
"Eh, Abi." Aku tersenyum kikuk.
"Ketemu disini, lagi kencan ya?" tanyaku basa-basi.
Jelas mereka sedang kencan, Bella. Dua-duanya gandengan tangan. Gak lihat kamu? Ah, jadi ingat masa remaja ku. Keliling mal sambil gandengan tangan, katawa-ketiwi sampai lupa diri.
"Motorku gimana, Tant?" sahut Abimanyu lugas.
"Ta, kamu kenal?" sahut ceweknya terheran-heran. Pacarnya temenan sama tante-tante, hahaha.
Aku tersenyum, dan berhubung sekarang aku sedang memakai baju off shoulder yang mempertontonkan bahu terbuka, aku menyingkirkan rambutku yang panjang bergelombang dari depan dada.
Jangan kalah seksi, Bella.
"Kenal, Ta. Dia yang hampir nabrak aku kemarin sampe izin gak sekolah." Abimanyu nampak mendengus.
"Wah parah, jadi Tante nih yang bikin kita batal konvoi kelulusan SMA. Mana habis itu jarang ketemuan lagi. Ah... basi," pacar Abimanyu mencebik.
"Tante kan udah minta maaf kemarin, sungguh-sungguh, Abi masih dendam sama Tante?" tanyaku dengan sedih, gimana enggak, baru mau aku beliin hadiah, malah sekarang ngomel-ngomel. Gak tau apa kalau aku juga gak enak sama kamu, ah. Aku menarik napas dalam-dalam.
"Aku gak dendam, cuma motorku gimana Tante. Mama bilang, masih di poles terus. Kapan jadinya?"
"Besok tamp–Abi, tadi aku udah telepon abang tukang bengkelnya. Sekarang lagi tahap finishing biar cakep, mulus lagi gitu. Sabar ya."
Aku mengelus-elus bahunya tapi itu cuma dalam imajinasiku.
"Beneran?" tanya Abimanyu seakan gak percaya.
"He'eh." Aku mengangguk. "Mau aku teleponin abangnya?" tawarku sungguh-sungguh biar dia percaya.
"Gak perlu." Abimanyu membalikkan topi baseballnya, "aku tunggu di rumah besok!"
Wah. Mataku langsung melebar. Dapat undangan main, enak nih.
"Apa sih, Ta?" sahut pacarnya sambil melepas tangannya dari genggaman tangan Abimanyu.
"Motornya, Ta. Elo pikir apaan?" Abimanyu menyembunyikan tangannya ke dalam saku jaket baseball nya. Ahaaa, kayaknya Abimanyu suka sama baseball.
"Elo kayak ngarep Tante ini main ke rumah kamu tau gak. Pake nungguin segala."
Hahaha, Abimanyu tergelak. Tawanya enak banget di dengar. Beda banget sama tawa papi Narendra, fals, udah gitu kalau ketawa nggak ikhlas.
__ADS_1
"Gue cuma nungguin motor gue balik, lagian lutut gue udah sembuh. Gue udah kangen sama tunggangan kesayangan gue dan gak perlu pake plester pink!" urai Abimanyu sambil berbalik, berjalan, pacarnya mengikuti setelah melotot kepadaku.
"Gaya banget, sih." gumamku lalu mengikuti langkah mereka dengan sedikit mempercepat langkahku.
"Aku ikut dong, Tante yang traktir."
"Gak usah! Ganggu elo, Tant."
Aku berlari kecil, arghhh, tanganku terangkat ke atas hingga tas jinjingku terbang bersamaan dengan tubuhku jatuh ke lantai dengan begitu dramatis.
"Nyusahin gue lagi, tiap ketemu bikin susah melulu elo, Tante." rutuk Abimanyu, wajahnya menunjukkan apa yang dia ucapkan. Sebel.
Aku menjulurkan tanganku ke kakiku yang keseleo. Sakit banget tau, sakitnya melebihi sidang perceraian tadi.
Abimanyu berjongkok dengan muka datar. Tangannya melepaskan sepatu hak tinggiku tanpa perasaan dan menaruhnya di sampingku.
"Lain kali kalo mau ngejar orang tolong di ingat pakai sepatu apa, Tante. Dan— oh tolong lupakan pepatah klasik ini bahwa sepasang sepatu yang bagus akan membawa ke tempat yang indah."
Aku tahu itu. Tapi Abimanyu bisakah kamu mengerti jika tinggi badanku hanya 158 cm. Aku bukan model, aku tidak bisa menyaingi tinggi Debora jika tidak pakai hak tinggi tau. Mengertilah persaingan di antara wanita-wanita di sekitar papi Narendra.
