Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Angel baby


__ADS_3

Aku menggesekkan pipiku di dadanya ketika seratus lebih pasang mata menatap kami berdua di dalam public house yang kini lebih kalem dengan lagu-lagu melankolis. Demi pencitraan dan penegasan, kami harus melewati ruangan ini meski ada jalan khusus untuk staf dan karyawan.


"Our guest star is my future husband." ucapku bangga. Remasan dilenganku mengerat. Aku mengangkat tatapanku seraya menangkup pipi Abimanyu. "Yes, baby?"


Jemari Abimanyu membelai rambutku. "Maybe, angel."


Angel? Kok dia tau aku dapat julukan angel dari Billy, wah parah. Nampaknya Abimanyu ini sering melihat sosial mediaku. Tapi paling-paling dipikirannya bukan angel yang baik hati, tapi angel pencabut nyawa. Remaja ini kan rese, mulutnya tajam banget kalau ngomong.


Abimanyu mengulum senyum di depan orang-orang yang menyoraki namanya, nikahi aku juga, dan gak percaya elo berdua cuma gimmick. Abimanyu meringis sambil menekan rangkulan tangannya selagi masih hangat kepura-puraan ini.


"Kita pulang." ucapnya dengan nada tegas dan formal setelah menelengkan kepala. "Oke, baby." Aku menekuk tanganku untuk menggenggam tangannya yang masih berada bahuku. Kami berjalan di koridor dengan pencahayaan remang-remang.


Sejujurnya aku merasa gugup berada di dalam kungkungannya. Dan kegugupan itu semakin menjadi-jadi setelah situasi terbilang kondusif.


Abimanyu langsung melepas rangkulannya di tengah parkiran mobil. Dia memandangku tajam-tajam sambil menonyor keningku.


"Segila itu otak Tante mengharapku!"


Aku berkacak pinggang. Abimanyu yang menggendong gitar dan tas ranselnya juga berkacak pinggang. Kami bertatapan di bawah lampu taman.


Aku bisa mencintainya dalam gelap, bisa menciumnya dengan mata tertutup, tetapi sulit rupanya membuka hatinya. Si keras kepala ini nampaknya pintar memanfaatkan keadaan. Aku juga nampaknya senang-senang saja dimanfaatkan. Justru menawarkan diri malah.


"Gak juga sih, aku hanya berusaha menjadi tameng pelindungmu. Pacarmu gak gitu kan? Dia gak tau kesusahanmu di malam-malam yang dia nikmati dengan tidur nyenyak setelah ucapan selamat malam darimu. Sementara kamu, mencecap kehidupan malam dengan risiko besar yang bisa menyergapmu sekali aja kamu lengah." kata itu meledak, aku menyampaikannya dengan emosi. Meski kedengarannya jadi galak.


"Oke, aku terima semua keputusan yang Tante buat!" sergah Abimanyu sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku.


Susah payah aku meneguk ludah ku. Siapa yang banyak akal sekarang, siapa yang mau tarik ulur sebenarnya. Kegugupan menjalari punggungku. Tenggorokanku tercekat. Bahkan dinginkan tengah malam ini tak mampu menggigilkan tubuhku. Aku panas akan tatapannya yang tajam. Tak goyah mengamatiku.


"Gimana, Tante bisa jamin aku baik-baik saja sampai aku berusia 21 tahun?" tanyanya lugas. Tampan dan berani, itulah dia. Abimanyu Julian Rudolf.


"Bisa." Aku mengangguk singkat. Dia langsung memasang tubuhnya di tubuhku. Dagunya ia topangkan di kepalaku. Tangannya dengan baik mendekap tubuhku di tengah parkiran, di tengah malam yang terasa sebodoh ini akukah aku di depannya.

__ADS_1


"Makasih, Tante."


Lututku lemas. Dadaku mengencang. Aku berpikir dia akan mengumpatkan kalimat sialan atau setajam bambu runcing yang biasanya dia lakukan untuk menyangkal ucapanku. Tapi ‘Makasih, Tante’ menggoyahkan imanku untuk menarik ulur dirinya. Aku justru tertarik sendiri untuk menjatuhkan diriku untuknya. Kampret, Sisca. Tolongin gue... Gue gak ahli bermain hati seperti ini, aku serius, sekali iya, iya terus...


"Udah. Tante pulang." Abimanyu menghela napas, "mau aku anter?"


Dia menatap sekeliling, mencari mobilku sepertinya.


"Gak usah, gak perlu." kataku sambil merapikan topi dan rambutku. Ia tersenyum canggung sambil menghindari kontak mata denganku.


