Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Kangen


__ADS_3

"Hai." Abimanyu tersenyum malu-malu di depan geng kemayu sembari berkacak pinggang. "Maaf lama tante, kerjaan baru selesai." ungkapnya dengan malu juga.


Sisca menghampiri dengan gaya sensual yang di buat-buat. Abimanyu tambah tersenyum malu-malu dan geli. Sisca merangkul bahunya.


"Membuang waktu untuk fitness dan nungguin kamu itu sudah berarti buat kami, darling. Tidak sia-sia." Sisca membasahi bibirnya. Tangannya membelai bahu Abimanyu sebelum menatap intens dengan mata genitnya. "Nanti malam sibuk?"


"Ada collab sama temen syuting." Abimanyu mengendik, "Gimana, Tant? Penting?"


"Jelas. Party di rumah Tante kalo kamu gak capek." Sisca menepuk-nepuk bahunya. "Ada anggota geng kemayu yang baru datang dari dunia lain dan harus kita rayakan!"


Sisca menunjukku dengan lidahnya di dalam pipi. "Urus dia darling, kita cabut duluan." Pipi Abimanyu tersentuh bibir Sisca dengan luwes.


Aku memalingkan wajah sambil cemberut. Udah gak perjaka lagi pipinya, pasti bibirnya juga begitu. Pasti. Akting membuatnya dengan leluasa menyentuh, memberi dan menerima ciuman dengan alasan tuntutan peran dari lawan main.Aku mendadak merinding membayangkan itu terjadi di depan mataku. Abimanyu milik rame-rame, bukan cuma milikku sendiri. Lagian kenapa aku masih menganggapnya milikku?


Oh Tuhan, aku tergeragap. Suara benda jatuh. Mataku terbuka dan langsung menangkap keganjilan di tempat ini. Sepi.


Aku gelegapan mencari geng kemayu ke seluruh ruangan.


"Lah pada kemana?" Aku berbalik seraya berlari kecil ke pintu keluar. Belum juga langkahku berhenti, Abimanyu tiba-tiba nongol di belokan ruangan. Kami terjatuh. Abimanyu mengerang kesakitan diatas lantai.


Mataku melebar, ada hasrat untuk tetap berada di atas tubuhnya. Tapi mukanya yang benar-benar ‘keberatan’, membuatku bangkit dengan kepayahan meski Abimanyu tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan. Cuma berat dan itu kasian.


"Oh My God. Sorry." Aku mengulurkan tangan tanpa melihatnya, Abimanyu menggenggam tanganku hingga sekuat tenaga aku menariknya.


Abimanyu berdiri. "Luar biasa." ungkapnya dengan riang. "Sebaiknya Tante ikut senam aerobik daripada gym. Itu lebih cepat membakar lemak."


"Masukan di terima." Nada membela diri nampaknya tidak memuaskan Abimanyu. "Yang berarti aku tidak perlu ke sini lagi."


"Kenapa?" protes Abimanyu. "Ada kok jadwal senam aerobik, Tante mau? Butuh privasi? Bisa aku urus." ucapnya dengan antusias.


"Tenang." Aku menunduk, menatap tangan yang tetap tergenggam erat di tangan Abimanyu. Alih-alih hasrat itu menghilang, hal itu malah semakin sinting di benakku. Jantungku berdebar-debar. Kondisi ini menakutkan ketimbang film horor. Kita benar-benar cuma berdua di sini. Pintu terkunci, jadi satu-satunya cara aku bisa kabur dari sini. Berbaik hati dengan Abimanyu.


Aku tersenyum manis. "Aku mungkin bisa ikutan senam aerobik. Kamu urus jadwalnya bisa, Abi?"


"Dengan senang hati." Abimanyu mencium punggung tanganku. Lemas, lututku gemetar. Aku kesulitan bernapas. Berkali-kali aku menunduk dan menatap Abimanyu dengan muka pias.


"Tapi apa aku boleh minta satu permintaan?" Aku menggoyangkan tanganku. "Gak usah gandengan lah, aku gak bakal ilang kok. Serius."


"Gak ilang tapi sembunyi!" Abimanyu melepas tangannya, "Mau sejauh mana Tante menghindar?"

__ADS_1


"Menghindari apa?" bantahku kesal, "Aku itu pergi untuk hiling, piknik dan buang-buang uang bukan menghindari sesuatu!"


"Masa?" Abimanyu tersenyum miring.


Aku beringsut-ingsut mendekati pintu masuk sewaktu ia mendekatiku dengan muka geli.


"Please... please... Joe or everyone help me."


Aku memukul-mukul pintu kaca sembari menatap lorong yang mengarah keluar dari Adorable Gym. Sepi amat, segelintir orang hanya berlalu lalang tanpa peduli ada aku di sini yang terancam bahaya.


