Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Berakhir hari ini


__ADS_3

Aku mencengkeram erat tas jinjingku sewaktu bunyi palu terdengar menggema di dalam ruangan yang memiliki langit-langit tinggi dan dua kipas besar berputar-putar di atas, memutar udara ke segala penjuru di ruangannya lebar ini. Jendela-jendelanya bertirai, mencegah cahaya masuk dan tatapan mata orang-orang dari luar ruangan ke ruang sidang.


Seorang hakim menyuarakan pengesahan akhir bagi hubungan kami berdua. Hubungan aku dan papi Narendra berakhir sudah. Aku menoleh ke arahnya. Ia nampak menghela napas sambil merapikan jasnya. Parasnya yang memiliki ketampanan yang maskulin namun memiliki banyak beban pikiran terlihat mengeras di garis rahangnya.


Aku menarik napas dalam-dalam sebelum berdiri. Tidak ada semburan angin dari kipas angin yang berputar itu ketika aku melangkah maju. Suasana di ruangan ini panas dan tegang, aku berjalan keluar setelah menandantangani berkas-berkas akhir di meja hakim.


Aku berjalan perlahan-lahan keluar dari lokasi ini. Aku merasa hatiku tersentak sedih mengenangnya sewaktu pertama kali mengajakku berkenalan di acara pernikahan sahabat kami berdua, Terry. Meski dia dua aku mau-mau aja, dia duda tampan, kaya dan mapan. Siapa yang menolak dan karena aku menghormati masa lalunya bersama mantan istrinya aku tidak pernah menanyakan perihal kenapa ia bercerai.


Aku duduk di bawah pohon palem. Menatap kendaraan yang berlalu lalang sambil terdiam. Aku masih mencintainya dan seharusnya sebagai laki-laki sejati dia bisa meredakan ketakutanku, kekhawatiran kami, saling menguatkan tentang kekurangan ini. Kita seharusnya menyemangati untuk terus naik ke ranjang dan menghapus keraguan ini. Bukan berpisah–aku belum terima–tapi harus ada yang biasa ku lakukan untuk mengubah hal itu ; aku harus membencinya.


"Kita pulang naik apa, Nyah?" tanya bibi Marni.


Aku mengusap tetes terakhir air mataku dari daguku dengan punggung tangan.


"Taksi online, bibi. Udah tenang aja, kita pasti pulang ke rumah kok."


Aku berusaha tersenyum penuh keyakinan ketika bicara, meski terdengar bergelombang dan hati aku masih kehilangan semangat. Aku yakin sebentar lagi aku baik-baik saja.


"Bibi pesen bakso itu deh dua sambil nunggu taksinya datang. Aku lupa sarapan tadi. Nggak mau makan, tapi sekarang aku takut tipes banyak pikiran." pintaku.


"Baik, Nyah."


Bibi Marni berdiri, pergi ke pedagang bakso yang sedang ramai pembeli sementara aku mulai mencari-menghubungi taksi online dari gawaiku.


"Udah dapat, ke toilet dulu ah." Aku berdiri, dan karena aku memakai hak tinggi dan gaun merah seperti mawar semua orang menuju kan tatapannya padaku.


Aku menaikkan daguku, aku lagi patah, jadi tidak peduli mau ada yang tampan atau tidak karena sumpah suasana disini masih membuat ku meradang.


Tiba di toilet, semua toilet umum masih di pakai.


Aku menunggu sambil bersandar di tiang penyangga. Menunggu sambil membalas chat teman-temanku dan pegawai bengkel.


“Gimana udah jadi belum motornya, punya orang nih! Gue udah bayar lunas ya! Awas kalo bohong.”


“...”


“Yang cepet dong. Punya orang itu, bang. Gue nggak enak nih. Emaknya itu bocah udah tanya melulu kapan jadinya.”

__ADS_1


“...”


“Iya-iya, aku sabar, cuma awas kalo kelamaan. Mau di pakai buat kuliah itu. Bisa-bisa gue harus jadi sopirnya ntar.”


Gelak tawa terdengar dari sebrang sana. Aku mengerucutkan bibir dan mematikan sambungan telepon.


Saat ku masukkan ponselku ke dalam tas pintu kamar mandi terbuka.


‘Debora.’


Aku bersedekap dengan gaya angkuh.


