Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku
Akhir bahagia


__ADS_3

Aku menumpu kepalaku dengan kedua tangan di atas meja dengan senyum centil setelah seminggu berteman dengan Abimanyu di suatu kamar yang indah dan klasik dengan kasur yang tidak lagi basah. Kami pindah ke Jerman dua hari yang lalu sembari mengantar orang-orang yang aku sayangi ke bandar udara untuk kembali ke Nusantara.


Aku dan Abimanyu sekarang berada di country house milik orang tua Rudolf di pinggiran kota Rothenburg. Sekarang aku bisa menatap Abimanyu dengan percaya diri. Tidak lagi malu karena ternyata Abimanyu lebih suka aku yang berani dan nggak punya malu. Sungguh sesuatu di luar dugaan otakku yang over thinking meskipun kenyataannya aku suka malu-malu dulu. Sungguh-sungguh kejutan yang menyenangkan dan aku suka. Aku suka kami sama-sama belajar menyukai apapun yang kami inginkan dengan terbuka.


"Kenapa?" tanya suamiku yang perkasa dan tahan lama setelah menghabiskan makan siangnya berupa semangkok spaghetti carbonara full keju buatan neneknya, laki-laki muda di depanku sekarang bak anak kecil yang sedang di sayang-sayang keluarganya. Dan aku kebagian melihatnya dengan bahagia.


Sangat bahagia. Aku bahagia melihat Abimanyu di penuhi kebahagiaan, tentu itu denganku juga.


"Kamu bisa gemuk kalo makan terus, kamu mau olahraga? Bakar kalori?" tawar ku dengan pelan-pelan sembari mencondongkan tubuh. Aku tidak enak neneknya yang baru masak di dapur mendengar. Bisa-bisanya aku di kira tidak menghargainya, tapi sumpah selama di sini kami cuma makan, makan dan makan lagi. Neneknya benar-benar suka masak, masak apa saja, dan ia ingat ibu Jayanti karena itu pula Abimanyu merasa keluarga Rudolf tidak melupakannya atau ibunya.


Abimanyu menyunggingkan senyum. Dia menyingkirkan mangkoknya ke meja kanan. "Tidak sekarang, Eli. Nanti malam?" Sebelah alisnya terangkat. Tubuhnya juga mencondong ke arahku.


"Bilang aja kamu takut gemuk lagi!" Napas kami bercampur. Abimanyu mencium bibirku. Aku bisa merasakan bibirnya rasa keju, gurih, sedikit asin, dan ia tersenyum ketika aku menahan tengkuknya, merasakan bibirnya di mulutku lebih dalam.


"Ian..."


Aku dan Abimanyu langsung tersentak kaget. "Nenek." Kami menoleh, bagaikan tamu kurang ajar yang bertindak senonoh kepada cucunya. Aku mengatupkan kedua tangan. "Sorry, Oma."


"No problem Bella, easy." Nenek Abimanyu tersenyum kecil seraya mengulurkan serbet untuk cucunya.


Aku menggaruk tengkukku waktu Abimanyu mengusap bibirnya dengan serbet itu. Dia mengusap ciumanku dengan senyum yang tak kendur dari bibirnya.


"Thankyou, Oma." Abimanyu tersenyum dan merangkul bahu neneknya. "That's my wife, we're married."


Mulut neneknya langsung ternganga, matanya yang cekung melebar. Dia terlihat sangat speechless.

__ADS_1


"Sure, Ian?"


"I'm sure, Oma. We're come to honeymoon. Two weeks." Abimanyu kemudian menjelaskan dengan bahasa Jerman yang tidak aku mengerti.


Semakin speechless lah neneknya lalu dia menyentuh pipiku dengan kulitnya yang renta.


"I'm happy."


Aku merekahkan senyum dengan rikuh. Alahasil, dua Minggu kami menghabiskan waktu di rumah ini dengan mengikuti kegiatan nenek Abimanyu berkebun, pergi ke kebun anggur, melihatnya membuat wine dan belanja. Kami bersenang-senang seperti orang biasa tanpa keberadaan media yang bisa meliput kami dengan sembarang.