"Tante, menghindariku." Napas hangat Abimanyu menubruk leher belakangku. Lagi-lagi aku menjadi patung. "Sepuluh hari aku bolak-balik ke rumah Tante tapi Joe sedikitpun tidak mau memberi tahu Tante dimana!"


"Emang kenapa?" Aku berbalik, hidungku mengempis. Abimanyu terlalu dekat. Cerminan rasa malu langsung bergelora.


"Apa begini sekarang cara Tante menghadapi sesuatu?" tanya Abimanyu. "Dimana Bella Ellis yang super percaya diri?"


Wajahku memanas. "Sekarang sama dua tahun kemarin udah beda, Abi. Udah beda!" jawabku sembari mendorong dadanya dengan jari telunjuk. "Apa kamu belum ngerti sampai detik ini kenapa aku menghindarimu?"


"Yang aku ngerti kalo Tante sekarang gak bisa napas!" Abimanyu memalingkan wajah sembari meringis. "Bercanda."


Abimanyu membuka lemari es showcase seraya mengambil dua air mineral.


Jantungku makin deg-degan parah. Itu juga adalah pertanyaan yang ingin aku ajukan pada Abimanyu.


"Boleh." Aku mengangguk, Abimanyu tersenyum. Terlihat begitu menawan. Namun aku harus pura-pura tidak tertarik dan harus mengumpulkan keberanian untuk menentang mata Abimanyu.


"Aku dulu atau kamu dulu?" tanyaku.


"Ooooh, Tante juga mau tau sesuatu dariku?" Abimanyu menyeringai. Aku benar-benar melongos, keterusterangan itu benar-benar tak terduga.


"Ladies first." Abimanyu mempersilahkan seraya duduk di kursi besi.


Aku mengetuk-ngetuk ujung sepatuku di lantai. "Kamu dulu aja, yang tua ngalah." kataku lemah.


Abimanyu tertawa, ia terlihat percaya diri jauh daripada dulu yang aku rasakan.


"Janda dan terlihat polos."


"Berisik. Katanya serius, aku sibuk Abi!" sahutku kesal.

__ADS_1


"Aku juga, Tante. Aku sibuk, aku artis sekarang!" urainya dengan sengaja. Ringisan bibirnya melebar ketika aku memutar bola mata.


"Bisa sombong ya sekarang. Bagus!" cibirku sinis, tapi sumpah aku senang dia bisa berbangga diri sekarang. Itu satu poin penting untuk menjadi suamiku, percaya diri.


"Bercanda doang." Abimanyu menatapku sembari tersenyum geli. "Tante, mau makan gak?"


"GAK!" Aku melotot dan hampir melemparinya dengan barbel satu kilogram. "Back to the topic, please."


"Oke." Abimanyu menghela napas. "Aku udah tau kenapa Tante ninggalin aku waktu itu meski sebenarnya aku yang seharusnya ninggalin Tante."


"Terus," desakku, "sesuatu apa yang ingin kamu tahu dari aku sekarang?"


"Kehilangan Tante lebih sakit daripada kehilangan Brigitta." Abimanyu menyela.


"Yakin?" Aku mengamatinya dengan mata menyipit. "Kamu berhadapan dengan janda, Abi. Sakit putus cinta tidak sesakit bercerai. Aku harap kamu lebih bijak lagi untuk mengungkapkan perasaanmu. Aku serius."


"Aku akan lebih bijak lagi jika aku jujur!" Abimanyu berdiri. "Tante suka sama aku?"


Wow, aku menatapnya gelagapan. Sama sekali tidak basa-basi rupanya. Dasar.


"Aku harus jawab? Sekarang?" tanyaku setelah mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya.


"Aku menunggu." Abimanyu mengangguk. "Jadi, Tante suka sama aku?"


Aku menggerak-gerak rahangku, kesulitan mencari susunan kata yang bisa mengungkapkan aku suka padanya tapi tidak terang-terangan. Dia terlalu impulsif, ah sebel.


"Dulu memang iya." kataku malu seraya menutup pipiku yang merah.


"Sekarang?"


Aku mendesah kesal. Runtuh semua keanggunan nyonya Bella. "Kenapa sih tanyanya yang itu? Yang lain coba. Kamu bikin aku kayak perawan bau kencur tau!"


"Oke." Abimanyu terbahak tanpa suara. "Coba Tante sekarang yang tanya aku."


"Tanya apa?"


"Tante tanya apa aku kangen enggak sama Tante!"


"Kok gitu. Idih, no way!" Aku menyilangkan tanganku di depan Abimanyu. "Jangan ngarep."

__ADS_1


"Aku kangen sama Tante!"


__ADS_2