Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Sukses besar Tante


__ADS_3

Aku melangkah gontai memasuki klinik. Seusai mempertahankan diri sebisa mungkin di Adorable Gym dengan keadaan lemah, lesu dan terguncang. Aku menggeleparkan diri di sofa ruang tamu yang lengang.


"LIU..." teriak sekencang mungkin sembari menepuk-nepuk badan sofa, "LIU, HELP ME!"


"What's wrong, Bella?" Bunyi heels yang mengentak lantai dengan buru-buru berhenti di depanku. "Kau... Tuhan ku, kamu kenapa?" Alexa Liu menepuk-nepuk pipiku seakan menyadarkan aku dari mimpi paling dahsyat siang ini. Di cium Abimanyu, di tembak dia, di beri tumpangan gratis dan sepanjang perjalanan dia sesekali mengacak-acak rambutku dengan gemas.


"Aku butuh oksigen." Aku meringis, dan ia yang tahu ringisanku berupa sesuatu yang menyenangkan dan menyebalkan menangkup wajahku dengan mata yang disipitkan.


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Aku mau pingsan."


"Kenapa!" bentak Alexa Liu dengan nada mendesak.


"Rahasia." Aku meringis semakin lebar. "Anyway mobil sama tasku dimana?"


"Di rumah Sisca, ambil nanti malam sekalian party." Heels Alexa Liu kembali mengentak-entak lantai, menjauhiku dengan raut wajah kesal kesal. Aku menatapnya dengan lelucon hari ini. Party? Yeah... Sudah lama aku tidak mencium aroma pesta.


***


Angin yang malas berhembus serupa langkahku memasuki tempat pesta. Sisca, nyonya rumah dengan senyum sejuta dollar menyambutku di mini bar villa minimalis eksklusif miliknya. Tempat party di pinggiran kota, jauh dari hingar-bingar yang sering kami lewati di pub atau kelab.


Aku mencondongkan tubuh, mencium satu persatu geng kemayu yang masih menyunggingkan senyum geli ketika melihatku.


"Gimana tadi, sukses?" Sisca mengeluarkan rokok konvensionalnya. Seperti biasa ibu tiga anak ini kerap kali ambyar dalam sekali waktu dan tegar di waktu yang lain.


Satu tarikan napas panjang aku embuskan. Aku tidak akan cerita tentang tadi siang secara gamblang. Aku cuma mau menggarisbawahi pentingnya rahasia hubungan kami. Biar kita juga terseret oleh rasa tanpa imbuh-imbuh geng kemayu.


"Sukses apanya?" Aku menaruh tas kecilku seraya menuangkan bir putih ke dalam gelas. "Tapi kalian rese banget sih, sumpah!" protesku dan meneguk bir putih sekali tegukan.


"Dua taun gak ketemu langsung di kurung berduaan, kalian mikir gak sih Abimanyu bisa ngira aku ini rindu berat sekaligus jablay. Sinting tau."


Aku menarik kursi tinggi, mengunyah anggur merah yang tersedia sebelum tangan Sisca yang mengapit rokoknya bersandar di bahuku.


"Dua taun gak ngumpul, ada yang elo lupa dari kita Bella. Kita emang sinting dan kita bangga. Gimana tadi, cerita deh? Elo bintangnya malam ini." Sisca menyemburkan asap rokok ke wajahku.


Abi, Sisca nakal nih.


Aku mengibaskan tangan seraya mendorongnya menjauh. "Gak ada yang perlu aku ceritain, aku hanya perlu diet dan perawatan lagi untuk sementara waktu. Setelah itu yes well, aku bisa memulai mencari sandaran hati?"


Aku mengendikkan bahu seraya menuangkan bir putih lagi.

__ADS_1


"Dua tahun jalan sendiri ternyata aku cukup nyaman dengan status ini tanpa sedikitpun mencari pelampiasan."


"Gak yakin gue." sahut Sisca, "Di closed elo gak ada gitu mainan baru?" Sisca menggerakkan jadi perdamaiannya naik turun. Senyumnya terlihat nakal.


"Mainan baru, Bella. Masa iya gak ada sih, terus nggak pengen?" Semua mata geng kemayu menyipit dengan genit.


Aku mendengus. "Kalo ada udah di buang sama bibi Marni kali gengs, mau di taruh di mana mukaku ini, lagian aku suka yang asli, tegak dan menantang."


Bertepatan dengan seruanku yang lantang di tengah ruangan, Abimanyu nongol di ambang pintu bersama dua temannya.


Napasku tercekat, mukaku jadi pasi. Lututku kembali goyah. Apa dia dengar semuanya, apa dia paham? No... No... Babe, jangan sampai.


"Tante pikir kamu gak mau Abi, udah kelar kerjanya?" Sisca menarik lengan Abimanyu mendekat ke meja bar. Dengan sifat keibu-ibuannya, dia menuangkan bir putih seraya menatapku usil.


