang masuk tadi malam. Sejenak sempat terpikir olehku untuk menjenguk Rudolf dan Abimanyu sendiri karena alergi yang menghantui pikiranku semalam sampai aku gak bisa tidur.


"Pokoknya gini aja Bella, joging dulu baru ke rumah sakit! Searah kok, santai. Lagian klinik buka jam sembilan, ada waktu tiga jam untuk mengurus kegiatanmu di luar klinik. Ya!" gumamku sambil berhenti di lampu merah. Aku menunggu selama tiga puluh enam detik sambil mendengar pengamen nyanyi.


Biarkan ku mencoba menjadi milikmu, jangan tutup dirimu.


Aku mengulurkan pecahan uang ke kantong jajanan ringan yang dibalik bungkusnya sambil meringis, baru setelah pengamen itu pergi ke barisan belakang motor ini aku langsung cemberut.


Itu lagu yang papi nyanyiin waktu pdkt dulu. Aku menghela napas, kebetulan yang menyakitikan tanpa bisa aku prediksikan, jadi lemes, jadi hilang semangat waktu papi bawa gitar terus nyanyi di depan rumah. Mirip orang ngamen, cuma dia yang ngasih aku hadiah. Sebuah makna dalam suara.


Lampu hijau menyala, kembali aku menggeber motor, menelusuri jalanan yang sudah lumayan ramai dengan kendaraan dan cahaya matahari yang sedikit malu-malu memamerkan kilaunya.


Tiba di lapangan olahraga, aku langsung melakukan pemanasan setelah memarkirkan motor dan memilih tempat duduk yang lengang.


"Joging tipis-tipis aja ya yang penting keringetan!" Aku merenggangkan tubuh ke kiri dan ke kanan lalu mulai melangkah kaki, dari gerakan perlahan ke gerakan cepat. Lima putaran terlewati dengan mulus sebelum ada pria-pria bertubuh gempal besar yang memakai kaos oblong dan celana pendek olahraga mendadak keluar dari mobil jazz dan bersiul ke arahku.


Aku melongos dan tetap berlari. Karena itu mereka ikut berlari di belakangku.


"Bella! Join sama kita sini."


Rambutku yang ke kiri dan ke kanan ikut bergoyang ketika aku menggelengkan kepala.


"Mukaku pasaran kali, jadi gak aman banget janda kayak aku berkeliaran sendiri." Aku berlari terbirit-birit, pontang-panting seperti di kejar begal dan bablas ke kursiku tadi setelah melewati tiga putaran lapangan olahraga. Aku menghenyakkan tubuh sambil meraih botol minumanku.


Mendadak lewat pengelihatanku, seorang cowok dari kerumunan tadi berjalan ke arahku. Buru-buru aku berdiri, meraih semua barang-barangku di kursi dan berlari ke motor. Ku pakai helm dan menggeber motor sewaan ini yang kencangnya semakin lama semakin berkurang.


"Kenapa nih, kenapa?" gumamku panik sambil menepi ke bahu jalan. "Masa bocor juga bannya. Wah-wah."


Motor berhenti bergerak meski aku masih mengegasnya dengan keyakinan penuh. Aku turun dari motor, mengecek kondisi semua ban dan spidometer.

__ADS_1


"Bensinnya habis Bella, habis!" Aku menepuk jidatku sambil menghentak-hentakkan kaki di jalan. "Kok bisa lupa isi bensin, huaaaa... Masa dorong, nambah beban hidup aja kamu Bell!"


Aku terisak-isak tanpa air mata saat ku dorong motor ini dengan kekuatan super janda muda yang kini olahraganya benar-benar dalam harfiah yang sesungguhnya. Bukan olahraga malam yang panas, penuh gesekan dan ******* di penghujung malam.


"Be-bensin pak, dua liter." kataku terengah-engah dan ambruk di kursi kayu. Jauh banget, ini sih gak perlu olahraga lagi. Aku super keringetan dan terbakar cahaya matahari. Ngos-ngosan lagi berasa maraton lapangan olahraga seratus kali mana ototku tegang semua. Ya ampun, dadaku mendidih, pagi-pagi kesabaran sudah di uji secara maksimal.


