Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Dia milikmu


__ADS_3

Berbekal jadwal manggung Abimanyu yang Sisca berikan. Aku mulai mengatur jadwal kerjaku biar bisa menyesuaikan jadwal konser Abimanyu. Iya konser, anggaplah begitu, daripada ngamen. Aku masih tidak terima sekongkolan geng kemayu menganggap ku turun kasta— mengencani mahasiswa baru yang hanya seorang pengamen dari kafe ke club—aku tidak terima Abimanyu di bilang ngamen. Meski mendekati benar.


Sadar walaupun semua benar yang dikatakan Abimanyu bahwa dia tidak bisa aku banggakan di depan mantan suamiku. Namun aku tidak akan memadamkan namanya sekarang selagi masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di waktu yang akan datang. Spirit of positive vibes itu terus menyala di gelapnya angkasa malam ini.


Aku memasang topi yang diberikan Abimanyu setelah memakai jaket jins. Senyumku mengembang saat ku pandangi wujud diri di cermin besar dengan lampu yang menyala di setiap kusen cermin yang setinggi satu meter itu.


"Berlagak seperti remaja seusia Brigitta lumayan juga, bikin celana jins dan kaos-kaos yang jarang aku pakai keluar dari persembunyiannya... Bi..."


"Nyonyah mau kemana?" tanya bibi Marni setelah aku menyuruhnya membereskan pakaianku yang berserakan di atas tempat tidur.


"Biasa main, anak muda nih." Aku menepuk-nepuk dadaku sambil nyengir, "Oh ya, Bi. Besok pagi kita check in hotel. Bibi packing pakaianku, terserah yang mana aja yang penting cocok buat kerja sama jalan. Bibi juga bawa baju ganti, bawa persediaan makanan biar irit. Kita keluar dulu dari rumah ini selama geng kemayu balas dendam!"


"Balas dendam sama siapa, Nyah?" Bibi Marni tengok kanan-kiri, "Kok kedengarannya gawat, Nyah. Kita kabur-kaburan segala. Ih, bibi jadi worry." katanya sambil mendekap tubuhnya sendiri.


"Worry-worry, siapa yang ngajarin bahasa itu? Idih gaya banget." balasku lalu menghela napas. "Papi sama Debora, jadi kita kabur buat cari aman. Oke bibi?" Bibi Marni men-tos tanganku.


"Siap... Cari aman. Tapi bawa reskuker gak Nyah? Sama beras?" tanyanya dengan muka polos.


"Terserah bibi ajalah, yang nginep di hotelkan bibi sedangkan aku melalang buana." Aku cekikikan, bisa aku bayangkan gimana wanita yang cantiknya tetap natural ini meski sudah aku beri sepaket perawatan wajah setiap bulan tinggal di hotel sementara waktu. Hidupnya pasti meriah.


"Aku pergi dulu, bibi." Pamitku sambil melambaikan tangan.


"Jangan lupa pulang, Nyah! Biar bibi gak bingung kalo cerita di makan bapak dan ibu besar." teriak bibi Marni.


"Iya," jawabku setelah masuk ke dalam mobil. Gelapnya angkasa malam dengan ratusan cahaya kendaraan silih berganti menemani perjalananku menuju public house tadi malam.


Tepat pukul sebelas malam, aku menuruni mobilku yang tidak Abimanyu ketahui. Aku akan menyamar sebentar untuk melihatnya berada di dunia malam. Benarkah ia tidak menerima rayuan tante-tante berduit yang tergiur akan pesonanya walau tidak ada aku yang sudah mewanti-wanti agar tidak terjerumus dalam lumpur dosa?


Memasuki lorong dengan pencahayaan yang redup, samar-samar hiruk pikuk suasana pub and bar yang slalu mengingatkanku hanya pada minuman pelampiasan, kini tergantikan dengan sosok remaja blesteran yang ingin memiliki tubuh atletis.


Aku memesan beberapa minuman biasa seolah aku ini sedang menunggu seseorang. Intinya, keberadaan ku yang memakai pakaian tertutup ini masih di lirik oleh beberapa pria.


Kupandangi panggung hiburan yang sedang menyajikan pentas musik seorang wanita yang memainkan disc jockey, ia hanya memakai bra fashion. Batu-batu permata yang menghiasi bra itu berkilau seirama dengan badannya yang terbuka berlumuran sparkle di bawah sorot cahaya yang hanya tertuju padanya. *********** tersentak-sentak mengikuti tubuhnya yang berlonjak-lonjak.


