Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Perjalanan


__ADS_3

"Ini awal. Bukan akhir."


Aku berkacak pinggang dengan sebelah tangan dan menatapnya dengan tajam. Abimanyu mendorong gerbang rumah seraya berbalik. Tangannya terangkat sebelah, berpamitan.


"Pulang dulu. Seksi." Abimanyu meringis. Sontak, dengan buru-buru aku melempar sendal rumahan ke arahnya. "Go away, Abi! Go..." Mataku melotot.


Abimanyu terbahak. Tak lama berselang, sendalku kembali melayang ke arahku. Tapi nggak kena. Sendal itu sengaja Abimanyu lempar ke arah tembok.


"Jangan galak-galak, Eli. Nanti susah jodoh. Sayang kan, cantik-cantik jomblo." serunya dengan muka geli.


Aku menghela napas. Abimanyu bercanda? Mungkin dia stress kerja di dunia hiburan dengan banyak tuntutan dan butuh hiburan. Biarkan sajalah, itu tantangan, jika ia bisa melewatinya, dia akan semakin tangguh.


Sedan putih berhenti di depan rumah, Abimanyu langsung membuka pintu penumpang. Abimanyu menoleh,


"Jangan pergi lagi Tante, semua akan baik-baik saja." ucapnya sebelum menghilang dari pandanganku.


Sedan putih melaju, membiarkan aku sendiri mengingat masa-masa indah dan pahit hari-hari yang berlalu dengan lega. Membayangkan dia sukses dengan usaha dan bantuan geng kemayu secara diam-diam, betapa berbedanya hidup Abimanyu sekarang.


Statusnya sebagai aktor, penyanyi, anyway, bocah itu juga punya apartemen sekarang? Seberapa sibuk dia dan berapa jumlah bayaran yang dia terima? Tetapi bagian terburuknya, gosip akan menghantuinya sepanjang masa, menjatuhkan karirnya jika pertemuan ini masih berlanjut dan intim.


Joe datang membawa mobil pickup, aku meminta semua informasi agensi management yang menaungi Abimanyu.


Aku tidak ingin mengingatnya terus-menerus, serius. Cuma aku pasti tidak tenang dan otakku menolak menurutiku, otak ini mulai sibuk memikirkannya lagi dan lagi. Tapi setidaknya semua baik-baik saja, hatiku menghangat.


Abimanyu jomblo dengan banyak fans? Itu menipuku dan tugasku jika menjadi kekasihnya lebih sulit ketimbang menendang Brigitta dari sisi Abimanyu. Fans fanatik apalagi. Ribet, ribet.


***


Mobil travel yang aku tumpangi selama nyaris empat jam berhenti di halaman rumah sederhana bibi Marni nun jauh dari kota. Pepohonan rindang, ramahnya warga dan udara sejuk akan menjadi pelarianku selama seminggu ini. Aku meninggalkan rumah, Joe, dan Abimanyu. Lagi.


Pilihanku pasti tidak keliru, setelah kembali ke rumah pun aku akan tinggal di apartemen. Rumah orang tuaku sudah tidak aman, apalagi dengan renovasi yang sedang berlangsung. Aku yakin, Abimanyu atau Narendra sekalipun akan mengira aku tidak ada di rumah dan mereka tidak mencariku.

__ADS_1


"Nyonyah yakin tidur di rumah bibi aja?" tanya bibi Marni setelah kami mengeluarkan semua barang dari dalam travel.


"Yakin bibi, kenapa sih ragu sama Bella? Aku itu lagi cari penginapan gratis, jadi di rumah bibi aja cukuplah, makan gratis juga." bisikku lalu tersenyum lebar.


"Tapi janji dulu jangan nangis?" sahut bibi Marni nggak enakan.


"Kenapa-kenapa?" tanyaku sok panik.


"Banyak cicak!" Bibi Marni menjawab dengan nada menakuti. Tubuhku langsung tegang serupa bertemu Abimanyu. Mataku langsung melotot, bibirku meringis. Bulu-bulu halus di kulitku meremang.


"Banyak cicak, tokek juga iya." gumamku gugup.


"He'eh." Bibi Marni mengangguk-angguk kepala, "Gimana, Nyah? Masih yakin mau tidur di rumah bibi atau mau balik lagi sama sopir travel?"


