
Hal pertama yang aku lakukan setelah melesat ke dalam mobil adalah pergi ke apartemen Abimanyu, meninggalkan Joe yang terjebak dalam situasi kenangan masa kecil di toko mainan sepanjang masa.
"Baby." Aku mendorong pintu apartemennya, suasana temaram dan hangat langsung terasa ketika aku melangkah berjingkit-jingkit ke arah kamar.
"Baby." Di ambang pintu, aku mendesis mendapatinya tengkurap sembari terlelap. "Jam segini udah molor terus kapan kita produksi penerus bangsanya kalo aku pulang kerja kamu udah mimpi indah."
Aku menaruh bungkusan PlayStation 5 di lantai seraya berjongkok di tepi tempat tidur.
"Capek? Apa pura-pura masih ngambek ini?" Aku mengusap rambutnya, menatap wajahnya yang benar-benar asri dengan napas lembut yang teratur. Tapi sedikit bau permen mentol terendus oleh hidungku.
"Beneran tidur, ngambek yang bermartabat." Aku mencium pipinya seraya terus mengelus rambutnya dengan kepalaku yang aku sandarkan di kusen tempat tidur.
"Aku tadi sudah ketemu Narendra di kantornya, Abi. Kami berempat, gak berdua aja. Ada Joe dan satpam di kantornya. Aku juga udah kembalikan uangnya dan mematikan rekening bank yang biasa jadi tempat dia transfer. Sejujurnya meskipun aku lega, aku kasian melihatnya hancur di atas keangkuhan dan kejahatan Debora."
Abimanyu sama sekali tidak bergerak. Mungkin karena seharian setelah nge-gym ia langsung pergi melanjutkan pekerjaannya jadi lelah sekali hari ini.
"Aku numpang mandi terus pulang, kamu have a nice dreams baby. Jangan mimpiin aku, nanti mimpi basah." godaku di telinganya.
Bahu Abimanyu bergerak, senyumnya terlihat kalem. Namun sedetik kemudian parasnya kembali tenang.
Senyumku melebar sembari melangkah ke dapur, menyiapkan cangkir dan menuangkan sesendok kopi Gayo dengan tambahan dua sendok bubuk karamel.
Aroma kopi yang beradu dengan air panas membangkitkan semangat yang sempat lenyap dari diriku sepanjang hari ini.
Narendra, ada tanya yang belum terjawab dan memberikan kepastian untukku. Sebuah usik yang masih terjaga dalam diriku. Dan tak sedikitpun aku ingin mengira apakah nanti ia akan tetap menyuruh orangnya menguntit kegiatan ku setelah hari ini.
Sumpah mas Rendra, buang uangmu untuk bergembira, jangan cuma menuruti keinginan ibumu yang penuh tuntutan itu. Hidupmu pasti bahagia. Pasti, pasti.
Aku menaruh cangkir kopi di meja makan seraya membersihkan beberapa peralatan makan di wastafel cuci piring. Abimanyu jelas bukan laki-laki manja, semua dia bereskan sendiri kecuali cuci baju. Dia akan membawanya ke penatu dan di apartemen adalah ruang pribadinya yang tidak ada siapapun bisa menjamahnya kecuali aku.
"Beres, habis ini ngopi, mandi terus pulang. Sibuk bener emang nyonya Bella, sibuknya melebihi bibi Marni."
Aku mengeringkan tangan di waslap seraya menyesap kopi dan membawanya ke ruang tamu. Dengan tenang yang tersisa aku merebahkan diri di sofa, merasakan sunyi yang menghanyutkanku pada rentetan peristiwa yang akan terjadi nanti.
"Nikah? Apa aku bisa mewujudkan impianku dulu? Apa Abimanyu sanggup mewujudkannya?"
__ADS_1
Pegunungan dengan lapisan salju tipis di musim semi, pepohonan hijau yang rindang dan rumput yang membentang syahdu menyejukkan isi kepalaku sekarang. Terlebih jika Abimanyu menyanyikan lagu kesukaan kita dengan baju pengantin seraya mengikatku di depan penghulu.
Aku tersenyum, risau akan bayangkan pernikahan itu aku memutar tubuhku seraya mendatangi kembali Abimanyu.