"Nungguin Abi?"


Kepalaku mendongkak. Pegawai kemarin–teman Abimanyu–senyumku melengkung. "Dia udah datang?" tanyaku.


"Baru di back stage siap-siap, mau gue panggilin?" tawarnya sambil menata pesanku di meja.


"Manager mu lebih penting sepertinya! Katakan saja aku Bella Ellis, teman Sisca Mariana. Dia sudah membuatkan jadwal pertemuanku dengannya." ucapku serius lalu mengulum senyum.

__ADS_1


"Mukaku meyakinkan gak?"


"Gak, muka mu cengengesan!" ucapnya jujur lalu terbahak, "tapi coba gue ngomong ke manager."


Aku mengacungkan jempolku. Mantap. "Selesai jam berapa, Abi?"


"Mirip tadi malam!"


Aku mengacungkan jempolku lagi sambil menatapnya senang. "Jangan bilang aku disini."


Laki-laki yang aku perkirakan berusia tiga puluh tahun ini mengacungkan jempolnya ke belakang di dekat telinga.


"Gampang, kerja dulu!"


Aku mengangguk, kupandangi jus anggur dan menyesapnya. Kali ini aku tidak akan mabuk, aku harus sadar untuk Abimanyu dan mengenyahkan sifat jelekku di depan remaja yang hendak aku gaet.


"Jus anggur di malam Sabtu, sendirian, Sisca memang mempunyai berbagai macam teman yang aneh-aneh."


Aku mengangkat gelasku, bersulang dan tersenyum. Pria dewasa berpakaian perlente dengan nama Gideon itu menarik gelas berisi jus anggur di depannya seraya menghentak-hentakkan gelasnya di gelasku. Si manager, orang dalam yang pastinya mengenal Sisca, dan Abimanyu.


Dia menyesap jus anggurnya. "Ada yang bisa saya bantu, nyonya?" katanya sedikit berteriak, mengimbangi suara musik yang mengentak-enak di ruangan remang-remang yang memiliki interior campuran kayu gelap dan ekletik.


Aku memutar bola mataku—sambil tersenyum. "Bella, cukup Bella. Nyonya hanya panggilan dari bibi Marni."


"Anggur adalah buah kesukaan papa." jawabku, rasa hangat langsung menyerbu dadaku.


"Bagus." Gideon tersenyum lebar ketika suara hentakan musik disc jockey berhenti, suara genit wanita yang memakai sepatu bot tinggi itu melejit mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa dan digantikan dengan sapaan hangat laki-laki muda yang membawa gitar kesayangannya seraya menduduki kursi tinggi.


"Tampan dan berani, satu-satunya alasan kenapa saya mengizinkan seusianya kerja di sini walaupun cuma satu jam." Gideon menjelaskan, "Bella ingin menyewanya seperti yang dilakukan Sisca?"


"Dia bukan sewaan dan tidak akan di sewa siapapun!" ucapku serius, entah kenapa aku muak dengan sewa menyewa sampai aku mencengkram gelasku. Pecah pun tak apa asal jangan ada yang meremehkan remaja itu.


"Tujuanku kesini menemuimu untuk memastikan bahwa dia tidak bisa di sewa siapapun. Dia murni hanya bernyanyi. Kau mengerti, Gideon? Anggaplah dia milikku meski bukan sepenuhnya."


"Ya, ya, ya." Gideon melipat kedua tangannya dan mengalihkan perhatian ke panggung hiburan. Abimanyu sudah bernyanyi, merdu, mendayu, menyuruhku memberikan seluruh pancaindra ku untuk menyerap segala perwujudannya.


"Well, ikutlah denganku ke back stage dan tunjukkan bahwa dia sudah milikmu." Gideon menghela napas, "Abimanyu harus terlihat ada yang memiliki secara gamblang, jadi ada alasan kuat untuk menolak orang-orang yang menginginkannya!"


Mampus, meski aku mengangguk dan mengikuti Gideon ke belakang panggung. Pikiranku memikirkan dengan keras gimana caranya menunjukkan bahwa Abimanyu milikku. Dia gak mungkin mau sentuhan fisik, pelukan apalagi. Kesempatan itu sudah habis. Ya ampun, Bella. Aku membalikkan topi yang aku kenakan seraya membenturkan jidatku di tembok.


Kamu mulai mirip ibu-ibu yang kesusahan mencari akal untuk membujuk putramu agar menuruti kemauan mu, Bella.

