
Aku mengembuskan napas panjang lalu menarik napas dalam-dalam. Ku lakukan berulang kali setelah wanita-wanita berbikini ini menubruk tubuhku dan Abimanyu bergantian.
Mereka terkekeh bahagia namun sedikit hatiku tercubit karena Abimanyu sudah ternodai wanita-wanita ini dengan pelukan yang usil dan sok-sokan di buat mesra.
Mereka tersenyum lebar sambil berkata cie... cie... Setelah melihatku dan Abimanyu berdiri berdampingan, kucel dan resah.
"Udah ngapain aja kalian? Bell." Sisca menyenggol lenganku dengan raut wajah jenakanya. "Cerita dong, Abi gimana? A little rabbit yang suka gigit-gigit atau newbie kikuk yang perlu diajarin?"
Sisca cekikikan seraya menyenggol-nyenggol lenganku.
Mukaku merah, aku malu, aku benci Sisca membahas sesuatu yang intim di hadapan Abimanyu. Dia pasti jadi mikir kalau aku benar-benar tante jablay dan tidak serius mencintai Narendra waktu dulu.
Aku menatap Abimanyu sekilas yang tetap tersenyum lebar dan menawan. Dia pasti happy ya bisa lihat wanita-wanita seksi dengan leluasa.
Aku mengembuskan napas kasar.
"Kita gak ngapa-ngapin!" jawabku biasa-biasa saja. "Dan gak akan pernah ngapa-ngapin, inget tuh!" desisku berang.
Sisca cekakakan sambil menurunkan topi pantainya yang lebar dan berpita hitam ke meja kayu. Dia mengurai rambutnya yang panjang bergelombang dan berwarna pirang seraya menoel hidung Abimanyu.
"Hebat!" kata Sisca, "Pertahankan itu sayang dan kamu bisa bertahan di dunia hiburan dengan pintar."
Abimanyu meringis dan tak menjawab apa-apa. Ia kembali duduk lalu mengambil rokok elektriknya.
Aku mengepalkan tangan dengan kesal, bisa-bisanya dia tidak keberatan dengan geng kemayu di depannya. Bisa-bisanya Abimanyu tahan. Oh my God, jangan sampai dia nyaman kumpul dengan geng kemayu, jangan sampai dong. Please, dia nanti bisa membayangkan yang lain daripada membayangkan aku.
"Lagian ngapain kalian semua kesini? Gak punya kerjaan?" sahutku di antara kekehan geli geng kemayu yang sepertinya tahu aku sebal.
Mana Alexa Liu yang seharusnya menjaga klinik ikut-ikutan kesini. Niat kerja nggak dia?
Alexa Liu meringis lebar hingga membuat matanya hilang.
"Kita kesini karena kita sahabat kamu, Bella. Kita sayang sama kamu dan ingin tahu keadaan kamu gimana. Ternyata kamu sudah ada teman main ya." goda Alexa Liu, dengan anggukan dia menerima orange jus dari Bli Dean. Pelayan lainnya juga menaruh sarapan pagi ala western di meja.
Aku mengigit sandwich kuat-kuat lalu menghujam mata Abimanyu dengan mataku yang melotot.
__ADS_1
"Kamu sekongkol pasti!" tukasku galak.
"Cuma chat doang Tante, gak sekongkol." Abimanyu tersenyum.
"Chat? Wait for minute!" Aku meletakkan sandwich yang belum aku habiskan seraya beranjak. Aku menatap semua orang lalu berbalik.
"Bell, calm down. Kita gak godain milik elo." teriak Sisca.
Aku mengibaskan rambut dan tak peduli. Aku harus cek sendiri chat apa yang di lakukan Abimanyu dan geng kemayu, kenapa dia tidak masuk saja ke grup chat geng kemayu biar aku tahu.
Aku mendorong pintu dan menyambar ponsel Abimanyu di atas kasur. Beruntunglah, tidak ada kode ponsel yang harus aku pusingkan.
Aku menimbang-nimbang apa harus sampai sejauh ini? Ini berlebihan, aku kembali melempar ponsel Abimanyu ke tempat tidur.
Aku mendesah sambil mengangkat kepala. Mengira-ngira reaksi Abimanyu jika dia tahu aku membuka privasinya.
"Ini berlebihan, ini berlebihan." gumamku frustasi seraya dilanda panik ketika derap langkah kaki terdengar memasuki bungalow.
