Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Setelah Kita Menikah Bab 12


__ADS_3

Bab 12 - Salah


.


.


.


Dalam perjalanan menuju kamar mandi, sepatu tumit hak tinggi dengan tali yang dihiasi perhiasan tergelak di lantai bersama pakaian yang ditanggalkan di atas tempat tidur. Bunyi kecipak terdengar mengisi telingaku selama aku melepas sepatu dan jaket di sofa yang terletak di depan tempat tidur. Aku ikut menanggalkan jaketku ke atas pakaian Bella sebelum mendorong pintu kamar mandi.


Bella mendongkak menatapku sambil tersenyum lembut. Dia menatapku dengan ekspresi tenang seolah tidak terjadi apa-apa setelah terbongkarnya alat pengaman.


"Udah pulang baby?" Matanya menyiratkan rasa senang, bahkan dia melambaikan tangan, mengajakku join ke dalam kubangan air yang menciptakan semarak hasrat yang menggebu dalam tubuhku. Bella mengajariku banyak hal di dalam bathtub sampai aku tak sempat memejamkan mata.


Aku menyandarkan tubuhku di bingkai pintu sambil mengamatinya. Dia terlihat seksi dalam kumpulan busa yang menutupi badannya dan semerbak aroma sabun mandi miliknya memenuhi ruangan ini, kaki kanannya terlihat setengah dengan pergelangan kaki yang bersandar di tepian bathtub sementara kedua tangannya sedang menggosok betis sewaktu aku mendapatinya bersantai-santai di pukul sepuluh malam di kamar mandi.


Aku mengangguk sambil bersedekap, beberapa gagasan tebersit dalam benakku tentang hari ini. Tapi hanya satu yang tidak berhasil aku katakan dengan nada baik.


"Kamu naruh sutra di mobilku?"


"Sutra, kond*m maksudmu?" Bella menatapku heran.


"Apalagi memangnya."


"Sutra baju gitu atau tekstil, namanya sutra kan banyak bukan cuma kond*m!"


"Bell, aku lagi nggak bercanda." selaku.


Bella mencengkram tepian bathtub dengan kedua tangannya seraya mengangkat tubuhnya, busa-busa yang menempel di tubuhnya luruh perlahan-lahan dan tertinggal di lantai sebelum dia berhenti di bawah shower.

__ADS_1


Hal pertama yang terpikirkan olehku adalah bergabung dengannya di bawah guyuran shower, Bella terlihat sangat sensual dan tak keberatan aku melihatnya menyelesaikan mandinya.


Tenggorokanku tercekat, ketegangan menyelimuti tubuhku saat ia berbalik dengan tubuh basah kuyup. Bella memakai jubah mandinya yang memiliki warna merah lalu mengikat kedua talinya. Sekilas dia menatapku dengan mata berkilat-kilat.


"Kasih aku waktu sebentar."


Aku mengangguk. Bella duduk, mengeringkan rambutnya di depan cermin. Perawatan rambut yang dia lakukan cukup singkat daripada berdandan. Aku sudah terbiasa karena sampai detik ini tidak ada yang berubah darinya. Walau marah, kecewa, penasaran dan menangis perawatan rambut dan kulit wajah hingga ke kaki tetap dia nomer satukan.


Setelah sejenak, aku merasakan harumnya semakin mendekat. Bella menciumku seperti biasanya setelah kita bertemu tapi dengan wajahnya yang serius.


Aku mencengkram pinggangnya dengan lembut untuk memperdalam pertautan bibir kami dengan mata yang saling menatap lekat.


Aku menyerukkan tanganku di rambutnya dan mengendusnya dalam-dalam sebelum kami membuat jarak.


Bella mendengus. "Ada apa, kok tiba-tiba kamu bahas sutra dan tidak berminat bergabung denganku di bathtub? Banyak pikiran? Jelasin dong yang spesifik, jangan tiba-tiba nodong aku dengan pertanyaan seperti itu."


Aku membasahi bibirku, masih terasa dalam bibirku pasta gigi yang baru saja dia pakai.


"Aku tadi nganter cewek ke daerah pos besar. Salah satu pemain baru yang nebeng mobil kita bareng tiga cewek lainnya sebelum makan malam di mal. Dia yang nemuin sutra di mobil kita. Apa kamu sengaja ninggalin itu karena urusan kita di Angkasa Management gagal?"