Kesempatan kembali ke rumah sekarang masih ada tapi kontribusi bibi Marni untuk hidupku seumur hidup. Masa iya gara-gara ketakutanku dengan cicak dan tokek membuatku kalah.


"Aku tetap di sini, tapi kalo ada cicak dan tokek. Bibi usir!" kataku, mengepalkan tangan, menguatkan diri.


"Bibi kok bahas itu lagi, aku jadi suebel dengarnya. Sebel." cerocosku seraya menyaut tas ransel di atas tanah.


"Pokoknya bibi punya anak lagi paling besar yang perlu bibi nikahkan dengan laki-laki yang menurut bibi sanggup membuatku bahagia. Bibi ngerti? Bibi harus lakukan itu!"


Kakiku bergerak, menubruk tubuh renta seseorang yang aku sebut keluarga.


Salah satu sudut bibi Marni terangkat, "Ya Allah, Ya Allah. Gimana mau sortir, Nyah. Baru satu aja nyonyah kabur-kaburan. Bukannya bagus, cukup satu aja yang gangguin nyonyah. Jadi bibi gak pusing-pusing."


Aku meringis dalam pelukan bibi Marni. "Pokoknya aku gengsi bilang cinta duluan sekarang. Aku kapok, bibi. Aku tidak akan melakukannya lagi atau merengek minta restu. Pokoknya aku janda bahagia, aku bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang. Kalo memang ada yang ingin menikahiku, orang itu harus tahu kekuranganku! Semua kekuranganku.


***


Esok pagi menjelang, kesibukan di rumah bibi Marni jelang pernikahan anaknya sudah terasa sejak subuh berkumandang.

__ADS_1


Di bawah silaunya matahari. Hari pertama di sini, bibi Marni dan keluarganya beres-beres rumah setelah semalam membongkar oleh-oleh.


Hari kedua, kami pergi ke kota untuk membeli cincin lamaran dan seserahan pernikahan menggunakan angkutan umum. Bus kecil berwarna kucing, duduk berdesak-desakan dengan bahan baku awet seperti kentang, telur, besek bambu, lima karung beras dan aroma keringat yang membuatku pusing dan masuk angin di hari ketiga.


Di hari keempat, aku lumayan membaik setelah seharian istirahat. Di hari ini kegiatannya adalah lamaran di rumah mempelai perempuan. Dan tugasku menyiapkan keluarga mempelai pria agar terlihat rapi dan wangi.


Di hari kelima. Aku serta-merta ikut bersibuk-sibuk ria di bawah tenda bernaung terpal. Menyiapkan sesajian untuk menyambut tamu undangan yang hadir untuk memberi amplop. Bibi Marni terlihat semringah hari itu, dia bilang kepadaku. Untuk nikahan nyonya bibi harus dapat lebih banyak.


Di hari ke enam adalah puncak acara. Makan-makan. Hari yang bahagia, perut kenyang dan lupa diet. Padahal bibi Marni sudah mengingatkan agar jangan makan banyak-banyak. Tapi namanya hari bahagia, bebas.


Menutup seminggu keberadaan ku di kampung halaman bibi Marni. Aku merebahkan diri di kasur kapuk setelah ikut memberesi perlengkapan kawinan yang sepanjang hari diiringi lagu dangdut koplo.


Aku menatap langit-langit kamar yang tidak ada asbesnya. Kayu, genting, serta teror cicak menjadi catatan sendiri di jurnal perjalanan ku melarikan diri dari Abimanyu.


Pintu berderit. "Nyah."


"Ya, Bi?"


"Itu, travelnya sudah datang." Bibi Marni duduk di tikar. "Nyonyah kecapekan?"


Aku beranjak seraya merenggangkan otot tubuh. "Capek, mau ke spa."


Bibi Marni tersenyum dengan hangat, tapi mukanya yang terlihat sungkan itu menyebabkan aku pulang sendiri.


"Janji dulu setelah rindu bibi selesai. Bibi pulang ke rumah yang di kota!" kataku galak di dekat mobil travel.


"Iya, nyah. Bibi janji."


"Suer?"


"Suer, Nyah. Suer tekewer kewer."

__ADS_1


"Ya udah, aku pulang." kataku dengan lemah.


__ADS_2