
Bab 8 - Curhat, Mbak?
.
.
.
Aku sudah tidak memiliki banyak waktu untuk disia-siakan. Paginya setelah mengantar Neo dan Ollie ke sekolah yang sama. Aku mengajak Bella ke kantor Angkasa Management untuk bertemu Tante Regina dan Kevin.
"Hakk..." Bella mengulurkan sepotong melon hijau yang menjadi menu sarapannya sewaktu mobil kami berhenti, mengular di perempatan jalan di depan mulutku.
Aku melebar mulut seperti yang dia lakukan. "Udah," kataku, mengabaikan melonnya yang dia ulurkan lagi.
"Aku deg-degan, aku nggak selera makan sayang. Udah kamu aja yang makan." jelasku, biar dia tidak salah paham sambil menarik wadah bekal transparan dari tangannya.
Bella mangap lalu mengunyah melon yang aku ulurkan ke mulutnya.
"Biasa aja kali." komentarnya sambil menghentakkan dagunya berkali-kali dengan riang mengikuti irama lagu Sheila On Seven yang berjudul Just For My Mom yang menemani perjalanan kami. Satu album dia dengarkan. Dia menyukainya dan setiap kali aku memegang gitar, dia akan meminta satu lagu untuk dinyanyikan.
...“Damped in damn situation, in every condition with no conclusion.”...
...Teredam dalam situasi terkutuk, dalam setiap kondisi tanpa kesimpulan....
Nyanyinya seakan-akan mengungkapkan isi hatinya. Aku tersenyum lalu mengacak-acak rambutnya yang sudah rapi. Aku yakin Bella juga cemas. Tetapi walau pun dia cemas dan gemas. Setiap hari dalam kondisi apa pun dia bisa membuang satu jam di depan meja rias untuk melakukan sikap sempurnanya.
Bella mendengus lalu mengunyah lagi melon yang aku suapkan. Aku menyerahkan wadahnya ketika jalan di depan mobil kami longgar.
"Curhat, Mbak?" godaku.
Bella tak mengatakannya tapi dia membuat bulu kudukku merinding. Bella mengangguk.
Mobil kami melaju dengan lambat lalu berhenti lagi setelah lampu merah kembali menyala. Aku merapikan rambutnya, takut salah, takut nanti yang kami sepakati semalam bubar karena rambutnya tidak rapi.
__ADS_1
"Maaf, baby. Maaf." kataku menyesal meski wajahku cengengesan. "Rambutmu nurut kok sama kamu, kamu jangan khawatir!" imbuhku menghiburnya.
Aku beringsut. Plak. Bahuku ia geplak meskipun aku sudah menempel di pintu mobil, menjauhinya.
Bella menjewer telingaku dengan sedikit tubuh yang mencondong ke arahku.
"Rambutku bukan nurut sama aku, tapi aku atur!" jelasnya galak.
"Sama kayak aku kan, kamu atur." celetukku.
Kami bertatapan setelah tubuh kami dekat, aku menyadari ada kegelisahan dari sorot matanya. Bella pasti ucapanku meninju dadanya.
"Dengar, Bella." ucapku setelah mencium pipinya. "Nggak ada yang salah dari caramu mengatur semua ini. Tapi biarkan aku sekarang yang memutuskan semua yang kita inginkan."
"Iya–iya." Bella mengangguk dengan berat hati setelah wajahnya terlihat mempertimbangkan keinginanku. Bella mahir dalam bersandiwara, entah karena sudah terbiasa menjalani tiga atau empat profesi sekaligus atau memang otaknya encer, dia cocok jadi artis tapi tidak, tidak, tidak, tidak. Aku tidak sanggup melihatnya mendapatkan lawan main pria dewasa yang sanggup memberikan kenyamanan dan hiburan.
Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran gila ini dan tersadar ketika Bella menepuk-nepuk pipiku dengan lembut.
"Kenapa?" tanyanya, menelengkan kepala dan tersenyum bak bintang iklan pasta gigi. Ah, lagi-lagi kesempurnaannya membuatku berpikir susah. Bella sangat cocok menjalani profesi apapun tapi menjadi istriku adalah paling cocok.
Aku mencubit pipinya, tersenyum. "Aku cuma takut kamu keberatan. Selama ini kamu yang sudah mengatur semuanya." ucapku.
