
Bab 5 - Peran Pengganti
.
.
.
Aku mengakhiri panggilan lalu memasukkan ponsel ke saku jaket. Segenap benakku sedang mencari kesenangan di waktu libur singkatku. Terlebih kafein yang dibuat oleh Bella tidak membuatku tenang, aku terjaga di kamar tanpa berminat melakukan apapun, terpejam pun aku tidak bisa. Merasa sendiri seperti bukan kelakuanku, aku terbiasa di tengah kesibukan dan keramaian di lokasi syuting. Aku ingin keluar rumah.
Aku menyaksikan langit sangat cerah dari jendela kamar. Di situlah, ide muncul. Motor gede yang sudah aku lap dan aku panasi sudah menunggu di garasi rumah.
"Mbak, minta om Joe buat tetap di mal. Aku mau nyusul anak-anak ke sana."
Mata anak bibi Marni langsung menyiratkan kekhawatiran. Dia merentangkan tangannya. Menjaga gawang pintu agar aku tidak melewatinya.
"Jangan to mas, Neo sama Ollie baru sama bapaknya. Nanti apa kata orang-orang kalo lihat mas dan mas Joe ketemuan?" Mata anak bibi Marni menyuruhku berpikir.
Aku menarik senyumku dengan malas. Skandal satu ini benar-benar rumit. Hamil pertama, tidak ada yang mengendus kecurigaan hubungan kami setelah resmi menikah di Spanyol. Kami menjalani hidup dengan aturan ketat dari Kevin. Hanya di luar negeri kami merasa bebas, itulah satu alasan Bella membesarkan kehamilannya di Jerman setelah perutnya yang membuncit tidak lagi bisa di sembunyiin dengan busananya.
Dua tahun pernikahan kita terasa penuh kesibukan kucing-kucingan dengan wartawan. Hingga kami menyerah bersandiwara secara terang-terangan, Bella menginginkan kehidupan sehari-hari seperti biasa. Dia harus bekerja dan menjadi selebgram dokter kecantikan. Bebas bergerak di semua tempat bersama Neo hingga tercetus ide menjadikan Joe sebagai suami pura-puranya setelah hubungan kami terpaksa di buat kandas dan menjadi dua orang asing.
Kebohongan itu melebar, Joe menjelma menjadi duda beranak satu “Noe” dengan istri yang di setting telah tiada. Bella dan Joe berlagak saling jatuh cinta setelah melewati kebersamaan. Mereka menikah pura-pura di luar negeri untuk menghormatiku, padahal mereka cuma memamerkan foto bersama setelah aku dan Bella menikah di Spanyol.
__ADS_1
Sempat aku merasa kerdil, cemburu. Joe yang dewasa dan rupawan memiliki Bella dengan leluasa di depan umum. Mereka terlihat serasi dan romantis. Bahkan om Narendra sempat mengira mereka benar-benar jadian. Tapi semua itu tidak lagi penting bagiku asal semua masih bisa dalam kendalikan. Aku tetap bersama Bella di kamar dan om Joe tetap menikah dengan perempuan yang bersedia bermain drama bersama kami sampai Bella hamil ke dua. Setelah itu, nama Bella Ellis tenggelam, tidak ada yang mencari keberadaannya, membahas kelakuannya kecuali penulis artikel-artikel yang membahas nama-nama mantan kekasih Abimanyu Julian Rudolf.
Kondisi berangsur-angsur aman, mereka memutuskan bercerai. Pengumuman itu Bella lakukan demi membuatnya terlihat sendiri, begitupun untuk Joe. Dia bisa membuka urusan pribadinya lebih leluasa. Tetapi masalahnya kondisi Bella yang janda dan sendiri membuat om Narendra menjadi pengganggu. Dia seperti taman merambat yang menyusahkan saat menjalari wilayah rumah tangga kami. Om Narendra ini seperti orang yang rindu, menyesal dan terbebani perasaan bersalah tapi gengsi. Dia benar-benar menyebalkan.
Aku tersenyum lemah, om Joe adalah peran pengganti yang luar biasa, sosok pria panutanku, aku belajar banyak darinya sebagai seorang laki-laki dan dia tetap menjadi figur seorang ayah bagi Neo yang hanya memahami Joe adalah ayahnya. Dia slalu rindu pria itu sementara Ollie lebih mengenalku sebagai sosok ayah dengan panggilan om. Maka demi anak kami, Joe tetap menjalani tugasnya sebagai seorang ayah yang mengantar dan menjemput anakku ke sekolah.
"Aku justru mau kedekatanku dengan om Joe dan anak-anak sebagai awal kembalinya aku pada Bella, Mbak. Itung-itung anggap aja aku ini nggak bisa move on dari mantan!" ungkapku jujur. Aku ingin membuka pernikahanku dengan Bella secara perlahan.
