Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Setelah Kita Menikah Bab 20


__ADS_3

Bab 20 - Bendera Putih


.


.


.


"Aku antar sekalian ke bandara gimana? Mau? Kebetulan searah sama lokasi syuting." tawarku setelah kami menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja. Kami saling memahami keterbatasan waktu maka kerja bersamanya di rumah jauh lebih menyenangkan dan bebas. Kami bisa berceloteh tentang hari-hari yang sudah kita lewati atau rencana-rencana ke depan yang pasti bisa di atur lebih baik.


Bella memasukkan kakinya satu persatu ke dalam sepatu kets yang mirip denganku lalu berdiri. Ia menyempatkan diri untuk melihat penampilannya di cermin, merapikan rambut, pakaian dan menyemprotkan lagi parfum ke seluruh tubuhnya lalu batuk-batuk.


Aku memalingkan wajah, nyengir, kebiasaan memang susah diubah. Dasar wanita urat tegang sudah sering aku beri saran pakai parfum sewajarnya. Tapi saking keras kepalanya, dia bagaikan untaian kata-kata mutiara. Terlihat sederhana, tapi luar biasa.


"Boleh juga, jarang-jarang kita bisa keluar bareng. Apalagi pake motor. Kangen waktu kita hujan-hujanan dulu, Abi. Romantis banget, malu-malu lagi. Pengen digituin lagi."


Mataku melebar. Aku mengangkat kedua tanganku. Apa dia lupa, dia masuk angin setelah perkara malam yang mengharu biru bagai perjalanan panjang yang menyayat kalbu.


"Lebih baik sekarang jangan hujan-hujanan tengah malam Bell, kamu superwoman dan superwoman nggak ada yang masuk angin. Malu..." gurauku sambil mengapit lengannya.


"Ah, Abi... Sekali-kali boleh, mau ya aku ingin membangkitkan semangat masa mudaku dulu. Lagian waktu itu kamu juga suka aku peluk, empuk kan?"


"He'eh, empuk." Aku mengangguk walau dalam hati tertawa. Nggak bisa dia menyembunyikan sesuatu yang tidak pantas secara rapi. Om Narendra parah sih nggak bisa lihat cewek yang terbahak di sampingku adalah surga dunia.


"Cuma dulu aku nggak berani pegang, takut kamu keenakan."


Tawanya semakin membahana di seluruh ruangan, ia bahkan sampai membungkuk saking tidak bisa kuasa mengerem tawanya.


"Aduh, aduhhh, sakit..." Bella membungkuk beberapa saat. "Kurang ajar juga kamu, Abi!" Ia menyeka sudut matanya yang berair setelah berdiri.


"Bercanda doang, bukannya aku dulu nolak mentah-mentah keinginanmu untuk menyumbang benih secara legal and ilegal di luar pernikahan? Itu bukti karena aku menghargaimu, Bella."


"Iya, kamu memang tampan dan baik. Itu sebabnya aku cinta banget sama kamu Abi." Bella menguyel-uyel pipiku. "Jalan yuk. Kita bisa ngobrol-ngobrol lagi di mobil."

__ADS_1


"Wait!" Aku menahan pergelangan tangan Bella sebelum dia masuk ke dalam mobil kami. "Kamu nanti di beach club pakai apa?" tanyaku hati-hati.


"One piece or bikini. Aku belum yakin mana yang aku pilih Abi. Mau bantu?"


"SANGAT!" Aku mengangguk kesetanan lalu berlari kecil kembali ke kamar, aku mencari boy short miliknya, boxer dan kaosku seraya membawanya ke bawah.


"Mbak Sutiii..." seruku dengan suara bariton hingga Bella mengernyit. "Mau kamu apain baju-baju ini? Kebutuhan syuting?" Bella mengangkat celana boy short miliknya yang berwarna merah muda.


"Kok bawa-bawa punyaku? Hey, untuk apa ini? Mau kamu endus-endus waktu kangen sama aku?" Bella mengernyit.


Aku menggeleng. Nggak lah gila.


Dari jauh, suara derap kaki membuatku dan Bella menoleh.


"Apa ada mas, ada apa?" tanya Mbak Suti dengan wajah panik. Tangannya bahkan memegang sotil penggorengan yang terselimuti busa sabun cuci piring.


