
Bab 24 - End Of The Story.
.
.
.
Dalam beberapa Minggu yang berubah menjadi hitungan bulan kehidupan kami di penuhi masalah pro dan kontra yang terus mengelayuti kehidupan kami pasca semua terbongkar tanpa sedikit pun kebohongan yang tertinggal. Masih terngiang dalam ingatku hari-hari setelah kami sudah menyelesaikan konferensi pers. Semuanya terasa plong dan kami super sibuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan banyak orang yang belum terpuaskan. Yah, meski stigma buruk terus tertempel di tubuh kami berdua, aku dan Bella kini tak ragu untuk kembali bersama di ruang publik bersama anak-anak kami yang masih menjadi bintang di artikel-artikel tertentu. Bisa saja kelak mereka yang akan menggantikan posisiku tapi Bella tidak setuju. Dia tidak ingin keduanya dieksploitasi dan semakin membuat om Narendra yang kedapatan menyimpan gadis-gadis belia di rumahnya yang gedongan untuk memenuhi hasrat seksualnya meradang. Bella tidak ingin mantan suaminya yang kebanyakan beban berat itu semakin kasian.
"Baby, taliin bajuku!" ucap Bella setelah memakai baju yang punggungnya terbuka semua. Aku tersenyum dan bangkit dari kursi pijat.
"Lagian kenapa pakai baju kurang bahan begini? Mau pergi?" Tanganku menarik kedua tali dan mengikatnya. "Jangan bikin malu, nanti kamu di kira kurang belaian dan aku makin nggak berguna di mata netizen buat kamu."
Bella menoleh lalu menjulurkan lidahnya. "Kamu ingat kan kemarin pembubaran geng kemayu di tunda karena masalah kita yang huh luar biasa bikin kantong kita bolong?"
Aku mengangguk lemah.
"Nah, aku mau party. Seratus persen aku nggak minum alkohol, aku nanti minum jus buah." Bella mengucapkannya dengan serius.
"Dan seratus persen aku nggak percaya." Aku meraih blazer dengan warna hitam di atas tempat tidur seraya memakaikannya.
Bella meringis dengan kedua tangannya membetulkan lipatan blazer. Bella meraih tasnya lalu menghela napas.
"Aku bersumpah aku pulang dengan keadaan sadar baby, percaya dong. Ombak kita masih di uji netizen ini, aku tidak main-main."
Tentu saja seratus persen ucapnya benar. Aku dan Bella masih mengumpulkana rasa kepercayaan netizen dengan harapan semua jauh lebih normal. Kami saling menguatkan dan menghargai hanya dengan saling percaya meski rasa percaya diri sesungguhnya masih berantakan.
"Aku tunggu sampai kamu pulang!" kataku serius.
Bella mengelus rahangku sambil berlalu. "Boleh juga."
Aku mengikutinya keluar dari kamar, bukan untuk mengikutinya sampai ke dalam mobil dan masih mewanti-wantinya dengan banyak hal yang sejujurnya sekuat apapun aku berusaha untuk memberi perhatian, larangan dan aku kalah. Dia lebih dari wanita superior, dia lebih dari yang aku banggakan. Dia keren, memesona, pantang menyerah dan yang pasti dia keibu-ibuan. Satu hal yang sangat aku sukai.
Aku masuk ke kamar anak-anak, mereka menyaksikan ayahnya yang delapan tahun bersembunyi di balik topeng om Ian sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Daddy mau main balbie?" Boneka tanpa busana dengan rambut yang entah sudah Ollie sisir berulangkali sampai rambutnya awul-awulan dia berikan kepadaku. Aku menatapnya geli sementara Neo yang masih jual mahal dengan kehadiranku lebih sering daripada Om Joe lebih sering terbahak tanpa suara. Dia menjulurkan lidah sambil menunjuk boneka yang aku pegang. Dia seolah mengejekku bermain boneka Barbie sementara dia oh come on, dia meminta bayaran dari wartawan atau media yang meliputnya. Uangnya dia gunakan untuk membeli alat game baru.
"Daddy pilih bajunya, telus nanti di sisir." ucap Ollie.
Apanya yang di sisir?
Aku meliriknya dengan mata heran. Tapi aku tetap patuh, keterampilan memilih baju sudah sering aku lakukan, ini tidak berat yang berat hanyalah menahan rasa geli kita aku harus memerankan boneka ini sebagai cewek cantik yang sedang ngobrol dengan temannya yang tak kalah bikin perutku mengeras.
"Neo, Daddy mau ke bawah, bikin susu. Kamu temani adik main dulu."
"Alasan!" sahut dia lalu menyambar boneka di tanganku. "Lagian kenapa sih dek mainan udah nggak jelas gini masih di simpan! Jelek."
"Noooo!" sembur Ollie. "Kakak yang jelek, kakak suka malah-malah sama Daddy uwww... Yang suka malah-malah kata Bu Gulu jelek."
Neo memutar matanya lalu mengambil robot dinosaurusnya. Pertempuran terjadi, boneka Barbie yang tersakiti menjerit-jerit dan derap kaki mengikutiku setelah aku keluar dari kamar.
"Daddy, kakak supel dupel nyebelin."
Aku menahan tawa sambil menggandeng tangannya. "Mana pernah kakak nggak nyebelin, Ollie. Tiap hari nyebelin."
