Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Runtuh sekali waktu


__ADS_3

Dalam diriku, sesuatu mendesah lelah ketika tangan ku terus mengelus wajah wanita tua ini untuk melakukan perawatan. Dari treatment facial, maskeran dan suntik botox. Beliau yang terhormat terlihat tenang meski aku tidak suka lagi dengannya—dia juga pastinya—ia malah meminta luluran di bagian kaki dan tangan. Lengkap sudah penderitaan ku sekarang, dadaku rasanya bergemuruh sakit karena dia seakan menjadikan aku budak yang harus tunduk padanya.


Aku berbalik untuk mencuci tangan di wastafel. Aku sendiri di ruanganku karena Nyonya Elma bilang butuh privasi sewaktu kami melewati koridor yang shining bright like diamond itu, walau dalam hati boros listrik Bella, tapi demi kecantikan ruang dan kesan elegan yang manis, koridor yang berkilau itu tetap hidup di siang hari dan mati total di malam hari.


Sambil mendesah lelah. Aku menyiapkan peralatan untuk suntik botox setelah aku sudah menyelesaikan membuat wajah dan kulit tangan dan kakinya halus dan kinclong. Benar merogoh kocek dalam-dalam untuk perawatan mahal memang tidak akan sia-sia bagi Nyonya Elma. Kulitnya yang sudah berusia enam puluh tujuh tahunnya masih terlihat mulus, setidaknya sedikit mengurangi penuaan dini yang terjadi.


"Maaf mama, ini sedikit sakit." Aku hendak memberinya suntikan botox di dahinya, namun tiba-tiba beliau yang terhormat ini membuka matanya.


"Kamu yakin sudah tidak mencintai Narendra lagi, Bella?"


Mulutku tidak sudi menyebut diriku masih mencintai anaknya secara langsung pada wanita yang melahirkan, tapi aku tidak munafik. Kata hati aku masih mencintai papi Narendra—aku sedang berusaha membasuhnya pelan-pelan dengan harapan semoga aku lupa, semoga aku bisa, aku harus melepas rasa itu sebaik-baiknya.


Aku membasahi bibirku sebelum berucap.


"Semestinya aku masih mencintai papi Narendra mama, aku mencintainya sepenuh hati dulu. Tapi sekarang, untuk apa?" Aku mendesah, suntikan di tanganku ini rasanya ingin segera aku masukkan ke kulitnya lalu selesai. Kelar, wanita tua menyebalkan yang memang ingin membuatku marah ini tersenyum mengejek.


"Untuk apa, jelas tidak untuk apa-apa,

__ADS_1


Bella. Rugi juga buang-buang waktu, baguslah kalian cerai. Mama senang akhirnya kalian pisah, padahal sudah lama mama nyuruhnya." katanya seperti mengeluarkan bisa mematikan dari mulutnya.


Peluk aku mama, peluk aku papa. Betapa jahat perempuan ini kepadaku hingga tanpa sadar tanganku mengepal. Ingin sekali aku tampar pipi mulus berjiwa iblis di depanku ini. Dia mendoakan rumah tangga anaknya hancur dan doa itu terkabul. Pantas saja sekuat apapun aku berusaha keras bertahan, doa ibu lebih kuat dari doa aku.


Aku tersenyum meski tampangku sekarang sudah berubah bengis. Wanita ini terlalu angkuh dan semakin angkuh ketika melepas bandana rambut dan mencampakkannya dengan sengaja ke lantai.


Aku menekuk lututku dan meraihnya. Sedikit helaan napas aku hembuskan untuk menjaga emosiku agar tetap terjaga. Aku berdiri, dengan dada sesak aku menekan pedal tempat sampah. Ku buang bandana rambut ini dan mengibaskan tanganku.


"Bersikaplah yang tenang padanya Bella." batinku sambil menatap wajahnya keras.


