
Bab 14 - Iya
.
.
.
Bella baru bangun beberapa menit setelah aku membangunkannya dengan lirih dan cemas di depan Neo yang terus-menerus menatapku dengan judes. Detik-detik melaju dengan lambat, aku tak berani menyentuh Bella dengan leluasa padahal ingin sekali aku mengguncang tubuhnya. Menyadarkannya dari mimpi indah lalu mengembalikannya pada realita.
"Morning baby." Bella menegakkan tubuhnya lalu merentangkan kedua tangan tanpa membuka mata, ia ingin memelukku tanpa menduga Neo ada di sini dan mengingat kejadian semalam. Aku yakin Bella belum sepenuhnya sadar.
Aku menoleh ke belakang. Muka Neo semakin tidak tenang seolah ibunya menambah rasa jengkel paginya yang dipenuhi kejutan.
"Melek dulu, ini udah jam tujuh. Kamu nggak kerja?" Aku mundur dengan seringai aneh di bibirku, memberi ruang bagi Neo dan Bella bertatapan.
Bibir Neo membentuk garis lurus sewaktu Bella mendelik kaget karena keberadaannya. Ekor matanya menatapku sejenak dan sadar aku memikirkannya. Aku gelisah, kembali berdengung di telingaku bagaimana kami bertengkar semalam.
Bella tersenyum lalu merapikan rambutnya. Aku harus bersyukur semalam dia tidak memakai gaun tidur yang transparan atau garter belt dan stoking yang akan membuat Neo semakin terheran-heran dengan kostum tidur ibunya yang kekurangan bahan.
"Hei boy, kok belum berangkat sekolah?" Tangan Bella terulur, menarik tangan Neo seraya mencium pipi kanan dan kirinya lalu menangkup kedua pipinya. "Kok cemberut, kenapa?" Bella melirikku sebelum memangku Neo. "Om Ian nggak mau main game sama kamu?"
Kok main game, Bell. Jauh lebih parah dari itu. Anak kita sudah tau kita tidur bareng. Ampun...
Neo membalas tatapan ibunya sendu, ia menyadarkan kepala di dada Bella. Sementara bocah itu memperlihatkan kesedihannya. Bella menatapku, matanya mengisyaratkan penjelasan.
Aku tak sanggup diam, aku mencintainya, mencintai anak-anak kita... Aku bahkan sedang berjuang menjadi yang terhebat di antara mereka yang hebat-hebat.
Aku menunduk sejenak sebelum mengangkat wajah menatap Bella.
__ADS_1
"Neo tadi malam kebelet pipis terus masuk ke kamar kita, Neo lihat kita tidur berdua dan berpelukan." ujarku dengan suara tercekat.
"Really?" Bella terpana kehilangan kata-kata, kemudian berusaha keras mengembalikan mimik wajahnya agar terlihat santai. Ia memeluk Neo, menenangkan selama beberapa saat penuh kehangatan. Bella memejamkan mata sambil tersenyum.
Aku termangu. Sampai kini aku masih mencoba mengikuti jejak Bella yang tegar dan kuat. Aku menjadikannya mentor sehari-hari untuk masa depan ini dan jika memang kekuranganku masih sanggup dia maklumi, aku ingin menumpahkan segalanya yang aku miliki hanya untuknya. Namun hanya cinta dan cinta.
Bella mengusap punggung Neo lalu menggenggam kedua tangannya. Raut wajahnya kuyu dan jika ada wartawan yang bertanya padaku resolusi apa yang aku inginkan untuk kedepannya, aku hanya ingin membuktikan padanya jika aku bersungguh sungguh ingin membuktikan bahwa aku bisa dia andalkan.
Neo mengangkat kepalanya, menatapku lalu ibunya dengan ekspresi minta penjelasan. "Mom..."
"Mommy dan om Ian memang tidur di kamar ini, Neo. Sudah lama kalau Om Ian pulang syuting, cuma mommy nggak bilang-bilang dan Om Ian malu."
Malu? Parah, kamu yang nggak punya malu Bella.
"Terus papa gimana?" tanya Neo heran.
