
Bab 10 - Permen Sogokan
.
.
.
Matahari sudah nyaris menghilang saat akhirnya aku selesai melakukan pertemuan dengan para pemain dan sutradara di kantor Angkasa Management. Riuh suasana percakapan atas antusiasme penggarapan film baru yang akan di mulai dengan agenda reading bersama dan pengenalan terhadap lawan lain untuk membentuk keakraban.
Delapan tahun sudah cukup bagiku melihat munculnya artis baru, dari muda, sepantaran, dan lebih dewasa. Tetapi baru kali ini semua pemain yang terlibat dalam proses syuting adalah pemain baru. Aku tidak pernah mengenal mereka sebelumnya bahkan terlibat dalam satu acara. Wajah-wajah baru ini nampak baru menetas dari sebuah agensi yang baru menetas juga.
Aku tersenyum kala Nadine yang akan menjadi lawan mainku—pacar SMAk nanti—mengulurkan satu plastik permen aneka rasa dari dalam tas ransel mininya. Dari kombinasi buah-buahan, kopi, dan mint ada.
"Waktu tau aku jadi lawan main kakak, aku langsung ingat kak Ian suka permen. Makanya aku bawain kakak semua rasa permen." jelasnya lalu mengibaskan rambutnya yang berada di depan dada dengan tangan kirinya. Senyumnya melebar.
Aku mengamati Nadine, lalu permen yang dia belikan. Aku berani bersumpah tadi dia pasti kebingungan mencari permen kesukaanku di toko. Tapi tidak, aku belum mengenalnya. Aku tidak perlu mencemaskan dia bingung atau malah hanya sebatas formalitas.
"Nyogok maksudnya?" ucapku sambil mengambil permen rasa kopi. Rasa kesukaan Bella lalu memakannya. "Terus kalau nanti aku sakit gigi setelah kamu kasih permen sebanyak ini gimana? Kamu mau tanggung jawab?" imbuhku memancing reaksinya.
Nadine menatapku. Dua bulan kami harus berada di lokasi syuting, dan pulang menjadi hal yang kembali langka. Kehilangan waktu bersama anak-anak dan Bella. Tapi Nadine akan menjadi perempuan kesekian dalam sejarah perjalanan Julian Rudolf sebagai perempuan muda yang menghabiskan waktu bersamaku di belakang layar atau di depan layar.
Senyumannya merekah di bibirnya yang memakai lip glossy. Nadine mengangguk tanpa keberatan sama sekali.
"Boleh deh, nanti aku periksain kak Ian, kebetulan mama dokter gigi." ucapnya dengan tulus dan riang gembira.
Aku tergelak dengan intonasi ganjil. Bukan apa-apa. Aku malah seperti memancingnya membuka diri lebih jauh, walaupun itu penting aku sedang tidak berminat. Aku ingin menemui Bella, dia masih lumayan ngembek aku memprotesnya party sampai teler.
__ADS_1
"Makasih buat permennya, tapi aku cuma bercanda doang tadi jangan di anggap serius." Aku beranjak, permen ini tidak mungkin aku habiskan sendiri. Mommy paprika yang seksi dan tidak pedas di tambah nyonya Regina bisa marah-marah aku makan permen terus. Gigiku aset, kalau perlu malah harus diasuransikan.
Nadine manggut-manggut. "Aku juga santai kak, oh ya..."
Perhatikan kami teralihkan saat mendengar ajakan dari teman-teman yang lain untuk main bareng demi keakraban bersama.
"Aku boleh nebeng kak Ian sekalian untuk membangun chemistry kita nanti?" pintanya dengan ragu-ragu tapi dengan nada yang mendesak.
Aku menarik kedua sudut bibir lalu mengangkat tangan. "Ada yang mau bareng gue juga. Mobil gue longgar." kataku mengajak yang membutuhkan.
Tiga gadis langsung mengerubungiku dengan tangan terangkat.
"Boleh dong om." ucap salah satu dari mereka yang paling sederhana dalam berpenampilan. "Kebetulan banget ada yang nawarin." Dia tersenyum lega.
Aku mengangguk lemas sambil mengusap leherku. Yang bener aja aku udah dianggap om-om, tapi bener juga. Aku bahkan sudah jadi bapak-bapak, cewek ini tidak salah.