"Sayang." Aku menepuk-nepuk pipinya. "Sayang bangun, ada beberapa yang mengusikku malam ini."
Aku sesekali memencet hidungnya, pipinya, lalu berbisik centil di telinganya. Tapi tetap saja Abimanyu tidak mendengar dan sadar dari mimpi indahnya.
Aku menarik diri dengan muka kusut. "Aku pulang deh, gak jadi mandi."
Abimanyu mencekal pergelangan tanganku ketika aku berdiri sembari mengomeli tingkahnya yang ngambek.
"Aku dengar semuanya." katanya serak sembari membuka mata. "Aku dengar."
"Mentang-mentang aktor, dimana-mana akting terus." Aku mendengus, "Tuh aku bawain rayuan paling ampuh, PS 5. Awas kalo masih ngambek dan bikin semua ibu-ibu pengan cubit pipi kamu, aku tidak punya rayuan yang lain."
Abimanyu meringis sembari mengusap pergelangan tanganku.
"Mandi gih, terus pulang."
"Yakin ngusir aku?"
Abimanyu mengangguk. "Itu katamu tadi sayang, numpang mandi terus pulang. Salahku dimana?" Abimanyu mengangkat tubuhnya, sejenak yang terasa nikmat sekali Abimanyu merenggangkan tubuhnya dan menurunkan kakinya ke lantai.
Abimanyu menatap bungkusan PlayStation 5 lalu tersenyum kekanak-kanakkan. "Mainan baru."
"Bukan, tapi mainan lama!"
Abimanyu bangkit seraya mengikutiku ke ruang tamu.
"Tante, salahku dimana kok cemberut gitu?"
"Kamu pura-pura tidur!" kataku dengan wajah suram.
Abimanyu tertawa, langkahnya gesit mengambil kunci apartemen di atas meja panjang.
__ADS_1
"Aku bilang, aku ngambek. Harusnya Tante merayu aku!" Abimanyu mencondongkan tubuh, mencium keningku.
"Mana cuma berani ngancem mau cium aku, emang berani?"
Abimanyu menyesap kopi yang aku buat setelah duduk di sebelahku. Matanya menatap nakal bibirku.
Aku memiringkan badan sembari bersedekap. "Kalo kamu nantang, aku gak berani!" gumamku bingung, bocah ini nyebelinnya nggak kurang-kurang ya. Pura-pura tidur lagi, oh aku emang mudah dibohongi dan durasi waktu tidak membuatku pintar-pintar dengan kelakuan bocah ini. Slalu saja aku yang kena.
Tangan Abimanyu terulur, merangkul pinggang ku. Kepalanya tersandar di pundakku.
"Harusnya Tante jangan beliin aku PlayStation 5, apa Tante gak takut aku tambah suka mainan PS ketimbang main ke rumah Tante?"
"Emang semenarik itu game buat kamu daripada aku?" sahutku kecut.
"Gak juga!" Abimanyu menggigit bahuku, aku mengerang kecil. Hal itu membuat konsentrasi ku terganggu.
"Jangan macam-macam Abi, mentang-mentang sini empuk terus main gigit aja. Mau kena sentil bibi Marni?"
Abimanyu terbahak. "Tante menarik kok, sangat menarik. Apalagi kalo ngambek begini." Abimanyu menyeringai, dia mengerjap dua kali ketika aku menatapnya sangat dekat.
"Well, setelah kita mengumbar harapan dan kemesraan yang kita sepakati dengan malu-malu tapi mau, jadi kapan kamu mau minta restu sama bibi Marni?" tanyaku.
"Lusa?"
"Kenapa lusa?"
"Besok aku sibuk, Bella Ellis. Dari pagi sampe malam, kuliah dan syuting. Lusa pasti, tunggu aku jam tujuh di rumah!"
"Promise?" Aku menegakkan jari kelingking. "Lusa aku suruh bibi Marni ke makam mama dan papa, juga ibumu dulu. Kalo mereka merestui, aku tau kamu datang. Begitupun sebaliknya, intinya, lusa adalah penentu masa depan kita."
Seakan sangat tahu arah pembicaraan ini penuh dengan sarat makna, Abimanyu mengikat jari kelingkingku dengan jari kelingkingku."
"Besok aku pasti datang! Promise, Bella."
...*****...
__ADS_1