
Kilau cahaya menarik perhatianku untuk segera terjaga. Meski terasa berat dan malas untuk menarik diri dari nyamannya kasur. Aku mengedarkan mata nanarku ke seluruh ruangan yang terasa asing bagiku. Tirai hitam yang kontras dengan warna cat tembok yang putih bersih dengan banyaknya poster band-band luar negeri melambai-lambai tertiup angin dari jendela yang terbuka.
Aku mengernyit. Bibi Marni adalah orang yang pantang membuka jendala kamar ku jika aku belum bangun tidur, jadi ini seperti bukan kamarku. Gugup aku menyingkirkan selimut monokrom yang menutup aurat ku seraya berusaha mencari tahu dimana aku sekarang.
"Udah bangun?"
Tubuhku langsung mematung di tempat. Suara itu milik si permen kapas dan bambu runcing!
Dengan susah aku menoleh ketika langkah kaki pemilik pita suara yang melemaskan syaraf sadarku mendekat. "Abi..." Kakiku yang lemas perlahan membuat jarak aman dengan remaja ini. Gawat, aku dalam masalah besar. Kenapa Abimanyu bertelanjang dada dan hanya memakai celana kolor.
Ya ampun, aku menunduk. Sadar sih sadar, tapi kenapa gini jadinya. Jantungku berdebar. Kupandangi diriku di cermin, ku singkirkan rambut panjangku di depan dada untuk memeriksa leherku. Aman, semua aman, tidak ada tanda cinta. Juga sudah ku periksa boxer wanita yang aku pakai, aman. Pakaianku lengkap.
"Tante kenapa?" sahut Abimanyu.
"Gak–gak," Aku menggeleng, susah payah menjaga jantungku agar tetap aman terkendali saat mata kami bertemu. Tapi kenapa mataku tidak bisa beralih pada otot-otot remajanya yang sedang berusaha menjadi kekar. Sial, kupu-kupu di perutku bertambah banyak saat tatapan Abimanyu tidak goyah.
"Aku dimana, kenapa aku gak di rumahku? Bukannya seingatku tadi malam kamu janji mau antar aku pulang?"
"Aku memang bilang mau nganter Tante pulang, tapi pulangnya ke rumahku." sahut Abimanyu lalu meringis. "Gimana rasanya tidur di kamarku, Tant?"
Aku menelan ludah, kuat-kuat. Gila, siapa yang gila sekarang. Aku tidur di kamar perjaka kesayanganku tanpa perlu aku merayunya. Ya ampun, apa yang terjadi semalam, aku tidak ingat sama sekali setelah aku masuk ke mobil dan Abimanyu membawa mobilku pergi dari public house.
Aku menatap kuku-kuku ku alih menatapnya. Aku malu, pengen pulang. Tapi masa iya, aku pulang begitu aja tanpa bertanya apa yang terjadi tadi malam, tanpa mengucapkan terima kasih setelah aku mabuk dan dia membawaku ke kamarnya. Ajaib bukan, di kamarnya, alih-alih nyewa hotel atau tidur di mobil sambil menunggu pagi menjelang.
"Kenapa, Tant? Nyali hilang." serunya lugas.
Aku mengangguk lemah sambil menyandarkan tubuhku di lemarinya. Malu-malu aku menatap Abimanyu yang tetap tenang bertelanjang dada di dekat tante-tante sepertiku. Hingga persepsi yang terpikirkan tadi malam gentayangan lagi.
"Kenapa kamu gak bawa aku pulang ke rumahku aja, disini, mamamu pasti ngira ada skandal di antara kita." kataku pelan-pelan, takut-takut aku mendekati Abimanyu. Aku merasa ada yang salah pada hari ini, kenapa harus kamarnya. Dengan usia yang seharusnya ada batasan nyata di antara kita. Tapi kami berdua disini, Abimanyu membawaku ke sini. Sumpah, jangan sampai Abimanyu menjadikan nyata pikiran jelek itu.
"Kamu gak nyentuh aku kan, Bi?"
Gelak tawa langsung terdengar meriah dari mulut Abimanyu. Dia tergelak sambil berdiri. Ia menatapku tenang seraya mengalihkan tatapannya pada kasurnya yang berantakan. Kasur itu kecil, cukup untuk dua orang meski harus berdempetan dan tas jinjing ku berada di meja belajarnya yang di penuhi stiker.
