
"Kenapa, Tant?"
Oh, aku tersenyum lebar setelah sentakan rasa kaget itu mengalun di tubuhku. "Gak apa-apa, Abi." Aku mengulurkan ponselnya seraya beringsut mundur dari tepi tempat tidur.
"Tunggu." Abimanyu mengamatiku lekat-lekat seraya berusaha untuk menyejajariku. "Kenapa?" tanyanya lagi penasaran, "kok ngelamun?"
Aku mengembuskan napas panjang lalu mengikat rambutku dengan perasaan ayolah geng kemayu, bukannya aku bertabur bintang setelah pernikahan mereka berlangsung, sekarang aku malah bertabur resah. Narendra pasti akan mencari siapa laki-laki muda yang membangkitkan kenangannya bersama ku.
Aku berdehem-dehem lalu menatap Abimanyu yang tetap saja menunggu jawabannya dengan sabar.
Aku tersenyum kikuk. "Kamu bisa berantem?"
"Berantem?" Abimanyu mengernyit, "Bisa, tapi untuk apa Tante tanya itu?"
Aku mencengkram kedua lengannya dengan baik, sekilas Abimanyu tertegun sambil melangkah mundur. "Kenapa? Tante mau ngajak aku berantem?" tanyanya dengan nada heran.
"No, babe." Aku menggeleng cepat. "Itu sangat baik untuk hidupmu sekarang, percayalah!"
"Tapi kenapa?" Abimanyu menundukkan kepala.
Aku melepas cengkramanku lalu berjalan membuka pintu. Membiarkan kepalanya berisi kenapa-kenapa yang slalu saja membuatku ingin sekali menjelaskan bahwa Abimanyu sudah terlibat dalam dunia ku, bisnis, asmara, balas dendam dan semuanya yang tidak dapat hanya diselesaikan dengan kata maaf.
"Mandi terus sarapan, habis itu jalan-jalan lagi. Oke, Abi."
"GAK!" sergahnya berang, "Tante gak bilang kenapa aku harus bisa berantem." Abimanyu berbalik seraya menjatuhkan diri di tempat tidur dengan posisi tengkurap.
Aku memaki pelan. Alih-alih nurut dengan orang dewasa, remaja ini memang slalu bikin aku ingin menantangnya dengan berani.
"Nanti Tante cerita, sekarang mandi sana." bujukku sambil mendekatinya. Aku duduk di tepi ranjang, momong remaja labil dan realistis susah kali ya.
Ku pijat betisnya sampai membuat Abimanyu menolehkan kepala dengan bibir cemberut.
__ADS_1
"Enak?"
"Gak!"
"Fine."
Aku terus memijat betisnya seperti yang aku lakukan dulu jika Narendra lelah dan Abimanyu hanya diam. Entah Abimanyu menikmati atau dia memang lelah dan butuh pijatan gratis aku tidak mengerti, setidaknya dia tidak menolak perhatian sepele ini.
Aku berdiri. "Kamu dalam bahaya, cuma itu yang bisa aku katakan Abi."
"Bahaya kenapa?" tanyanya sambil membalik tubuhnya lalu menarik bantal. Ia terus menatapku seolah-olah ada lem yang merekatkan tatapan kami berdua.
Jantungku berdetak begitu kencang, aku takut ketika Abimanyu tahu berurusan dengan geng kemayu, Narendra dan aku. Ia marah lalu memilih kabur atau tenggelam dari jangkauanku. Tapi sayangnya dia tidak bisa, sekali sudah menjadi bagian dari kekacauan ini, tidak ada tempat untuk bersembunyi.
"Bilang aja, Tante. Aku maksa." bujuknya tenang, seakan-akan dia tidak masalah dengan persoalan yang tidak main-main ini.
Mau tidak mau, demi bisa mandi yang bisa aku lakukan selama nyaris satu jam. Aku duduk di sofa seraya menyilangkan kakiku.
Abimanyu tersenyum manis sambil menjatuhkan kepalanya di bantal.
"Belum jauh-jauh banget kok, Tante. Masih berupa penjajakan personal."
"Bukan itu, babe. Sesuatu yang lain, yang lebih universal dan luas." sergahku gemas, bisa-bisanya Abimanyu bilang lagi penjajakan personal. Emang dia lagi pdkt sama aku, kalau iya. Bahaya juga ini remaja.
Abimanyu meringis. "Cuma sebatas identitas publik yang bisa semua orang ketahui Tante. Kenapa, ada hubungannya dengan bahaya yang mengancam ku?"
Dia mendekat. "Katakan yang sebenarnya, Tante."
Aku ragu-ragu sejenak sebelum semuanya penjelasan ku tumpah. Memporak-porandakan kecentilanku dengan kekhawatiran berlebih.
Abimanyu tertegun lalu dia tersenyum sembari mengangguk.
__ADS_1
"Aku percaya Tante jagain aku!"
"Bagus, tapi itu saja gak cukup. Kamu harus lebih hati-hati dan waspada. Nanti aku kenalin kamu sama
"Terus gimana dengan Tante? Apa cuma aku sementara Tante enggak?" sahut Abimanyu ketika aku memegang perutku yang keroncongan.
"Aku memang butuh bodyguard, dan itu lagi aku pikirkan Abi." pungkasku sambil berdiri. "Udah ngobrolnya, sekarang mending kita sarapan dulu baru mandi. Aku lapar." imbuh ku karena aku harus mengalihkan pembicaraan atau aku akan tergoda untuk menjelaskan lebih banyak perihal rahasia dibalik kehidupan hebat Narendra. Ajudan dan antek-anteknya yang bahaya.
Abimanyu berdiri, ia menatapku langsung seakan-akan belum cukup dia melihat ku selama pertemuan-pertemuan kemarin dengan baik. Matanya menyiratkan banyak hal yang tidak aku mengerti apa maksudnya. Ada kecewa, ada geli dan ada sesuatu yang menarik perhatian ku untuk melihatnya lebih jauh namun hal itu seketika buyar ketika ia meremas tangan ku.
"Aku juga laper, Tant." ucapnya cengengesan. "Ayo kita sarapan."
Aku mendesah lelah dan mengangguk, mataku coba-coba melihat apakah dia akan melepas tanganku apa tidak selama kami keluar dari bungalow.
Abimanyu tetap menggandengnya dengan luwes seakan-akan kami memang teman dekat.
Di bawah pohon ketapang dan nyiur melambai di tepi pantai. Abimanyu tersenyum sambil melepas tangannya.
Aku langsung kehilangan rasa hangat di telapak tanganku.
"Itu yang Tante khawatirkan sampai melamun tadi?" tanyanya sambil menduduki kursi kayu. Sementara itu jika biasanya jam segini aku sudah mandi, cantik, dan wangi. Di depan Abimanyu aku masih memakai baju tidur dan ia merasa tidak keberatan dengan penampilan ku sekarang.
Aku mengangguk. "Aku khawatir kamu kenapa-kenapa karena itu bukan salahmu, Abi. Kamu hanya terlibat. Maaf."
Abimanyu memalingkan pandangan dariku ketika sorakan dari wanita-wanita yang memakai bikini one piece memanggil kami berdua sembari berlari kecil.
"Kenapa mereka tau kita disini?"
"Aku yang ngasih tau, Tante."
***
__ADS_1