"Papa Joe tidurnya sama mama. Begini..." Bella menepuk-nepuk sebelah tempat lengang di sebelah kirinya. Memintaku duduk sementara dia yang tak tahan akhirnya menguap.
"Om Ian sayang sama mommy, dan om Ian juga sayang sama kalian. Sayang bangettttt makanya dari Neo dan Ollie lahir, om Ian sudah nemenin mommy."
"Terus papa gimana?" tanya Neo lagi. Bella mengeratkan genggamannya pada kedua tangan kami.
"Papa Joe juga nemenin mommy, cuma papa Joe sedih, soalnya dulu mommy gak perhatian sama papa dan akhirnya kami pisah. Kami semua sedih, tapi lebih sedih lagi kalau papa nggak bahagia."
Mataku mendelik, dari semua alasan yang lebih mudah Neo terima kenapa harus bawa-bawa sesuatu yang sensitif Bella. Neo bisa salah paham dan aku semakin buruk.
Bella tersenyum, bibirnya mendekat, mencium pipiku dan Neo bergantian. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu kecil Neo yang sedang menatapku benci. Ibunya aku tiduri. Huhuhu... Ribet banget urusannya sama anak kecil. Aku tidak bisa jujur dengan blak-blakan.
"Mommy sayang sama kalian berdua dan adik Ollie. Tapi kalau Neo masih nggak percaya om Ian bisa jadi pengganti papa Joe, Neo harus panggil om Ian ‘Daddy’ biar Neo dekat sama Daddy Ian seperti Neo dan papa."
__ADS_1
"Gitu mom?" Aku mengangguk saat sorot mata Neo mulai terpengaruhi. "Tapi om Ian tadi malam bikin mommy nggak bisa napas. Aku kasian liat mommy!"
Untuk sesaat Bella mengerjapkan mata, lalu ia menatapku dengan sorot mata yang benar saja.
Bella bangkit dan berdiri tegap setelah memposisikan Neo aman di sampingku. Dia berjalan wira-wiri lalu melengos dan memilih menghampiri Ollie yang di antar bibi Marni versi muda ke kamar.
"Ibu guru Shita barusan telepon Bu, mas. Tanya kabar kenapa anak-anak tidak masuk sekolah." Anaknya bibi Marni memandangi semua orang yang ada di kamar ini sementara Ollie berlari sambil menggendong tas ke arah Bella.
"Morning little princess."
"Molning mommy, mommy udah sembuh?" Ollie menyentuh pipi Bella setelah ibunya berjongkok. Bella mengangguk lalu mencium kening Ollie.
"Telepon balik Bu Shita, Bi. Bilang anak-anak nyusul pelajaran satu jam lagi."
"Siap bu."
Dan yang tertinggal hanyalah keluargaku di kamar ini setelah anaknya bibi Marni keluar sambil menutup pintu.
Bella mendudukkan Ollie di sampingku. Aku dia apit kedua anak-anakku yang memiliki ekspresi berbeda. Satunya cemberut, satunya ceria. Entah aku harus bagaimana sekarang, jadi aku cuma diam, menaruh kedua tanganku di antara paha dan mengapitnya. Aku yakin, Bella yang masih menahan rasa kantuk sedang mencari solusi terbaik di depan kami bertiga.
"Daddy..." panggil Ollie, aku menoleh. "Kenapa?"
"Kan mommy udah sembuh, belalti mommy nanti ngomel-ngomel kalau balu banyak keljaan?"
"Iya." Aku dan Bella sontak bertatapan lalu menghela napas panjang. "Mommy butuh Daddy untuk bantu pekerjaannya biar mom nggak ngomel-ngomel terus, jadi kalau Neo nggak keberatan, dad bantuin mommy di sini. Di rumah kita, boleh?"
"Ya!" seru Neo panas. "Tapi om Ian jangan peluk-peluk mommy kayak guling. Kasian mommy." imbuh Neo dengan suara rendah yang mengancam.
Aku mengangguk pasrah walau dalam hati. Lebih kasian Daddy, Neo. Mommy kamu suka bikin Daddy kejang-kejang dan susah tidur!
__ADS_1
......................