
Aku melakukannya dengan susah payah. Susah sekali aku tersenyum lepas manakala Abimanyu terus meneguk anggur merah.
"Enough, Abi." kataku hati-hati sembari menjulurkan tangan untuk meraih botol itu dari tangannya. "Cukup oke, Tante tidak mau kamu mabuk."
Abimanyu menoleh. "Kenapa? Bukannya kita bisa gantian? Waktu itu aku jagain Tante sampai benar-benar sadar, sekarang Tante bisa jagain aku juga."
Merpati tak pernah ingkar janji, jelas, tapi Bella bisa ingkar janji Abimanyu. Bella bisa khilaf, ini lho yang aku takutkan kenapa harus ada jarak di antara kita.
Abimanyu meneguk sekali lagi sebelum menyerap ketegangan yang menanti. Lilin padam terhempas angin, lalu dengan wajah tak berdosa, Abimanyu berlagak menakut-nakutiku dengan hantu-hantu yang pernah ada di film horor tempo hari.
Aku menelan ludah ku bak menelan satu butir telur puyuh bulat-bulat. Keringat dingin mulai bercucuran waktu ia melepas jaket, sepatu, jam tangan, sepatu dan menyisakan celana kolor dan kaos biasa.
Aku bertanya-tanya sendiri, apakah aku harus kabur sekarang? Sejarah akan tercetak di rahimku jika sesuatu yang ada di kepalaku terjadi.
"Aku tidak bisa lepas ini, nanti Tante pengen." Abimanyu meraup semua yang ia campakkan dari tubuhnya di kursi lalu menyerahkan kepadaku dengan senyum gelinya.
"Aku hanya menghormati geng kemayu. Kalo aku tolak, aku dikira sombong, Tant. Villa ini juga yang sewa mereka dan aku yang tidak punya celah sama sekali cuma bisa terima ini tanpa bisa menolaknya."
Mataku beradu dengan pandangannya. "Aku setuju kamu jangan lepas yang itu." kataku sambil menaik-turunkan tatapanku. Aku lebih suka dia seperti remaja sederhana. "Jangan di lepas, itu meresahkan."
Aku berdiri, memutus jarak di hadapannya yang memilih melihat laut lepas. "Ini milikmu, simpanlah." Aku meraih tangannya, menyampirkan pakaiannya satu persatu. "Bisa kamu jual untuk mengurangi beban karena aku. Sekali lagi, aku, bukan hutang keluargamu!" ucapku jelas.
Abimanyu tersenyum garing seperti hendak bernyanyi tapi lupa kunci gitarnya.
"Tante emang beban sih, beban perasaan."
Bukannya dini hari semakin ngantuk, aku malah melebarkan mata. Yakin, habis ini aku harus treatment komplit jika tidak aku seperti mama panda. Kebanyakan makan dan memiliki lingkar hitam. Mana selama di Bali aku suka makan.
__ADS_1
"Posesifnya Tante yang seperti ibu-ibu penyayang anak cukup mengisi ruang di dadaku." Abimanyu meringis. "Lucu juga aku pikir-pikir, Brigitta yang memupuk cinta pertama, tapi ternyata justru Tante yang bikin dadaku hangat."
"Aku tahu rasanya."
Abimanyu mengangkat tatapannya, matanya berbinar dan merah. "Aku seneng ketemu Tante."
Aku lebih seneng ketemu kamu, Abi. Tetapi, putuskan dulu pacarmu. Ini akan terlalu sulit bagi kita untuk maju.
Kami bertatapan, Abimanyu masih punya waktu untuk memilih. Jika dia akan melakukannya, aku senang menyambutnya.
Aku bisa memulai lagi perjalanan romansaku dengan pasti. Begitupun ia, itu indah daripada menggenggam harapan semu.
"Kita tidak akan diam di sini sampai matahari datang kan, Abi?" Aku mengalungkan tangan di lengannya. "Mau cerita? Aku pendengar yang menyenangkan, tapi sebaiknya kita ke dalam."