"Kerjaanmu tambah jadi sopir sekarang? Pantes telat makan malam sama anak-anak. Pos besar jauh banget dari mal dan rumah kita. Satu jam lebih, itu sangat-sangat cukup buat nemenin anak-anak sebelum tidur." Bella berdiri dari kursi rias. Dia melewatiku lalu menyaut tas kerja yang dia pakai tadi pagi di meja di depan lemari yang menyimpan tas-tas kami.


"Kalau kamu menuntut jawaban, aku bisa menjawabnya. Lagian aku nggak bodoh ya, untuk apa aku ninggalin kond*m di mobil kamu!"


Bella membuka resleting tas dengan keras lalu menjungkirkannya di atas tempat tidur. Barang-barangnya berjatuhan. Alat makeup, parfum, permen, power bank, ponsel cadangan, netbook dan alat pengamannya ada di sana.


"Lihat. Ini baru aku beli kemarin di mini market dan kamu tau itu." Bella membukanya, menghamburkan isinya di atas tempat tidur. Isinya utuh. "Udah jelas belum kalau yang ada di mobilmu bukan milikku?"


Bibir Bella menipis kesal, tapi kesedihan dalam matanya membuat dadaku terasa sakit. Mimpi buruk macam apa ini.

__ADS_1


Aku mengusap rambutku dengan keras sambil mendekatinya. Tanganku menjangkau tasnya dan memasukkan barang-barangnya. Aku menyisakan satu alat pengaman di tempat tidur sebagai jaga-jaga kalau dia mau berpesta sebelum tidur.


Bella menyautnya lalu membuangnya ke dalam akuarium. Ia mengeluh kasar.


"Nggak malam ini, Abi. Kamu bikin aku kesal!"


Aku meraih tangannya, mengecup punggung tangannya dengan lembut.


"Aku minta maaf, aku curiga, aku ngira kamu yang naruh itu karena kecewa Tante Regina nggak mau blow up hubungan kita!" kataku buru-buru, aku takut dia salah paham, tapi duarr... Bella meledak.


"Terus kond*m itu punya siapa? Kenapa ada di mobil kamu? Apa jangan-jangan kamu sendiri juga beli dan kamu simpan diam-diam di belakangku?" sentak Bella.


Aku menggeleng kuat-kuat, tiba-tiba bibirku terasa kering. "Aku nggak tau sayang, sumpah, tiba-tiba aja Putri bilang kok ada alat pengaman om? Gitu."


Bella berkedip. "Udah nebeng, masih nganter pulang. Terus rogoh-rogoh jok mobil orang. Nggak sopan banget sih, tapi darimana datangnya barang kalau kamu nggak beli sendiri! Tapi hebat banget kamu, Julian. Bertahun-tahun aku hidup sama kamu, baru kali ini kamu kasih tebengan ke empat cewek sekaligus. Wow... Seru pasti, merasa ada hiburan ya?" Bella mengalihkan pandangannya dari mataku.


"Cuma demi awal syuting, baby. Percaya deh awalnya malah cuma satu dan aku gak bisa pergi-pergi dengan satu cewek aja. Makanya aku nawarin ke yang lain."


"Aku bisa terima penjelasanmu tapi kamu bisa-bisanya mikir aku yang melakukannya. Udah panjang perjalanan yang kita lalui Abi, kurang apa aku memangnya selama ini? Rasa percaya?"


"Emangnya kamu pikir aku nggak muak dengan image baik ini, Bella? Aku muak, plis. Udah, aku minta maaf. Besok aku cari tahu sendiri siapa yang mau ngejatuhin aku."


Bella menuangkan anggur merah yang dia ambil dari dalam meja riasnya ke dalam gelas sloki. Dia meneguknya lalu mengentakkan gelasnya kuat-kuat di meja. Dia terdiam beberapa saat sebelum berbalik. Bella mengelus dadaku dengan ekspresi muram.


"Hati-hati dengan orang asing sekalipun dia teman syuting. Ingat itu!"


Mendadak hatiku diusik oleh rasa bersalah dan rasa tidak tenang.


......................

__ADS_1


__ADS_2