
Pasir putih lembut ku injak tanpa alas kaki, laut biru membentang luas, dan matahari sedang terang-benderang tersaji di depan mataku setelah melewati pergulatan batin yang campur aduk sepanjang perjalanan menuju pantai Melasti Ungasan, Bali. Meski bukan private beach yang aku datangi kemarin setelah melakukan pertemuan dengan orang kelas kakap di Karma kandara, pantai Melasti terhitung pantai baru yang keindahan cukup menarik untuk dikunjungi. Aku menurunkan keranjang rotan berisi makanan ringan, air rasa-rasa, bir, buah-buahan segar yang sudah di potong dadu, kue, dan tisu.
"Gerah banget jadi kuda jadi-jadian." gumamku sambil menurunkan resleting kostum unicorn dan membebatkan lengannya di pinggang. Aku berbalik, Abimanyu langsung memalingkan wajah, bibirnya melengkung ke atas. Dia terlihat salah tingkah ketika jakunnya bergerak naik-turun.
"Gak usah horny liat aku pakai bra doang begini!" kataku galak.
"Siapa yang horny!" sanggahnya dengan gugup. "Tapi Tante menodai mataku dan mengganti nama Britney Spears sebagai wanita terseksi di hidupku."
"Basi!" sergahku cepat, berusaha menutup keterkejutanku tapi gagal, "habis panas, kalo enggak pun aku malas buka-bukaan di depanmu. Enak di kamunya tauuu!" Aku menuding hidung Abimanyu. Pemaparan yang blak-blakan ini setidaknya mencegah munculnya pikiran-pikiran nakal yang akan menggoyahkan imannya. Aku tidak bermaksud menggoda, aku hanya kepanasan dengan kostum yang masa sekali tidak menyerap keringat.
"Tau enak, jadi pengen ikut buka-bukaan!" Abimanyu buru-buru menutup mulutnya kemudian. Aku mendelik sambil menendang tulang keringnya dengan sengaja, "Jangan mikir jorok, tuh banyak yang pakai bikini!" Aku menunjuk sekeliling, ada beberapa wisatawan mancanegara asyik berbaring di pinggir pantai atau berjalan di pinggir pantai dengan berbikini.
Abimanyu meringis dan menurunkan gitar dan tikar yang dia bawa ke atas pasir. "Udah ada Tante di depanku, kenapa harus lihat yang lain. Sayang kan, nanti Tante merasa diabaikan."
"ABI!" sentakku, dia mundur. Mulutnya memang perlu aku lakban, dia pintar membuatku naik darah tiba-tiba. Aku jadi tidak yakin dia ini sebenarnya pura-pura polos atau biasa untuk bicara apa adanya. Abimanyu mengangkat kedua tangannya, menyerah ketika aku hendak melemparinya batu.
"Peace, aunty. Peace."
Sesudahnya, dia berjongkok, membuka pengikat tikar dan melebarkannya.
Abimanyu mengangkat tatapannya setelah duduk di tikar. Dia tersenyum dengan senang.
__ADS_1
"Duduk Tant, nanti kakinya pegel berdiri terus."
"Kalo pegel tinggal pijat dan spa, baby!"
Abimanyu meraih keranjang rotan, membuka dan menatanya satu persatu dengan ekspresi seolah dia masih bocah yang pergi piknik bersama ibunya. Kenapa aku bilang hanya bersama ibunya, karena bagi anak laki-laki, ibu adalah cinta pertama. Segala perjalanan baik dan buruk seorang anak, seorang ibu akan menerima segala pemakluman dengan lapang dada.
Abimanyu menarik-narik kostumku dari bawah sampai celana kostum yang menyembunyikan aset paling berharga dalam hidupku nyaris melorot. Aku menarik ke atas seraya membebatkan lengan unicorn lebih erat. "Duduk Tante."
"Aku gak tau jalan pikiranmu, Abi." kataku jujur setelah aku duduk di tikar dan membuka air rasa-rasa. Lalu meliriknya yang sedang membuka makanan ringan. "Aku harap kita bisa bicara baik-baik di sini, jauh dari Jakarta dimana semua bermula."
Abimanyu menoleh, "Kenapa buru-buru?" Abimanyu memasukkan keripik kentang ke mulut, dia mengunyah tanpa melepas tatapannya dariku yang meneguk minuman rasa stroberi. "Kita sudah membicarakannya kemarin, dan intinya dunia kita berbeda!"