Sekertaris papi ini pasti bahagia sekali bosnya kini jadi duda kaya raya dan sedang matang-matangnya.


"Belum pulang mami?" tanya Debora sambil merapikan rambutnya.


"Belum, aku masih nunggu jemputan." ucapku sambil tersenyum lebar. "Aku masuk dulu ya, udah di ujung." bisikku sambil melewatinya.


Aku ke dalam kamar mandi, mendengus kesal. Tak perlu lagi bicara, sudah muak karena sebelum aku masuk ke dalam ruang pengap ini dari jauh Narendra memanggilnya dan menghampirinya.


Yang di panggil menyahutinya dengan jawaban manis dan manja.


"Sudah lega? Apa kamu bicara dengan Bella tadi?" tanya Narendra.


"Hanya menanyakan kenapa belum pulang." jawab Debora


"Dia jawab apa?" tanya Narendra.


Aku denger goblok. Emangnya kamu masih peduli, enggak kan. Argh, cebok pakai gayung rasanya semakin mempersulit diriku saat ini, mana aku harus hati-hati karena nangkring di toilet jongkok pakai hak tinggi. Ampun, inilah tutorial mempersulit diri sendiri.


Aku menghela napas, suara-suara dua manusia yang aku curigai bermain serong itu sudah tidak ada. Aman, aku mengambil segayung air dan byurrr... byurrr... byurrr...


Aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. Tapi ternyata Narendra dan Debora tidak pergi terlalu jauh. Mereka duduk berdua dengan tambahan personil pengacaranya. Mana jalan keluar dari tempat ini harus melewati mereka.


Aku merapikan gaunku seraya berdehem pelan-pelan. Yang telah aku lakukan sudah seharusnya. Aku tinggal membuat ending dari perceraian ini terlihat berbesar hati.


Aku berjalan ke arah mereka, mampir sebentar untuk mengucapkan salam perpisahan dengan papi Narendra.

__ADS_1


"Tunggu, Bella." cegah papi sambil menahan tanganku.


"Ada apa mas?"


Narendra menatap jari-jemariku yang masih tersemat cincin kawin lima tahun lalu.


Dia menariknya perlahan-lahan, lalu memainkannya sebentar sebelum melemparnya ke atas gedung pengadilan agama ini.


Aku terpana. Kenapa di buang ke sana, itu bisa aku jual papihh! Sepuluh juta harganya. Ah, kampret. Lumayan buat bayar bengkel motornya Abimanyu itu.


"Itu saja?" tanyaku.


"Harusnya kamu mikir untuk apa masih memakainya di persidangan ini, Bella." sahut Narendra.


Aku berdehem.


"Itu karena aku—aku masih ingin memakainya di hari akhir hubungan kita mas." Aku menepuk-nepuk lengannya.


"Terima kasih ya sudah di buang sendiri. Kamu pengertian sekali."


Aku menatap tiga orang di sini. Semuanya berwajah serius.


"Ada lagi?" tanyaku.


"Mulai besok kamu hanya akan berurusan dengan ajudan saya atau pengacara saya. Karena semua urusan dengan saya sudah selesai sampai di hari ini Bella. Kamu mengerti?"


Narendra menegakkan pundaknya dengan gaya setengah acuh tak acuh. Meskipun rendah hati untuk sekelas pejabat negara, ada keangkuhan yang berlebihan dari sorot matanya.


"Iya aku mengerti." kataku sambil melenggang pergi. Bibi Marni yang menungguku di bawah pohon palem sedang menyantap baksonya.


"Ayo, Nyah. Pumpung sudah hangat ini." Bibi Marni melambaikan tangannya.


Aku tergelak, aku yakin bisa menyederhanakan hari ini dengan apa yang terjadi.


Aku menaruh tas jinjingku di kursi semen yang melingkari pohon palem ini.


Menuangkan sambel dan kecap, mengaduknya. Lalu mengangkat mangkoknya dan menyilangkan kaki dengan anggun. Aku terlihat sempurna di sini, makan bakso pakai gaun. Hidup memang tak selamanya indah, maka aku hanya perlu menikmatinya dengan baik. Ya dengan baik bahkan aku sanggup melempar senyum sewaktu mobil papi Narendra melewati ku.

__ADS_1


•••


Bersambung. Terima kasih sudah membaca ^_^


__ADS_2