Abimanyu memandang jauh ke depan dan mengira-ngira. Aku jadi sadar memintanya untuk mengisahkan apa yang terjadi pada hidupnya. Lagi-lagi aku lancang. Namun, aku mencemaskan hal itu akan berpangaruh bagi kondisinya sekarang.
Abimanyu melangkahkan kakinya setelah meninggalkan semua saweran dari geng kemayu di kursi dan menggantinya dengan anggur itu lagi.
...***...
Abimanyu mulai meneguk anggur merah setelah tiba di ruangan yang lengang. Dia berkali-kali melewatkan cairan itu di kerongkongannya dan memperhatikan aku. Jika di pikir-pikir, cukup aneh, ia tak pernah minum ketika berada di kelab atau kafe. Dia hanya suka soft drink, jus buah, dan banyak minum air putih. Tetapi sekarang, keningnya menyiratkan betapa banyak gambaran-gambaran kenangan masa silam yang ia ingat.
"Aku pernah ketemu Tante dua tahun lalu di pemakaman." akhirnya Abimanyu memulai, "Aku melihatnya dari awal sampai akhir, hari-hari berikutnya, aku slalu melihat Tante datang. Sendiri, berjam-jam di tengah-tengah dua makam basah, penuh berbunga. Aku sempat penasaran siapa wanita itu, rambut panjang dan slalu memakai sepatu hak tinggi bahkan di pemakaman, lucu tapi gila."
Aku mengelus bahunya. "Terus apalagi?"
Abimanyu membuka matanya, semakin merah dan berair. "Takdir mengantarkan aku akan rasa penasaran ku."
__ADS_1
"Kebetulan yang lucu tapi gila." gumamku, "Aku setuju. Terima kasih sudah ada di waktu terburukku. Aku merasa waktu itu benar-benar sendiri meski ramai. Tapi itu saja, keluargamu?"
"Keluarga batu." Abimanyu tersenyum remeh.
Aku mengusap setitik air mata yang hampir meluncur di pipinya dan tidak menimpalinya dengan komentar apapun. Keluarga batu? Keras dan cenderung angkuh, itulah sifat ayahmu Abi. Sementara yang begini, pasti sifat ibumu dari Solo. Budaya, masyakaratnya, sepertinya aku harus mulai mengulang hobi semasa remaja.
"Istirahat Abi, kamu lelah." Aku mengusap kepalanya. Abimanyu mengeleng dan terus meracau banyak hal dengan suara lemah dan tampak kelelahan. Aku mendengar sambil meluruskan tungkai dan bersandar di kursi dengan tangan yang menggenggam tangannya.
"Maaf Tante."
"Sssttt," ucapku perlahan. "Tidur. Ini udah pagi. Nanti siang kita harus flight."
Kepalanya mendadak bersandar di bahuku. Meski memerlukan waktu yang lama untuk terlelap. Benar-benar terlelap sampai bahuku pegal, Abimanyu sampai ke titik ternyaman dalam hidupnya. Mabuk dan bersamaku.
Aku menyandarkannya dengan penuh kehati-hatian di sofa. Aku menata banyak bantal sofa di lantai jikalau ia terguling tidak begitu sakit.
"Selamat tidur kekasih kecilku." Aku membelai pipinya yang sembab. "Aku percaya kamu akan menjadi laki-laki kuat dan tahan banting. Aku doakan kamu sukses."
Dadaku sakit, tapi inilah pilihan ku. Ku kecup kedua matanya sebelum berlalu meninggalkan Abimanyu keluar villa.
"Aku bawa mobilnya, besok pagi dia akan dijemput siapapun orang yang menyuruhmu melayani kami berdua."
"Tapi nyonya. Bagaimana jika Abimanyu kecewa?"
"Kecewa?" Aku tersenyum sedih, "Ajari Abimanyu cara menjadi laki-laki setia jika kamu tidak mau aku juga kecewa!"
Aku masuk ke dalam mobil, menjadikan jalanan sepi menjadi ajang pelepasan emosi yang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Selamat tinggal Abimanyu, sampai ketemu lagi dua tahun lagi!"
...***...