Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Pelipur lara ku


__ADS_3

Aku mengunyah bakso terakhir sambil melemparkan pandangan ke belakang. Senyumku meringis, aku tidak bisa kehilangan cincin kawin itu, cincin itu akan kembali ke tanganku dan akan aku jual.


Enak saja asal buang, dia pikir sepuluh juta itu tidak banyak. Banyak banget sekarang buat aku papihh. Huh.


"Bibi mau pulang duluan?" tanyaku sambil berdiri. Aku akan meminta petugas damkar untuk mencari cincin aku, ini keadaan darurat. Pasti mereka akan membantu janda cantik sepertiku.


Bibi Marni mengangguk sambil ikut berdiri. Perempuan berusia lima puluh tahun ini nampaknya juga sudah kepanasan dan tidak ada kerjaan.


"Setrikaan banyak, Nyah. Belum ngepel rumah juga. Nyonya memangnya nggak ikut pulang tanya begitu?" tanyanya dengan kening berkerut.


"Tidak dong, aku ada kerjaan mendadak, Bi. Bibi pulang aja, tuh mobilnya warna putih, sopirnya namanya Andi. Biaya transportasinya udah aku bayar." kataku sambil menunjuk mobil yang identik dengan mobil operasional perkantoran.


Bibi Marni langsung pergi begitu saja sambil membawa kembali dua mangkok bakso kepada pemiliknya.


Aku berpaling untuk memberi kabar kepada satpam gedung pengadilan ini karena pasti kedatangan petugas damkar yang aku kerahkan untuk mencari cincin kawin ku akan menimbulkan keresahan bagi orang-orang yang ada di sini.


Aku mengutarakan semua isi hatiku kepada satpam bertubuh besar, berseragam pakaian dinas harian.


"Izinkan ya pak, cincin itu lumayan untuk menunjang kehidupan saya pasca bercerai." kataku dengan prihatin. Tapi itu sungguh-sungguh. Pasca bercerai dengan papi Narendra pasti uangku akan berkurang banyak.


Satpam mengangguk. Aku lanjut memberi hormat kepadanya. Panjang umur orang-orang baik, kataku sambil melepas hak tinggi ini. Lelah terlihat elegan, toh papi Narendra dan Debora sudah tidak ada.


Selang tiga puluh menit, petugas pemadam kebakaran datang. Benar kataku tadi, orang-orang langsung panik dikiranya ada kebakaran.


Satpam yang berjaga kontan menjelaskan semuanya. Maka keadaan kembali reda, pada duduk-duduk meski perhatian mereka masih tertuju pada petugas pemadam kebakaran.


"Di atas sana, pak." kataku menunjuk bagian samping gedung ini.


Mereka langsung menuju tempat yang aku tunjukkan. Dengan standar operating procedure yang tidak perlu di pertanyakan lagi aku menunggu dengan sabar cincin itu ketemu.


Aku menyunggingkan senyum sambil mendekati petugas berkumis yang turun dari tangga mobil turntable tender and snorkel. Mobil pemadam kebakaran yang memilih tangga otomatis yang bisa naik-turun. Aku bersyukur sekali lahan ini muat untuk mobil berukuran besar ini.


"Ketemu pak?" tanyaku terburu-buru.


Bapak berkumis merogoh kantong pakaian dinas hariannya.

__ADS_1


"Oh, thank God." Aku menerima cincin berlian itu dari tangannya, masih cantik sekali, slalu cantik bagiku. Aku tersenyum sedih seraya menjura di depannya.


"Terima kasih, terima kasih atas bantuan, bapak-bapak, nanti habis saya jual ini, saya traktir. Itung-itung syukuran atas perceraian dengan laki-laki brengsek itu."


"Santai, Mbak. Anak kucing terjebak di plafon saja kami tolongin. Apalagi cincin kawin." Bapak berkumis ini kontan cengar-cengir dengan geli.


Aku langsung ikut nyengir sedih. "Kalo gitu anter pulang saya sekalian, boleh pak?"


Gelak tawa menyebar ke seluruh penjuru kemudian. Tapi bagaimana pun juga, akhirnya aku naik mobil pemadam kebakaran dengan sirine yang di hidupkan. Keseruan melandaku berada di mobil ini, tapi itu hanya sebentar, sampai di rumah peninggalan mama dan papa. Aku kembali mengecap pahit.


Andai dulu aku ikut papi Narendra ke rumah besarnya, pasti rumah masa kecil ku ini nggak ada kenangan buruk dengannya.


Aku langsung berlari lintang pukang menuju bibi Marni yang berteriak dari dalam rumah. “Kebakaran-kebakaran.” Lantang, keras, dan memecah gendang telinga.