"Memang sebaiknya begitu mama, yang bekas pasti akan terbuang atau di buang, dan ganti yang baru. Gitu kan pola klasiknya?" Mataku menyipit.


Jemari nyonya Elma yang lentik dan tersemat cincin berlian membetulkan rambutnya dengan hati-hati hingga potongan rambut bob membingkai wajahnya yang terlihat tirus.


"Mama tidak jadi suntik botox?" tanyaku memastikan karena wanita ini turun dari ranjang pasien sambil mengibaskan rambutnya. Ia menyelipkan satu persatu kakinya ke flatshoes dengan hak tahu setinggi lima centimeter.


"Tidak jadi, setelah mama pikir-pikir, rasa-rasanya suntik botox di sini kurang meyakinkan." Nyonya Elma melenggang keluar setelah menjinjing tasnya yang harus di jaga seperti anak sendiri.

__ADS_1


"Buka pintunya, Bella." serunya dengan dingin.


"Tentu saja." Aku melangkah dengan keanggunan masih terjaga meski kakiku rasanya ingin sekali menyleding tekel kakinya. Huh, aku emosi. Ku tarik gagang pintu stainless dengan sabar sampai terbuka lebar.


Aku tersenyum dan memberinya hormat. "Silahkan pulang dengan hati-hati mantan mama mertua, terima kasih telah menyempatkan diri untuk datang ke Ellisa Skin and Aesthetic Clinic. Aku begitu terhormat setelah melayani anda." dustaku dengan lancar seperti mulutku ini sudah ada pelumasnya.


"Mantan mama mertua, ah kamu ini Bella. Ingin sekali aku juga menyebutmu mantan mantu idaman. Tapi sayangnya." Nyonya Elma mencebikkan bibir sambil terus menatap perutku. Ada sesuatu dalam pengamatannya yang seakan sedang berpikir keras.


"Mandul ya?" Aku cekikikan, aku tidak bisa meremehkan tatapannya itu, dan membuatnya sepemikiran adalah tujuanku biar dia pikir aku sadar, "maaf ya mama aku bukan mantu idaman, tapi ini sudah berakhir. Mama bisa mencari mantu idaman baru."


Susah payah aku berusaha untuk tidak mengeluarkan suara serak, tenggorokanku tercekat.


"Tanpa kamu suruh pun aku pasti akan mencarikan jodoh lagi untuk Narendra, Bella. Good bye, tunggu saja undangannya!" Nyonya Elma menarik resleting emas di tas jinjingnya, dengan cepat tanpa aku prediksikan sejumlah rupiah menyerbu wajah dan dadaku.


Aku terkesiap. Pecahan seratus ribu itu melayang di udara lalu jatuh di lantai, berserakan dimana-mana.


"Jauhi Narendra dan jangan pernah berharap bisa rujuk lagi meskipun kamu masih dia nafkahi Bella, kamu ngerti!" bentak Nyonya Elma sambil mendorong sebelah bahuku, "Jika itu terjadi aku sama sekali tidak sudi lagi merestui kalian!" imbuhnya dengan nada sinis. Ia berputar dan hentakkan sepatunya menggema di lorong shining bright like diamond.

__ADS_1


Beberapa orang yang penasaran langsung melongok sebentar. Aku terpaku sambil menghela napas. Rasanya tubuhku kembali lelah karena kehadiran nenek lampir cantik itu. Aku bahkan di beri uang tips dua juta rupiah.


Sumpah, demi semua kecantikan Cleopatra memangnya siapa yang ingin rujuk lagi menjadi bagian dari keluarga Wicaksono Hardian Putro Bakrie itu. Aku juga nggak sudi kali. Justru aku semakin ingin berlari dari bayang masa laluku dengan cepat. Sudah cukup aku hancur dan dipermalukan di wilayah kekuasaan ku sendiri. Dadaku seperti di hantam palu dan paku. Sakit papa.


__ADS_2