"Jadi tadi siang kalian nge-gym doang?" Sisca mengulurkan satu persatu gelas ke teman Abimanyu. "Siapa namanya?"


"Aldo."


"Dennis."


Ucap dua bocah seusia Abimanyu bergantian, "Sorry, kita ngikut Ian tadi."


"Jadi ini party-nya?" tanya Aldo.


"Yes." Sisca tersenyum geli, otak liarnya pasti sudah berkerja keras menangkap maksud bocah itu. Mungkin dia kira party yang penuh suara musik powerfull dan perempuan seksi berjoget.


"Nikmati aja, bebas. Tapi jangan salah, bebas bukan berarti melanggar hukum sayang. Cukup bersenang-senang aja."


Sisca mengerlingkan matanya.


"Back to the star to night."


Aku langsung mengambil piring kecil sewaktu Sisca mengamatiku, menaruh beberapa potongan buah. Kesel memang, ada banyak kue di sini. Tapi aku diet dan sejak tadi Abimanyu tetap mengawasiku dengan senyum menawannya.


Bisa nggak sih biasa aja. Ancur, jantungku kembali mengalami penurunan dan peningkatan secara drastis.


"Abi, tadi gimana di gym? Sukses?" tanya Sisca.


Abimanyu menegakkan tubuhnya seraya mengangguk.


"Sukses besar Tante!"

__ADS_1


Aku terbatuk dengan mata mendelik.


"Di kunyah dong, Bella. Jangan asal telan aja, melon itu keras." ledek Sisca dan semua geng kemayu meringis lebar.


"Apaan sih." gumamku, menghindar dari tatapan Abimanyu.


"Kita gak punya rahasia darling, so stop your pretending!" Sisca menusuk hidungku dengan ibu jarinya. "Abimanyu udah kayak anak gue, jadi sebelum dia melakukan sesuatu dia share sama gue. Harusnya otak bisnis elo cerdik Bella."


"JOE!" teriakku, "Ya, nyonya." Pria berusia empat puluh tahun itu berdiri lima meter dariku.


"Urus mantan majikanmu ini. Dia pasti kesepian sampai ngurus urusan pribadi orang!" cerocos ku dan mendadak bodoh karena tidak memikirkan kemungkinan itu. Dua tahun aku hanya meminta informasi Abimanyu yang penting-penting saja, urusan apa yang dia bicarakan dan rencanakan mana pernah. Sampai di detik ini aku yakin laki-laki yang memandangku sambil meneguk bir putihnya serius.


Joe menggelengkan kepala. "Nyonya Sisca sudah ada yang mengurusnya. Baskoro."


"Fine." Aku mengerucutkan bibir. Abimanyu menarik maju kursi tinggi di dekatku dan mendudukinya.


"Aku sengaja ngajak mereka biar malam ini jatahku ketemu Tante nggak jadi bahan ledekan." bisik Abimanyu.


Aku menarik sudut bibirku, dengan datar aku menatap Abimanyu. "Berani main rahasia-rahasiaan sama aku, tamat kamu Abimanyu."


Dia mengusap punggungku. "Iya, besok enggak."


"Udah kali bestie, nggak perlu mikirin gengsi. Enakin aja, slay." Regina menjentikkan jarinya. "Ikut gue."


Langkahnya yang slalu tegap, mantan pramugari yang kecantol pesona pengusaha Kalimantan ini membuka sebuah ruangan. Ia menjatuhkan diri di tepi tempat tidur seraya menyilangkan kakinya.


"Management Abimanyu berada di bawah pengawasan rumah produksi milik gue, cuma karena dia masih terhitung artis pendatang baru dengan segala multitalenta yang bikin dia punya bayaran gede, managementnya minta Abimanyu harus hati-hati dan sendiri biar bisa dipake untuk keperluan bisnis dan mendongkrang pemasaran."


Aku mengangguk. "Lanjut!"


"Kamu bisa berkompromi, Bella?" tanya Regina.


"Oh My God, Gina!" bentakku kesal, "aku mau hidup tenang tanpa gosip, jadi kalo kamu minta hubunganku sama Abimanyu di pusp up untuk mendongkrak popularitasnya, i say no. Aku justru mau hubungan kita lebih realistis dan sederhana tanpa campur tangan media. Aku serius dengan hal itu!"


Regina tak kuasa mencegah tawanya.


"Beberapa gosip bisa menguntungkan, bisa menjatuhkan. Kalian tinggal pilih yang mana. Cuma untuk sekarang, aku setuju dengan pilihanmu." Regina menepuk bahu ku.


"Keluar temui pacarmu yang muda dan semangat!"


Aku terpesona mendengar kata semangat. Abimanyu memang lagi semangat-semangatnya walaupun semangatnya bikin aku kikuk.

__ADS_1


__ADS_2