Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Istirahat adalah perjuangan


__ADS_3

Selamat pagi hari Senin, semangat slalu para pejuang rupiah, adik-adik yang sekolah, dan Abimanyu yang kuliah. Semangat semuanya, katakan pada dunia dan dirimu sendiri bahwa masih banyak yang perlu diperjuangkan dan dibahagiakan.


Semangat, jangan malas-malasan. Cuma aku yang boleh malas-malasan hari ini karena aku masih meriang.


"Teh hangatnya, Nyah."


Aku mengangguk dan menerima secangkir teh hangat yang bibi ulurkan.


"Makasih, bi." Aku tersenyum, mendekatkan bibir cangkir ke mulutku dan menyesapnya perlahan. Cairan hangat itu mengalir dan menghangatkan bagian dalam tubuhku serupa cahaya matahari yang kini juga menghangatkan tubuhku dari luar. Rasanya memang tak secanggih hangatnya pelukan yang sudah-sudah, tapi ini lebih sehat. Lebih bagus, baik untuk kesehatan tubuh ataupun hatiku.


"Bibi nggak ngeteh?"


Wanita paruh baya yang memakai daster batik itu menggeleng seraya mengulur selang air. Bibi Marni menyirami tanaman-tanaman baru yang kami beli beberapa hari yang lalu di kios tanaman hias. Meski tak semahal tanaman hias milik papi dulu, yang penting halaman rumah mama dan papa tidak gerang apalagi meranggas.


"Yang kemarin itu siapa, Nyah? Kok bibi gak kenal dan baru lihat. Temen baru?" tanya bibi Marni setelah berjongkok, ia mencabuti rumput liar yang berada di sela-sela konblok.


"Masih muda banget, seusia anak bibi di kampung dia, Nyah! Lagi seneng-senengnya kelayapan, hura-hura."


Aku mengangguk, kembali menyesap teh sampai habis. Dalam benak, aku tak habis pikir gimana respon bibi Marni jika Abimanyu adalah jaminan dari semua hutang keluarganya. Terutama, jika laki-laki itu justru memilih opsi terakhir, menyumbangkan spermanya padaku lewat program bayi tabung.


Bibi Marni pasti akan mengocehkan seribu macam nasihat dan menganggapku kurang waras. Tapi aku harus hamil, usaha terakhir ku cuma itu dan menunjukkan pada Narendra jika aku tidak mandul. Syukur-syukur kalau ada yang mau menikahiku dan menanggung biaya hidup ku yang hedonis. Alangkah senangnya hatiku kalau itu terjadi, pun kalau tidak ada ya sudah ngincer Abimanyu saja.


"Namanya Abimanyu, bi. Dia yang punya motor hitam keren yang pernah kang bengkel antar ke kesini. Aku kenal dia karena hampir aku tabrak waktu mabuk, waktu habis papi ngasih surat cerai waktu itu."


"Terus karena itu nyonyah temenan sekarang sama Abimanyu?" Bibi Marni menatapku, nyengir. "Jangan-jangan nyonyah naksir, habis di anterin bakso kemarin nyonyah senyum-senyum sendiri. Hayo, masih kecil lho dia Nyah, masih ingusan jangan digodain."


"Aku gak nakal kok bi, gimana mau godain Abi. Yang ada dia udah tergoda sama aku tanpa aku godain. Iya gak?" Aku menutup wajahku sewaktu bibi Marni tergelak.


"Nyonyah mah genit, sudah jangan gitu. Kasian Abimanyu nanti kepikiran terus sama nyonyah."


"Bagus dong Bi kalo dia kepikiran terus. Itu tandanya dia menempatkan namaku di sebagian pikirannya karena gak semua orang bisa menjadi yang terpenting di antara yang istimewa."


Aku berdiri, tubuhku cukup berkeringat. Bibi Marni pun selesai mencabuti rumput. Setelah itu pasti dia akan menyapu seluruh rumah, membuang sampah sambil menunggu pedagang sayur lewat.

__ADS_1


Aku berbalik menemui kesunyian di dalam rumah dan termangu di ruang keluarga sambil menatap bingkai foto mama dan papa.


"Kira-kira mama dan papa setuju gak aku deket-deket sama Abimanyu?"


Pasti enggak, dulu sekelas papi Narendra saja mendapatkan restu susah banget apalagi sekarang. Remaja, belum kerja, kuliah saja baru mulai. Mungkin kalau aku seperti Sisca, pikiran-pikiran akan masa depan Abimanyu tidak aku pikirkan, atau Abimanyu yang punya pikiran-pikiran seperti gigolonya Sisca bisa mempermudah semua ini. Emang dasarnya kita sama-sama orang waras jadi pertimbangan-pertimbangan gila itu kadang muncul kadang pergi cuma biasanya lebih sering muncul dalam hati.


Aku menghela napas, "Boleh ya, ma, pa, Bella deket-deket Abimanyu walaupun Bella tau Bella yang lebih banyak modal nanti. Aku yakin, papa dan mama ikhlas asal Bella bahagia? Iya kan? Bella cuma butuh itu sekarang."


Aku mengerucutkan bibir dengan mata berkaca-kaca. "Semua rasanya berubah drastis, ma, pa." Lalu sisa pagiku yang kalut ku habiskan di kamar mama dan papa. Merebahkan diri, merasakan kenyamanan yang kental aku rindukan.


•••


"Nyonyah, nyonyah. Nyah, bangun."