"Yang laki nggak ada yang mau ikut gue nih?" ucapanku mencegah lima pemuda keluar dari ruang meeting. Empat dari mereka hanya menoleh dan melambaikan tangan.
"Nggak usah pak guru, kami calon berandalan sekolah jadi nggak bisalah akur dengan pak guru." sebut Hindra cengengesan lalu menyusul Tom, Firman, Edo dan Rustam keluar.
Aku menatap empat gadis di depanku. Mereka tersenyum malu-malu seperti yang sudah-sudah. Aku yang kian matang dan slalu mendapatkan keistimewaan dari apa yang aku dapatkan, ditambah dengan cerewetnya Bella akan pentingnya menjaga aset tubuh ini membuatku kian menarik minat para gadis belia. Tetapi sayang, semenjak berkenalan dan menikmati hidup penuh gairah bersama Bella. Ketertarikan dengan gadis-gadis belia mendadak mati dalam jiwaku.
Aku hanya slalu menaruh respek terhadap mereka yang ingin berkawan tanpa harus melibatkan cinta di dalamnya.
"Ayo gadis-gadis ikut pak guru naik mobil." gurauku sambil meraih ponselku di meja lalu menjejalkan ke saku celana. Aku harus menjaga image demi mulusnya syuting ke depan dengan empat gadis yang mengikutiku keluar dari gedung Angkasa Management.
Di parkiran, mobil Tante Regina berhenti menderu. Dia keluar sambil tersenyum hangat. Seperti halnya Bella, Tante Regina pintar menonjolkan letak kesempurnaannya untuk mendapatkan perhatian dari lawan yang di tuju. Ia melepas kancing blusnya paling atas dengan gerakan pelan sebelum sampai di depanku.
__ADS_1
"All good?" tanya Tante Regina.
"Good." Aku mengangguk sambil mendorong pintu setelah empat gadis masuk ke mobilku. Aku tidak peduli mereka akan berkomentar apa setelah tahu ada parfum Bella di dekat rem tangan.
Tubuhku bersandar di badan mobil. Keingintahuanku tentang Bella mendadak meledak setelah yakin kondisi aman untuk membicarakannya. "Gimana mommy paprika?"
"Santai, gue bisa jamin dia nggak macem-macem kalau mabuk. Lagian ada Sisca, dia udah tobat main gigolo." Tante Regina menepuk bahuku. "Dia punya rasa sayang yang besar buat elo—"
"Aku tau, Tant." kataku memenggal ucapan Tante Regina. "Dia punya segalanya, dan aku cuma pelengkap, modal cinta sama peli. Nggak mungkin aku terus-terusan nyakitin dia dengan kerjaanku."
"Ngerti gue, cuma semakin elo membangkang elo nanti makin khawatir sendiri. Udah deh berangkat sana, kerja. Apa udah bosan cari duit terus mau leha-leha di rumah, nungguin Bella kerja?"
Tante Regina tersenyum sinis dan menunjuk dadaku. "Cinta boleh, tapi laki-laki kalau cuma di rumah aja demi waktu bersama keluarga apa kata dunia?" Tante Regina mengendik-endikkan bahunya. "Berangkat sana, ntar gue atur jadwalmu biar bisa main sama Ollie dan Neo."
"Iya ini berangkat kerja." balasku malas. "Nggak di rumah, nggak di kantor, cewek-cewek penguasa bawel semua!" gerutuku.
Tawa Tante Regina terurai. Dia membuka pintu pengemudi lalu menyapa gadis-gadis di dalam mobilku dengan sapaan ramah dan ceria. Seruan tanda semangat juga mengudara di mobilku. Aku memutar mata.
Alibi itu, alibi. Jangan percaya.
Tante Regina menegakkan tubuhnya dengan satu tangan yang menahan pintu mobil.
"Masuk, Ian. Bawa cewek-cewek ini ke duniamu yang penuh irama dan nada. Bikin Nadine klepek-klepek biar kita bisa mendulang berlian!" ucapnya antusias.
Aku mengangkat bahu ketika bisnis bicara dan masuk ke dalam mobilku yang langsung di penuhi jeritan histeris dari gadis paling sederhana yang duduk di belakang kursi kemudi.
"Om kok ada alat pengaman?"
__ADS_1
......................