Aku mencebikkan bibir sambil menarik ponselku dari saku celana. Tim kreatif yang kami suruh membuat film dokumenter tentang keluarga ini dari kami menikah sampai memiliki kehidupan yang jauh kami sederhanakan menelepon. Dia bilang semua sudah siap.
Aku bersorak dalam hati. Akhirnya bocah tengil yang menjatuhkan gelas di dapur karena tidak ingin aku yang membuatkan susu untuknya tahu aku benar-benar ayahnya.
"Kan, lagi kan... Udah daddy bilang jangan bikin susu sendiri masih aja nggak mau terima kamu itu belum besar dan masih kecil bagi Daddy." Aku mengangkat tubuh Neo yang bergeming di dekat dispenser.
Neo mengerucutkan bibirnya dan ia masih kena omel adiknya. Aku memungut pecahan gelas keramik di lantai lalu membuangnya sebelum membuat susu.
"Mau tidur di kamar mom and dad? Kebetulan mommy ada kerjaan sampai malam jadi kalian boleh bobok di kamar kami sampai besok pagi." tawarku.
Aku melemparkan sebutir permen ke mulutku. Mengasuh mereka saat malam adalah tugasku, bayangkan saja aku sudah tidak bisa ngopi-ngopi di luar, atau yang biasanya masih duduk-duduk santai di lokasi syuting.
Semua hal yang sudah diperhitungkan dan telah disusun sedemikian rupa tidak lagi menjadi tanggung jawabku. Dan jika ada yang mempertanyakan manakah yang aku pilih di antara,
“Karir, Cinta, Hasrat dan Rahasia.”
__ADS_1
Aku memilih Cinta dan Hasrat, sementara karir? Aku lelah terhadap permainan kata-kata dan memilih tunduk seorang Bella Eliss yang mempunyai segalanya. Dia menekankan secara sederhana dan tulus bahwa aku hanya perlu menjadi seorang yang setia dan benar-benar menjadi tempatnya pulang.
***
Pukul satu dini hari, rekaman dari video dokumenter pribadi keluargaku baru saja selesai berputar di televisi. Kedua anakku sudah tertidur pulas sementara Bella yang kunanti-nanti dalam kamar ini baru saja kembali dari party. Dia menatapku cengengesan dengan badan yang sempoyongan sementara aku pura-pura tertidur.
Bella menatap sekilas televisi lalu berbalik, aku gelagapan. Napasku tersendat. Dari gelagatnya aku malah was-was sendiri.
"Baby... Baby... Bangun. Geng kemayu rese." Dia menggoyangkan jari kakiku dengan tekad sebelum menarik pergelangan kakiku. "Baby, bangun tolong aku." katanya serak.
Gawat-gawat, kakiku menyentuh lantai sementara badanku masih nyangkut di tempat tidur. Dia menggapai kedua pergelangan tanganku seraya menarik kedua tanganku sampai aku terbangun. Aku membuka mataku malas.
"Ya ampun, Bella. Kenapa?" tanyaku sambil memastikan wajahnya. Merah, sesekali matanya mengelap dengan bibir yang mengigit bibir bawahnya berkali-kali.
"Bangun dulu, berdiri, terus ke kamar mandi, bantuin aku." rengeknya dengan manja.
"Bantuin apa?" tanyaku heran. "Bukannya tadi udah janji nggak minum?"
Bella terlihat panik tapi cengengesan. Dia melepas sepatunya lalu mencubit pipiku dengan kegemasan berlebihan. "Aku khilaf baby, aku tergiurrr.. huhu sekarang bantuin aku mandi, aku lemes, aku pengen, mau yah, mau dong. Aku yang giat bekerja nanti. Jangan takut yah."
Aku menepuk jidatku lalu meringis malas. Bagaimana kalau Bella hamil di usianya yang sudah kepala empat. Haduh, haduh, dua bocah yang tidur di kasur ini sudah membuat diriku yang sedang mencoba menjadi hot daddy sibuk sekali, terus nanti di tambah bayi yang membuat Bella sering kali begadang dan cepat terlihat tua.
Ya Tuhan, jika menolak aku rugi, tak menolak aku bisa apa. Diri ini hanya bermodalkan cinta dan peli. Sederhana tapi juga penuh gengsi. Oh Bella... Andaikan aku membantumu malam ini, kau sudah membantuku jauh lebih banyak dari yang aku bayangkan.
"Ya udah iya."
Bella tersenyum. Dia menarikku ke arahnya. Wajahnya disurukkan ke leherku. "Terima kasih, Abi. Asalkan kita bersama-sama aku bahagia."
Sambil menggandeng lengannya ke kamar mandi, semua terasa sempurna. Aku tidak bisa jauh darinya. Terutama pada saat-saat kebutuhan kami yang penuh cinta dan gairah menjauhkan kami sementara waktu dari komentar warganet.
......................
Kami pamit dear reader. Skavivi minta maaf atas kejadian kemarin. Terimakasih sekali untuk vote, hadiah dan komentar-komentar positif dari kalian. Anggaplah Setelah Kita Menikah hanyalah bonus bagi pembaca yang ingin mengetahui sudut pandang Abimanyu. Setelah ini Skavivi mau lanjut Pilihan Yang Terbaik dan bab tambahan Dalam Cengkeraman Vampir Kesepian.
Salam Rahayu.
__ADS_1
Skavivi sayang banget sama kalian. ❣️