"Abi, kamu gak ngapa-ngapain aku kan?" tanyaku lagi sambil memegang lengannya.
Abimanyu tersentak, dia menghela napas dan kembali melihatku. Senyumnya terlihat tajam.
"Bisa Tante bayangin kalo seandainya aku menikahi Tante karena hutang-hutang itu? Hanya kamar ini yang bisa aku persembahkan untuk Tante, itupun kalo Tante menghormati ku sebagai seorang suami. Belum lagi rencana balas dendam kepada mantan suami Tante. Aku gak pantas Tante banggakan, yang ada Tante sendiri yang malu." Abimanyu berjeda sambil memasang sikap tak terjangkau.
__ADS_1
"Bukan aku yang seharusnya menjadi pelarian Tante, aku cuma maba, cuma freelancer dengan pendapatan minimum yang gak cukup memenuhi kehidupan Tante yang glamor. Gak ada yang bisa Tante cari dariku!" pungkasnya, menggelengkan kepala.
Dalam diam. Ada luka tak kasat mata yang timbul di hatiku. Aku tercekat hingga tak dapatkah aku biasa saja mendengar pernyataan Abimanyu yang ternyata memahami masalah-masalah klasik berumah tangga. Sudah sejauh mana di memikirkan hal itu sementara yang aku inginkan hanyalah tempat pulang dan bersandar.
"Kamu salah, Abi. Kamu punya sesuatu yang menarik untuk dimiliki. Dan aku sudah bilang lupakan keinginanku kemarin jika itu membuatmu tenang!" Aku menatapnya setelah melepas tanganku.
"Mungkin orang tuamu ngasih kebebasan untuk kerja paruh waktu karena keadaan. Tapi aku yang berhak atas dirimu nanti, mungkin, gak rela kamu membuang waktu hanya untuk menjadi penghibur tante-tante seperti tadi malam. No..., Abi." Aku menggeleng putus asa. "Sekali kamu membuka peluang itu, peluang-peluang baru akan datang dan aku gak mau kamu ditindas mereka."
Aku menggeleng seraya menepuk-nepuk bahunya.
"Tapi aku gak mungkin ngawasin kamu seperti seorang ibu yang harus ngikutin anaknya ke club malam." Aku tertawa sedih seraya menyandarkan tubuhku pada kusen jendela.
Sengatan matahari membuatku mengelus lengan. Setengah sembilan saat ini. Setengah jam lagi aku harus kerja, tapi kenyataannya aku masih di kamar Abimanyu sambil mengharapkan entah. Ya ampun, bos macam apa aku ini. Beberapa hari terakhir aku lebih sering terlambat datang ke klinik, dan semalam aku pulang dengan seorang remaja dalam keadaan mabuk. Gosip apa nanti yang akan tersebar di klinik dan geng kemayu. Aku mendongak sambil menghela napas dengan kasar.
"Tante harap kamu ngerti apa yang Tante bilang, Abi. Jangan pernah mau jadi gigolo ataupun laki-laki sewaan. Plis, jangan jadikan hutang keluargamu ke aku sebagai alasanmu melakukan itu. Aku gak mau kamu gak punya masa depan!"
"Udah ngomelnya?" sahut Abimanyu ketika aku terdiam cukup lama. Pengen pipis, lapar dan pengen dipeluk.
Aku mengangguk. Secara fisik, Abimanyu slalu menjadi bagian dari diriku. Aku tidak bisa melepasnya walaupun aku menginginkannya. Namun hatinya tidak. Dia bebas memilih siapapun untuk dijadikan kekasih hatinya.
"Ya udah kalo gitu, Tante pulang gih. Aku mau kuliah jam sepuluh nanti."
"Iya!" bentak Abimanyu.
"Janji?" Aku mengulurkan jari kelingkingku, "aku akan marah kalo kamu jadi anak nakal."
Abimanyu menatapku seperti ingin membuktikan bahwa semua anggapan gilaku tidak akan dia lakukan. Abimanyu menautkan jari telunjuknya di jariku dengan terpaksa. "Lagian aku heran sama Tante, baru bangun tidur mulut udah kebanyakan tenaga!"
Abimanyu menggeleng, ia membuka lemari seraya mengambil kaos.
Aku menatapnya dengan jelalatan sebelum tubuhnya yang putih bersih terbungkus kaos putihnya.