***


Tiba di rumah sakit, aku seperti orang kesasar di mata orang-orang yang melihatku mencari ruang inap Rudolf. Selagi aku memasang mata menyipit ke dalam ruangan yang ku temukan di lantai lima ruang edelweis, Abimanyu tertidur di tepi ranjang pasien papanya dengan posisi duduk.


Aku tersenyum, perlahan dadaku menghangat menyaksikan bagaimana remaja itu sungguh-sungguh menggantikan ibunya dan menjaga ayahnya disini. Secara langsung, dia memang membuktikan bahwa ucapannya sungguh-sungguh dan peran kesungguhan dalam mengawal ku semalam rasanya gentleman juga remaja ini untuk seusianya.


Aku mendorong pintu dengan hati-hati, dengan langkah pelan-pelan ku taruh sarapan pagi untuk Abimanyu dan beberapa makanan untuk menemaninya menunggu papanya di kursi sebelum mendekati Abimanyu.


Jerawatnya dalam kondisi sedang matang-matangnya, huh, rasanya aku ingin menyentuh dan memencetnya sampai isi jerawat itu muncrat. Dilehernya juga terlihat merah-merah seperti habis di garuk terus.


Tanpa sadar aku mengelus kepalanya dengan perlahan seperti mama jika sedang mengelus perutku. "Anak baik." gumamku, "senang bisa mengenalmu, Abi."


Aku menyudahinya sambil tersenyum. Akhirnya harus aku akhiri pertemuan singkat ini sebelum kedua laki-laki yang sangat mirip di bagian alis dan bibirnya ini terbangun.


Takut-takut aku melirik siapa pemilik tangan itu. Jika Rudolf aku akan maklum, mungkin dia akan mengucapkan terima kasih, tapi ternyata Abimanyu tersenyum masih dengan mata terpejam.


"Mandi! Tante bau." gumamnya sambil membuka mata.


Aku menarik napas dan mengembuskannya. Dia tahu aku kesini, ya ampun, malunya aku udah elus-elus kepalanya.


"Aku cuma mampir, lanjutin aja tidurnya, Bi." kataku.


"Ah ya, makasih Tante udah kesini."


Abimanyu menguap seraya merenggangkan tubuh. Kemudian dia garuk-garuk leher, badan dan hidungnya.


"Udah minum obat alergi belum?" tanyaku, terakhir dia hendak menggaruk sekerumunan jerawatnya, sontak tanganku reflek menahan lengannya dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Jangan di garuk, nanti tambah parah." saranku, "cuci muka gih!"


Abimanyu mengangguk, sepuluh menit dia tenggelam di kamar mandi sebelum meraih tisu dan mengeringkan wajahnya sambil melihatku.


"Beneran nge-gym?"


Aku mencebikkan bibir sambil menggeleng. "Udahlah gak usah di bahas, aku harus ke kantor, Bi."


Abimanyu cengengesan sambil membuka plastik yang aku berikan untuknya. Bertambah parah ketika dia mengerti dimana aku membeli bubur ayam kuah opor itu.


"Ke lapangan olahraga dekat waduk?"


"Hmm, bete. Udah jangan di bahas." Aku tersenyum sewaktu Rudolf membuka matanya perlahan-lahan. "Maaf saya mengganggu istirahat anda, Mr. Rudolf."


Dia menaruh tangannya di atas dada sambil mengangguk lemah. "Danke."


Aku ikut mengangguk, "Sama-sama. Anda ingin sesuatu, Mr? Minum?"


"Papa harus operasi, jadi masih puasa sekarang." sahut Abimanyu.


"Kenapa?" tanyaku.


"Pengangkatan ginjal kanannya." Abimanyu membuka styrofoam dan memakan buburnya.


"Aku akan berdoa untuk kelancaran proses operasi mu, Mr." Aku tersenyum dan disambut anggukan oleh Rudolf, "Kamu juga Abi, istirahat yang cukup."


Aku menepuk bahunya. "Tante pergi dulu, dihabisin makannya."


"Tunggu, jangan pergi dulu." cegah Abimanyu sambil menahan lenganku lagi, "Aku harus bicara dengan Tante."


"Apa?" tanyaku dengan muka heran.


"Tunggu aku di klinik Tante."

__ADS_1


Aku memanyunkan bibir sambil meremas bahunya kencang, enak kali remaja ini nyuruh aku nunggu. Sepenting apa sih pembicaraannya, aku pamit dan ke klinik dengan konsentrasi yang pecah.


__ADS_2