Aku menelan ludah, pandanganku mengitari sekeliling. "Abi, tolong tas Tante."
"Gak taulah orang terbang."
"Ratu drama." cibir pacar Abimanyu. "Ta, kita bisa telat nih nonton bioskopnya." omelnya sambil menarik jaket Abimanyu dari belakang.
"Sebentar, Ta. Ada orang susah ini." sergah Abimanyu, ucapannya seakan meremas hatiku. Aku emang lagi susah tampan, aku sedang nggak baik-baik aja sekarang kalau kamu ingin tahu. Cuma untuk apa aku cerita sama bocah? Faedah apa yang bisa aku petik dari remaja sembilan belas tahun ini.
"Lurusin kakinya!" Abimanyu menjentikkan jarinya di jempol kakiku. "Dan seka air matamu, Tante. Malu-maluin."
Aku menyapu wajahku dengan malu dan menarik ingus yang menetes. Ku lihat, Abimanyu beringsut mundur mengikuti ukuran yang kakiku luruskan dengan hati-hati.
"Mau di apain?" Aku merasa takut dengan senyuman aneh Abimanyu. Senyumannya itu mirip tomat. Hambar dan agak kecut.
"Mau di apain ya?" ulang Abimanyu sambil mengurut kakiku, sentuhan lembut nan hati-hati dari tangannya bikin aku merinding, tapi untung bulu kaki sudah aku waxing.
"Sayangnya di sini nggak ada P3K standar, Tante. Jadi sori kalo—"
Aku menjerit kesakitan sewaktu ia menyapa tulang-tulang pergelangan kakiku dengan gerakan cepat.
"Sakit, Abi." kataku sambil menabok pundaknya. "Sakit tau." omelku.
__ADS_1
Abimanyu mengusapkan tangannya di celana jins hitamnya sambil beranjak.
"Berdiri dan cari tas Tante sendiri." Abimanyu menunjukkan ke arah belakang, lima meter dari tempat aku terjatuh.
"Ya," Aku mengangguk-angguk kepala. "Tapi bantuin."
Kedua tanganku terjulur, sejenak, aku bisa menjangkau ke dalam mata Abimanyu. Dia terlihat kesal tapi di satu sisi sesuatu yang lain mudah dipahami. Dia peka.
Abimanyu meraih tanganku, menggenggamnya dan menarikku, seolah-olah bagi aku yang sedang patah semangat, ia seakan menarikku dari kegelapan menuju cahaya.
"Udah kan? Bye." Abimanyu melambaikan tangan diiringi suara kekehan sinis dengan mulus dari pacar Abimanyu. "Cabut, Ta. Sepuluh menit lagi mulai filmnya. Lagian kenapa sih elo perhatian banget sama tante-tante?"
"Manusiawi." Abimanyu merangkul bahu pacarnya sewaktu menaiki eskalator.
Aku mencoba menjejak lantai dengan kakiku yang keseleo dengan ekspresi geli-geli malu. Malu sejak tadi orang seliweran sambil melihat kejadian ini.
"Udah gak sakit, eh. Sembuh, wah Abi bakatmu jadi tukang urut."
Dengan tertatih-tatih aku berjalan menuju tas jinjingku yang di saut satpam dan membawakannya padaku.
"Terima kasih, pak."
"Sama-sama."
Aku berbalik, menyaut tas sepatu hak tinggiku dan menaiki eskalator tanpa alas kaki. Aku masih ingin menghabiskan waktu di mal di hari libur kerjaku. Dan membuntuti Abimanyu ke bioskop adalah tujuannya.
"Kakak. Satu tiket yang sama dekat adikku itu." dustaku pada petugas kasir bioskop sambil menunjuk Abimanyu yang membeli pop corn. "Plis, dia nggak boleh pacaran berdua, kata mama itu bahaya!"
"Silahkan, kak. Loket tiga." Aku mengangguk dan membayar tiketnya. Ketika aku berjalan menuju loket tiga sambil membaca tiket masuk. Jantungku langsung berdebar-debar.
"Kenapa nontonnya film horor Abimanyu! Kalo gini aku jadi ragu. Aku takut."
"Udah ayo masuk aja!"
Tubuhku langsung didorong perlahan ke dalam ruangan remang-remang yang sedang mengeluarkan suara menggelegar. Tiket kecil yang aku genggam bersama tali sepatu dan tas jinjingku di sambar seketika itu juga.
"Pengganggu."
•••
Bersambung.
__ADS_1