"Yakin mas?" Mata anak bibi Marni mengamatiku, tangannya yang mencengkram gawang pintu melemas saat aku mengangguk. Anak bibi Marni yang sudah memiliki satu anak yang ia tinggal di kampung bersama neneknya berlari kecil membuka pintu garasi dan pintu gerbang.
Aku memakai helm, bersiap untuk bertemu anak-anak dengan menunggangi motor gede ini. Mereka pasti senang. Tapi aku tidak yakin mereka akan senang? Aku cuma om yang sering numpang tidur di rumah mereka. Kadang-kadang juga menemani mereka tidur lalu pergi pagi-pagi sekali sebelum mereka terbangun atau malam hari setelah mereka terlelap.
Semua yang nyata, pelik, dan bahagia mewarnai hari-hariku. Mungkin aku tidak bisa menjadi ayah yang sempurna. Namun aku pasti bisa memperbaikinya perlahan-lahan untuk mereka. Berdiri di samping mereka, memberikan senyum terbaik untuk mereka dan mendengar celotehan pagi hingga senja. Suatu saat nanti.
Selang satu jam, dengan menggunakan topi dan masker aku mencari tempat permainan anak-anak di lantai mal paling atas. Hingga dari jauh, Joe yang memerankan sosok seorang ayah tanpa ikatan darah itu menggendong Ollie sambil menyaksikan Neo melempar basket ke ring membuatku menghangat.
Aku mengangguk, tanganku terulur. Meminta Ollie ke dalam dekapanku. Bocah kecil yang sebentar lagi berusia lima tahun ini pindah ke dekapanku. Aku mencium pipinya yang gembul.
"Makasih om." kataku tulus lalu tersenyum hangat. Aku berhutang banyak kepada pria ini. Dia menjalani perannya dengan tulus dan kehilangannya adalah tidak mungkin. Peran Joe berarti bagiku selain dia sebagai ayah bagi Neo, dia mengganti peran papaku yang telah tiada.
"Welcome." Joe mengelus punggungku. "Sibuk? Mana nyonya rumah?" tanyanya sambil melihat ke arah belakangku.
"Biasa, meeting." Neo berbalik, mendekap kakiku dengan mata berbinar-binar. "Om akhirnya datang." urainya dengan senang.
__ADS_1
Aku bersumpah, kedua anak ini akan menganggapku ayah. Bukan Joe, bukan dia. Aku cuma hanya perlu mengurangi jadwal syuting dan berkomunikasi dengan Bella.
"Udah makan siang?" tanyaku sambil mengelus kepala Neo, sementara Joe sedang menukar hasil permainan mereka dengan hadiah di konter toko.
"Udah di sekolah." Ollie mengangguk lalu mengamati masker di wajahku. "Ini apa om?"
"Masker."
"Untuk?"
Aku tersenyum lebar. Anak ini, di lepas maskerku lalu di cium pipiku seperti biasanya. "Ollie ngantuk, tapi Ollie pengen lihat wajah om." Kepalanya bersandar diceruk leherku, rambutnya yang hitam panjang dikepang satu meski sudah berantakan.
Jantungku berdebar-debar, namun Joe bisa meyakinkan aku bahwa keputusanku membuka diri tepat waktu.
Dia tersenyum tajam dan tak pernah gagal membuatku merasa masih kanak-kanak.
Joe memberikan boneka kecil yang kini disekap oleh Ollie dengan pelukannya.
"Ada informasi yang disembunyikan nyonya dariku, Om?" tanyaku setelah keluar dari wahana permainan in door yang penuh dengan suara penuh semangat.
Joe menggandeng Neo, sementara dipunggungnya di menggendong tas Ollie yang berbentuk boneka polar bear. Dia terlihat nyaman dan tak peduli dengan tatapan geli semua orang yang melihatnya. Joe terlihat seperti tipikal hot Daddy sesungguhnya dan istrinya bangga. Dan jujur saja, aku juga ingin Bella bangga padaku atas keberhasilan yang telah aku lakukan atau lebih tepatnya dia menerimanya.
"Aku rasa tidak, tapi memang dia sedang pusing dengan ajakan kawan lamanya untuk menjadi anggota dewan. Kau tau masa lalunya bukan? Dia menjadi incaran sebelum pesta politik di gelar."
__ADS_1
Ya, aku mengangguk. Bella mahir melakukannya. Tapi dia sudah berkata akan menolaknya mati-matian. Sedangkan aku merasa itu harus, aku bisa gila sendiri Bella terbakar sinar ambisi dan kesibukan. Aku bisa gila, dia yang belum kuikat secara gamblang memancarkan wewangian yang memancing para kumbang kesepian menggodanya. Itu tidak bisa aku biarkan, aku tersiksa.
......................