Sepertinya kejadian barusan mempengaruhinya. Dan maaf Brigitta, aku harus membawamu untuk menyadarkan Abimanyu akan keberadaan ku untuknya.


"Kamu pulang, istirahat. Jangan makan gorengan, jangan makan yang banyak minyaknya. Oke?" Dengan lembut, aku menyapu helai-helai rambut hitam dari keningnya. "Rawat wajahmu dengan rutin. Wajah dan dalam dirimu adalah aset penting calon artis." kataku meyakinkannya.


Dia akan menjadi artis, penyanyi. Geng kemayu akan mencarikan produser musik untuk menggaetnya sebagai anak didik dan artis garapan sebagai jalan baru untuk mengeluarkannya dari dunia malam. Sebaik itu mereka sama perjaka ini. Namun, artinya, ketika dia siap menjadi penyanyi terkenal–semoga aku berdoa untuk itu–aku harus siap Abimanyu membayar semua hutang-hutang keluarganya. Aku menyunggingkan seulas senyum terpaksa. Artinya, kami tidak bisa menikah.


Abimanyu menatapku. "Aku mungkin akan ketergantungan sama Tante, dan aku menyakiti Brigitta diam-diam."


I set fire to the rain


aku menyalakan api dalam hujan


Abimanyu melangkah dengan sikap lelah. Ia mengetuk kaca mobilku setelah menaruh gitarnya di atas kap mesin.


"Buka." katanya. "Buka!" ulangnya lagi lebih serius.


Aku menurunkan kaca mobil sampai bawah, hembusan angin malam menerpa wajahku sebelum Abimanyu membungkukkan badannya.


"Everything will be fine."


"Maksudnya apa?" tanyaku sinis.

__ADS_1


"Bukankah besok hari pernikahan mantan suami, Tante?" Abimanyu buru-buru mencopot kunci mobilku hingga mesin yang meraung berhenti.


Aku melotot. Hei, "Balikin gak!" seruku saat ia menggantung kunci ku di udara, melemparnya ke atas lalu menangkap dan menyembunyikan kunci itu di saku celana.


Abimanyu nyengir. "Turun!"


"Cari masalah? Durhaka kamu ngerjain tante-tante!!!!"


Aku mendorong pintu mobil dengan kesal. Abimanyu mundur. Menghindar.


"Kampret, balikin gak!" Aku berusaha meraihnya, tapi tulang mudanya terlalu gesit untuk aku yang sudah tulang kepala tiga. Abimanyu terus menghindar. Sialan, aku capek. Aku membungkuk sambil memegang kedua lututku. "ABIIII!" jeritku kesal. "Balikin kuncinya, aku mau pulang!"


"Gak akan!!!" Abimanyu terkekeh, tapi kekehannya tersengal-sengal. "Aku yang anter Tante pulang, atau Tante yang nganter aku pulang?" tawarnya dengan cepat. Abimanyu berjinjit seraya menggantung kuncinya tinggi-tinggi.


"Basi, kurang kerjaan! Pulang sendiri-sendiri." balasku, enak aja merepotkan sekali, gak tau dia aku lagi main tarik ulur.


"Ya udah Tante ambil, kalo bisa kita pulang sendiri-sendiri."


"Apa!" sergahku, "Heh, gak liat apa aku pakai sneakers. Udah jelas pakai hak tinggi masih kelihatan pendek, ini malah disuruh menjangkau tinggi-tinggi." Aku meninju perutnya, Abimanyu langsung membungkuk sambil memegangi perutnya dengan kedua tangan.


"Tant, tega banget." Abimanyu mengulurkan tangannya dengan muka terkejut, "Nih, sana pulang. Bisa mampus sendiri gue main sama tante-tante. Udah rontok iman, ngerusak pikiran, mana main kasar lagi. Sana pulang."


"Makanya jangan durhaka sama aku! Uww..." Aku menyambar kunci itu seraya menginjak sepatunya. "Rasain tuh!"


"Tante... Tunggu pembalasan ku!" ancamnya galak.


"Wek..." Aku menjulurkan lidah seraya masuk ke mobil. "Gak takut!"


Abimanyu menyambar gitarnya setelah mobilku meraung kembali. Dia nyaris melempar gitarnya selagi aku mengklaksonnya kuat-kuat.


"Everything will be fine, Abi. Everything will be fine. Emang gampang, ngomong doang." Aku menyunggingkan senyum sekilas sambil meninggalkannya pulang.

__ADS_1


__ADS_2