__ADS_1


Aku duduk di kursi tinggi, mendengar Abimanyu bernyanyi di ruangan khusus yang dijadikan tempat bersiap-siap para penghibur public house ini. Di sini ada tempat make up, beberapa wardrob yang bisa digunakan untuk menunjang penampilan.


"Ada tamu, Bi. For you!" Gideon menggeser sliding door, Abimanyu melongok seraya menangkap gesit botol air mineral yang aku lemparkan kepadanya.


"Ngapain tante di sini?" tanyanya sambil menerima jatah uang dari tamu pub yang memberinya saweran. Abimanyu hanya menerima enam puluh persennya. Sisanya menjadi milik public house ini dengan alasan, jam sewa, bayar listrik dan lain-lainnya.


"Makasih, pak." Gideon mengangguk, sekilas ia menatapku dan memberikan isyarat dengan kedipan matanya.


"Saya tinggal, Abi. Perlakukan tamu dengan baik!"


Mantap. Abimanyu menghempaskan dirinya di sofa krem. "Aman?" ia memandang air mineralnya.


"Aman dong, masih segel." Aku ikut menghempaskan tubuhku di sebelahnya. "Gimana, seru?" tanyaku basa-basi.


"Udahlah, Tant. Jangan jadi maling." cibirnya setelah minum, Abimanyu mengeluarkan rokok elektriknya seraya menyesapnya. Aroma rokok itu terlebih enak daripada rokok konvensional yang papih nikmati.


Tubuhku semakin merosot saking tak tahunya harus bilang apa tentang usulan Gideon tadi. Dan jujur aja yang menurutku semakin menarik di tengah malam ini Abimanyu terlihat tenang berada di sampingku. Cuma, aku yang kayak gadis bau kencur, gerogi parah.


Aku berdehem, "Bukannya mau jadi maling, cuma aku harus jujur. Demi menghindarkan kamu dari tante-tante nakal dan lelaki hidung belang. Orang-orang harus tau kamu sudah ada yang punya, yaitu aku!"


"Tant, udahlah. Aku bisa jaga diri baik-baik! Gak usah sampai segitunya kesini cuma buat jagain aku." ucap Abimanyu penuh tekad. Dengan lembut, aku membelai kemeja linen putih yang ia gulung sampai ke lengan.


"Aku tidak mampu menyembunyikan keputusanku sama sekali." bisikku.


"Sialan." Abimanyu mencampakkan botol air mineralnya ke lantai hitam. Dia memutar tubuhnya dan kini berdiri menjulang di depanku. Dia berdiri tegak dan bertolak pinggang. Wajahnya menyiratkan ketidaksenangan.


"Oke." Aku ikut berdiri, menghadapnya yang terlihat menantang sekali untuk di senggol. Tapi sekelebat ide Sisca tadi melompat-lompat di kepala ku. "Kamu bisa menjaga dirimu sendiri, benar. Aku percaya itu, tapi sayangnya kamu sudah terlibat dalam dunia gelap yang bersanding dengan criminal class. Hati-hati saja, Abi."


Aku melepas topiku dan memasangnya kembali di kepala Abimanyu. "Makasih." Aku menyaut tas jinjing ku tanpa mengalihkan tatapanku padanya.


Aku akan tetap menjagamu, lihat saja.


Abimanyu menahan lenganku sewaktu aku menggeser sliding door.


"Ini sudah milikmu, Tant." Abimanyu melepas topinya dan menaruhnya di kepalaku. Wajahnya nampak lelah dan mengantuk.


"Aku hargai itu." Aku mencebikkan bibir sambil berbalik, beberapa orang yang mendengar perdebatan kami nampak setengah puas dan setengah lega Abimanyu sudah punya waktu untuk bicara dengan mereka.


"Tunggu." Aku menoleh tanpa minat, Abimanyu memungut gitar dan tas ranselnya. Dia merangkul ku setelah sekian detik terasa panas dan sebal. Bener-bener sebal, bukan akting doang.


"Makasih udah datang, Tant. Dan sebelum aku nyesel. Aku tau Tante melakukan ini hanya untuk membuatku bahagia." kata Abimanyu.

__ADS_1


Aku menyandarkan kepala ku di dadanya saat kami melewati beberapa orang yang mengucapkan kalimat serapah dan kegagalan total. Aku rasa Abimanyu harus percaya dengan ucapan ku.


__ADS_2