"Sssttt-ssttt..." Aku menaruh jari telunjukku di depan mulut dengan panik. "Nggak ada kebakaran, bibi. Mereka cuma nganter aku pulang!" kataku menggebu-gebu.


"Kok bisa, Nyah?" raut muka bibi Marni jadi tercengang. Aku menjawabnya dengan air muka geli.


"Aku emang nyewa mobil pemadam kebakaran, bibi. Udah ah, aku mau keluar lagi."


"Ya Allah, Nyah. Jantung bibi hampir copot ini." eluh bibi, mukanya yang menua sangat lucu sekarang. Aku melambaikan tangan pada mobil pemadam kebakaran yang memberiku klakson, berniat pamitan.


Aku masuk ke rumah, ke kamar, menaruh tas jinjing dan sepatuku di karpet bulu sebelum duduk di tepi ranjang. Setelah aku menenangkan gagasan-gagasan yang berlarian di benakku, aku gegas ke kamar mandi. Membasuh jejak perjalanan hari ini.


•••


Dapur, satu jam kemudian.


"Bi..., gak usah masak banyak-banyak mulai sekarang. Gak ada yang makan." kataku mengingatkan.


Bibi Marni yang sedang membuka lemari es menutupnya lagi tanpa mengeluarkan apa-apa.


"Aku mau keluar lagi, jadi bibi kalo mau makan, bikin aja porsi mini. Udah nggak ada papi, nggak ada yang makan banyak sekarang." Itu juga karena kebanyakan kehidupanku sehari-hari berada di luar rumah.


"Siap, Nyah. Saya mah senang-senang saja nggak masak, jadi bisa nonton tipi!"

__ADS_1


Aku tersenyum dan mengangguk sambil melambaikan tangan. Terserah kamu bibi. Lagi pula, aku juga tau kali kerjanya nonton tipi sambil rebahan terus ketiduran kalau nggak ada kerjaan.


Setibanya di parkiran rumah, aku menatap sepeda listrik papi dan alat-alat olahraganya, tumpukan bok sepatu dan barang-barangnya yang lain.


"Tuhan, harus aku apakan semua ini? Menjualnya juga?" Aku mendesah. "Apa aku bener-bener nyaris kere setelah bercerai dengan papi? Ah, biarkan saja dulu."


Aku masuk ke dalam mobil mini ku menuju tempat penjualan berlian di sebuah mal. Sekalian kemarin aku sudah berjanji untuk memberi hadiah kelulusan SMA untuk Abimanyu. Dia apa kabar ya, berhari-hari tidak ketemu bagaimana rasanya? Jelas nggak ada rasanya, dia ingat aku aja pasti tidak. Tapi si tampan itu bikin aku tersenyum geli.


"Abi, aku udah single nih. Kamu single nggak?"


"Kenapa tanya-tanya?" jawabnya dengan aksen ketus.


Pasti aku cuma bisa meringis. Tapi aku maklum. Beberapa stereotip mengatakan orang Jerman terkenal sebagai orang yang dingin dan suka menjaga jarak. Tidak suka basa-basi. Mungkin sikapnya yang begitu menuruni ayahnya yang seorang Jerman tulen.


"Beliin apa ya?" Aku berjalan dengan bingung di mal setelah menjual cincin kawin ku. "Baju, sepatu, tas?"


Sisca pernah ngomong pemuda peliharaannya sering ia belikan hal semacam sandang dan uang.


Sementara aku memikirkan sambil bergeming, laki-laki yang mirip dengan yang aku pikirkan berjalan sendirian di lantai sebrang.


"Abi..." Mendadak aku benci dengan sepatu hak tinggi karena mempersulit ku berjalan. "Kejar Abi, kejar." Aku melepas sepatu hak tinggi ku dan bergegas.


"Ab–"


Door.


Mulutku tertutup tiba-tiba sewaktu Abimanyu menggedor bahu seorang gadis berambut hitam yang memakai tank top crop yang mempertontonkan udelnya.


"Sayang kok lama?" tanya gadis itu.


"Sori, Ta. Bokap kambuh, lagian motor gue belum jadi!"


Aduh, aku langsung menutupi wajahku dengan tas jinjing dan berbalik.


"Gawat ini, bang. Ada anak orang yang otw benci sama ku nih. Buruan deh beresin motornya." batinku sambil memakai sepatuku.

__ADS_1


Aku berbalik dengan ragu-ragu tapi langsung tersentak kaget melihat Abimanyu di depan mataku.


"Tante!"


__ADS_2