"Mampus, mampus. Itu pasti Abimanyu." Aku bergegas dan aww... Gagal, Abimanyu lebih dulu sampai ke kamarnya setelah membuka kamarku dengan cepat. Ia ngos-ngosan sambil memeriksaku dari atas ke bawah.
"Kenapa di kamarku?" tanyanya, langkah mendekat. Napasku tercekat.
Aku menyunggingkan senyum dengan ragu-ragu, aku tidak bisa memutuskan apakah aku harus tetap disini dan menjawab atau pergi? Aku tertekan dengan rasa penasarannya yang slalu berlebih.
"Jawab honey." Abimanyu menyentuh daguku, sialan. Bocah ini punya keberanian darimana sih.
"Jangan panggil aku honey karena aku bukan madu, dan aku bukan selingkuhanmu!" kataku galak sembari mendorong kedua bahunya, tapi kuda-kudaan yang kuat tetap tidak bisa menjauhkan tubuhnya dari tubuhku yang sudah menempel di tembok. Terkukung seperti seekor kelinci yang tersudut oleh pemangsa.
"Aku bakal jawab, tapi mundur dulu karena napas kita beradu dan itu gak bagus, oke Abi?" gurauku cengengesan.
Abimanyu menilaiku, napasnya diembuskan dan menerpa keningku.
"Kenapa Tante ke kamarku? Apa yang Tante cari di sini? Oh, aku ingat. Chat. Tante habis cek hpku?" tukasnya seraya tersenyum miring. Manis. Dadaku bergetar.
Jeda sejenak.
__ADS_1
Hening.
Abimanyu dan aku tetap dalam posisi seperti cowok yang ingin mencium ceweknya tapi ceweknya pikir-pikir.
"Mau jawab, atau... Sebenarnya Tante emang suka dekat-dekat aku."
Ia menarik diri dan aku menatapnya dengan muka tak percaya. Tenggorokan ku bahkan sampai perih ketika aku ingin menyahut semua ucapannya, tapi sekarang aku tertekan, aku baru di tahap terintimidasi bocah ini atas kecerobohan ku sendiri.
"Jawab kok, cuma jangan gitu. Bikin deg-degan!" kataku sambil menyentuh dada. Abimanyu merentangkan kakinya sambil berkacak pinggang seakan-akan dia menahan ku agar tidak kabur.
"Sekarang aku mau denger kenapa Tante di kamarku?" ulangnya lagi lebih serius dan geli.
Aku menggaruk pahaku sambil memikirkan alasan apa yang logis.
"Jawab jujur!" desak Abimanyu. Tak tahan, aku memegang pinggangnya.
"Maaf. Tapi sumpah aku gak buka hp kamu Abi. Aku cuma pegang aja tadi."
"Yakin cuma pegang aja?" Abimanyu menyipitkan matanya.
"Iya, yakin. Cuma pegang aja!" kataku takut-takut tapi serius. "Beneran aku cuma pegang aja tadi, gak buka, dan gak lihat apa-apa. Sorry." kataku menyesal. "Aku khilaf.
"Khilaf kenapa?" sahutnya gemas.
"Khilaf kenapa?" ulangku jengkel, "Ayolah Abi jangan diteruskan lagi." rengekku, "lebih baik kita mandi atau kamu mau sarapan dulu, silahkan... Banyak cewek seksi di luar, itu lebih menyegarkan daripada kamu terus penasaran di sini."
Abimanyu mengumpat lirih dan menangkup wajahku dengan tangan dinginnya.
"Tante cemburu aku chatting dengan geng kemayu?"
"Gak lah, ngapain cemburu!" sergahku cepat. "Aku gak ada alasan untuk cemburu atau curiga, aku cuma—"
"Posesif?" sambung Abimanyu.
"Kadang-kadang." Aku mengangguk, "sampai aku mengabaikan kenyataan yang menyakitikan demi mempercayai sesuatu yang sengaja aku karang sendiri untuk membuat semuanya baik-baik saja."
__ADS_1
Abimanyu tersenyum sambil menepuk-nepuk pipiku dengan gemas. "Aku suka Tante posesif, tapi posesif aja tidak cukup. Tante harus percaya sama aku."
Aku kehilangan kata-kata bahkan ketika ia mendorongku keluar kamarnya dengan hati-hati aku masih belum yakin apa dia serius mengatakan itu. Dia suka aku posesif padanya? Abimanyu benar-benar ingin membuatku tergila-gila padanya, sumpah, sial.