Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Setelah Kita Menikah Bab 23


__ADS_3

Bab 23 - Beautiful Painfull


.


.


.


Perasaan bahagia di dalam hatiku berbaur dengan sensasi kegelisahan yang mendominasi lebih banyak. Hari ini akan ada konferensi pers di rumah kami setelah artikel banyak tersebar.


Aku menggenggam tangan Ollie dan Neo yang sangat-sangat jujur pada awak pewarta semalam, kejujurannya yang ceria dan tidak keberatan dengan apapun yang mereka pertanyakan semakin membuka apa yang kami sembunyikan. Yah, meski kejujuran sekarang terasa lebih berbahaya ketimbang kebohongan aku menyukainya. Putriku telah membantuku dengan caranya sendiri.


"Mommy and Daddy sedang bertarung di atas mimpi-mimpi kami untuk kalian berdua Ollie dan kakak Neo. Jadi hari ini kalian juga mulai sibuk, Ollie dan kakak Neo bisa bantu mom and dad?" tanyaku penuh kehati-hatian.


Mata Ollie berbinar-binar sambil mengangguk. "Mau Daddy, Ollie suka lumah lame." Aku melihat kakinya sudah tak sabar bergerak ke arah wartawati yang melambai-lambai kepadanya.


Aku menyunggingkan senyum sementara Neo menarik sudut bibirnya malas. Aku tahu anak ini akan malas dan marah setelah tahu om Joe yang ikut menjadi garda terdepan di rumah bukan ayah kandungnya. Aku yakin sejujurnya jauh lebih sulit membuat Neo percaya padaku daripada partner bisnis yang mulai mempertanyakan kebenaran.

__ADS_1


"Oke deh, tapi Daddy cuma minta satu hal aja. Daddy minta kalian jadi anak yang baik kepada siapapun."


"Siap Daddy siap. Telus apa sekalang aku bisa main?" sahut Ollie antusias. Kepalanya menoleh ke belakang dan berlonjak-lonjak.


"Go... Tapi jangan sampai keluar rumah! Jangan ikut orang lain, Mbak Suuuuuuttti jagain Ollie." seruku dengan panik.


Mbak Suti terpogoh-pogoh mendekati Ollie, wajahnya yang judes khas wajah ibunya memberikan tatapan senggol bacok kepada siapa saja yang berani menyenggol anak majikannya.


Ollie lepas, dan di genggamanku sekarang hanya ada Neo. Dia menatapku lalu ibunya yang sedang menata diri di depan cermin.


"Aku nggak suka bercanda om! Aku nggak suka rumah rame, aku nggak suka banyak kamera dan aku nggak suka mommy nangis. Aku nggak suka Om terus-terusan bohong! Bibi Suti udah sering bilang kamu ayahku, ayah kandungku walaupun aku nggak tau ayah kandung itu apa. Aku pusing!" ungkapnya menggebu-gebu.


"Mommy yang melahirkan aku!" sentak Neo.


Bella menoleh sambil tersenyum hangat. "Tapi mommy tidak bisa melahirkan kamu kalau nggak ada Daddy." Ia menyentuh pipi Neo. "Ada hal-hal yang tidak bisa kamu ketahui sekarang tapi mommy bersumpah, mommy yang salah. Mommy yang merencanakan semuanya jadi kamu kalau marah, marah sama mommy. Bukan Daddy."


Bella memberikan anggukan kecil kepala Om Joe yang sudah menyakinkan semuanya sudah siap.

__ADS_1


"Kamu masih bisa bertemu papa Joe, mommy dan Daddy nggak melarangnya, tapi kamu harus tahu dan percaya kalau Daddy Ian adalah ayah yang melihatmu pertama kali di rumah sakit dan menggendongmu waktu kamu menangis, mommy masih ingat waktu itu Daddy masih muda dan takut menyentuhmu, tapi mommy masih ingat, Daddy berhasil bikin kamu tenang. Sementara papa Joe yang melindungimu, melindungi kita sekeluarga dan selamanya akan melindungi kita seperti sekarang."


Noe menatapku. "Tapi Neo mau buktinya mommy."


Bukti? Kenapa anakku malah mirip wartawan?


Bella mengangguk, dan menurutku rencana sinting om Narendra yang ingin menjatuhkan kami hanya karena iri. Dia iri karena Bella sanggup memiliki anak setelah bercerai dengannya sementara dia harus menanggung malu atas perkataannya dan perbuatannya sendiri di masa lalu Aku yakin dia malu. Bertahun-tahun lamanya dia juga menelan kecewa atas apa yang terjadi dalam dirinya sendiri. Menurutku pula dia wajar saja melakukan hal ini karena pasalnya aku dan Bella mungkin menyakitinya secara tidak langsung.


Bella mengangguk. "Nanti mommy buatin film dokumenter pribadi tentang keluarga kita. Tapi sekarang, mommy dan Daddy harus kerja. Ya itung-itung begini, Daddy kamu artis dan baru kena masalah. Kalau sudah kena masalah kita harus memperbaikinya."


Neo mengangguk dan bukannya pergi ke kamarnya alih-alih untuk menghindari kamera-kamera yang sudah standby di depan meja panjang dan enam kursi yang berjejeran. Dia menggandeng tangan ibunya.


"Aku ikut mommy dan i hate you, Daddy." Dia mendelik padaku lalu melengos dengan gaya.


"No problem, besok-besok pasti kamu juga i love you Daddy Ian." Aku mengusap kepalanya lalu mengikuti Bella ke tempat konferensi pers. Ada pengacara kami, Tante Regina, dan saksi-saksi yang bisa membuat kami tidak nampak buruk atas perihal rahasia kami.


Para pewarta yang berdiri lima meter dari kami mengajukan satu persatu pertanyaan yang nyaris tidak sedikit pun memberi peluang bagi pengacara kamu untuk menghela napas dengan lancar dan meneguk air putihnya.

__ADS_1


Aku bilang semalam jujur saja dan apapun risikonya kami terima. Kami sudah biasa memainkan risiko delapan tahun ini dan masih belum sirna di ingatkan kami bawah risiko-risiko yang kami tawarkan lumayan extreme. Tapi inilah ujungnya. Sebuah kebenaran yang aku tunggu-tunggu tanpa menunggu dua tahun lagi walau mungkin ada penderitaan yang baru di mulai, ada air mata yang tumpah dan banyak uang yang menghilang. Tentu saja ketidakberdayaan kami hanya harus didiskusikan berulang kali sampai kami merasa semua jauh lebih baik dari hari yang tidak tahu kapan kami benar-benar merasa jauh dari tajamnya kata dan sorot mata menghina.


......................


__ADS_2