"Udah otomatis." Kurapikan tempat tidurnya. Lalu tersenyum, enak kali ya tidur sekali lagi disini. Aku menutup wajahku dengan bantal yang setiap malam Abimanyu gunakan. Aku mengacaukan pikiranku lagi dengan membayangkannya.
"Ngapain kamu, Tant? Pengen bantalku?" seru Abimanyu sambil menarik bantalnya.
Aku mengangguk. "Pengen peluk."
Abimanyu merentangkan kedua tangannya. Aku yang melihatnya seperti ajakan untuk berpelukan berdiri lalu ikut merentangkan kedua tanganku.
__ADS_1
Abimanyu meringis, dan ringisannya semakin lebar saat aku masih menunggunya memelukku.
"Udah aku bilang jangan mau jadi selingkuhan. Gak ngerti lagi aku ada apa dengan Tante ini!" Aku memeluk bantal yang dia ulurkan ke dadaku. "Bawa pulang tuh bantal!" seru Abimanyu sambil menutup jendela. Ia terkekeh saat aku memeluk bantalnya dengan suka rela.
"Yakin, boleh aku bawa pulang, Abi?"
"Boleh, Tante!"
"Terus kamu tidurnya pakai bantal gak?"
"Tar gampang!" Abimanyu menepuk punggungku, "pulang sana. Udah cukup Tante menikmati kamarku."
"Iya, makasih udah boleh tidur disini. Tapi sebenarnya kalo kamu nikah sama aku, aku gak masalah jadi istri maba, aku juga gak masalah tidur disini dan menerima nafkah seadanya dari kamu. Yang penting Abi setia."
Abimanyu memberikan tatapan galak seperti papa ketika hendak memarahiku.
"Iya, iya... Gak, gak akan juga kamu mau sama janda sepertiku." Aku menyaut tas jinjingku, "Aku pulang, aku akan menunggu dengan sabar sampai usiamu 21 tahun. Tapi kalo kamu berubah pikiran, call me baby, stay close, don't go."
Aku melangkahkan kakiku ke sepatu hak tinggi yang Abimanyu taruh di dekat sneakers nya. Sungguh manis sekali pasti tadi malam.
Dia membopongku, melepas sepatuku, dan menyelimuti tubuhku. Lalu seperti di film-film yang sering ku lihat. Abimanyu memandangku dengan lekat-lekat sebelum sadar kedekatan ini salah.
Aku melongok keluar kamar Abimanyu, lorong sepanjang enam meter nampak sepi. Tak ada suara televisi ataupun obrolan ringan yang terjadi di rumah ini.
"Gak ada orang di rumah, papa dan mama di rumah sakit."
"Oh," kepalaku otomatis berputar untuk melihat Abimanyu. "Kamu yakin kita gak ngapa-ngapain tadi malam, Abi?" tanyaku dengan sikap was-was.
"Enggak Tante!" Abimanyu meringis. "Setelah Tante masuk mobil, Tante tidur nyenyak banget sampai aku kira mati."
"Yah, padahal kita bisa ngapain-ngapain tadi malam." Abimanyu menampar punggungku dengan bantalnya. "Jalan, jangan mikir yang aneh-aneh, aku bukan remaja brengsek bermuka dua yang menganggap Tante lebih seksi dari Britney Spears. Kecuali kalo Tante pakai bikini!"
Aku berbalik dengan muka tercengang. "Kamu nantang aku pakai bikini?" kataku sambil berkacak pinggang, "Aku punya banyak jenis bikini dan aku bisa berbikini untukmu, biar kamu sadar aku lebih nyata dan lebih seksi dari Britney Spears, tapi aku gak mau. Enak aja. Keenakan kamu!" Aku menyaut bantalnya lalu mendengus.
"Dasar anak nakal, tau-taunya Britney Spears pake bikini!"
Abimanyu tergelak lalu memegang kedua bahuku seraya mendorongku keluar rumah. "Udah, jangan ngambek!"
Kutaruh semua barang bawaan ku di atas mobil seraya menarik napas dalam-dalam. Aku berbalik, di bawah teras rumahnya aku merentangkan kedua tangan. "Mau peluk." ucapku penuh harap.
__ADS_1
Tubuhku goyah. Aku terperangah ketika Abimanyu mendekapku seraya menyandarkan kepalanya di kepalaku.