Di hari terakhir keluarga besar Rudolf berkumpul. Mereka berunding untuk membahas warisan keluarga dan rencana menjenguk Rudolf di Indonesia bersama Abimanyu di dalam rumah. Sementara aku di halaman belakang, duduk di gazebo kayu seraya menyesap teh.


Aku menemukan keluarga baru, meski bukan tempatku pulang dan bersandar. Rumah ini adalah keluarga Abimanyu. Ada kehangatan yang aku rasakan di sini, mereka menerimaku tanpa cela, bahkan ketika aku bilang ada kemungkinan aku susah untuk hamil. Mereka tersenyum dan mengungkapkan banyak doa untukku.


Aku menyentuh perutku. "Apa aku akan hamil?"


"Bagaimana kalo aku tidak bisa hamil bahkan dengan Abimanyu. Apa mungkin dia akan kecewa meskipun kami sudah berjanji untuk menerima segala pemakluman ini?"


Aku menghela napas. Perasaan itu datang lagi tanpa bisa aku cegah. Aku takut Abimanyu selingkuh dan mencari penerus bangsa dengan wanita lain. Aku takut dia meninggalkan aku dan trauma itu semakin tebal di benakku.


"Mikirin apa?" Abimanyu menyingkirkan tanganku dari perut dan menggantinya dengan tangannya. Abimanyu mengusapnya sembari menaruh menopang dagunya di bahu. "Aku liat kamu dari dalam rumah, mikirin apa, kenapa kamu murung?" desak Abimanyu dengan sikap menuntut.


"Biasa kerjaan." Aku tersenyum masam. "Udah selesai?"


"Belum denganmu!" Abimanyu memutar tubuh. Kini matanya yang tajam melihat ke dalam bola mataku dengan dekat. "Kamu bohong, Eli."

__ADS_1


Dih... dasar titisan jailangkung.


"Aku mikirin kita, dan sesuatu yang sudah terjadi kemarin." jelasku dengan payah. Bahkan menyembunyikan tanganku di belakang punggung dan tak berani menatap Abimanyu.


Abimanyu menyentuh perutku lalu bibirnya yang tersenyum menyentuh rahangku. "Baru lima kali, belum lusinan, puluhan, bahkan ratusan kali kita mencobanya Bella. Kamu udah khawatir, dan sikapmu yang over thinking ini memang menyulitkan dirimu sendiri!"


"But, i hope baby." Aku mengerucutkan bibir. "Kamu enggak?" tanyaku dengan nada suram.


"Berharap, tapi tidak buru-buru. Karena aku mau menikmatimu selagi masih muda, semangat dan belum mengeluh sakit punggung." Guraunya sembari mencium pipiku.


"Kita akan mencobanya, slalu, seterusnya sampai kamu lelah, dan suaramu yang sangat merdu mengucapkan namaku berhenti dalam lelap di pelukanku. Kamu paham Bella?"


Aku mengelus rambut Abimanyu, dengan sisa-sisa kekuatan yang aku miliki untuk menahan air mataku. Abimanyu menghapus tangisku dengan tangannya yang lembut. Dia mengangguk seakan mengisyaratkan semua akan baik-baik saja tanpa ketakutanku.


Aku tersenyum bahagia dalam pelukannya yang sepenuh hati, dan ketika kami berhasil pulang ke Indonesia untuk menjalani jalinan cinta rahasia di atas risiko-risiko yang kami pertaruhkan. Dua bulan kemudian aku di nyatakan hamil. Terlalu cepat untuk Abimanyu tetapi terlalu bahagia untukku.


...********...


...Season dua ada di judul baru. ...


...SETELAH KITA MENIKAH. ...


...Update awal bulan Desember. ...


...Stay Tune and Thank you Reader....

__ADS_1


Salam kangen, Perjaka Kesayanganku.


Abimanyu Julian Rudolf. Calon Bapak.


__ADS_2