Guncangan demi guncangan aku rasakan di bahuku. Sekali lagi, yang terakhir lebih cepat dan merambati kesadaranku. Aku menguap lalu menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.


"Aku masih ngantuk bibi, jangan ganggu. Hush... Hush... Mimpiku jadi buruk sayang." keluhku dengan malas. Baru juga merasa tentram, bibi Marni sudah ganggu.


"Ada Abimanyu itu Nyah di luar. Sudah nunggu di ruang tamu setengah jam!"


"Kalian ngobrol?" tanyaku setelah duduk.


"Iya dong Nyah, nanti kalo gak bibi temenin nyonyah ngomel-ngomel mirip waktu dokter Billy kemarin. Salah lagi bibi, makanya bibi ajak ngobrol, bibi kasih makan siang juga malah biar betah!" jelas bibi Marni, meringis dan menengok ke belakang.


"Nyonyah mau keluar tidak?"


"Harusnya tadi bibi kasih masuk aja ke kamar ini daripada cuma nungguin di luar." Aku berdiri, buru-buru merapikan rambut dan bajuku. Meski tampak kucel bangun tidur, aku tetap percaya diri keluar dari kamar mama.


Sejenak aku mengintip Abimanyu dari lubang televisi befet jati klasik kesayangan papa. Dia tampak tekun memandangi laptopnya sambil mengetik tugas kuliah mungkin.


Aku berdehem-dehem sambil menyandarkan tubuh di badan befet.


"Ngapain kamu kesini?" tanyaku ketus.

__ADS_1


Aku bersedekap dan pura-pura memasang wajah tak peduli dengan kehadirannya. "Bukannya kamu kemarin pergi waktu Tante suruh mampir!"


"Aku cuma memenuhi undangan Tante lebih baik sekarang, dan aku bawakan Tante apel!" sahut Abimanyu, dia mengulum senyum sambil membuka tas ranselnya. Satu kresek putih dengan isi yang menyolok mata dia ulurkan. Apel merah dan apel hijau. Dua biji doang.


Aku menahan senyum, ku langkahkan kaki, menghampirinya untuk mengambil dua apel dengan rasa yang berbeda. Manis dan kecut. Hidupku banget, mungkin juga Abimanyu. Seperti resah yang terbagi dalam pertunjukan perhatian buah apel.


"Lain kali gak usah repot-repot, tapi makasih ya." kataku berdiri menjulang di samping Abimanyu yang duduk di karpet, "sebentar." Abimanyu mengangguk lalu menundukkan tatapannya dari mataku.


Aku memutar tubuhku, menuju dapur. Ku cuci apelnya dan mengirisnya menjadi delapan bagian. Aku yakin bisa mencoba mengobati perihku sendiri tanpa Abimanyu, tapi nyatanya secuil perhatian sederhana dari anak kuliahan semester awal mampu membuatku senyum-senyum sendiri. Lumayan juga tingkah remaja itu.


"Ayo dimakan bareng-bareng." Aku menaruh sepiring apel merah dan hijau di dekat laptopnya seraya menghempaskan diri di sofa. Aku memandangi punggungnya, ingin sekali aku menyandarkan kepalaku disana.


"Habis kuliah?"


"Udah tadi." Abimanyu menoleh ketika aku menggigit bibir bawah. "Tante sendiri gimana?" Ia memindahkan sepiring apel itu ke sofa.


"Udah lumayan." Aku tersenyum, "Cewek mu tau enggak kamu datang rumah Tante?"


"Enggak!" Abimanyu menggeleng sambil menyuapkan apel hijau ke mulutnya. Tekstur renyah kulit apel itu berbunyi kres-kres-kres di telinga. "Dia bukan ibuku yang apa-apa harus izin."


"Kamu pasti takut dia mengira kamu selingkuh, iya kan?" tukas ku lalu menjawil hidungnya. Abimanyu memundurkan kepalanya, mengurut hidungnya lalu kembali makan apel. Dia mengunyah dengan air wajah resah.


"Gak berani jawab?"


"Berani saja! Toh definisi selingkuh itu tergantung dari individual. Dia tidak akan menganggap aku selingkuh jika aku cuma mampir kesini bawain Tante bakso dan apel. Aku bahkan tidak melakukan kejahatan seksual, jadi aku gak selingkuh!" ungkap Abimanyu membela diri.


"Oke kamu tidak melakukan kejahatan seksual, Abi. Jadi kamu aman, tidak selingkuh secara fisik, cuma entah di hatimu. Apa kamu sadar itu?" Aku memegang dagunya, Abimanyu menepis tanganku pelan dan kembali menatap laptopnya. Abimanyu menghela napas.


"Aku cuma manusia biasa, Tante. Untuk dia, atau diriku sendiri. Tapi harusnya Tante juga sadar, jangan menganggap ini spesial."


Aku mengacak-acak rambutnya dari belakang. "Kamu gak bisa memaksa aku untuk tidak menganggap kamu spesial, Ian. Bila aku ingin, aku akan melakukannya dan itu sedang terjadi."


"Tant, jangan."

__ADS_1


"Gak ada pertemuan yang hebat tanpa waktu yang tepat, Ian. Lanjutin tugasmu atau mau aku bantuin?" Aku menurunkan tubuhku dari sofa dan terduduk di karpet, disampingnya.


"Istirahat adalah bagian dari perjuangan, Tante. Jadi Tante istirahat aja biar cepet sem–buuuhhh!" ledek Abimanyu sambil menggeser posisi duduknya.


__ADS_2