Bella menyuruhku fokus ke depan setelah beberapa kendaraan mulai bergerak, mengurai kemacetan. Kami melaju meninggalkan perempatan jalan lalu memasuki jalan satu arah.
"Nggak masalah kalo kamu udah sanggup mengaturnya, aku justru senang bebanku berkurang. Tapi kamu jangan coba-coba ceroboh, semua yang mau kamu lakukan harus bilang ke aku!"
"Iya," aku mengangguk, tetap saja walaupun sudah di serahkan kepadaku pelimpahan wewenang kebijakan dalam rumah tangga. Bella masih bersedia memperingatiku, termasuk ngomel-ngomel. "Tapi kamu janji dulu, kalo kau salah jangan ngomel-ngomel."
"Ya jelas ngomel-ngomel, tuh, tuh, belum apa-apa kamu udah nyebelin! Masak ngomel-ngomel nggak boleh. Sebel ah, aku nggak suka diem." Bella melipat kedua tangannya lalu membuang wajah. Menatap mobil-mobil yang melintasi mobil kami sambil menggerutu.
Aku menghela napas. Baru juga permulaan sudah salah. Gimana besoknya, mana yang aku putuskan kasus berat semua. Tapi kalau dia ngomel-ngomel rasanya setahun. Lama, panas, masih harus ngerayu dan paling parah dia suka tidur di kamar anak-anak, menyuruhku tidur sendiri. Tapi kalau Bella diam saja tambah ribet, ditambah matanya melotot. Memperingatiku, protes, dan ya ampun, deritaku.
***
__ADS_1
Angkasa Management.
Pagi yang sangat cerah dan bebas dari awan mendung. Warna-warni bangunan tiga lantai ini sekarang membuatku deg-degan setelah sekian lama aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi di tempat ini kecuali urusan pekerjaanku.
Seperti biasa, sebelum turun dari mobil. Bella menyemburkan cairan parfum ke tubuhnya. Lalu terbatuk-batuk dan menurunkan kaca mobil.
"Makanya jangan over, udah tua, kasihanilah paru-parumu."
Bella menggeram sambil menarik lenganku untuk mendekatinya. Aku memasang wajah cengengesan ketika dia mengeluarkan napas cepat-cepat yang menghujani wajahku. "Bilang apa tadi Abimanyu? Bisa nggak di revisi?"
Aku menahan tawa sambil mengulum bibirku kuat-kuat. Bella menajamkan matanya sambil menelengkan kepala.
"Kamu tua, kasihanilah paru-parumu. Gitu aku tadi bilangnya!" kataku meledeknya.
"Abimanyuuuuuu..." Bella mendesah frustasi. "Di revisi, bilang aku muda!" desaknya menggebu-gebu.
"Ya nggak bisa Bella Ellis, kamu udah kepala empat kok minta tetap muda." protesku menggodanya dengan pipi berseri-seri. Aku suka menggodanya.
"Paling enggak aku lebih muda dari bibi Marni. Ayo bilang aku masih muda!"
Mau tak mau aku meringis. "Ya udah, cium aku dulu sebelum aku bilang kamu muda belia."
Bella tertawa, tangannya ia letakkan di dadaku. Dia menciumku secepat permintaanku.
"Aku turun duluan, terus ke ruangan Regina. Dan aku nggak peduli kalo teman-temanmu yang cewek-cewek tau aku turun dari mobil kamu!"
Bella menarik sudut bibirnya dengan sinis seolah dia memang sebal mendengar gosip yang beredar jika aku terlibat kedekatan dengan lawan main.
"I'm sexy and i'm proud. Cabe-cabean yang menyukaimu pasti kalah dengan mommy paprika. Nggak pedes dan enak!"
Aku menjulurkan lidah mendengar gerutuannya. Tapi sumpah, Bella menghiburku. Caranya marah dan cemburu kadang seperti aku melihat drama sitkom.
Aku menyaksikannya berjalan dengan anggun dari dalam mobil. Rambut panjangnya yang di blow tergerai di punggung dan berayun seiring langkahnya. Alih-alih merasa bangga memiliki istri yang sempurna, wajahnya yang serius dengan dagu yang terangkat membuatku ingin mengacak-acaknya. Bella pasti langsung ngomel-ngomel dan perangainya sebagai wonder woman langsung musnah.
__ADS_1
Aku meringis, dengan wajah yang berseri-seri ini sangat bisa membuat Bella menjewerku karena meledeknya.
......................