"Apanya yang berbeda, hartaku, hartamu, cintamu, cintaku, atau apa? Bicara yang gamblang!"
Aku mendorong bahunya sampai tubuh Abimanyu terjatuh ke samping. "Aku tau bodoh, udah jelas aku punya ini. Kamu enggak!" Aku menunjuk dadaku, dan Abimanyu terkekeh sambil menepis pasir di lengan tangan kanannya.
"Aku juga punya Tante, tapi datar!"
Aku mendelikkan mata, papa tolong. Aku tidak pernah menghadapi laki-laki seusianya, gimana ini pa. Kesal, aku rapuh.
"Yang serius bisa gak sih, Abi? Aku serius juga ini jangan bercanda terus....!" jeritku sampai terbatuk-batuk. Abimanyu meringis sambil menepuk punggung ku yang tertutup oleh rambut panjang ku, "jangan teriak-teriak, Tante. Biasa aja."
__ADS_1
"Aku emang gak pernah teriak-teriak, kecuali sama kamu Abi!" kataku lebih tenang meski suaraku megap-megap.
"Apa orang dewasa slalu serius?" tanyanya kemudian setelah membuka air minumku. "Aku yakin orang dewasa tidak bisa bercanda."
"Bukannya gak bisa bercanda, Abi. Tapi orang dewasa suka yang pasti-pasti atau kepastian, paham?" balasku, membuka wadah berisi buah-buahan segar dan menusuk melon dengan garpu. Rasa manis dan segar langsung ku rasakan di mulut dan tenggorokan ku.
"Nyatanya kehidupan malam yang Tante datangi atau yang aku jalani gak pernah tuh ngasih kepastian kecuali saat aku ketemu Tante. Semuanya jadi serba ada tujuan." Abimanyu menggigit bibir atasnya sejenak. "Kuliah, kerja, nabung, dan berharap jika nanti di usia ku ke 21 tahun semua hutang keluarganya tidak lunas karena berbagai kondisi yang tidak terduga selama dua tahun kurang lebih ke depan dan karena sejak awal Tante sudah bilang untuk santai saja meski orang tuaku tidak tahu jika akulah jaminannya, aku sudah punya sedikit uang untuk jadi suami Tante." Abimanyu meringis geli.
Kepalaku langsung tertunduk lemas. Harus gimana aku sekarang, harus gimana. Ku tanya pada angin yang berhembus dan mengacaukan tatanan rambut ku, angin tak menjawab dan malah pergi begitu saja. Aku menoleh, matahari sudah turun di kaki langit.
"Aku gak akan memaksa kamu untuk nikahi aku Abi kalo seumpama waktu kamu sudah legal nanti belum lunas karena uang yang kamu pakai kemarin itu uang bulanan pasca bercerai dari papi." Aku tersenyum seraya menjatuhkan kepalaku di lutut yang ku tekuk dan ku peluk.
"Gak usah memaksa diri akan sesuatu yang tidak kamu kehendaki, Abi. Cara yang salah bakal bikin semuanya runyam. Dan kemarin permintaan ku itu salah. Maaf."
Abimanyu memasukkan bungkusan makanan ringannya yang sudah habis ke dalam keranjang rotan lalu meneguk isi kaleng yang ia buka dan mengeluarkan suara mendesis.
"Jadi maksudnya aku bebas? Bukan tawanan Tante lagi?" Abimanyu memasang ekspresi datar dengan sorot mata yang mengendur.
Aku mengangguk, "Kurang jelas emang aku ngomongnya?" tanyaku.
"Tanpa perpisahan?" sahutnya lemah.
__ADS_1
"Dinner besok malam sebelum pulang ke Jakarta. Denganku sampai pagi menjelang sebelum kamu kembali dengan aktivitas mu, aku kembali dengan aktivitas ku. Dan kita melanjutkan perjalanan hidup masing-masing tanpa beban hutang piutang itu. Sepakat?"
Keheningan langsung menyelimuti sore dengan temaram matahari di pantai ini. Abimanyu tersenyum lebar. "Makasih Tante, itu kedengarannya jauh lebih baik dan bikin aku tambah yakin kalo Tante memang baik, mungkin aku jadi tambah sayang sama Tante." bisiknya seraya memegang ujung rambutku.