Aku meringis di tengah-tengah suara sumbang Bella yang merengek jangan dong Abi, jangan, nanti aku nggak fashionable.


"Keluarin semua bikini nyonya rumah dari kopernya, Mbak. Sisain kutangnya aja terus ganti ini." Aku menyodorkan setumpuk pakaian Bella untuk party nanti malam.


"Mas Abi yakin? Nggak seksi dong nyonya Bella nanti partynya." ucap Mbak Suti keberatan.


"Emang maksudku gitu Mbak, nggak perlu adu body. Udah kendor juga."


Bella menjerit histeris. "Mana yang kendor, mana?" Dia meraba wajahnya lalu dadanya. "Yang mana Abi?" katanya panik.


"Temen-temenmu yang udah 50+!" kataku jengah.


"Oh, kamu juga menilai kulit mereka? Mata kamu kemana-mana ternyata!" Telingaku dijewer... "Ngaku nggak? Nggak dong!" desak Bella.


Aku terkekeh sambil menyerahkan baju-baju pengganti ke Mbak Suti. "Buruan Mbak, ganti semua isinya!" Mataku berkilat iseng.


Mbak Suti langsung terpogoh-pogoh menyaut beberapa potong baju yang jatuh di lantai lalu membuka bagasi mobil.

__ADS_1


Aku menahan pinggang Bella di tengah rasa panas yang menjalari telingaku lalu mendorongnya sampai ke badan mobil.


Bella terengah-engah meski mulutnya masih ingin menyemprot ku dengan kecurigaannya.


"Aku yakin 50+ sudah ada yang kendor tanpa perlu aku melihatnya, Bell. Udahlah jangan marah gini, jelek. Nanti darah tinggi." kataku mengingatkan.


"Aku agak lelah." keluhnya. "Tapi kenapa kamu jadi ngatur-ngatur pakaianku, nanti malam juga private party, nggak ada gadun apalagi gigolo. Pure party pembubaran geng kemayu."


"Kenapa bubar?" Aku mengernyit.


"Udah sepuh, lagian udah malu kalau party ke club atau pub sekarang!" Bella mengulum senyum malu. "Jadi nggak papa dong bawa bikini, buat adu mekanik sebelum pisah."


"Adu mekanik? Sinting kamu! Nggak." Aku menggeleng keras kepala. "Kamu tetap yang paling seksi dari yang terseksi di geng kemayu!"


Bella mengangkat alis. "Jadi ada yang paling seksi di geng kemayu daripada aku?"


"Adalah, semua perempuan seksi dan cantik dengan apapun yang dimiliki di tubuhnya." kataku realistis.


Bella memperhatikanku dengan ekspresi pasrah. "Itu benar, ya udah kita berangkat. Aku juga baru sadar, Bali surganya penjual bikini." Dia tertawa lega.


"Maafkan aku soal barusan baby."


Aku melongo. Sekuat tenaga menahan berdentam-dentam kekalahan di benakku sampai jakunku bergerak. Nampaknya memang aku harus mengibarkan bendera putih di depan Bella Eliss sekuat apapun aku menunjukkan cintaku meski secara mental aku sudah bersiap kalau-kalau dia memang punya akal di atas normal.


Di mataku, Bella slalu nampak menjadi wanita yang bisa menghadapi apa pun. Sekarang aku bertanya-tanya. Apalah artinya aku tanpanya.


Bella menyentuh pipiku. "Berangkat yuk, eh tapi akhir-akhir ini kamu suka bikin aku sadar, kamu takut kehilanganku dan mulai posesif. Kenapa sih?"


"Kenapa sih!" ulangku dengan jengkel sembari membuka pintu mobil. "Apa kurang jelas kenapa aku takut kehilanganmu?"


"Cie... Manis banget gula-gulaku." Bella menarikku ke dalam pelukannya sebelum dering ponsel mengacaukan bibir kami yang berpapasan.


Aku menarik ponselku dari saku jaket lalu mengernyit. "Ya?"

__ADS_1


Bella menempelkan dirinya di dadaku sambil nguping setelah aku memasang wajah serius dan menggumamkan kata bangsat dengan lirih.


......................


__ADS_2